
Tidak ada persahabatan antara laki- laki dengan seorang perempuan. Karena melibatkan perasaan perempuan ataupun laki- laki.
Ini adalah story Laura launencia yang harus merelakan kekasihnya untuk perempuan lain. Laura berpikir kalau kebahagian laki- laki yang dia sayangi akan bahagia dengan perempuan lain dan tak lain adalah sahabat kekasih nya itu.
Laura yang memiliki orangtua lengkap dengan fasilitas yang mewah sehingga Laura di anggap anak sultan karena tidak kekurangan apapun dari materi maupun kasih sayang dari orangtuanya.
Laura yang merupakan anak satu satunya dari keluarga harmonis tetapi memiliki martabat dan kehormatan yang di segani.
Laura yang sudah menginjakkan kakinya di SMA elit dan masih berusia 16 tahunan tetapi memiliki kepribadian yang cukup dewasa dengan umurnya.
Dia memiliki sifat yang lemah lembut akan tetapi dia manja dalam hal apapun.
Hari di mana Laura akan sekolah dan dia merindukan teman- temannya. Laura juga tidak hanya baik dan cantik tetapi dia juga pintar dan bahkan banyak yang menginginkan kehidupan seperti Laura yang selalu bahagia dan ceria setiap berangkat ke sekolah.
"Ma, Laura ke sekolah dulu yah ma! Dadah mama sayang!" Teriak Laura sambil mencium pipi ibunya yang sedari tadi bolak balik di dapur untuk menyiapkan sarapan.
"Sayang! Kamu belum sarapan! Sarapan dulu sini!" Panggil mamanya.
Ririn nama ibunya yang memiliki paras yang cantik. Dan kecantikan nya itu mewarisi kepada Laura.
Panggilan dari Ririn membuat Laura terhenti. Dia tersenyum mendengar teriakan ibunya dan berbalik badan.
"Maaf ma! Heheh. Tapi Laura udah telat ma! Lain kali aja yah ma! Dadah mama" ucap Laura sambil tersenyum kepada Ririn.
Ririn tersenyum melihat putri nya sudah beranjak dewasa dan Ririn sama sekali tidak mengekang apa yang di inginkan oleh putri satu satunya itu.
Laura berlari ke arah supir karena setiap hari Laura akan di antar jemput oleh mang asep.
"Mang!!" Teriak Laura sambil mengagetkan mang asep yang sedang menikmati kopi di pagi harinya.
Uhuk...uhuk..uhukk
Mang asep yang sedang menikmati kopinya tiba- tiba terbatuk karena laura mengejutkan nya.
"Ehhh non Laura!" Panggil mang asep sambil menyimpan kopinya dan merapikan bajunya karena basah oleh kopi yang sedikit tersiram.
"Maaf mang! Laura kira tadi mang asep cuman duduk santai! Maaf yah mang!" Ucap Laura sambil mengucapkan minta maaf kepada mang asep selaku supirnya itu.
Laura merasa bahwa apa yang di lakukan nya itu membuat orang jadi celaka.
" ngak apa- apa kok non. Cuman sedikit mah gini" jawab mang asep.
__ADS_1
Kasihan dengan baju mang asep yang sedikit basah karena ulah sendiri membuat Laura pun memberikan sebuah sapu tangan nya.
"Maaf yah mang!" Ucap Laura minta maaf sambil memberikan sapu tangan tersebut ke mang asep.
"Ngak apa- apa kok non. Ini mah cuman sedikit kok non! Non mau mang anterin ke sekolah?" Tanya mang asep melihat laura yang sudah berpakaian seragam.
"Oh iyah mang! Laura telat nih mang. Ini hari pertama Laura ke sekolah mang?" Teriak Laura mengingat dia telat ke sekolah karena semalam dia begadang membaca sebuah novel.
"Ayo mang! Laura telat nih mang!" Ucap Laura sambil melihat jam tangan nya yang sudah mulai menunjukkan pukul 07:00.
Laura yang tidak mau hari pertama ke sekolah harus telat karena dia akan bertemu dengan teman- teman nya.
"Baik non! Ayo non!" Ucap mang asep dan langsung berlari membuka pintu mobil yang biasa di pakai untuk mengantar dan menjemput Laura.
Laura pun langsung masuk ke dalam mobil dan dia berharap tidak telat ke sekolah. Jantung laura seakan- akan copot ketika mang asep tidak sengaja menyenggol seorang pengendara.
"Ada apa mang!" Ucap Laura.
"Maaf non! Seperti nya saya tadi menyenggol seseorang tadi" jawab mang asep.
"Saya pergi ke sana dulu yah non. Siapa tahu dia kenapa- kenapa?" Ucap mang asep membuka seatbelt nya.
Devan- devan yang akan pergi ke sekolah dengan mengendarai motor kesukaannya. Devan juga akan pindah sekolah karena ayahnya pindah kerja dan Devan harus ikut.
Devan yang sedang mengendarai motornya dan tanpa sengaja dia melihat seekor anak kucing sedang terluka hingga membuat dia terhenti tanpa melihat ke belakang bahwa mobil sedang melaju.
Devan sempat ke senggol dan untung nya dia tidak kenapa- kenapa dan hanya tangan nya terluka.
"Kamu ngak apa- apa" ucap mang asep yang sudah turun dari mobilnya.
Devan berbalik sambil mengendong anak kucing berwarna putih.
"Iyah pak! Saya ngak apa- apa kok pak" jawab Devan tersenyum.
Laura yang berada di mobilnya merasa was- was dan harus buru- buru ke sekolah. Laura membuka jendela mobilnya dan memanggil mang asep.
"Mang asep! Ayo!" Panggil Laura dari jendela pintu mobilnya.
Dan sosok mata bertemu antara Laura dengan Devan untuk pertama kali.
"Dia seperti bulan. Bercahaya ketika gelap datang dan dia mampu menyinari bumi dengan tatapan matanya dan suara nya begitu lembut dan merdu" ucap Devan dalam hatinya melihat sosok Laura.
__ADS_1
"Den, kamu ngak apa- apa kan? Kalau gitu saya pergi dulu yah den!" Pamit mang asep meninggalkan Devan yang masih menggendong anak kucing tersebut dan masih menatap Laura.
Laura menutup jendela mobilnya dan menyuruh mang asep untuk buru- buru ke sekolah.
Dan sesampainya di sekolah Laura turun.
"Oh yah mang! Ingat yah mang. Jangan beritahu sama mama" ucap Laura.
"Iyah non!" Jawab mang asep.
Ketika Laura hendak pergi tiba- tiba saja Laura tersontak kaget karena ketika dia berbalik badan seorang laki- laki berada di depannya.
"Kamu ngapain?" Tanya Laura melihat laki- laki yang berada di depannya sambil menggendong anak kucing.
"Minggir ngak!" Ucap Laura sedikit teriak karena laki- laki tersebut sama sekali tidak menjauh.
Devan menatap Laura sambil mengelus anak kucing yang di gendong nya itu.
"Ternyata kamu sekolah di sini!" Ucap Devan santai.
Laura kebingungan melihat sosok yang di depannya.
"Heii! Kamu itu siapa? Kenapa kamu sok kenal bangat sama saya!" Ucap Laura sambil hendak berjalan.
Devan menarik tas Laura hingga Laura kembali ke belakang.
"Kamu apa- apaan sih! Kamu ada masalah sama saya!" Ucap Laura sambil merapikan bajunya.
"Kamu itu pikun apa pura- pura pikun! Hah!" Ucap Devan tersenyum licik.
Laura hanya melihat sekejap dan buang muka.
"Kita belum pernah bertemu! Dan kamu ngatain saya pikun dan pura- pura pikun!" Jawab Laura sedikit meninggikan suaranya.
Laura langsung menerebos Devan dan pergi meninggalkan Devan yang masih sedang mengobrol dengan nya.
"Ternyata dia sekolah di sini" ucap Devan dalam hatinya.
Devan yang hendak pergi ke kelasnya tetapi dia teringat dengan anak kucing yang sempat dia tolong tadi di jalan.
Akhirnya Devan pun menitipkan anak kucing tersebut ke kantin karena Devan juga sempat membeli makan anak kucing tersebut.
__ADS_1