Steel Rose

Steel Rose
Chapter 01


__ADS_3

"Bagi para siswa siswi tahun kedua yang telah mengikuti seleksi pertukaran pelajar, kami akan mengumumkan 10 orang yang lulus seleksi yang diadakan minggu lalu." Sorakan dan tepuk tangan bergema di Aula salah satu sekolah menengah pertama yang ada di Kabupaten Kota Gianyar. "Kepada perwakilan panitia kami dipersilahkan."


"Terima kasih untuk waktu dan kesempatan yang diberikan oleh kepala sekolah, saya mohon yang namanya di panggil, naik ke panggung untuk diberikan surat persetujuan yang akan ditanda tangani oleh kedua orangtua masing-masing. Serta hadiah kecil dari donatur." Sorakan tidak sabaran pun kembali terdengar


"Saya akan mulai dari peringkat ke sepuluh dengan nilai 887 dari kelas 2 - A, Kadek Dwi Wirawan." pemilih nama itu melompat kegirangan, ia setengah berlari ke panggung menerima amplop berisi surat dan bingkisan.


"Peringkat ke sembilan dengan nilai 892 dari kelas 2 - A, Yulia Merawati." pekikan dari pemilik nama malah membuat yang ada di dekatnya menutup telinga. Dengan gaya ala idol yang melempar ciuman kemana-mana murid itu naik ke panggung.


"Peringkat ke delapan dengan nilai 910 dari kelas 2 - A, Sagung Puri Handayani." reaksi anak satu ini lebih kalem meski matanya jelas berkaca-kaca.


"Peringkat ke tujuh dengan nilai 915 dari kelas 2 - A, Siti Hadijah Rohmawati."


"Peringkat ke enam dengan nilai 922 dari kelas 2 - A, Kenneth Adrian."


"Peringkat ke lima dengan nilai 935 dari kelas 2 - A, Berly Sinagar."


"Peringkat ke empat dengan nilai 967." terdengar sorakan kagum karena nilai kali ini lumayan jauh dari sebelumnya "Kelas 2 - A, Eka Prasetya Wiganda."


"Peringkat ke tiga dengan nilai 972 dari kelas 2 - A, Renata Kharisma Sudibyo."


"Wow, kelas A sungguh kumpulan murid terbaik ya. Peringkat 2 juga kembali ke kelas 2 - A dengan nilai 975, Pande Komang Haruna Komala." yang bersangkutan pasang pose victory


"Wah, dia mah memang blasteran wajar aja nilainya bagus!" seru anak -anak lain setengah tidak terima.


Beberapa anak dari kelas lain terdengar mengeluh berkata semuanya pasti dari kelas A. Para guru tampak puas karena yakin kelas A adalah murid terbaik mereka jadi sudah pasti mereka yang akan merebut semuanya.


"Peringkat pertama dengan nilai hampir sempurna, 998."


"Gile!!! Sapa tuh?! Peringkat satu umum aja juara 2! Apa malah juara 2 umum yang belum disebut namanya jadi juara 1?"


"Amanjing." kata salah satu anak yang membuatnya mendapat jitakan dari teman di sebelahnya.


"Rikha-" belum selesai mengumumkan, anak kelas A kembali bersorak girang. Salah satu anak perempuan dengan rambut bob di atas bahu berkulit pucat bangun dari tempat duduknya menuju panggung. Ikut bergabung dengan anak-anak lain namun para panitia malah tampak bingung. Lama mereka saling pandang satu sama lain sehingga para murid juga ikut bingung.


"Dik, ini kenapa belum diberikan amplop dan hadiahnya?" tanya guru wali kelas A. "Rika Indriani Latria sudah menunggu."


"Mohon maaf, juara pertama dengan nilai 998 berasal dari kelas 2 - D adalah Rikha Cecilia Dewi."

__ADS_1


Aula SMP Negeri 3 Gianyar yang tadinya riuh kini hening mendengar nama yang lulus seleksi pertukaran pelajar ke Jepang. Nama terakhir yang lulus seleksi bahkan ada di luar bayangan para murid dan guru. Seleksi ini dinilai sendiri oleh beberapa panitia dari universitas ternama di Bali didampingi seorang wakil dari Jepang.


"Apa tidak salah?" tanya guru itu sekali lagi "Nama mereka mirip, siapa tahu ada kesalahan-"


"Ibu guru, kami mengadakan tes per kelas bergantian selama seminggu. Hasil langsung dicatat per kelas sesuai absensi." mahasiswa itu tampak tersinggung hasil penilaiannya diragukan.


"Bisa saya pinjam daftar nilainya?" kepala sekolah menghampiri salah satu panitia yang membawa map berisi hasil penilaian. "Rika dari kelas A...nilainya 815, tidak salah panggil."


"Rikha kelas D, mana?" Murid yang namanya dipanggil malah tampak tertidur lelap di kursinya, bersandar pada temannya. "Tolong bangunkan dia!"


Anak-anak kelas D juga angkat bahu. Murid yang menjadi sandaran tidur menepuk pipi si putri tidur bersurai hitam sepanjang lutut yang dikepang dua, sayangnya tidak ada respon.


"Mbak kunti, udah siang ini!" teriak temannya yang lain. Karena rambut panjangnya anak itu mendapat julukan kuntilanak. Masih tidak ada respon sama sekali.


"Yang bener aja, tidur kayak batu kok masih saja cebol ya?"


"Orang sering tidur harusnya tinggi- eh?" bulu kuduk beberapa anak merinding. Salah satu dari mereka merasa ada yang meremas pundaknya.


"Siapa....yang cebol...?"


"SETAAANNNN!!!!"


Para mahasiswa yang tadinya agak kesal tertawa melihat anak-anak yang bagai melihat hantu disiang bolong. Tapi tidak dengan anak yang tadi mengira dirinya yang mendapat nilai terbaik dan wali kelasnya.


.


.


.


.


.


Di kelas D ramai memberi selamat pada juara mereka, tapi yang bersangkutan tampak tidak senang sama sekali. Wali kelas yang tengah membagikan rapor memperhatikan muridnya yang biasanya tidak menonjol dengan nilai yang sebatas rata-rata malah mendapat nilai tertinggi dan full beasiswa selama 2 tahun dan fasilitas tempat tinggal di negeri orang dengan gratis dan uang saku. Itu semua hanya khusus untuk juara pertama dalam pertukaran pelajar ini.


"Tidak senang?" tanya teman disebelahnya.

__ADS_1


"Senang." jawabnya datar, masih menatap amplop di tangannya lekat-lekat.


"Tampangmu seperti mau kiamat."


"Pak Guru, apa boleh pergi tanpa ijin orangtua?"


"Setidaknya minta ijin keluarga seperti kakek nenek atau paman dan bibi mu." jawab sang wali kelas. Dia cukup tau keadaan muridnya satu ini.


"Kalau yang menandatangani selain keluarga? Bos misalnya?"


"....kalau begitu biar bapak menemui mereka." setelah memberikan rapor pada murid terakhir, sang guru memberi pengumuman libur akhir tahun pelajaran dan memberi daftar tugas selama libur panjang. "Rikha, bapak akan ikut ke tempatmu bekerja."


"Pak, dilarang kencan sama murid sendiri!" goda para murid pada guru wali mereka yang memang masih muda dan lajang. " Dilarang jadi pedofil!"


"Lain kali nilai kalian aku potong." ancamnya setengah bercanda yang disambut protes para murid.


.


.


.


.


.


"Kamu langsung tinggal di sini?" turun dari angkutan umum, mereka kini tepat ada di depan rumah tempat Rikha bekerja paruh waktu. Sang murid mengiyakan. "Pekerjaan apa yang kamu lakukan?"


"Bantu masak, bersih-bersih, mencuci, apa saja."


Selayaknya pembantu pada umumnya, begitulah pikiran sang guru. Muridnya memencet bel rumah dan pintu pun dibuka oleh seorang perempuan yang jelas bukan orang indonesia. Sang guru menerka - nerka dari asia belahan mana asal nyonya itu.


"Ara, okaeri nasai Rikha-chan." Jepang.


"Tadaima, Natsu baa-chan." Sekarang dia agak mengerti bagaimana muridnya ini mendapat nilai tinggi untuk ujian seleksi. "Kore Uchi no Sensei."


"Eh...halo...sayonara..." sang guru panik, dia sama sekali tidak bisa bahasa Jepang.

__ADS_1


Sang murid dan nyonya rumah tertawa mendengar bahasa ngawur sang guru. "Pak guru bisa pakai bahasa Indonesia saja." kata si nyonya yang membuat sang guru menghela nafas lega "Ini hampir jam makan siang, tidak keberatan kita makan bersama sambil membicarakan keperluan pak guru kemari?"


Suara perut sang guru sudah menjawab sebelum mulutnya bisa bicara. Wajah pemuda usia 26 tahun itu merona malu karena merasa tidak sopan. Tapi apa boleh buat, dia tidak sempat sarapan karena berangkat lebih pagi. Ingin rasanya menjitaki muridnya yang meringkuk menahan tawa.


__ADS_2