
Di sekolah ada kedatangan seorang murid baru. Kedatangan Devan ke kelas barunya membuat pandangan perempuan menatap dengan tatapan menyukai. Tapi berbeda dengan Laura yang sama sekali tidak berminat dan dia bahkan hanya tertuju pada novel barunya.
Laura yang membawa novelnya ke kelas dan di saat waktu luang dia selalu membaca novelnya. Tapi meskipun Laura gemar membaca novel IQ nya di atas rata- rata sehingga dia selalu juara.
"Selamat pagi anak- anak. Kita kedatangan anak baru. Ayo nak, perkenalkan nama kamu!" Ucap Bu guru yang mempersilahkan Devan untuk memperkenalkan dirinya di depan kelas
Devan maju ke depan sambil melihat kelas itu.
"Hai, perkenalkan saya Devan Bimantara. Senang bertemu dengan kalian!" Ucap Devan.
Perempuan banyak yang teriak karena mereka melihat ketampanan dari Devan tidak dengan Laura. Dia masih sibuk dengan novelnya.
Karena menurut Laura itu hal biasa dan seperti biasa kelasnya memang riuh dengan kedatangan anak baru.
"Ok nak Devan. Sekarang kamu bisa duduk" ucap Bu guru tersebut.
Mata pelajaran mereka sekarang kosong karena masih baru masuk sekolah dan tidak langsung belajar seperti biasa. Devan memandangi jelas tersebut dan tatapan matanya tertuju pada Laura yang sedang membaca novelnya.
"Dia bukan nya yang tadi. Ternyata bukan cuman satu sekolah tapi satu kelas juga" ucap hati Devan memandangi Laura dari jauh karena bangku mereka tidak dekat.
"Laura...Laura!" Sebuah panggilan dari pintu kelas membuat Laura memberhentikan membaca novelnya dan melihat ke depan.
Devan yang mendengar panggilan itu tersenyum manis.
"Oh ternyata dia Laura" ucap hati Devan.
" Iyah ada apa?" Jawab Laura sambil menyimpan novelnya.
"Sini deh. Ada yang manggil kamu ke depan?" Teriak teman nya.
Laura berdiri dan mengikuti teman nya tersebut ke depan. Dan Laura kaget melihat banyak orang.
"Kenapa! Kenapa!" Ucap Laura.
Tiba- tiba saja arka yang membuat rencana untuk menembak Laura di depan semua orang. Sambil menunduk dan memberikan setangkai bunga kepada Laura.
"Laura! Apakah kamu mau jadi pacar ku!" Ucap arka. Tetapi Laura menanggapi arka dengan senyuman dan menjawab arka dengan jawaban singkat.
"Maaf arka. Saya bukan nya tidak mau menerima kamu, tapi kita masih sekolah dan masih banyak yang harus kita benahi ke depan. Ada masa depan yang harus kita wujudkan" jawab Laura sambil mengambil bunga tersebut dari tangan arka.
Sambil tersenyum lagi Laura menyuruh arka untuk berdiri.
"Saya menerima bunga ini bukan berarti kita tidak bisa temanan arka. Saya menerima bunga ini juga bukan karena saya menjawab pertanyaan mu tadi. Tapi ini tandanya kita jadi temanan" ucap Laura sambil mengulurkan tangannya ke arka.
Arka terdiam sejenak karena dia juga tahu dia tidak mau malu di depan semua orang karena di tolak oleh laura.
__ADS_1
Sambil mengulurkan tangannya arka tersenyum.
"Tapi bukan berarti saya tidak mengejarkan kamu kan laura. Dan saya janji saya akan berusaha dengan keras" teriak arka.
Laura mengangguk dan tersenyum.
Sementara Devan yang melihat dari jendela karena dia juga penasaran kemana Laura lama.
Dia melihat Laura tersenyum seperti rembulan di malam hari meskipun gelap tapi mampu menerangi dunia yang gelap gulita.
"Ternyata dia cukup dewasa dengan tidak mempermalukan orang lain. Dia juga menghargai orang lain dengan tidak menjatuhkan orang tersebut" ucap hati Devan.
Tiba- tiba saja ada yang memegang pundak Devan sambil memuji Laura.
"Laura itu sangat cantik yah. Makanya banyak yang mau sama dia dan bukan hanya itu saja dia tidak pernah memandang orang lain" ucap Alex.
Devan melihat Alex tanpa menjawab pujian dari Alex kepada Laura.
"Kamu pasti suka kan sama dia?" Tanya Alex.
"Ck. Siapa yang suka sama dia. Dia keliatan judes juga" ucap Devan berjalan ke arah bangkunya karena Devan sedang berbicara di depan Laura sama sekali tidak menoleh ke depan.
Alex tertawa mendengar jawaban dari Devan.
Hahahaha
"Hemm. Emang benar kan yang saya bilang tadi?" Ucap Devan sambil membuka bukunya.
Dan ketika mereka sedang mengobrol tiba- tiba guru memanggil Devan untuk ke ruangan guru.
Devan berjalan ke arah ruangan guru dan tersenggol dengan Laura. Laura yang ingin ke kamar mandi karena kebelet pipis dan tidak sengaja tersenggol dengan Devan.
"Kalau jalan itu liat- liat dong. Punya mata ngak sih!" Teriak Laura.
"Kamu aja yang tidak punya mata" jawab Devan dengan santai.
"Ishhh. Awas aja yah! Minggir kamu!" Ucap Laura berlari kecil ke arah kamar mandi.
Sedangkan Devan sama sekali tidak menatap kepergian Laura. Dan ketika Devan hendak pergi dia melihat sebuah jepitan rambut yang berbentuk bulan. Dan tanpa sengaja juga Devan merusak jepitan itu karena dia tidak melihat.
Akhirnya Devan pun ke ruangan guru.
Tok...
Tok...
__ADS_1
Tok...
"Iya, masuk aja!" Ucap Bu guru.
Devan masuk.
"Ada apa Bu manggil saya?" Tanya Devan.
Bu siska guru kelas mereka.
"Ngak. Ibu cuman nanya sama nak Devan. Nak Devan pindahan dari mana?" Tanya Bu Siska.
"Oh Devan pindahan dari SMA Negeri x Bu!" Jawab Devan.
"Iyah, makasih banyak. Sekarang kamu bisa kembali ke kelas mu" ucap Bu Siska.
Devan keluar dari ruangan guru tersebut. Dan tanpa sengaja juga Devan melihat Laura sedang mencari sesuatu.
"Kamu ngapain?" Tanya Devan.
"Awas kamu! Minggir!" Teriak Laura yang masih mencari jepitan rambutnya.
"Ck, dasar perempuan judes" ucap Devan dan hendak pergi tiba- tiba dia menghentikan langkah nya ketika Laura mengucapkan jepitan rambut.
"Di mana yah jepitan rambut saya. Aduhhh" ucap Laura sambil mencari jepitan tersebut.
Devan berbalik badan dan mengambil jepitan rambut dari sakunya.
Dia berjalan ke arah Laura sambil memberikan jepitan tersebut.
"Maaf saya tidak sengaja tadi!" Ucap Devan memberikan jepitan itu ke Laura.
Laura yang melihat jepitan itu rusak.
"Ahhhh. Jepitan saya kok bisa rusak" ucap Laura mengambil jepitan tersebut dari tangan Devan.
Devan yang melihat Laura sedih karena jepitan tersebut dan bahkan wajah Laura seakan- akan murung karena jepitan tersebut.
"Kenapa dia begitu murung? Apakah karena jepitan itu?" Tanya Devan dalam hatinya melihat Laura murung.
Laura masih menatap jepitan itu rusak karena kelalaiannya. Jepitan itu pemberian ayahnya ketika Laura tidak sengaja terjatuh dari sepeda dan membuat Laura menangis. Akhirnya ayahnya memberikan hadiah jepitan itu kepada Laura supaya Laura tidak sedih.
"Ini kan pemberian ayah kepada Laura" ucap Laura dalam wajah murung nya.
Devan yang melihat kemurungan wajah laura membuatnya ingin mengganti dengan baru.
__ADS_1
"saya harus mengganti jepitan itu. Pasti itu barang yang berharga buat dia!" ucap hati Devan.