Steel Rose

Steel Rose
Chapter 04


__ADS_3

"Rikha, semua sudah siap?" tanya Natsu ke sekian kalinya pagi itu. Acara sekolah pas libur akhir tahun adalah tamasya sekaligus Tirta Yatra (sembahyang ke berbagai pura besar Sad Khayangan bagi umat Hindu). Acara ini tidak wajib bagi yang bukan Hindu, tapi karena dia anggota OSIS maka wajib ikut.


"Bibi, aku harus jawab apa lagi coba." menghela nafas pasrah.


"Yah, siapa tahu ternyata masih ada yang kurang." Natsu nyengir lebar sembari memutar setir mobilnya memasuki halaman lapangan basket yang ada di sebelah aula SMP. "Kamu kan bakal pergi 3 hari 2 malam. Banyak yang harus disiapkan."


"Kan sudah di siapkan sejak 3 hari lalu? Mana Snack pun sebanyak itu..." melirik kardus Aqua tanggung yang penuh dengan tumpukan Snack yang kata Natsu wajib di bawa untuk di bagi-bagi di bus dan hotel. Tentu saja permen dan coklat miliknya di letakkan di ransel dan koper tak boleh di ganggu gugat hanya untuknya.


"Uang cash sudah cukup?"


"Ya, harusnya sudah." mengingat kalau dia hanya bawa beberapa lembar uang pink dan sisanya uang kecil. Makan dan menginap sudah di siapkan dari pihak sekolah "Kartu juga sudah di dompet. Power bank dan charger juga siap." katanya saat keluar dari mobil.


"Huh...kamu ini mau liburan bareng teman tapi tampangnya kok masam begitu?" Natsu menusuk-nusuk pipi Rikha sambil bersungut-sungut.


"Aku lebih suka tidur saja dan puasa makan dari pada ikut acara begini."


"Hey, nona muda, selagi ada kesempatan bermain maka manfaatkanlah waktumu. Kalau sudah dewasa kamu akan rindu masa-masa ini!"


'Kalau saja aku ngak ada pengacau macam mereka aku senang-senang saja...' batin anak bersurai hitam panjang itu. "Bibi tidak langsung pulang?"


"Yadda, aku akan menunggu hingga bis kalian berangkat semua. Lagi pula ini masih terlalu pagi untuk ke bagian Imigrasi."


"Baiklah. Aku mau ke guru dulu untuk lihat pembagian bis nya." sambil berlari kecil, dia menghampiri wali kelasnya. "Pagi pak!" sapanya pada Guru wali kelasnya yang tampak masih belum melek sempurna.


"Bocah-bocah ini, masih pagi sudah semangat seperti anak ayam."


"Pak guru aja yang seperti kakek-kakek."


"Ish..., Aku harusnya tidur tenang di rumah malah harus bersama kalian selama 3 hari! Awas saja kalau kalian bikin masalah!" Muridnya hanya menertawakan keluh kesah guru mereka yang memang selalu penuh aura gloomy.


.


.


.

__ADS_1


.


.


Pukul 9 pagi anak-anak masuk ke bus yang sudah di atur tiap kelas. Hal itu cukup melegakan karena dia pikir harus bersama anak-anak kelas A. Makin sedikit kesempatan bertemu mereka makin bagus. Dia bisa saja menonjok mereka satu per satu kalau harus satu bus setelah apa yang mereka lakukan pada sepedanya saat di suruh berbelanja sebelumnya.


"Neng, Napa lagi loe?" Ratih yang semenjak tadi sibuk dengan hapenya akhirnya melirik teman sebangkunya yang biasanya cerewet malah diam sejak naik bis. "Terbang kemana nih rohnya?"


"Asem, aku masih di sini!"


"Nah gitu dong. Si Tante beneran nungguin sampai kita berangkat ya. Sepertinya kuatir kamu bakal di gangguin."


"Kalau dia kuatir aku pasti ngak bakal di suruh ikut kegiatan gini."


"Kamu ikut sembahyang nanti?"


"Yah, sudah di siapkan baju kebaya ya ikut saja. ngak ada salahnya kan." Soal agama sebenarnya agak ambigu bagi Rikha. Ayah angkatnya adalah Muslim sementara Ibu angkat nya adalah Hindu.


Secara keseharian memang dia biasa mengikuti teman-temannya yang sebagian besar beragama Hindu. Natsu dan Mitsu sendiri secara garis besar tidak termasuk pemeluk agama namun mereka cukup sering berdoa ke Gereja Katolik.


Tujuan berikutnya adalah Tampaksiring yaitu di Tirta Empul yang terkenal dengan istana presiden dan Pura dengan 7 pancuran untuk membersihkan diri dari hal buruk, kutukan dan mencari Tirta atau air suci pemusnah ilmu hitam. Banyak anak yang melukat (membasuh diri dengan satu persatu air dari pancuran) setelah sembahyang di pura. Namun ada juga yang hanya sembahyang dan memilih santai di sekitar sambil menunggu waktu keberangkatan berikutnya.


Rikha, Dita, Ratih dan beberapa anak kelas D memilih bersantai membeli minuman dan cemilan di dekat kolam yang berisi banyak ikan mas dan sidat. Beberapa ikan di kolam jelas sangat besar dan beberapa bagian tubuh mereka berlumut, menandakan mereka sudah sangat tua. Rikha yang berusia 12 tahun ingat dia pernah kemari bersama keluarga ibu angkatnya ketika masih berusia 2 tahun. Saat itu kolam baru saja jadi dan ikan-ikan itu masih sedikit dan kecil. Kemungkinan yang paling besar adalah sedikit dari yang bisa bertahan hidup sejak terakhir dirinya ke sana.


"Hey kawan, kalian sudah sangat besar sekarang." Sapanya pada para ikan yang menghampirinya karena dia melemparkan sobekan roti ke kolam. Teman-temannya tertawa mendengarnya menyapa para ikan tapi mereka juga membeli roti untuk para ikan.


Saat mereka sedang asyik memberi makan ikan, yang paling besar tiba-tiba berbalik menjauh membuat riakan besar di permukaan. Ikan itu bersikap seolah ada yang tidak dia suka mendekat, membuat Rikha sontak menoleh ke belakang dan melihat sepasang tangan terulur tinggal beberapa centi dari dirinya. Pemilik tangan itu kaget dan membeku masih dalam posisi yang sama, tampaknya tidak menyangka Rikha akan berbalik ke arahnya. Anak-anak kelas D yang menyadari siapa yang ada di belakang mereka pun sontak berteriak.


"Mau apa hah?!" teriak Dita.


"Mau nyelakain orang ya?!" Tentu saja semua mata tertuju pada mereka.


"Aku cuma mau nyapa kok! Cuma mau nepuk bahu aja!" elak pemilik tangan itu, Anggraeni dari kelas A yang berusaha mendorong Rikha. Anak kelas A lain membela temannya.


"Kalau mau nepuk bahu satu tangan aja kale, gaya loe aja udah mencurigakan gitu!" tukas Ratih tak kalah sengit.

__ADS_1


"Jangan fitnah loe!" Rika dari kelas A membela temannya "Apa untungnya juga gangguin dia?!"


"Ya kayak alasan kalian yang ngisi keranjang sepedaku kemarin dengan sampah, atau nusuk ban sepedaku bulan lalu dengan jepit di rambut kalian itu, atau melempari ku dengan kertas pembungkus nasi, atau-"


"Woy, ***** sialan! Jaga mulut loe!" Anggraeni sudah maju terang-terangan mau memukul Rikha dengan amarah karena anak itu mulai menyebutkan daftar kejahatan mereka. Sayangnya Rikha yang sudah terbiasa melakukan Karate dan Kendo reflek mengelak sehingga tangan anak itu hanya meraih angin.


Tidak menyerah, remaja itu masih berusaha meraih pakaian Rikha namun pergelangan tangannya keburu di tangkap oleh targetnya.


"Hey, kalau kalian terang-terangan mau mencelakai ku di tempat umum begini, tamat riwayat kalian kalau guru melihat kalian."


"Elo yang seenaknya memfitnah duluan." Kalau ini komik mungkin petir sudah menyambar di mana-mana.


"Yang di atas lebih tau siapa yang bohong." meski Rikha jauh lebih kecil dari Anggraeni, remaja itu tampak kesulitan melepaskan cengkraman di tangannya. Rika juga berusaha melepaskan cengkraman pada temannya juga agak kaget karena dia tidak bisa menggoyahkan cengkeraman anak yang perawakannya seperti anak umur 8 tahun itu.


"Cecyl!" panggil ketua OSIS yang menghampiri mereka dengan wajah panik. "Lepasin dia."


"Kenapa? Dia duluan yang mulai-"


"Jangan nambah masalah untuk dirimu. Meski kamu tidak salah, reputasimu sudah cukup jelek." Ketua OSIS adalah temannya sejak SD, tentu dia tahu betul siapa yang bermasalah di sini. Anak-anak kelas D tidak terima tapi mereka juga tidak bisa membiarkan teman mereka dapat masalah. "...baiklah...1 bungkus!"


Celetukan Ketua OSIS yang tiba-tiba tidak nyambung membuat semuanya bingung.


"Apanya?" Anak-anak saling bertukar pandang.


"4 bungkus."


"Gila, bangkrut aku! 2 bungkus deh!"


"4."


"Hey, kalian ini ngomong apa sih?!" gerutu anak-anak kelas A.


"Ugh...., 2 tambah makan siang di restoran mamaku."


" Deal!" Mata Rikha berbinar dan langsung melepaskan cengkeramannya dan melangkah pergi "Ngak boleh bohong ya kak Andre~"

__ADS_1


Ketua OSIS merinding disko mendengar namanya dipanggil dengan nada imut dari setan cilik yang selalu jadi partner latihan karatenya. Matanya kini mendelik pada teman sekelasnya yang sudah mau membuka mulut protes. "Sebaiknya kalian jangan menambah masalah dengan keisengan kalian itu. Aku harus merelakan uang sakuku berkurang dari pada melihat kalian babak belur dan mendapat omelan pembina OSIS dan guru. BERTERIMAKASIH LAH!"


__ADS_2