Strong Dad

Strong Dad
Awal Kepergian


__ADS_3

Purwokerto


Tanggal 19 Juli 1993


Di sebuah rumah di pedesaan saat malam hari dengan hujan lebat, terdengar suara jeritan seorang perempuan sedang menahan sakitnya melahirkan.


"Tolong pak, ambilkan saya 2 baskom Air hangat segera." dengan tergesa-gesa bidan memerintahkan Toni.


"Aaaaaah, aarrgg, Sakit Mas." Rintihan wanita itu, menitikan air mata menahan rasa sakitnya.


Bidan bersama dengan asistennya, sedang mempersiapkan proses persalinan. Jika terlalu lama menunda proses persalinan, ini akan berakibat fatal bagi pasien. karena Ini diakibatkan oleh ketuban di perut pasien sudah pecah.


Dengan cepat Toni membawakan air hangat untuk istrinya, Lalu pergi ke sisi istrinya untuk memberinya semangat.


"Tenang Julia, ambil nafas dalam dalam, lalu dorong." Ucap Toni mencoba untuk mununtun istrinya melahirkan.


Julia yang sudah lemah, mencoba untuk mengikuti apa yang diinstruksikan suaminya. Waktu berlalu dengan sangat lambat, Setelah 60 menit mencoba mendorong bayi diperutnya, akhirnya dia berhasil mengeluarkan 1 bayinya.


Setelah memberikan bayi itu ke assistennya, bidan itu kembali memeriksa perut pasiennya yang tampak janggal.


"Istri anda masih memiliki satu bayi lagi didalam perutnya." Ucap bidan, dengan wajah serius.


Toni terkejut, dan berteriak. "Lalu bagaimana keadaan istri saya bu?" Melihat kondisi istrinya yang sudah sangat lemah membuat dirinya tak tega melihatnya.


Bidan itu menunjukan raut wajah sedih, saat melihat ke arah pasiennya. "Kondisi istri anda saat ini sudah terlalu lemah, sangat beresiko baginya untuk melahirkan lagi. Anda harus memilih antara menyelamatkan istri anda atau bayi dikandungnya."


Toni bagaikan tersambar sebuah guntur saat kata itu terucapkan, dirinya bertanya mengapa di dalam hidupnya, harus selalu membuat pilihan yang sulit kepadanya.


Toni memohon sambil menangis, "Tolong selamatkan istri saya saja bu, 1 bayi saja sudah cukup bagi kami."


Julia menggenggam tangan Toni, dan menggelengkan kepalanya tanda tak setuju.


Toni menggenggamnya, menitikan air mata. "Tolong dengerin aku kali ini aja Julia, kamu adalah tujuan aku untuk hidup."


Julia menangis menatap suaminya, "Tubuhku sudah terlalu lemah untuk tetap hidup mas. Aku mohon sama kamu, untuk yang terakhir kalinya, biarkan dia hidup."


Toni menangis termenung mendengar suara istrinya, dia sangat tak rela untuk melepaskan istri yang sangat dia cintai ini.


"Kamu harus berjanji padaku, untuk tetap hidup Julia." Toni memohon.


Julia menangis dan diam tak menjawab.


"Maaf Pak, tolong segera ambil keputusan." Ucap bidan menyela mereka, dengan memasang muka serius kepada mereka.


Toni memikirkan kembali keputusan apa yang akan dia buat, dirinya sedang dilanda di lema yang sangat berat saat ini.


Namun, saat ini dia dapat melihat istrinya yang sedang mengangguk ke arahnya. dirinya tak kuasa menahan gejolak di dalam hatinya saat ini.


Toni tertunduk sambil mengigit bibir bawahnya karena kesal, lalu berkata dengan tegas. "Tolong lanjutkan persalinan-nya segera!"


"Baik Pak, saya mohon agar tetap disisi istri anda, agar dia tetap terjaga." Ucap bidan, sembari menyiapkan peralatannya.


Bidan itu mulai melakuan operasi Caesar. Walaupun masih ada sedikit kemungkinan pasiennya selamat, tapi kemungkinan itu sangat kecil.


Jika saja mereka melakukan persalinan ini dirumah sakit dengan peralatan yang lengkap, dapat dipastikan kalau ibu dan anak di kandungannya akan baik baik saja.


Dari samping Toni memperhatikan istrinya yang mulai melemah dan melemah, tampak cahaya dimata Julia mulai meredup. Dia dihantui kesedihan yang amat besar, tak pernah terpikirkan olehnya akan untuk berpisah dengan istrinya, dengan cara seperti ini.


Setelah 20 menit berlalu, anak ke 2 Toni keluar dengan selamat. Namun tidak untuk istrinya, setelah banyak kehilangan darah, istrinya hanya bisa berbaring menatap bayinya yang sedang dibersihkan.

__ADS_1


Setelah proses persalinan selesai, kedua bayi itu dibaringkan disamping ibu mereka yang sudah tak berdaya. Julia tersenyum hangat memandangi kedua bayi kembar mereka, kakak nya seorang laki-laki dan adiknya seorang perempuan.


"Mas, tolong beri nama mereka." Julia berkata dengan lemah.


Toni yang masih menangis, berusaha untuk tetap tersenyum memandang istrinya. "Ya, aku beri nama mereka sekarang."


"Yang laki laki aku beri nama 'Arman Bagas', artinya adalah harapan untuk tetap kuat seperti batu yang tak tergoyahkan."


"Yang perempuan aku beri nama 'Anindita cahya', artinya kesempurnaan yang bersinar di langit. Dia sangat Cantik seperti kamu sayang."


Julia tersenyum bahagia saat Toni memberi nama kedua anaknya, disisi lain Julia merasa sedih saat memandangi kedua anaknya. sungguh di sayangkan bahwa dirinya tak bisa menemani mereka hingga besar nanti.


"Ma-kasih, sa-yang. Kamu, T-tolong, jaga, mereka. Ma-af aku engga bisa dampingin, kamu lagi." Ucap Julia terbata bata, sambil menyentuh wajah Toni.


Toni menangis sejadi jadinya, tak kuasa menahan gejolak didalam hatinya. Kenapa takdir selalu mempermainkan dirinya, Kenapa!


Julia memejamkan matanya, "Aku percayakan mereka, kepada kamu mas. Aku akan berdoa untuk kebahagiaan kalian semua."


"Kamu jangan bercanda Julia, Kamu pasti kuat. Kita besarkan anak anak kita bersama, Aku mohon jangan tinggalkan aku."


Tangan Julia jatuh tak bertenaga, Toni bagaikan tersambar petir saat melihatnya.


Toni memandangi istrinya dengan tatapan tak percaya, bahwa dirinya akan ditinggalkan sendirian saat ini.


Bidan bersama dengan assistennya, menujukan raut wajah tak tega, dan berusaha menenangkan Toni yang sedang terguncang.


Toni berusaha menguncang tubuh istrinya, dengan tatapan ketidak percayaan. "Sayang kamu masih hidup kan?, Tolong jawab aku JULIA!!"


"Maaf Pak, istri anda sudah meninggal."


Toni memegangi kepalanya, dan tak mempercayai ucapan bidan itu.


...


Saat siang harinya, Toni menghadiri pemakaman istrinya tanpa di temani sanak-saudara. Hanya ada para tentanga yang menemaninya.


Satu persatu orang-orang yang menghadiri pemakaman pergi meninggalkan Toni sendirian. Selama satu jam Toni memandangi baru nisan istrinya, tanpa beranjak sedikitpun dari tempatnya.


"Andai saja aku mempunyai banyak uang, Kamu pasti bisa melahirkan dirumah sakit dengan selamat Julia." Ucap Toni penuh penyesalan.


"Seharusnya aku mengikuti jaka untuk pergi merantau ke Jakarta, Tapi semuanya sudah terlambat. Maafkan aku Julia." Toni kembali menitikan air mata.


Toni membelai batu nisan istrinya dan memandangi nya dengan sendu.


"Kamu tenang aja sayang, aku akan membesarkan anak kita dengen sehat hingga mereka besar nanti."


"Untuk selanjutnya, aku akan berusaha mencari banyak uang, agar kesalahan yang sama tidak akan terulang kembali kepada anak kita." Ucap Toni, tersenyum.


Toni bertekat akan mencari banyak uang, untuk anak anaknya agar mereka tidak menderita seperti istri dan diri dulu.


"Maaf, aku tidak bisa berlama lama disini, Arman dan Anin sudah menungguku di rumah."


Toni bangkit, lalu memandang sejenak ke arah batu nisan istrinya. Kenangan manis saat bersama istrinya dulu mulai membanjiri fikirannya.


Dia menutup matanya, dengan harapan, akan bertemu dengan istrinya dirumah saat dia terbangun nanti, Ini semua hanya mimpi bodoh yang tidak masuk akal, tidak mungkin istrinya akan meninggalkannya sendirian.


Namun, saat membuka matanya dirinya merasa kecewa karena tidak melihat istrinya.


Toni memandang langit sejenak, lalu menghela nafasnya. "Apa aku udah jadi gila ya, karena ditinggal sama kamu Julia."

__ADS_1


"aku pergi dulu Julia." Ucap Toni seraya pergi menjauh dari makam istrinya.


...


Diterminal Bus lalu lalang orang-orang keluar masuk kedalam Bus, Toni sedang menunggu, bersama kedua bayi yang digendongnya dan juga dengan seorang teman masa kecilnya.


"Apa kau yakin mau pergi ke Jakarta saat ini?." Ucap Yadi.


Toni yang sedang membereskan barang bawaannya menoleh, "Sudah tidak ada lagi yang berharga di sini, selain anak anakku."


Yadi mendekati nya, dan membantu Toni. "Apakah uang mu cukup untuk bertahan di sana?, kalau kamu mau, aku bisa memberikan mu beberapa."


Toni tersenyum memandang teman masa kecilnya itu, "Sudahlah, Aku punya uang yang cukup ditabungan ku."


"Kau sudah menikah kali ini yadi, pergunakan uang itu untuk anak dan istri mu nanti. jangan terlalu pedulikan aku." Sambung Toni. Menepuk pundak Yadi.


Yadi memasukkan 5 kotak susu kedalam tas Toni. "Aku tau kamu akan mengatakan itu, jadi aku sudah menyiapkan Susu ini untuk anakmu." Yadi Tahu betapa keras kepala nya Toni, dia pasti akan menolak segala jenis bantuan apapun, yang diberikan jika itu berupa uang.


Toni memukul kepalanya, "kau ini, tidak pernah berubah yadi."


Yadi tersenyum, "kau pun juga begitu Toni."


Mereka saling berpandangan lalu tertawa berbarengan, kenangan masa lalu pun membanjiri keduanya, hingga mereka terlarut memandang lalu lalang kendaraan keluar masuk diterminal ini.


"Aku akan pergi sekarang Yad" Toni mengambil barang bawaannya.


"Yaa, Jangan lupa memberiku kabar, ketika sudah disana." Ucap yadi.


"Baik, setelah sampai disana aku akan memberimu kabar." Ucap Toni seraya masuk kedalam Bus. "Aku berangkat sekarang Yad" Melambaikan tangannya


"Hati hati disana" Teriakan Yadi dari luar Bus.


Didalam Bus yang ramai, Toni mencari tempat duduk untuk dirinya, hanya satu kursi yang tersisa disamping wanita muda berumur 19-20 tahun dari etnis Tionghoa.


"Boleh aku duduk disini?" Tanya dirinya kepada wanita itu.


Wanita itu menoleh dan menggeser tubuhnya ke jendela, untuk mempersilahkan Toni duduk. "ahh, silahkan."


Tidak lama kemudian Bus yang dinaiki Toni berangkat menuju ke Jakarta.


Saat sedang menyusui kedua anaknya, wanita di samping Toni mulai memperhatikan kedua bayi yang sedang Digendong dirinya. Karena tidak merasa risih saat diperhatikan, Toni hanya membiarkan wanita itu menontoni dirinya.


Setelah lama memperhatikan wanita itu, berbicara. "Maaf mas lancang, ini ibu dari bayinya kemana?." Dia sangat binggung, bagaimana seorang pria muda bisa membawa kedua bayi itu berpergian tanpa didampingi oleh ibunya.


Toni tersenyum pahit, berkata. "Istri saya telah meninggal, saat melahirkan mereka."


Wanita itu tertegun, "Jadi begitu, maaf, saya sudah lancang bertanya."


"Tak apa, hanya masalah sepele." Ucap Toni dengan santai.


Melinda menjulurkan tangannya, "Bisakah kita berkenalan?, Nama saya Melinda Purnasari"


"Toni yudhoyono" Ucap Toni menjabat tangannya.


Setelah perkenalan singkat itu, melinda menanyakan banyak hal tentang Toni yang ingin pergi ke Jakarta. Toni hanya bisa menjawab, semua pertanyaan yang diberikan kepada dirinya.


Mereka berdua terlarut dengan obrolan, sampai tak terasa sudah tiba di jakarta. Setelah saling bertukar nomor, akhirnya pun mereka berpisah.


Dan dimulailah kehidupan baru Toni di tanah perantau nya.

__ADS_1


__ADS_2