
Rombongan menuju penginapan saat hari menjelang malam. 10 bus berangkat menuju tempat berbeda karena tidak bisa mendapatkan tempat menginap yang sama. para guru sepertinya sengaja memilih hotel dan penginapan sekitar Monkey Forest karena tujuan mereka berikutnya adalah Pura Batur, Pura Besakih dan Pura Goa Lawah.
Sebagian besar kamar di isi 3-4 orang atas persetujuan pihak hotel. Anak-anak di bebaskan memilih teman sekamar mereka. Hanya para guru yang menempati kamar single atau double tanpa harus berbagi ranjang. Rikha yang melihat 3 temannya berbagi kamar yang berisi satu ranjang besar bingung sendiri dia harus sekamar dengan siapa. Jika dia ke penginapan lain mungkin ada yang mau berbagi, tapi siapa anak SMP juga yang mau berkeliaran jam 8 malam di tempat yang asing?
Beberapa teman yang sayangnya laki-laki sempat mengajaknya berbagi kamar tapi siapa juga yang mau cari masalah? Minta guru untuk di ijinkan sekamar dengan mereka? Siapa juga yang mau merusak ketenangan dengan di awasi guru? Andre sendiri bertanya pada anak perempuan lain yang mau berbagi kamar dengan Rikha tapi jawaban sinis malah diterimanya.
"Sudah lah kak, ak mau ke resepsionis dulu."
"Ngapain?"
"Check in, lah!"
"Dapat teman sekamar?"
"Aku sewa sendiri saja." sambil melambaikan debt black card yang masih rapi terbungkus plastik transparan sejak pertama kali di terimanya. "Ngapain repot."
"Asem, Di kasi Om apa tante?"
"Dua-duanya. Selama ini uang bulanan ku di transfer ke sini oleh paman dan bibi, tapi bibi sering juga ngasi uang saku jadi bisa di bilang ini jarang terpakai kecuali-"
"Pesan permen dan cemilan lewat online..." gumam Andre. Hapal betul dia dengan kebiasaan bocah satu ini. Dia tidak tahu berapa uang yang mungkin di miliki anak ini karena tidak pernah beli apapun selain makanan. "Berapa juta isinya tuh." 'paling 3-5 juta' batinnya.
"Oh bentar." Rikha membuka Internet Banking miliknya dan melempar ponselnya pada Andre yang nyaris copot jantung menerimanya karena di lempar tanpa aba-aba. "Pass sudah kesimpan, cek aja informasi rekening, trus informasi saldo." katanya cuek.
"Ngak takut aku bobol?"
"Internet banking cuma bisa pakai "Key Code" kan aku tidak bawa itu sekarang." katanya sambil lalu.
"Bocah sogong." gumam sang ketua OSIS. Dia pun iseng mengecek saldo untuk akun milik Rikha. Beberapa detik akhirnya halaman informasi saldo keluar dan dirinya melihat hal yang agak tidak cocok untuk di miliki anak SMP yang setiap hari sekolah dengan naik angkot atau sepeda Listrik sebagai kendaraan sehari-hari. "Berapa banyak dia di kirimi per bulan?!"
Dalam rekening itu tidak hanya ada rupiah yang saldonya mencapai 23 juta, ada Yen, Dolar yang sepertinya dolar Amerika, dan Euro yang jumlahnya lumayan. Jika uang asing ditukarkan, jumlah uang rupiah malah paling sedikit. Dengan jantung berdebar tak karuan dia buru-buru menghampiri Rikha yang memesan kamar di resepsionis.
"Loh, adek tidak mau berbagi kamar dengan yang lain? Sayang uang sakunya." kata pegawai dengan ramah tapi Andre malah merasa sebaliknya. Kepalanya sakit melihat isi saldo anak itu dan menyerahkan kembali ponsel yang di pegang nya. Lagian uang segitu dia bisa punya hape termahal tapi ini hanya hape biasa harga 4 jutaan.
"Terlalu sempit kak, minta list kamar yang masih kosong dong."
"Oh, mau berduaan dengan pacar ya~" goda sang pegawai setengah bercanda.
"What?!/Idih!!!" teriak keduanya bersamaan.
"Aduh, bukan ya. Nah, yang kosong ada beberapa dengan Double bed harganya 800 ribu per malam, delux room 1juta 200 ribu per malam dan suit room 4,5 juta per malam, dek."
"Bedanya Suit sama delux apa kak?"
"Delux ada yang single bed atau double bed, kamarnya lebih luas dengan pemandangan bagus, dapat Snack juga, kamar mandi bathtube air panas. Untuk Suit dapat makan malam dan sarapan di kamar, kamarnya paling besa-"
"Ambil yang itu!" Kata Rikha segera begitu dengar kata 'Dapat makan'.
"Yang mana dek?"
"Suit! Bayar pakai debit bisa kan?" katanya sambil menyodorkan kartu "Cash ku kurang."
__ADS_1
"Eh?" Sepertinya pegawai hotel tidak mengira anak SMP akan minta kamar mereka yang paling mahal. "Yakin dek?"
"Ada aturan umur?"
"Eh, ngak, ngak. Akan saya proses."
"Ngak buang-buang duit tuh?" pening, Andre menyerah dengan kegilaan bocah satu ini.
"Ketenangan lebih mahal."
"Siapa yang ngajarin sih?"
"Paman Mitsu?"
"Bah. Om-om error' itu, kenapa Tante bisa kepincut ya?" yang di tanya angkat bahu. Tak lama datang pegawai pria membawa kopernya dan mengantar ke kamar yang di sewa.
"Adek yang paling muda yang pernah menyewa kamar ini. Aseli Sultan!" kata pegawai itu dengan ancungan jempol "Makan malamnya akan diantar sebentar lagi. Di kulkas dan lemari dapur ada Snack khusus untuk penyewa jadi boleh di makan." Rikha menyerahkan tip untuk pegawai yang mengantarnya. Mata sang penerima berbinar bagai senter, beberapa kali mengucapkan terimakasih, dia pergi dengan langkah girang.
"Aku bukan muslim atau Arab, apa lagi laki-laki kok di katai sultan ya?"
"Weh, itu cuma perumpamaan buat orang kaya jaman sekarang!" Terkadang dia lupa anak ini agak kurang gaul soal bahasa.
"Hum...bodo ah. Terus kamu ngak balik ke kamarmu?"
"Di usir nih?!" padahal dia juga ingin menikmati Snack atau makanan untuk VIP.
"Mandi sono, ganti baju. Baumu asem."
"Ku tungguin kau datang baru kita makan."
.
.
.
.
.
Sekitar 30 menit kemudian bertepatan dengan selesai mandinya, makanan datang dengan di bawa kereta troli. Biasanya pengantar makanan di hotel hanya menggunakan nampan yang di tutup tapi ini troli yang di bawa oleh pegawai.
"Dinner untuk Suit Room." kata pegawai sambil meletakkannya di meja makan. Suit Room dapat dapur kecil dengan peralatan makan dari perak. "Yakin bisa habis sendiri? Biasanya ini porsi 2-3 orang, dek."
"Ada kak Andre yang bantuin makan. Teman-teman juga datang ke sini sampai jam absen malam. Boleh pesan Cemilan tambahan?" Rikha menghubungi Dita, Ratih dan Guru wali kelasnya untuk memberitahu dia memesan kamar sendiri. Mereka bilang akan datang ke kamarnya jadi dia sengaja memesan cemilan lain yang bisa dibagi-bagi bersama.
"Oh, sudah datang ya." Andre datang saat pengantar makanan keluar kamar. "Wah, lumayan lengkap ya, sampai ada dessert dan keranjang buah."
"Katanya ini porsi 2 sampai 3 orang. Sepertinya yang nyewa kamar ini biasanya group atau keluarga."
"Ya iya lah, emangnya kamu yang kurang kerjaan."
__ADS_1
"Silakan pergi pintu masih terbuka." tukasnya datar.
"Bercanda we! Ayo kita makan! Aku kelaparan ini!"
"Yang lain makan di mana?"
"Harusnya di cafetaria hotel. Kan sudah di pesan makanan untuk semua."
"Terus kamu malah makan di sini."
"Ayolah, aku bosan makan nasi goreng atau makanan gorengan semua!" memang benar kalau makanan group jika bukan nasi goreng hambar atau keasinan pasti nasi dengan fillet ayam/ikan goreng dengan saus pedas manis yang kadang keras dan kurang enak karena terlalu tebal tepungnya. "Aku baru tahu kalau VIP dapat yang begini."
Menu Suit yang diantar adalah satu ekor ikan mujair nyat-nyat, 2 nasi bakar cumi hitam, sapo tahu seafood, ayam goreng sayur, se piring lumpia goreng dan roti bakar mentega, sekeranjang buah dan 2 botol cola + es batu dalam gelas dan 2 teh kotak dingin. Memang untuk menu saja harganya sudah lumayan.
"Mari makan!" kata keduanya dan mulai makan makanan yang terhidang di depannya. semua masih panas dan hangat. Nasi bakar bahkan masih sangat panas hingga mereka hanya membukanya dan membiarkannya agar agak dingin dan memilik memakan lauk dan sayur lebih dulu. Nasi bakar tanpa lauk tambahan saja sudah enak.
"Lumayan, hampir menyaingi masakan di restoran mamaku!" Gaya nya sudah seperti juri MasterChef saja.
"Iya. Tapi ayam sayurnya aku lebih suka ini."
"Bah, dasar customer ngak setia."
Mereka makan dengan tawa, hingga pesanan lain datang. Andre melotot melihat sepiring lumpia, karaage, Club sandwich, roti bakar coklat keju, dan 2 botol besar cola datang.
"Siapa yang bakal makan ini?! Ini aja belum habis!"
"Buat pak guru, Dita, Ama Ratih, atau kalau ada yg ikut juga ke sini."
"Oh, kirain kamu alih profesi dari tukang usir hantu jadi Youtuber Mukbang." pembawa makanan itu menaikkan alisnya dengan pembicaraan dua anak di depannya.
"Ini notanya, ada lagi yang di perlukan?" Rikha melirik jumlah yang harus di bayar. Biasanya semua makanan itu tidak akan sampai 150 ribu jika beli di tempat biasa, tapi karena ini hotel tagihan hampir mencapai 300ribu. "Yah, ada pelayanan ada harga. Ambil saja kembaliannya."
"Bokek kamu kalau terus ngasi tip sebanyak itu." protes sang ketua ketika pelayan hotel pergi.
"Yah, sekali-sekali boros boleh lah. Bibi bilang aku harus melakukan yang aku suka mumpung libur. Manjakan diri saja."
"Ya sih...aku juga kecipratan."
"Jangan lupa kau hutang 3 bungkus loh."
"Cuma 2 Weh! Jangan nambah-nambah!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC