
masa lalu yang di alami oleh Laura cukup membuatnya trauma dan bahkan dia tidak mau bersahabat dengan orang lain. Karena baginya bersahabat itu membuat masa lalunya terungkit kembali.
pagi harinya seperti biasa Laura akan pergi ke sekolah dan tepat berada di depan gerbang sekolahnya dia berpapasan dengan Devan.
"hai Laura!" panggil Devan.
Laura tersenyum mendengar Devan memanggil dirinya.
"hai juga Devan" sahut Laura.
"kita bareng yukkk" ajak Devan. Laura mengangguk kan kepalanya.
Dan sesampainya mereka di depan kelas semua orang bersorak melihat kedekatan mereka.
"wahhh ada yang CLBK nih" sorak mereka.
Laura hanya tersenyum dan tidak merespon sedangkan Devan dengan gaya coolnya dia terlihat biasa dan santai.
"wahhh, kok kalian tumben sih barengan masuknya. Apa jangan- jangan...." ucap Sintia teman sebangku Laura.
"shuttt ! ngak usah mikir terlalu jauh. tadi ngak sengaja kami ketemu di depan gerbang sekolah yah udah deh bareng aja sampai kelas" ucap Laura mengangkat bahunya.
Sintia dengan penasaran kenapa bisa Laura berteman dengan Devan yang terkenal dingin kepada cewek kecuali kepada Laura.
"tapi lho ngak ngerasa kalau cuman ke lho doang Devan mau berteman sama lho. saya waktu itu cuman nanya alamatnya doang pas sekelompok dia itu cool banget. Dia dingin lagi ngak mau dekat- dekat tau ngak sih!" ucap Sintia.
"ahhh! itu cuman perasaan lho kali! Devan itu biasa ke semua orang kali. Udah ahhh, kok malah bahas Devan sih" jawab Laura.
Laura yang biasa santai mengikuti alur tersebut dan tidak mempersoalkan gosip anak- anak.
sedangkan Devan mencuri melirik- lirik Laura dari kejauhan.
"gue kenapa yah setiap liat senyuman laura hati gue seperti adem gitu bawaanya" ucap hati Devan.
akhirnya bel istirahat berbunyi menandakan para siswa untuk keluar. Laura yang lebih memilih untuk ke perpustakaan karena dia memang lebih menyukai ruangan itu karena sepi dan sunyi dari keramaian.
Dan seperti biasa Devan akan mengikutinya dari belakang.
"ehhh, kok ketemu lagi di sini" ucap Devan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Laura hanya tersenyum sambil berusaha untuk mengambil buku yang di atas. dengan tinggi Laura yang tidak semapai dan dia berusaha keras untuk mengambil buku itu dan tanpa sengaja buku tersebut runtuh.
"awasss Laura!" teriak Devan melindungi laura.
Suara keras membuat semua orang berlari ke arah di mana Devan dan Laura berada.
"kamu ngak apa- apa kan Devan" tanya Laura.
Devan menahan sakit di bahunya.
__ADS_1
"ngak apa- apa kok" jawab devan.
"kamu ngak apa- apa kan Laura?" tanya balik Devan.
Laura menggelengkan kepalanya.
Pengawas perpustakaan datang dan memastikan bahwa tidak ada kecelakaan yang parah.
"kamu ngak apa- apa kan?" tanya guru pengawas.
Devan menggeleng kepalanya tetapi Devan memegang pundaknya yang terasa sakit.
"kayaknya kamu butuh ke UKS dulu. Ayo saya temanin kamu" ajak Laura.
Devan pun di bawa oleh Laura ke UKS dan segera di obati.
Sambil duduk di kursi Laura mendekati Devan.
"maafin saya yah Devan. Gara- gara saya, kamu jadi begini" ucap Laura.
Devan tersenyum.
"ngak kok Laura. asalkan kamu ngak apa- apa rasa sakit ini ngak ada parahnya kok" jawab Devan.
huffttt
Laura menghela nafasnya.
"maksud nya Laura?" tanya balik Devan.
Laura berjalan dan mendekati jendela.
"saya rasa kamu cuman pura- pura Devan. Saya tahu kalau kamu merasa tidak nyaman kan berteman dengan ku?" ucap Laura.
"ngak!" jawab Devan sekilas.
Laura menoleh kebelakang dan tersenyum.
"Devan. Kalau kamu merasa tidak nyaman berteman dengan saya, saya ngak apa- apa kok. Saya udah biasa sendiri" ucap Laura.
Devan terdiam sejenak.
"saya tahu kalau anak- anak mikir kita punya hubungan spesial. Dan mereka juga berpikir kalau kamu itu suka sama saya karena sikap kamu ke orang lain beda" ucap laura.
Devan menatap Laura.
"biarkan mereka berpikir seperti itu. Kita ngak usah mikirin mereka banyak orang yang tidak tahu apa yang sedang mereka ucapkan tanpa melihat yang sebenarnya" jawab Devan
lagi-lagi Laura hanya tersenyum menanggapi ucapan dari Devan.
__ADS_1
"tapi saya berterima kasih kepada kamu, Devan. Untuk kata- kata yang pernah kamu ucapkan kepada saya, memang benar yang kamu bilang. Saya harus bisa mencari jati diri saya kembali dan menata hidup saya kembali" ucap Laura.
"dan saya ingin kamu menjauh dari saya untuk sementara waktu Devan. Saya ngak mau anak- anak akan semakin menggosipi kamu gara- gara saya" ucap Laura dan pergi dari hadapan Devan.
Devan yang mencoba untuk mengejar Laura tetapi karena rasa sakit di punggung nya membuat dia pun terpaksa untuk tidak mengejar.
"benar yang anak- anak bilang Laura. Saya sepertinya menyukai kamu" ucap Devan dalam hatinya.
Di dalam kelas Laura sudah kembali ke bangkunya sedangkan Devan masih di UKS. Dan tanpa sengaja dia melihat sebuah berita bahwa Laura jalan- jalan dengan seorang laki- laki dan menyatakan bahwa laura bukan cewek baik- baik.
Laura hanya terdiam sambil menunduk tanpa merespon berita tersebut.
"apakah kejadian masa lalu itu akan kembali terulang lagi?" ucap Laura dalam hatinya.
ketika Devan hendak masuk tiba- tiba Laura keluar berlari dari kelas dan dengan kepala menunduk membuat dia tidak sengaja menabrak dada Devan.
"Laura! kamu kenapa?" tanya Devan melihat Laura seperti menangis.
ketika Devan hendak berlari mengejar Laura, Sintia memanggil Devan.
"jangan Devan" teriak Sintia.
Devan pun terhenti.
"ada apa Sintia? Laura seperti menangis" ucap Devan.
Sintia yang ngos- ngosan pun hanya mengatakan bahwa Laura di biarkan dulu untuk sendiri.
"ngak apa- apa kok Devan" ucap Sintia dan langsung lari dari hadapan Devan.
"ada apa sih sebenarnya?" ucap hati Devan.
ketika devan sampai di kelas semua orang melihat ke arah Devan.
"ada apa?" tanya Devan kepada teman sebangkunya
"lho ngak liat berita ini" jawab temannya.
Devan melihat sontak kaget melihat komen dari berita itu yang mengatakan bahwa Laura adalah perebut pacar orang lain.
"maksud nya apa? kenapa ada komen seperti ini?" tanya Devan
Devan yang belum mengetahui asal mula masa lalu Laura yang di cap sebagai perebut pacar sahabatnya sendiri.
"iya, dia di cap sebagai perebut pacar sahabatnya sendiri. Dan kita belum mengetahui semua itu" ucap temannya.
"ishhhh sial!" umpat Devan dan berlari keluar kelas.
"saya harus cari tahu siapa yang menyebarkan berita sial ini" ucap Devan mulai emosi.
__ADS_1
sedangkan laura berada di taman menangis sesegukan karena mendapatkan berita di mana masa lalunya kembali terungkit.