
"Kamu jangan seneng dulu! Sebentar lagi Kamu bakalan masuk ke sana juga nanti." Ujar Toni tersenyum sambil mencondongkan wajahnya ke arah Nanda.
Nanda seketika teringat bahwa dirinya belum melakukan interview saat ini. Memikirkan tentang interview nanti, membuatnya merasa takut untuk melakukannya.
"Kamu ga bisa liat orang lagi seneng apa." Ucap Nanda mengalihkan pandangannya karena jengkel.
Seharusnya Toni cukup diam saja soal urusan interviewnya nanti, ini benar-benar sangat merusak suasana hatinya. Benar benar menjengkelkan!
Disisi lain, Toni sedang terpana memandangnya. Secara sekilas, dia dapat melihat bayangan julia dalam diri Nanda. Ini sama seperti dirinya melihat Julia dulu. Dia sempat membuat obrolan seperti ini, saat mengantarkan pesanan ke panti asuhan, tempat julia tinggal.
"Hahaha, pasti aku udah gila sekarang." Gumam Toni sendirian, memandang langit-langit dengan perasaan sedih di matanya.
Nanda merasa aneh saat melihat Toni berguman sendiri, lalu dia bertanya dengan ketus. "Apa maksudnya? Kamu lagi ngeledekin aku?."
"Engga, bukan begitu."
Nanda mendelik sesaat ke arah Toni, lalu memalingkan wajahnya lagi. "Hmmp"
Toni mengkerutkan kening, lalu bergumam di dalam hatinya. 'Kenapa semua wanita sangat sulit dimengerti? '
Dia benar-benar tak tahu, kesalahan macam apa yang telah dia perbuat. Dirinya hanya sedikit menggodanya saja, mengapa dia sampai marah padanya?
"Nda?" Toni berbisik dengan suara pelan kepadanya.
Nanda masih diam dan mengabaikan panggilan Toni, dirinya saat ini ingin Toni merayunya atau meminta maaf padanya saat ini. Ini benar benar telah merusak moodnya, setidaknya Toni harus menghibur dirinya saat ini.
Disisi lain, Toni hanya bisa menghela nafasnya. Lalu Toni bangkit dari duduknya, dan berkata. "Aku pergi duluan kalo gitu nda, aku masih punya urusan hari ini. Semoga beruntung." Toni pergi meninggalkan ruangan tanpa memperdulikan Nanda lagi.
Saat mendengar Toni mengatakan hal itu, membuat Nanda merasa sesuatu yang hangat di dalam dadanya. Dirinya benar-benar tidak percaya akan ditinggalkan saat ini. Dari tempat duduknya, Nanda memandangi Toni dengan sebal saat melihat dirinya pergi meninggalkan-nya sendiri.
Saat berjalan keluar dari gedung, Toni berpikir, mau ke daerah mana ia akan mencari kontrakan kali ini. Dia sama sekali tidak tahu, kawasan yang memiliki lingkungan yang sehat.
Saat sedang berpikir, Toni melihat ke arah satpam yang sedang berjaga di pos keamanannya. Seketika dia memiliki ide untuk bertanya kepada dia.
Melihat Toni mendekati dirinya, satpam itu berdiri, lalu bertanya padanya. "Ada yang bisa dibantu mas?. "
"Gini pak, bapak punya rekomendasi kontrakan murah dideket sini ga?. Saya sedikit kesulitan nyari kontrakan di daerah jakarta. "
"Wah, kalo kontrakan yang murah dideket sini saya kurang tau mas. " Ucap satpam itu dengan sopan.
__ADS_1
Toni merasa kecewa saat mendengarnya, benar-benar sangat sulit untuk menemukan kontrakan di daerah jakarta. Dia ingin mencari kontrakan dengan harga murah, karena hanya ingin berhemat.
"Yaudah deh, Terimakasih pak. saya pamit dulu. " Ucap Toni sedikit membungkukkan tubuhnya untuk berterimakasih.
"Iya mas, Sama-sama."
Setelah itu Toni meninggalkan tempat itu dan berkeliaran di daerah jakarta.
Dipanas-nya terik matahari, Toni berjalan melewati arus kendaraan di padatnya ibu kota jakarta. Dirinya resah, risau dan kecewa, saat mencari tempat tinggal dengan susah payah di jakarta ini. Tak ada lagi kamar kosong yang tersedia untuknya, saat mengunjunginya satu persatu. Tetapi itu tidak membuatnya menyerah!
Hari sudah semakin sore, keringat didahinya sudah mulai bercucuran akibat berjalan yang tiada hentinya dalam mencari tempat tinggal. Saat sedang melihat langit yang berwarna oranye, Toni kembali berpikir untuk melanjutkan mencari kontrakan atau tidak saat ini.
Dia duduk diam di sebuah halte busway, sambil memikirkan tentang ini. Secara tiba-tiba dari dalam hatinya, Ada suara yang menyuruhnya untuk segera pulang. Seketika dia teringat akan anaknya, tanpa berfikir lagi dirinya memutuskan untuk segera pulang.
Ada sedikit kekhawatiran yang mengganjal di dalam hatinya, dirinya tak tau perasaan apa yang muncul secara tiba-tiba ini. Dia merasa, sudah terlalu lama meninggalkan mereka bersama orang lain.
'Apa aku terlalu memaksakan diri?' Bantinnya, Sambil memandang sendu sebuah minibus di depannya.
Jam 18:12 sore, Toni akhirnya sampai dirumah Dito. Namun, dia tidak melihat mobil Dito digarasi rumahnya. Setelah mengecek ke dalam rumah, dia masih tidak dapat menemukan mereka.
Tak mau ambil pusing, Toni pun bergegas ke kamarnya untuk melihat anak anaknya. saat tiba di sana, terlihat asisten rumah tangga nya Dito yang bernama Ayu Lestari sedang rebahan sambil mengurusi anaknya.
"Ndak apa mas Toni, saya juga suka ngurus Ardian sama Anin. Anaknya mas juga engga rewel, engga kaya anak saya dulu yang rewelnya minta ampun." Keluh mbak Ayu, dengan nada jawa medok nya.
"Syukur deh, kalo Ardian sama Anin engga rewel selama aku tinggal." Setelah itu Toni melanjutkan. "Ngomong ngomong mbak Ayu, Mas Dito sama mbak Hani lagi kemana sekarang? saya liat dibawah mereka engga ada."
Toni sedikit khawatir dengan istrinya Dito saat ini, menggigat kejadian kemarin, membuatnya sedikit takut terjadi hal hal yang tidak diinginkan.
Mbak Ayu berbicara, sambil mengingat ingat sesuatu. "Pak Dito sama bu Hani sudah pergi ke rumah saudaranya dari sore. tapi Aku lupa di daerah mana-Nya."
"Syukur deh, Aku kira mbak Hani bakal masuk kerumah sakit lagi." Tutur Toni kepada mbak Ayu, sambil mendekati kedua anaknya yang sedang tertidur di samping mbak ayu. Dirinya sangat khawatir karena kejadian kemarin, terlihat cukup menakutkan di matanya.
"Engga kok mas, ibu hani sehat sehat aja." Setelah membetulkan posisi duduknya, Ayu bertanya. "Ohh iya, mas udah dapet kontrakan?"
"Belum mbak, aku udah keliling kota masih engga ketemu juga. Kebanyakan kontrakan yang aku temuin, pada penuh tadi."
Menggigat seberapa jauh dirinya berjalan saja, sudah membuatnya lelah lagi. Dia tidak habis pikir dengan kehidupan di jakarta, sangat melelahkan rasanya untuk tinggal di kota yang besar yang padat ini.
"Emang kamu nyarinya di mana tohh?" Tanya ayu dengan santai.
__ADS_1
"Di jakarta pusat" jawab Toni dengan singkat, dengan wajah polosnya.
"Owalah, pantesan kamu ga nemu itu kontrakan. Kalo di jakarta pusat emang begitu, selalu penuh. Biasanya, orang yang pada merantau pada kesana semua, sama kaya mas Toni."
Toni menepuk jidatnya, karena tidak terpikirkan hal itu. "Pantesan aja aku cari sana sini penuh semua, jadi itu alasannya. "
Jika ada 200 orang berpikiran sama dengannya, maka inilah yang akan terjadi. Dia merasa sangat bodoh, karena benar-benar tidak terpikirkan hal ini sebelumnya.
Ayu tertawa dibuatnya, lalu dia berkata. "Yowes lah, aku tak turun dulu ya mas."
"Iya mbak, makasih ya udah jagain mereka hari ini." Toni sangat bersyukur kepada Mbak Ayu karena telah mau untuk menjaga anaknya sedari pagi. Lalu dia terpikirkan sebuah ide untuk membalasnya.
"Aku mau keluar sebentar nanti, mbak mau aku beliin makanan ga?" Tawar Toni, kepada mbak Ayu.
Setidaknya dia harus sedikit berterima kasih kepadanya, walaupun hanya sebatas jajanan saja yang harganya tak seberapa. Jika uangnya tidak sedikit saat ini, dia akan membelikan apapun yang mbak Ayu mau semahal apapun itu.
"Ahh, mas Toni mah gitu. Gausah repot repot mas, kacang sama jagung rebus aja gapapa." Jawab mbak Ayu malu malu.
"Yaudah, nanti aku beliin yang banyak buat mbaknya." Toni tersenyum senang mendengarnya.
"Yowes, tak tunggu ya." Ucapnya seraya pergi dan menutup pintu kamar Toni.
Setelah kepergian mbak Ayu, Toni membelai kedua anaknya yang sedang tertidur pulas saat ini. Toni melihatnya dengan sendu betapa imutnya mereka saat ini.
Jika saja istrinya ada saat ini, mungkin dia akan lebih bahagia lagi Dari pada yang sekarang. Namun, takdir berkata lain kepada dirinya.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Toni bergegas keluar rumah. Setelah memastikan bahwa Anin dan Arman tak akan bangun selama dia pergi.
Toni pergi ke sebuah pasar, sambil melihat-lihat pemandangan malam di sekitar. Saat sedang termenung memandang indahnya malam hari di pasar, tiba-tiba perasan gelisah muncul di dalam benaknya.
Perasaan yang sama persis seperti yang tadi sore dia rasakan, Toni merasa aneh dengan perasaan ini lagi, dan bergegas pulang setelah membeli kacang rebus pesanan mbak Ayu.
Setibanya di depan rumah, Toni merasa curiga dengan gerbang masuk di rumah Dito. Seingatnya gerbang itu sudah dia tutup dengan rapat sebelumnya, tak mau berpikiran negatif Toni langsung masuk ke dalam rumah.
Kekhawatiran di dalam hatinya ternyata benar, rumah Dito sudah sangat berantakan saat ini. Seketika Toni panik saat mengingat tentang anaknya yang berada di kamar, dan langsung bergegas menuju ke arah kamarnya.
Namun, saat ini pintunya telah terkunci dari dalam. Toni panik sejadi jadinya, dan mencoba mendobrak pintu itu.
"Mbak Ayu! mbak Ayu ada di dalam? Ini Toni mbak Ayu!" Panggil Toni sambil berteriak dengan panik.
__ADS_1
Mendengar suara Toni dari luar kamar, mbak Ayu malah bertambah panik dibuatnya. "Pergi kamu perampok!"