
Di sekolah SMA yang terkenal dengan keunggulan nya di situ juga Laura dan Devan di pertemukan. Laura yang berada di gerbang sedang menunggu jemputan nya tiba- tiba Devan datang yang mengendarai motor kesayangnya tersebut.
"ayo pulang bareng aku aja" ajak Devan.
"ngak usah. saya udah bisa di jemput oleh supir saya" jawab Laura sambil memegang ponselnya.
Tiba- tiba ponsel Laura berdering.
"halo non. non maaf. Saya ngak bisa jemput non soalnya mobilnya mogok" ucap sang supir.
"oh yah udah pak. Laura bisa naik taksi nanti" jawab Laura menutup ponselnya.
"kenapa? mobilnya mogok?" tanya Devan.
"Iyah, saya mau nyari taksi dulu" ucap Laura menyimpan ponselnya.
Devan menarik tangan Laura.
"biar saya antar aja kamu. lagian mana ada taksi jam segini takutnya ada hal- hal aneh nantinya" ucap Devan.
Laura ketakutan karena perkataan dari Devan. sedangkan Devan hanya tersenyum melihat Laura begitu takut.
"udah ngak apa- apa. Kamu ngak usah takut sama saya" ucap Devan melajukan motornya.
Laura pun berpegangan ke punggung Devan meskipun mereka masih canggung tetapi demi keamanan Laura. Laura terpaksa untuk melakukan nya.
Sesampainya di sebuah taman Laura kebingungan karena Devan bukan nya mengantar dia kerumah nya.
"ngapain kesini?" tanya Laura turun dari motor Devan.
"saya ingin kamu melihat sesuatu yang indah. ayo saya ajak kamu" ajak Devan menarik tangan Laura.
Laura pun mengiyakan dan benar taman itu meskipun kelihatan kecil tapi di dalamnya sangat luas dan bahkan ada pancuran air yang indah.
"wahhh. Indah. Kamu dari mana tahu tempat seindah ini?" tanya Laura.
Devan senang melihat senyum laura
"Devan! Devannn" panggil Laura.
"oh Iyah apa Laura?" ucap Devan yang kedapatan meliriknya.
"kamu dari mana tahu tempat ini? Kok kamu tahu tempat sebagus ini. Saya liat- liat kamu seperti ngak ada niat buat jalan- jalan" ucap Laura yang melihat bahwa Devan tidak terlalu suka jalan- jalan.
Devan tertawa kecil mendengar pertanyaan dari Laura.
Dia berjalan dan membelakangi Laura.
"tempat ini di mana saya dan teman baik saya berpisah. Dia teman baik saya yang sangat ceria dan bahkan dia mirip sama kamu" ucap Devan mengingatkan dia Devan teman baiknya.
Laura mendekati Devan.
__ADS_1
"ternyata kamu punya teman baik. namanya siapa? Pasti orang nya cantik soalnya tempat yang dia suka juga sangat cantik" jawab Laura memegang air pancuran itu.
"dia syeila. Dia anak yang periang, cantik dan juga bar- bar" ucap Devan
Laura menatap ke Devan.
"trus dia di mana sekarang?" tanya Laura tiba- tiba.
Devan berbalik dan melihat Laura.
"dia pergi ke luar negeri ketika kita masih kecil. orangtuanya pindah kerja dan dia harus ikut sama orangtuanya" jawab Devan.
"kayaknya kamu sayang sama dia" ucap Laura.
Devan lagi- lagi hanya tertawa kecil.
"dia hanya aku anggap sebagai teman saja ngak lebih" jawab Devan menghela nafasnya.
Devan duduk sedangkan Laura masih berdiri dan memegang air pancuran tersebut.
"Laura!" panggil Devan.
Laura menoleh kebelakang dan berjalan duduk di samping devan.
"Iyah. Apa Devan?" tanya Laura.
"maaf kalau boleh saya tanya?" tanya Devan yang berharap Laura tidak marah.
"kenapa wajah kamu seperti panik? Ada apa? Kamu mau nanya apa emang?" tanya Laura.
Devan menghela nafasnya dan melihat Laura
"saya pernah lihat kamu pernah di tembak oleh laki- laki yang ada di sekolah kita. Tapi kamu malah menolak dia. Kenapa? kenapa kamu ngak mencoba dulu?" tanya Devan
Laura terdiam cukup lama.
Devan yang melihat laura hanya menatap awan di langit membuat dia pun tidak nyaman dengan pertanyaan nya tadi.
"maaf kalau..." ucap Devan terpotong.
"saya pernah trauma akan cinta Devan" jawab Laura.
Devan menatap Laura di mana Laura masih menatap ke atas
"Iyah, dia seperti pelangi yang menebarkan keindahannya di saat hujan sudah turun dan dia akan kembali ketika matahari akan datang. Dia seperti senja yang pergi begitu saja dan dia seperti matahari yang sewaktu- waktu akan tenggelam" ucap Laura
Devan hanya mencerna ucapan dari Laura.
Laura melihat ke Devan.
"kamu tahu kan maksud saya?" tanya Laura.
__ADS_1
Devan melihat Laura.
" trus kenapa dia pergi? apakah dia pernah membuat kamu sakit hati?" tanya Devan.
Laura lagi- lagi hanya tersenyum.
"saya juga ngak tahu! Kalau saya bilang iya. memang benar dia salah karena adanya orang ketiga di dalam hubungan kami. Tapi kalau saya bilang tidak. memang benar juga karena saya terlalu mencintai dia sehingga saya tidak memakai logika saya waktu itu" jawab Laura.
Devan terdiam.
"trus kamu tahu kenapa saya selalu memancarkan senyuman saya ke pada orang- orang yang jelas- jelas saya juga merasakan sakit?" tanya Laura.
Devan menggeleng kan kepalanya.
"karena saya ingin berubah. Saya pernah trauma gara- gara cinta hingga saya pernah kehilangan teman- teman saya. Dan saya pun berusaha untuk menghilangkan trauma itu meskipun masih sakit" ucap Laura.
Laura berdiri.
"udah yuk. Kita pulang saja nanti saya di cariin" ajak Laura kepada Devan.
Devan masih melamun.
"Devan! Devan..kamu tuh melamun trus. Kamu dengar ngak sih tadi aku cerita" ucap Laura yang menarik tangan Devan.
"oh iya! Yah. Ayo saya antar kamu" ajak Devan.
akhirnya Devan mengantar Laura.
"terima kasih yah semuanya. saya senang tadi lihat pemandangan itu. dan saya harap kita pergi lagi nantinya" ucap Laura.
Laura hendak pergi tetapi Devan memanggilnya
"Laura!" panggil Devan.
Laura menoleh ke belakang.
"maaf. Saya tidak ada maksud untuk mengungkit masa lalu kamu. saya hanya ingin mengajak mu supaya kamu kembali ke jati diri kamu lagi. Kamu boleh cerita ke saya" ucap Devan.
Laura tersenyum dan dia melambaikan tangannya.
"maafin saya Laura. Saya ngak bermaksud untuk mengungkit masa lalu kamu. Tapi saya janji saya akan membuat kamu kembali ke jati diri kamu dan mengajak mu melihat pemandangan lagi" ucap Devan dalam hatinya.
Devan pun akhirnya kembali dari rumah laura sedangkan laura yang sudah berada di kamarnya hanya menatap Devan sudah pergi dari rumah nya.
"kenapa Devan begitu peduli dengan saya? Apakah karena saya mirip dengan teman nya itu?" tanya hati Laura.
Laura langsung berganti pakaian dan tidak lupa dia juga bergegas untuk makan karena dia juga kelaparan.
"bi. Mama kemana?" tanya Laura kepada bibi yang membantu mereka.
"oh nyonya lagi di luar non. katanya ada urusan penting" jawab bibi tersebut.
__ADS_1
Laura pun kembali melanjutkan makan sorenya. Dia masih mengingat di mana Devan menarik tangannya dan dia tidak sengaja memeluk nya dari belakang