Steel Rose

Steel Rose
Chapter 02


__ADS_3

"Sensei, apa makanannya sesuai dengan lidah anda?" tanya sang nyonya rumah.


"Iya, Terima kasih sudah mengijinkan saya ikut makan."


"Lebih ramai lebih baik. Lagi pula kami tinggal di Bali hanya berdua. Anakku sekarang malah ada di Italia untuk bekerja."


"Suami anda?"


"Saat ini sedang ke Italia menemui anak kami. Dia kembali minggu depan. Rikha, apa bisa buatkan teh?"


"Iya, Pak guru mau teh apa? Merah, hijau, coklat, hitam, putih?"


"Memangnya pelangi?" Guru yang hidup sederhana ala Indonesia pada umumnya, Taunya teh ya...teh.


"Serius pak!" sekali lagi sang nyonya rumah tersenyum geli memberi isyarat agar anak itu berhenti menggoda gurunya "Ya, sudah. Teh vanilla saja."


"Apa aja deh, dirimu itu memusingkanku."


"Tolong second flush untukku."


"Siap!" dengan cepat si mungil lari ke dapur meninggalkan keduanya.


"...sensei, Apakah yang ingin anda bicarakan dengan saya?" masih dengan senyum aura sekitar agak berat begitu mereka hanya berdua.


"Anak itu, dia mendapat beasiswa penuh untuk pertukaran pelajar ke Jepang. Tapi sepertinya dia sama sekali tidak punya keinginan untuk pergi."


"Hm...kami sendiri sudah menyiapkan diri untuk membawa anak itu ke Jepang jika dia sudah lulus SMP. Jika kesempatan malah datang lebih cepat maka lebih bagus."


"Begitu, anda akan menjadikannya pelayan tetap begitu lulus." Sang nyonya menggeleng "Lalu?"

__ADS_1


"Anda tahu kan Orangtua yang merawatnya dari bayi adalah orang yang bermasalah? Sang istri sekarang sedang ada di rumah asalnya, sementara si suami entah ke mana. Meninggalkan anak ini sendirian beberapa tahun lalu."


"Yang saya tahu hanya kabar burung, rupanya itu benar."


"Saat itu saya dan suami kebetulan menemukannya di depan rumah kontrakan dekat sini. Pemilik rumah sudah tak bisa bicara karena dia anak kecil dan menolak pergi tanpa orangtuanya. Mungkin mudah saja bagi mereka membuangnya karena pada dasarnya dia hanya anak angkat, tapi keduanya malah memilih pergi tanpa peduli padanya."


"Apa yang anda akan lakukan jika dia lulus nanti?"


"Membawanya sebagai anak kami dan meninggalkan negara ini selamanya. Anak itu akan punya kesempatan hidup lebih baik jika bersama kami atau jika dia ingin mandiri kami akan mendukungnya sebisanya. Memberinya sebuah rumah dan dukungan finansial hingga usianya 21 tahun bukanlah hal sulit."


Menghela nafas berat sembari memijat kedua alisnya, sang guru melirik ke dapur kemudian kembali menatap sang nyonya. Sepertinya beliau serius ingin mengambil muridnya sebagai anak angkat. Berpindah dari satu asuhan ke asuhan lain, apakah itu akan lebih baik atau malah lebih buruk?


"Apakah anda pernah membicarakannya dengan Rikha?"


"Tentu saja. Anak itu bilang dia sudah tidak peduli pada apapun yang orang katakan tentang dirinya. Dia hanya ingin hidup normal di tempat yang tidak mempermasalahkan asal usulnya yang tidak jelas sejak bayi."


"Bukankah kasus Bully di negara anda juga cukup tinggi. Bahkan kasus kekerasan juga banyak terjadi antara siswa."


"Sepertinya hidup anda berat juga."


"Entah, saya malah menikmatinya. Karena saya hanya bisa punya satu anak dan kehilangan rahim, saya tidak bisa memenuhi harapan mereka untuk anak perempuan atau anak lain. Teman-teman anak saya malah membuat saya lebih bahagia karena bisa menjadi ibu untuk mereka."


"Jadi...anda tidak akan melarang anak itu mengikuti pertukaran pelajar?"


"Tentu tidak. Tapi apakah sekolah untuk pertukaran pelajar sudah ditentukan?"


"Setahu saya belum. Dari sekolah kami ada 10 anak yang akan ikut. Rombongan Bali ada 100 orang dan akan disebar secara acak dengan sekolah lain."


"Baguslah, kalau begitu bisa minta salah satu nomer panitia? Saya akan minta untuk menghubungi sekolah anak saya dulu agar tidak perlu khawatir tentang rumah lagi. Ada apartement kosong milik kami yang bisa dipakainya jadi biaya hidup bisa ditabung."

__ADS_1


"Baa-san, apa itu tidak berlebihan?" Rikha muncul membawa nampan berisi teh dan kue kering "Biar saja mereka menempatkanku sesukanya."


"Sponsor itu perlu, sayang. Dengan adanya kami maka kamu akan lebih terjamin. Lagi pula kamu tidak perlu keliling mencari apartement yang tidak melebihi biaya yang disiapkan. Sebagai gantinya kami minta kamu mengurus tempat itu dan belajarlah dengan baik. Hitsu juga pasti akan melakukan yang sama jika seandainya kamu malah datang ke Italia."


"Benar juga, kalau memang ada rekomendasi akan lebih mudah." menyerahkan secarik kertas berisi nomor panitia, sang guru menarik nafas lega. "Apakah kamu sudah yakin bisa ikut?"


"Jika bibi ingin aku pergi, maka aku pergi. Paman mungkin akan lebih cerewet jika aku menolak kesempatan belajar gratis."


"Kufufu...Mitsu memang tipe yang tidak membuang kesempatan sekecil apapun."


"Seminggu lagi, dokumen persetujuan ini harus sudah dikumpulkan termasuk foto copy paspor yang akan digunakan nanti."


"Anak ini sudah punya paspor dan visa jadi pak guru tidak usah khawatir." celetuk sang nyonya yang entah kenapa malah membuat kaget keduanya.


"Kapan aku buat?"


"Lho, kamu lupa, sebelum pamanmu pergi ke Italia kamu disuruh menandatangani kertas dokumen kan?"


"Iya, ada segepok."


"Nah itu lah dia!" GUBRAK! Bisa-bisanya ada orang macem begini yang semua dibawa santai.


"Paman itu memang seenaknya. He told me that just piece of measuring paper for my bank account!"


'Malah bagus kalau sudah diurus' batin sang guru. Keluarga yang mengambil muridnya ini adalah tipe siapkan semua sebelum badai dan banjir. "Jangan-jangan kamu juga disuruh les 3 bahasa asing dan 2 beladiri."


"Lha, kok pak guru tau?! Aduh, Exper ya?!" sang murid syok, guru yang tadinya cuma niat bercanda pun tersedak.


"Tentu saja! Kita tidak tahu kapan bertemu orang asing atau pergi ke negeri orang. Kapanpun kita mendapat masalah maka selesaikan dengan tuntas! Libas semua!" si nyonya tampak semangat membara hingga meremas hancur kue di tangannya. "Kalau ada yang mencoba macam-macam, patahkan saja tulang dan giginya!"

__ADS_1


"Siap 86!"


"...Hahaha...dah lah. Aku menyerah, permisi pulang saja." Bisa-bisa ikutan gila jika dia harus lebih lama di rumah itu. Sampai rumah dia sungguh akan minum obat sakit kepala dan tidur nyenyak! Kapan lagi dia bisa menikmati libur tenang yang jarang ada.


__ADS_2