
Dihari pertama Toni tiba di jakarta, dia sibuk untuk mencari tempat tinggal di daerah kebon jeruk. Toni sedikit melelan ludahnya, ketika tahu bahwa harga kontrakan di jakarta sangat mahal dibandingkan dengan di purwokerto.
Dengan tergesa-gesa dia mencari kontrakan dengan harga yang murah kesana kemari, tapi dia belum juga mendapatkan nya.
Hari pun sudah menjadi sore, awan awan di langit sudah menjadi orange, menandakan malam akan segera tiba.
Saat sedang melamun di pinggir jalan, Toni melihat seorang wanita hamil terjatuh saat sedang membawa barang belanjaannya. Setelah Melihat itu Toni jadi teringat akan istrinya dan segera mendekatinya.
"Kamu gapapa mbak?, apa ada yang terluka?." Ucap Toni, membantunya berdiri.
"Lutut saya tergores" Ucap wanita itu, meringis kesakitan.
Nampak sedikit pendarahan terlihat di lututnya.
"Mau saya panggilkan taksi?." Tanya Toni dengan panik saat melihat lututnya mengalami pendarahan.
Wanita itu menggelengkan kepalanya, "Rumah saya ada didekat sini. Tapi, bisa antarin saya sampai ke rumah?. Kepala saya sedikit pusing karena terjatuh tadi."
"Tidak apa, mari saya antarkan." Toni dengan senang hati menerima ajakannya.
Toni menuntun wanita itu sambil membawakan barang belanjaannya sampai kerumahnya yang cukup besar. Wanita itu mempersilahkan Toni untuk masuk, untuk menemui suaminya.
"Apa yang terjadi pada mu" Ucap suami wanita itu, dengan panik setelah melihat lutut istrinya.
"Aku tadi terjatuh, waktu di perjalanan pulang." Ucap wanita itu dengan wajah sedikit pucat.
Suami wanita itu menjadi panik, saat melihat wajah istrinya yang pucat pasi. "Kita ke rumah sakit sekarang, aku engga mau kamu kenapa kenapa Hani."
Pria itu menuntun istrinya masuk kemobil, Lalu kembali kearah Toni, "Terima kasih mas, telah mengantarkan istri saya pulang."
Pria itu mengeluarkan beberapa lembar uang 100rb dan memberikan nya kepada Toni, "ini sebagai ucapan terimakasih saya, tolong diambil."
Toni menolaknya, "Maaf mas, saya ihklas menolong istri anda."
Pria itu tertegun, lalu melirik kearah tas dan ke arah 2 bayi yang di bawa Toni. "Sekalian mengantarkan istri saya ke rumah sakit, mau saya antarkan pulang?."
"Saya belum mendapatkan tempat tinggal di jakarta" Ucap Toni memandangi kedua anaknya, lalu berkata. "Jika bapak berkenan, tolong perkenalkan kepada saya kepada pemilik kontrakan didekat sini dengan harga murah."
Toni sangat membutuhkan tempat untuk beristirahat saat ini untuk dirinya dan juga anak anak nya. Dia merasa kasihan dengan anak-anak nya, karena belum bisa beristirahat semenjak tiba di jakarta.
Pria itu berfikir sebentar, lalu dia berkata. "Saya tidak punya kenalan pemilik kontrakan murah disekitar sini."
Toni sedikit kecewa mendengar hal itu.
"Tapi kalau mas mau, kamu bisa tinggal dirumah saya untuk sementara, sampai kamu mendapat tempat tinggal yang baru. Kebetulan ada banyak kamar kosong dirumah ini." Ucap pria itu.
"Apakah ini tidak merepotkan anda?, Saya merasa sungkan." Ucap Toni.
__ADS_1
Pria itu menggelengkan kepalanya, "tidak sama sekali, Saya juga harus membalas kebaikan kamu." Lalu dia menjulurkan tangannya, "Nama Saya Dito Firmansyah, Tolong jangan sungkan sungkan kepada Saya."
Toni tersenyum, menjabat tangannya. "Saya Toni yudhoyono, maaf bila Saya merepotkan."
Setelah menginstruksikan assistant rumah tangganya untuk mengantar Toni kekamar yang kosong, Dito pamit pergi, mengantar istrinya ke rumah sakit.
Sesampainya dikamar, Toni merasa canggung karena bisa tidur di rumah yang begitu mewah saat ini. Ada kasur yang nyaman ketika tidur, atap rumah yang tidak bolong, serta dengan ruangan yang tidak gelap.
Dia juga berfikir, inilah yang akan dia miliki, jika dia memiliki banyak uang. Karena hal ini, membuat Toni semakin bertekat untuk mencari uang dengan giat. tidak peduli seberapa sulitnya itu, dia harus melakukannya demi anak-anaknya.
Setelah mengurusi anak anaknya hingga tertidur, Toni keluar rumah membeli koran, untuk mencari informasi tentang lowongan kerja.
Sebenarnya Toni adalah lulusan terbaik saat SMA nya. di purwokerto sangat sedikit lowongan pekerjaan yang layak selain menjadi petani.
Orang tuanya hanyalah seorang petani kecil di purwokerto. Ketika Toni kelas 8 SMP, kejadian tragis pun terjadi. adik laki-lakinya yang berumur 7 tahun, beserta kedua orang tuanya mengalami kecelakaan tabrak lari, saat mereka pergi kekota untuk membeli bibit tanaman.
Toni tak punya sanak-saudara sama sekali disana, bahkan Julia yang istrinya pun, juga seorang yatim piatu yang berasal dari panti asuhan.
Karena kecelakaan itu, Toni menghidupi dirinya sendiri dengan bekerja di sebuah bengkel kayu kenalan ayahnya.
Untuk perbekalan perantauannya, Toni bahkan sudah menjual lahan pertanian bekas orang tuanya dulu. Dan hanya menyisakan rumah peninggalan orang tuanya, yang tidak akan pernah dia jual sampai kapanpun. Karena hanya itu saja yang bisa dia lakukan, untuk pertahankan harta terakhir yang orang tuanya tinggalkan.
Toni tak bisa berlama-lama diluar, karena khawatir dengan ke dua anaknya yang berada dirumah Dito. Dia memutuskan untuk kembali, Setelah membeli kebutuhan untuk melamar kerja nanti.
Sesampainya di rumah, dia menemukan Dito sudah kembali dari rumah sakit. Terlihat raut wajah kecemasan diwajah Dito yang sedang duduk sendirian di ruang tamu, lalu Toni menghampirinya.
Dito menghela nafas, "Istri ku baik baik saja. hanya ada sedikit masalah dengan janin dikandungnya."
Toni terkejut, lalu dia bertanya. "Lalu, bagaimana dengan kondisinya?."
"Tak ada yang serius, janinnya hanya terkena syok saat istri ku terjatuh. Saat ini dia sudah tidur di kamarnya." Ucap dito sambil memegangi kepalanya, karena sedikit pusing dengan kejadian hari ini.
Toni merasa lega, "Syukur lah mereka baik baik saja."
"Oh iya, saya penasaran dengan istrimu. Dimana dia sekarang?." Tanya dito, ini pertanyaan yang sempat tertahan ketika dia melihat Toni menggendong bayinya.
"Istri ku sudah meninggal 2 bulan yang lalu, saat melahirkan mereka." Sebenarnya Toni sedikit sedih, ketika mengingat kembali tentang istrinya.
"Aah, jadi seperti itu. Lalu sedang apa kamu di jakarta sekarang." Ucap Dito, dengan santai.
"Aku merantau untuk mencari pekerjaan di jakarta karena sebuah alasan."
"Apakah kamu sudah mendapat pekerjaan?, jika belum, aku dapat membantu mu untuk mencari pekerjaan di jakarta ini." Dito menawari Toni dengan tulus.
Toni berkata, "Tak perlu sampai segitunya, sudah mengizinkan ku bermalam disini saja sudah cukup bagiku."
Dito mengangkat bahunya, "Baiklah, aku engga akan memaksa lagi."
__ADS_1
Toni berdiri, lalu berkata, "Aku pamit ke kamar anak ku, untuk memeriksa mereka."
"Silahkan, aku juga harus beristirahat sekarang." Dito ikut bangkit dari duduknya, sambil menguap.
Untungnya saat Toni tiba dikamarnya, anak anaknya masih tertidur dengan pulas. Toni yakin mereka pasti sangat kecapekan karena berjalan jalan seharian dengan dirinya hari ini.
Toni membaringkan tubuhnya mengahadap anaknya, lalu dirinya kembali teringat akan istrinya yang sudah meninggal.
"Kenapa kalian harus lahir secara bersamaan Arman, anin, kenapa kalian tidak keluar satu satu saja. Dengan begitu, ibu kalian seharusnya tidak akan meninggalkan kita begini." Toni bergumam sendiri, dengan kesedihan yang tersisa karena kepergian istrinya.
Anaknya mulai menangis, ketika mendengarkan Toni bergumam sendiri. atau mungkin, kedua anaknya dapat merasakan kesedihan yang terpancar dari ayahnya.
Toni menenangkan mereka, dan berkata. "Tenanglah, aku tidak akan mungkin meninggal kalian sendirian sampai kapanpun."
Setelah beberapa saat, kedua anaknya berhenti menangis dan mulai tertidur kembali. Toni mendesah karena anaknya begitu peka dengan suasana hatinya sedang bersedih saat ini.
Toni melirik kearah jam dinding diruangannya, yang sudah menunjukkan pukul 20:11 malam. Masih terlalu dini baginya untuk tidur saat ini, karena tidak ada kegiatan Toni pun memutuskan untuk membuat lamaran kerjanya sekarang.
Jam 00:00 AM
Tak terasa Toni sudah membuat 40an lembar untuk lamaran kerjanya nanti, setelah Dirasa cukup, dia bebenah dan memutuskan untuk beristirahat menemani kedua anaknya yang tertidur...
Pagi harinya Diruang makan, Toni merasa canggung dengan seluruh penghuni rumah ini. Dia sama sekali tidak terbiasa untuk makan dimeja, seperti yang sekarang dia lakukan ini. Apa lagi makan dengan menggunakan garpu dan sendok secara bersamaan, dia sama sekali tidak terbiasa dengan semuanya yang ada disini.
Dito dan istrinya Hani hanya tersenyum senyum, melihat tingkah laku Toni yang begitu memaksakan diri untuk mengikuti gaya hidup mereka.
Dalam kecanggungan Dito berkata. "Tidak perlu memaksakan diri Toni, kamu bisa melakukan hal yang biasa kamu lakukan."
Toni mengerutkan kening, "Tidak, aku bisa melakukannya. Ini bukan hal sulit untuk ku."
Baru dia berkata seperti itu, tangannya terpeleset dan membuat rendang yang sedang dia potong pun terpental kearah wajahnya. Sontak membuat sepasang suami istri itu tertawa karenanya.
"Sudah ku bilang, tidak perlu memaksakan dirimu sendiri Toni. Jika kamu memaksa, cobalah melakukannya secara perlahan." Ucap Dito, sembari memberikan tisu kepada Toni.
"Baik" Ucap Toni, singkat.
Toni bergumam didalam hatinya, 'sangat memalukan, hanya melakukan hal mudah seperti ini saja aku tidak bisa.'
Lalu dia mencobanya lagi dengan hati hati, namun kali ini dia bisa melakukannya dengan benar. Setelah itu dia menghabiskan sarapannya dengan hati hati.
Jam 08:12 AM
Toni pergi keluar, setelah menitipkan anaknya kepada asisten rumahnya Dito. dia harus secepatnya mendapatkan tempat tinggal baru di jakarta ini, alasannya Toni merasa sangat sungkan untuk tinggal bersama dengan Dito dan istrinya dirumahnya.
Toni bukannya membenci mereka. hanya saja, hati kecilnya mengatakan untuk tidak bergantung dengan orang lain. Inilah prinsip hidup yang dipegang teguh olehnya, sejak dia kehilangan adik dan kedua orang tua nya.
Diwaktu awal keluarganya meninggal, Toni tidak bisa melakukan apapun. Karena ketergantungannya dengan orang tua nya, Toni menjalani hidup yang berat sendirian.
__ADS_1
Di umurnya yang sudah 23 tahun ini, seharusnya dia bisa melakukan hal itu. Walaupun itu sangat sulit baginya untuk menjani hidup, karena sudah menanggung beban sendirian dipundaknya. dia harus tegar untuk menjalaninya, untuk masa depan yang lebih baik.