
Proses penggantian ban pecah hampir sejam, jauh meleset dari yang mereka perkirakan. Bus kelas A lewat saat mereka akan masuk kembali ke dalam bus. Mereka berseru mengejek anak kelas D yang bernasib malang.
Rikha melihat Andre ada di kursi paling depan melihatnya dengan tatapan khawatir, anak-anak perempuan yang biasa mengganggunya sungguh jelas terlihat menatapnya sambil tertawa geli. Terlambat dan tidak bertemu mereka adalah hal baik baginya jadi si mungil tidak ambil pusing. Toh jadwal pemberhentian terakhir tetap di Sanur karena mereka harus naik speedboat besok paginya.
Bus kelas lain juga mulai terlihat saat mereka sampai di areal parkir Pura. Hanya bus khusus OSIS dan Guru yang tetap tinggal untuk mengawasi karena mereka tak tega membiarkan murid kelas D sendiri apa lagi sampai ada yang tertinggal karena jadwal yang kacau. Ada beberapa menunggu di depan pintu masuk pura untuk mengawasi karena yang sudah sembahyang di larang tetap ada di areal pura yang memang padat pengunjung.
Parkiran yang lumayan ramai membuat mereka terpaksa parkir agak jauh, 300 meteran dari pura di tempuh dengan jalan kaki. Anak-anak berjalan dengan santai karena hari masih cukup siang, jalan kaki malah membuat mereka merasa lebih baik dari pada duduk di bus atau berdiri di tepi jalan.
Persembahyangan di pimpin oleh pendeta sehingga mereka memulainya bersamaan dengan pengunjung lain. Menunggu giliran mendapat Tirta (air suci) dan bija (beras yang di rendam air suci) Rikha merogoh ponselnya yang sejak tadi cukup ribut.
Andre sepertinya melapor soal ban pecah pada bibinya sehingga dia mendapat banyak pesan. Di balasnya pesan itu sebelum mencapai angka puluhan missed call memenuhi ponselnya. Tak lupa membalas pesan si biang kerok dengan stiker panda punch.
Semua anak langsung kembali ke bus meski mereka mengeluh kalau mulai lapar. Jadwal mereka sudah ngaret jadi guru bilang mereka akan dapat kesempatan istirahat di Pura Besakih. Rikha meminta supir bus untuk membuka bagian bagasi dan mengambil kardus penuh cemilan dan permen miliknya untuk dibagikan di perjalanan. Meski tidak banyak untuk 35 anak, setidaknya cukup untuk mengganjal perut beserta roti yang di beli tadi di hotel. Karaage dan 4 potong roti tetap disisakannya untuk nanti.
"I love you chibi-chibi!" kata anak-anak cowok yang dengan suka cita dapat makanan di saat yang tepat.
"Aku bukan cucunya 'Sailor Moon'!" sungutnya kesal. Meski dia paling pendek di kelas bahkan mungkin di seluruh angkatannya, dia tidak terima dikatai 'chibi' apa lagi di ulang dua kali yang artinya kecil mungil.
Wali kelas dan supir pun kebagian roti isi meski hanya sepotong dan sebungkus roti sisir. Supir yang tampaknya memang lapar lebih dulu menghabiskan makanannya dan mulai menyalakan mobil untuk melanjutkan perjalanan.
.
.
.
.
.
Pura Besakih (aksara Bali: ᬧᬸᬭᬩᭂᬲᬓᬶᬄ) adalah sebuah komplek pura yang terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Indonesia. Komplek Pura Besakih terdiri dari 1 Pura Pusat (Pura Penataran Agung Besakih) dan 18 Pura Pendamping (1 Pura Basukian dan 17 Pura Lainnya). Di Pura Basukian, di areal inilah pertama kalinya tempat diterimanya wahyu Tuhan oleh Hyang Rsi Markendya, cikal bakal Agama Hindu Dharma sekarang di Bali, sebagai pusatnya.
Pura Besakih merupakan pusat kegiatan dari seluruh Pura yang ada di Bali. Di antara semua pura-pura yang termasuk dalam kompleks Pura Besakih, Pura Penataran Agung adalah pura yang terbesar, terbanyak bangunan-bangunan pelinggihnya, terbanyak jenis upakaranya dan merupakan pusat dan semua pura yang ada di komplek Pura Besakih. Di Pura Penataran Agung terdapat 3 pelinggih utama yang disebut Padma Tiga simbol stana dari Tri Purusha yaitu Siwa, Sada Siwa dan Parama Siwa. Tri Purusha adalah tiga tingkat Kesadaran Rohani. (sumber Wikipedia)
__ADS_1
Di bandingkan jalan yang di lewati ke Pura Batur, jalur ke Pura Besakih lebih banyak tanjakan dan tikungan yang lumayan tajam. Bagi yang punya mabuk kendaraan, ini adalah ujian terberat, belum lagi munculnya kendaraan dari arah berlawanan yang terkadang membuat terapi syok jantung.
Memasuki kawasan Karangasem Rendang jalanan tidak lagi terasa memicu adrenalin karena tikungan menanjak sudah berkurang, semuanya ngobrol dengan santai karena mereka akan segera sampai di Pura. Rikha yang sengaja memejamkan mata karena masih merasa cukup seram dengan medan jalan merasa sesuatu dingin menjalar di tengkuknya dan telinganya berdenging menyakitkan. Pertanda buruk yang bahkan tidak muncul saat pecah ban tadi.
Sedetik kemudian dia bangun dari kursinya dan melihat ke depan dan ke arah teman-temannya yang ada di dekat pintu masuk belakang. Ada bola- bola api merah transparan melesat di luar bus mendahului mereka.
"Yang di belakang menjauh dari jendela!!!" jeritnya. Anak-anak yang duduk di bagian dalam reflek menarik teman mereka yang ada di dekat jendela. Belum ada beberapa detik dari teriakannya, kaca ke tiga dari depan di seberangnya pecah diikuti kaca lain di belakangnya. Pohon tumbang mengenai separuh bagian bus. Anak-anak yang ada di dekat jendela pecah ada yang pingsan dan luka ringan karena pecahan kaca, tapi untungnya tidak ada yang kena tusuk ranting pohon yang masuk ke dalam bus.
Untuk kedua kalinya mereka berhenti karena kejadian tidak terduga. Yang terluka menangis kencang, yang baru sadar dari pingsan juga histeris, beberapa lainnya hanya bisa gemetaran karena kaget. Rikha sendiri panik karena dia pasti akan ditanyai macam-macam oleh mereka nantinya. Tapi itu lebih baik dari pada korban nyawa.
Mereka di tuntun untuk duduk di balai Banjar sementara penduduk desa mengambilkan kotak pertolongan pertama untuk yang terluka. Ratih dan Dita menggenggam tangan Rikha yang gemetar hebat karena tatapan tajam anak-anak yang heran kenapa dia bisa tahu akan ada yang terjadi.
Semua anak tahu kalau pemilik Surai panjang itu terkadang suka mengatakan hal aneh atau bersikap seperti anak Indigo, namun ini pertama kalinya mereka mengalami hal yang memaksa mereka untuk berpikir harus percaya.
Tatapan Rikha masih terpaku pada bola api merah yang masih mengelilingi mereka. Mereka belum sepenuhnya aman dari bahaya yang akan terjadi jika perjalanan mereka dilanjutkan.
Sebuah mobil Alphard Vellfire menepi di dekat bus. Pria asing bersurai coklat kemerahan hingga ke bahu turun dari mobil menghampiri guru mereka. Beberapa temannya juga turun dari mobil mengikutinya. Sepertinya mereka menawarkan bantuan untuk memeriksa murid yang terluka.
Salah seorang yang sepertinya orang Jepang atau China menatap Rikha lekat-lekat. Dia adalah orang yang sempat Rikha lihat di supermarket beberapa waktu lalu. Orang yang sempat dia lihat bersamanya saat itu tidak ada di antara mereka. Pintu mobil kembali terbuka dan yang keluar adalah orang yang sama sekali tidak diduganya. Diantara keterkejutannya, mata mereka bertemu.
"Oh, maaf. Kamu sungguh tidak ada luka kan?!"
"Tempat dudukku jauh dari bagian yang pecah kak. Lagi pula kenapa ada di sini?"
"Oh, dia (menunjuk temannya yang memeriksa murid luka) ingin mengunjungi Besakih mumpung ada di Bali. Kami hanya di sini 2 hari jadi maunya saat balik aku singgah ke rumah. Aku tidak menyangka akan bertemu di sini."
"Harusnya kakak kasi kabar kalau pulang ke sini."
"Yang penting kan aku setor muka nanti sebelum kembali ke Italia." sahut sang Brunette enteng.
"Ayah anak sama saja." Dengus Rikha kesal.
"Bus kalian sepertinya tidak bisa dipakai untuk melanjutkan perjalanan."
__ADS_1
"Mungkin kami terpaksa di bagi ke bus lain yang tersisa. Bahaya kalau pakai bus itu lagi."
"Kondisinya juga ngak mungkin di pakai lah." meski pemuda itu kurang paham maksud adik angkatnya, secara fisik busnya memang sudah tidak layak di pakai melanjutkan perjalanan. "Marga, apa kita bisa siapkan kendaraan baru?"
"Dunno, mungkin bisa hubungi Biya di rumah untuk kirim beberapa mobil."
"Euh, anak badmood itu mana mau angkat teleponku. Kau saja, dia kan adikmu!"
"Kalau saja kalian ini bisa akur sedikit..." gumamnya yang kemudian menatap Rikha lekat-lekat dari kepala hingga kaki. "...masa sih...kebetulan sekali."
"Hey, apa kau lihat-lihat?!" Hitsu menghalangi tatapan Marga dengan berdiri di sela keduanya "Kau sudah ada calon loh." Marga dan yang lainnya tertawa keras mendengar tuduhan sang Brunette. Sepertinya memang ada sebab lain yang membuat pemuda itu menaruh perhatian pada Rikha.
"Ah...kau tenang saja. Nanti aku akan memberitahumu Hitsuya." Marga menghampiri temannya yang lain. Mereka bicara dengan bahasa asing yang belum pernah di dengarnya. Bahkan Hitsu sendiri bingung mereka bicara bahasa apa.
.
.
.
.
.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya bus lain muncul. Bus OSIS, bus kelas A dan C yang menampung anak kelas D. Sementara bus yang rusak kembali ke Denpasar untuk di perbaiki. Mereka tidak bisa mengirim bus pengganti karena semua armada terpakai.
Rikha kebagian di bus kelas A, sungguh sangat sial. Apa Tuhan sebegitu bencinya padanya hari ini? Semua masalah datang bertubi-tubi. Andre yang ikut menjemput mereka merasakan pandangan menusuk anak kelas D pada keduanya.
"Apa ada yang 'terlihat' tadi?" tanya sang ketua OSIS yang di balas anggukan singkat. "Kamu kan menolong mereka, tapi kenapa malah balasannya seperti melihat pelaku kejahatan begini?!"
"Andre, kenapa malah kamu yang emosi?" Hitsu mengacak-acak rambut remaja yang sedang naik pitam itu. "Mereka cuma syok. Tidak seburuk yang kamu kira kok."
"Kakak tidak tahu separah apa mereka. Aku akan minta kamu naik di bus OSIS. Kelas A cuma biang penyakit buatmu."
__ADS_1
"Itu kelasmu sendiri loh."
Tapi sayangnya guru tidak mengijinkan mereka bertukar bus karena sudah di bagi melalui nomor urut di kelas. Dita dan Ratih pun dapat bus yang berbeda. Kesabaran anak kelas D hari ini betul-betul diuji.