Steel Rose

Steel Rose
Chapter 06


__ADS_3

Jam 5 lewat, telepon kamar berdering tak henti-henti membuat penghuni kamar memasang wajah jutek. Diangkatnya telepon dengan gusar "Moshi-moshi?"


[....] di seberang telepon terdiam sebentar [Maaf dengan adik Rikha dari kelas 2D?]


"Hai, ya ... kenapa?"


[Maaf, kami pihak hotel di minta membangunkan tiap murid untuk segera bersiap karena jam 7 semua murid sudah harus ada di bus.]


"Oh, terimakasih." melirik jam yang masih pukul 5 lewat 10 menit. "Kalau gitu bisa minta sarapanku dibawakan ke kamar?"


[Baik, Untuk menu sarapan ada nasi goreng, roti bakar, sandwitch ham dan telur. Untuk minum bisa pilih jus, susu, kopi atau teh.]


"Minta sandwich ham dan telur, minumnya susu hangat. Sekalian untuk dibawa di bus, tolong siapkan roti bakar 5 rasa, sandwitch telur dan ham untuk 4 porsi, karaage, saos dipisah. Untuk minumnya tolong 2 cola dan sprite kaleng juga teh kotak atau jus kotak juga boleh. Sekalian masukin tas totebag ya, kak. Terimakasih."


[Baik, terimakasih kembali. Mohon di tunggu.]


"Cukup ngak ya buat di bus?" Melihat lamanya perjalanan hari ini Rikha yakin dia takkan sempat makan siang kalau tidak beli dari hotel. "Mandi aja deh dulu."


Di keluarkan nya pakaian adat yang akan di pakainya hari ini. Semua anak langsung memakainya sejak pagi. Kebaya orange, Long torso lingerie capuccino, Kamen (kemben) jadi warna coklat dengan corak bunga sandat yang bahannya elastis, celana legging hitam, anteng (ikat pinggang) warna kuning.


"Tante niat sekali nyiapin ini ya." mungkin karena kesibukan di dapur hotel, jam 6 lewat 15 barulah sarapannya datang beserta pesanannya. Roti-roti dan karaage yang dimasukkan dalam kotak bekal masih panas jadi Rikha mengeluarkannya dari tas dan membiarkannya terbuka agar uap panasnya keluar dan tidak cepat basi.


"Hari ini ke mana dek?" tanya pengantar makanan. Orangnya sama dengan yang mengantarnya ke kamar semalam.


"Ke Besakih sama Batur, kak."


"Ah, makanya pesan makanan buat di jalan ya. Biasanya bakal sampai sore atau malam juga tergantung ramainya."


"Uhhum. Kita kan ngak dapat makan di bus jadi kalau sempat di Besakih beli makan sendiri, kalau tidak ya...kelaparan sampai penginapan berikutnya."


"Masih ada jadwal?"


"Besok terakhir ke Pura Dalem Ped di Nusa Penida, kak, jadi kita nginap di Sanur."


"Waduh! Dari sini ke Besakih, lalu ke Sanur?! Keliling Bali itu namanya."


"Murid mah ikut kata guru aja lah...."


"Yang kuat ya. Jangan sampai mabuk darat, perut ngak boleh kosong."


"Makanya aku pesan amunisi."

__ADS_1


"Yuk, Ntaps!" pengawai hotel memberinya jempol.


Ponselnya mulai ribut dengan pesan masuk dari group kelas. Andre pun mengirim pesan lewat Line dengan emot menyuruhnya bangun yang dibalasnya dengan stiker Panda Punch.


.


.


.


.


.


Jam 7 sebagian besar anak sudah masuk ke dalam bus. Guru juga tampaknya memesan makanan dari hotel untuk di bawa jadi mereka agak delay. Murid kelas D tampaknya masih agak lifeless karena bangun kepagian dan tidak terbiasa tidur di tempat asing. Sebagian besar sudah mulai tertidur di bus.


Rikha tadinya ingin duduk di kursi nomor 3 dari belakang tapi teman-temannya menyuruhnya tetap di posisi sebelumnya. Walhasi dia kembali duduk di kursi nomor 2 dari depan sebelah kanan. 3 temannya juga tampak tidak bisa tidur nyenyak tadi malam.


Pesan lain masuk lewat Line. [Dah di bus?] tanya Andre.


'Sudah.' balasnya singkat.


Kalo ini alisnya agak berkedut 'Dah.'


[Ntar aku minta ya!]


"Kamfrettt!" sungutnya reflek yang membuat semuanya meliriknya termasuk pak guru yang baru saja duduk di seberang kursinya.


"Kenapa nih?"


"Ngak pak, ini Kak Andre malak makanan." Mereka malah menertawakannya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Pura pertama hari ini adalah Pura Ulun Danu Batur yang merupakan salah satu dari pura terpenting di Bali yang bertindak sebagai pemelihara harmoni dan stabilitas seluruh pulau. Pura Ulun Danu Batur mewakili arah Utara dan didedikasikan untuk Dewa Wisnu dan Dewi Danu Batur. Setelah hancurnya kompleks pura yang asli, pura tersebut dipindahkan dan dibangun kembali pada tahun 1926.


"Manusia boleh berencana, hasilnya tuhan yang tau." Gumam Rikha saat turun dari bus. Sungguh apes bus mereka malah pecah ban di dekat danau. Padahal sedikit lagi sampai, sungguh nasib tidak bisa di duga.


"Adik-adik tunggu di sekitar sini saja ya, kamu mau ganti dulu dengan ban serep." kata supir dan penggantinya. Guru wali mereka pun ikut membantu agar lebih cepat.


"Meh, nasib jelek san neh. (Nasib apes banget sih.)" gerutu Ratih.


Penumpang yang tadinya tidur di bus kaget karena suara pecah ban dan goncangan karena rem mendadak. Untungnya jalanan sepi dan bus kelas D adalah bus yang paling terakhir berangkat. Guru mereka sempat menghubungi guru lain untuk melaporkan kondisi mereka. Supir bilang 30-40 menit saja cukup untuk mengganti ban, jadi mereka memilih menunggu.


"Padahal ini hari libur ya, kok sepi?" Hanya 2 mobil yang terlihat lewat dalam hitungan 10 menit. "Wei, ngapain kau?"


Dita melihat Rikha yang sedang mengobok- obok ransel mereka. Yang mereka keluarkan adalah permen dan kue. Tiada yang bisa merusak nafsu makan duo ini meski gempa bumi muncul.


"Bosen tau."


"Belum juga 10menit." murid lain mulai ikut makan cemilan mereka. Beberapa lari ke warung seberang jalan untuk berbelanja cemilan dan minuman.


"Ada yang tau kita nginap di mana di Sanur nanti?" tanya salah satu anak cowok.


"Tidur di bus kata OSIS." sahut Rikha.


"Eeehhh?!" Semua kaget.


"Penginapan di Sanur kan mahal."


"Ta, tapi masa 3jt ngak cukup buat biaya sewa motel?!"


"Emang ada yang muat nampung?"


"Motel paling banyak hanya 10-20 kamar. kita 334 orang mau di taruh di mana? Hotel paling murah juga 400-1jt per kamar. Kalau kalian punya uang boleh lah sewa sendiri."


"Ngak kayak kemarin gitu, di sebar di beberapa penginapan?"


"Katanya sih guru ada yang ke Sanur buat nego lagi soal kamar. Mungkin di suruh berbagi lagi seperti kemarin."


Semua anak yang satu penginapan dengan Rikha tau kalau anak itu tidak kebagian kamar dan malah harus sewa sendiri. Tapi hanya 2 anak di kelas termasuk wali kelas mereka yang tau kalau dia malah menyewa kamar paling mahal. Tidak ada yang pernah melihat sobat kecil mereka bawa uang banyak atau bawa barang mahal. bahkan 1 ransel di pakai selama 5 tahun sejak SD. Sepatu juga hanya di ganti kalau sudah robek atau mulut buaya menganga.


"Makin mahal saja jualan orang sekitar sini." gerutu teman sekelas yang baru kembali dari warung. "Minuman yg biasanya 4ribu kalau dingin di sini jadi 8ribu. Hampir semua jenis 2 kali lipat naiknya."


"Dagang kan nyari untung. Yang bawa ke sini emang ngak pakai bensin apa kendaraannya?" tukas yang lain. Beberapa anak di kelas D memang memiliki toko dan grosiran di rumah mereka. Pastinya mereka lebih tau soal untung rugi penjual dan biaya transportasi. "Kalau nyari untung itu wajar, kalau berlebihan baru kurang ajar. Kalau kalian ngak tau patut belajar. Jangan pikir semua harus sesuai khayalan kalian." Semua terpaksa pasang kuping mendengar ceramah dari teman mereka yang ngak kalah dengan kepala sekolah saat upacara 17an. Ngak heran dia menang lomba pidato.

__ADS_1


__ADS_2