Story My Moon

Story My Moon
Berangkat Ke Sekolah


__ADS_3

Akhirnya Laura pun kembali ke sekolah dengan wajah yang tidak biasanya. Laura yang baru pertama kali bertemu dengan papanya yang sangat jarang pulang ke rumah karena urusan bisnis.


dengan wajah yang malas Laura berjalan ke arah bangkunya. Devan yang sudah berada di kelas terlebih dulu melihat kedatangan Laura dengan wajah yang sedikit lesu.


"Laura kenapa? tumben dia ngak girang seperti biasanya" ucap Devan melihat ke arah Laura.


pelajaran akhirnya di mulai. Laura sama sekali tidak semangat untuk belajar.


Hingga ketika lonceng istirahat Laura memilih pergi ke perpustakaan karena cuman ruang perpustakaan yang tepat untuk nya.


Devan yang melihat Laura berjalan ke arah ruangan perpustakaan dan mengikuti nya dari belakang.


melihat Laura berjalan ke pojok membuat Devan mengikuti nya dengan pelan. Laura yang memilih bangku yang berada di pojok sambil mengambil buku dengan asal.


Laura yang duduk tanpa dia sadari air matanya menetes dengan sendirinya membuat Devan kebingungan dengan Laura.


"kenapa Laura tiba- tiba sedih begitu? Apakah dia ada masalah? Dia biasanya ceria dan dia tidak pernah sedih seperti ini" ucap Devan melihat Laura dari kejauhan.


Tiba- tiba tangan seseorang yang berada di depan Laura sambil memberikan sebuah tisu.


"ternyata kamu jelek juga kalau nangis seperti ini. Kamu bahkan bisa menyembunyikan kesedihan kamu dan kamu mampu mempertahankan benteng keceriaan mu di tengah- tengah orang lain" ucap Devan duduk di depan Laura.


"oh ternyata kamu. Kamu ngapain ke sini?" tanya Laura melihat tisu tersebut tanpa mengambilnya dari tangan Devan.


"kamu pikir ini punya nenek moyang mu. perpustakaan ini kan bebas buat siapa saja! Nih! Ambil dulu pegal nih tangan" ucap Devan memberikan tisu tersebut ke Laura.


Laura kebingungan melihat Devan memberikan tisunya.


"ngapain kamu kasih sama saya tisu ini, emang saya..." ucap Laura memegang wajah nya sudah mulai basah dengan air matanya tanpa dia sadari.


"hmm. jangan- jangan kamu itu pikun yah. kamu itu dari tadi nangis tau" ucap Devan.


Laura mengambil tisu yang di berikan oleh Devan dan segera menyeka air matanya.


"ishh kenapa bisa sih ini datang?" tanya Laura


Devan tertawa melihat Laura.

__ADS_1


"kamu ngapain ketawa. emang ada yang lucu apa?" ucap Laura sambil sibuk menyeka air matanya.


"tanpa kamu sadari ternyata hati manusia itu juga kadang rapuh. jangan cuman memperlihatkan topeng keceriaan di depan orang- orang sehingga mereka berpikir kalau kehidupan kamu bahagia" ucap Devan.


"maksud kamu apa?" tanya Laura.


Devan melihat ke arah jendela sambil melihat awan biru yang begitu cantik.


"kamu bisa liatkan awan itu. Dia terlihat cantik karena warnanya yang biru. Tapi kamu ngak tahu kecantikannya ngak selama nya berada di sana kadang- kadang dia juga menunjukkan warna yang gelap" ucap Devan.


lagi- lagi Laura hanya menatap Devan.


"hmmm. sama seperti kamu. Kamu jangan terlalu memaksa kan dirimu untuk terlihat baik- baik saja di depan orang- orang sedangkan kamu memukul beban di pundak mu..kamu butuh orang untuk mengungkapkan isi hati mu" ucap Devan.


"ngak! kamu salah" jawab Laura.


sambil membuka bukunya Laura tersenyum dengan lembut.


"kamu salah besar dengan kata-kata mu tadi. justru dengan ini saya bisa bahagia melihat senyuman orang- orang yang kita sayang. justru dengan ini saya bisa melihat orang- orang kita sayang terhibur dengan kelucuan yang kita buat" jawab Laura.


"kamu ibaratkan saja dengan buku ini. kamu tidak akan mungkin membaca untuk kedua kalinya. ada 2 hal yang buat kita untuk tidak menoleh ke belakang. yang pertama, karena kita sudah bosan untuk membacanya dan keduanya karena kita ke lupa dengan yang kita baca" ucap Devan.


Laura menatap mata Devan tanpa dia sadari ternyata yang di katakan oleh devan itu ada benarnya tetapi Laura merasa tersinggung dengan kata- kata Devan.


sambil berdiri Laura masih menatap mata devan sehingga mereka saling bertatapan.


"kamu tidak akan tahu apa yang saya rasain sekarang. karena kamu tidak berada di posisi saya" ucap Laura


"dan satu lagi. kita tidak bisa terlalu mempercayai seseorang karena kita tidak tahu orang yang kita percayai adalah orang yang menusuk kita dari belakang. Dan sebaiknya kalau kita masih mampu untuk bertahan dan mampu untuk menutupi semuanya lakukan lah hingga kamu lelah dan lebih memilih untuk diam" ucap Laura dan berjalan keluar dari ruang perpustakaan tersebut.


Devan yang melihat Laura hanya tersenyum mendengar jawaban Laura.


"saya merasa kalau dia trauma akan masa lalunya sehingga dia tidak mudah percaya dengan orang lain" ucap hati Devan.


di kelas Laura berusaha untuk tidak memperlihatkan bahwa dirinya sedang kesepian dan sedih. Tetapi tidak dengan Devan, dia bisa melihat Laura memiliki hati yang rapuh tetapi Laura mampu untuk menutupinya.


"sampai kapan kamu akan menutupi ini semuanya Laura" ucap hati Devan melihat Laura dari kejauhan.

__ADS_1


akhirnya kelas pun telah usai dan seperti biasanya Laura akan di jemput oleh supirnya. dan ketika Laura hendak membuka pintu mobilnya devan memegang gagang pintu mobil Laura.


"ada apa?" tanya Laura melihat Devan.


Devan mengambil sesuatu dari balik sakunya dan memberikan jepitan rambut tersebut ke tangan Laura.


" saya bisa jadi teman mu untuk bercerita. Dan kamu harus melawan apa yang ada di hatimu tidak baik untuk selalu membuat hatimu sakit seperti itu" ucap Devan dan langsung pergi dari hadapan Laura.


Laura yang melihat punggung Devan sudah jauh dari pandangan nya dan menyuruh supirnya untuk jalan.


Di tengah perjalanan Laura yang masih memandangi pemberian dari Devan membuat hatinya tergerak untuk membuka.


Dia membuka dengan pelan- pelan dan tersontak kaget dengan pemberian dari Devan.


"ini bukan nya jepitan rambut saya. Ini sama persis dengan hadiah yang diberikan oleh papa kepada saya. kenapa dia bisa tahu?" tanya Laura dalam hatinya.


setibanya di rumah Laura langsung masuk ke kamar dan di kamar dia terduduk dengan lesu sambil memandangi jepitan rambut yang di berikan oleh Devan.


"kenapa saya akhir- akhir ini rapuh?" tanya Laura memegang jepitan tersebut.


Dia menangis mendengar kata- kata dari Devan di perpustakaan.


"dia benar ternyata saya tidak sekuat dengan orang lain bilang. Saya mudah jatuh dan tumbang" ucap laura.


Laura berjalan ke arah cermin sambil memandangi wajahnya.


"tapi apakah saya salah kalau saya ingin membahagiakan orang lain? apakah itu salah?" teriak Laura.


Laura menangis dan dia berhalusinasi di depan cermin.


Tiba- tiba ada bayangan nya membuat Laura terkejut.


"kamu tidak salah. justru niat kamu itu mulai tapi apa yang di katakan oleh nya itu benar adanya. Kamu itu butuh seseorang yang bisa membuat hatimu kembali. Lupakan masa lalu mu" ucap bayangan di cermin nya itu.


Laura mencerna setiap kata- kata Devan dan dia memilih untuk membaringkan badan nya ke kasur.


"baiklah. pelan- pelan saya melupakan masa lalu saya" ucap Laura dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2