Steel Rose

Steel Rose
Chapter 03


__ADS_3

"Ri-chan, Bisa tolong belanja ke supermarket?" Saat tengah menonton anime siang, Natsu menempelkan sebuah catatan belanja ke jidatnya. Selembar memo penuh tulisan campur aduk Jepang, Indonesia dan Inggris, untung ngak nyangkut 3 bahasa lain seperti catatan buatan Mitsu yang membuatnya harus ekstra capek menerjemahkannya.


"...Oke." Melihat isi belanjaan membuat alisnya berkerut "Daging sapi giling, cumi, saos tiram, jamur kaleng, saos pasta, kare blok...waduh! Aku pakai sepeda saja deh." matanya sakit duluan padahal baru separuh dari catatan yang dibacanya, padahal niat awalnya mau jalan kaki hitung- hitung sambil olahraga.


"Pakai taxi online kan bisa? Lumayan berat loh."


"Duh bibi... mending uang taxi nya buat uang saku (cemilan) aku."


"Fufufu... Kamu kalau begitu sama pelitnya dengan Hitsu."


"Terus sepeda listrik mau dipakai apa?"


"Oh, iya. Aku lupa soal itu."


Natsu bukan tipe yang pelit, cenderung santai selama semua yang dia butuhkan ada. Sementara suaminya adalah tipe easy going yang suka membeli benda-benda baru yang di anggapnya menarik. Seperti sepeda listrik yang harganya hampir sama dengan motor asli.


"Akhirnya keluar juga kamu sepeda~" Headset yang terpasang di ponsel ke telinga memperdengarkan lagu kesukaannya siap menemani sepanjang jalan. "Mari kita borong permen coklat karamel~"


"Jangan kebanyakan~!" seru Natsu dari dapur. Garasi ada tepat di depan dapur jadi suaranya terdengar jelas. "Bulan kemarin kamu sudah sakit tenggorokan."


"Hehehe... Iya, iya. (tapi ngak janji)"


Note author : jangan ditiru ya dan jangan lupa sikat gigi!

__ADS_1


Jarak supermarket sekitar 2 kilometer, dengan santai dia mulai melaju perlahan. Jujur saja Rikha masih lumayan takut menggunakan sepeda satu ini. Terlalu keras memutar stang gas maka lari sepeda ini tak kalah dari motor 150cc, tapi sayangnya sepeda gayungnya malah kempes kedua bannya beberapa waktu lalu. Sepertinya dia tahu siapa yang melakukan tapi malas melapor karena para guru takkan percaya.


Reputasinya lumayan jelek di sekolah karena pernah menonjok beberapa murid ketika baru masuk SMP dan saat SD juga sering berkelahi karena masalah tidak ada orangtua. Sepertinya Guru SDnya mengirim 'surat pengantar' secara tidak langsung pada guru BP dan Kepala Sekolah ketika dirinya diterima di sekolah ini.


Hanya kedua orangtua angkatnya ini yang tidak pernah mempermasalahkan cap 'anak nakal' yang melekat padanya. Mereka bilang kenakalannya adalah bentuk mentalnya yang kuat, dan sepertinya masih belum seberapa jika dibandingkan kakak angkatnya maupun ayah angkatnya yang notabene aseli preman jaman sekolah.


"Anak kecil kalau tidak pernah berbuat nakal, saat besar malah bisa jadi penjahat." itulah yang dikatakan Mitsu di depan para guru dan orang tua murid saat mereka dipanggil ke sekolah. "Coba suruh mereka mengulang apa yang mereka katakan dan lakukan sebelum mereka dihajar. Kita bisa tahu apa sebabnya." Tentu saja tidak ada yang berani mengulang apa yang mereka katakan.


Senyum geli tersungging di bibirnya karena mengingat kata-kata Mitsu yang selalu berhasil membungkam siapapun yang mencoba mencari masalah.


"Seharusnya Paman jadi pengacara atau jaksa dari pada jadi Kepala Cabang perusahaan elektronik." gumamnya saat memarkir sepeda di sebelah pos satpam sekaligus penitipan helm supermarket.


Pamannya mengaku dia hanya kepala cabang, tapi kalo boleh jujur... jika pamannya adalah bodyguard bahkan tukang pukul dia malah lebih percaya karna bentuk badannya yang hampir seperti binaraga. Mana ada orang kantoran punya sixpack di umurnya yang sudah 55 tahun? "Adanya stok fat kale!"


Masuk lewat pintu timur yang merupakan food court, Rikha hampir ngiler dengan mencium bau roti dan sate yang sedang di panggang. Niatnya bertambah untuk beli makanan selain cemilan saat pulang. Matanya menyelidiki setiap menu yang terpampang di tiap stan yang dilewatinya hingga dia merasa sesuatu mengenai kepalanya dan jatuh di samping kakinya.


Dipungutnya bungkus tadi dan menghampiri mereka. Senyum sinis tak hilang juga dari wajah mereka. Dengan sengaja dia menjatuhkan nya ke dalam mangkuk soto ayam yang membuatnya mendapat bentakan dari pemilik soto itu.


"Sialan, itu sampah kenapa di masukkan di makananku?!"


"Salahkan yang melemparinya padaku. Lagian kenapa ANAK KELAS A, ANGGOTA OSIS YANG TERHORMAT DARI SEKOLAH WIYATA MANDALA MALAH MELEMPAR ORANG DENGAN SAMPAH SEMBARANGAN?" dengan nada sengaja ditekankan dan diperjelas untuk menarik perhatian orang sekitar. Muka mereka pun memerah hingga ke telinga karena orang-orang mendengar apa yang Rikha katakan.


"DASAR ANAK HARAM, PINTAR SEKALI CARI PERHATIAN!"

__ADS_1


"Bukan anak haram, tapi dia bahkan tidak tahu siapa orang tua kandungnya, tidak di didik dengan benar sehingga menganggap semua lelucon kecil seperti hal yang serius."


"Setidaknya aku taat peraturan dan memang bukan dari kelas terbaik sehingga kesalahanku bisa dimaklumi. Kalian sendiri apa tidak malu melanggar peraturan?" katanya sambil lalu, masa bodoh dengan makian mereka.


Dalam hati dia menggerutu kenapa selalu saja bertemu dengan pembuat masalah. Apa mereka tidak punya kerjaan sehingga selalu saja memancing amarahnya tiap kali bertemu. "Semoga saja pertukaran pelajarnya segera datang."


Mendorong sebuah keranjang belanjaan penuh berisi, kali ini Rikha garuk-garuk kepala sendiri memikirkan bagaimana dia membawanya pulang. "Masuk kantong, minta kardus juga nih...ah, tali!" balik kanan seketika berniat untuk menuju bagian alat serbaguna membuatnya hampir menabrak seorang pemuda bersurai perak. "Ah, sorry."


"Ah, my fault too."


"Use your eyes old man!" ejek temannya yang tampak seperti orang campuran Cina atau Jepang.


"Im not an old man, its freaking albino!" bantahnya kesal.


Merasa tidak ada yang tersinggung, Rikha melanjutkan langkahny, tiba-tiba telinganya terasa sakit seperti ditusuk tusuk sate dan berdenging. Jika tidak berpegangan pada keranjang dorong, mungkin saja dia sudah terduduk di lantai.


Hampir saja menjerit kesakitan, malah suara lain yang terdengar "Aar...ggh!" sepertinya juga merasa sakit yang mendadak. Menoleh ke belakang, pemuda yang tadi hampir ditabraknya juga merintih memegangi telinganya sambil memegang bahu temannya agar tidak jatuh.


'Kok bisa sama?' Batinnya bingung, tatapannya bertemu dengan teman orang itu yang mengernyit alisnya melihat Rikha juga mengusap kedua telinganya dengan ekspresi kesakitan seperti temannya.


"Why you-" Tatapan matanya seakan mau menekan nya, membuat Rikha reflek menjauh menghindari mereka. Meski tidak melakukan kesalahan, kepala dan tubuhnya seakan dapat perintah yang bilang jauhi mereka agar tidak dapat masalah.


Hingga mereka menghilang setelah selesai membayar yang mereka beli yang tampaknya adalah beberapa botol minuman alkohol dan snack yang tak kalah banyaknya dengan belanjaanya, barulah dia memberanikan diri menuju kasir terdekat.

__ADS_1


Natsu menanyainya macam-macam saat sampai di rumah karena dia pergi lebih lama dari biasanya. Sepertinya ibu angkatnya itu khawatir jika dia diganggu preman di jalan atau di serempet kendaraan lain atau dikerjai teman sekolahnya seperti biasa. Hingga yakin gadis kecil itu tidak ada lecet atau kenapa- kenapa, barulah dia membiarkannya makan.


Terkadang over protective orang tua angkatnya melebihi orang tua kandung pada umumnya.


__ADS_2