
"Kamu tunggu disini dulu ya!" Ucap Dito kepada istrinya, sembari bangkit dari duduknya.
Hani mengangguk, dan diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Kemudian mereka berdua beranjak dari ruang tamu, menuju ke kamar mbak ayu berada. Setibanya disana, dito langsung mengetuk pintu kamar yang hampir patah itu. "Mbak, aku masuk ya."
"I-iya pak, masuk saja." Ucap Ayu terkejut, mendengar suara pak dito yang tiba-tiba. Entah mengapa, hatinya merasa gelisah saat ini. Karena perasaan takutnya terhadap Toni, membuatnya menjadi was-was dengan sekitarnya. Dirinya sangat takut, dengan kemarahan Toni yang meledak-ledak nantinya.
Derit kayu terdengar saat pintu terbuka, menampakkan Toni yang berada di belakang dito, sambil memandang dingin kearahnya. Seketika Ayu berdiri, saat mata mereka bertemu dan langsung menundukan kepalanya, karena perasaan malu dan takut kepadanya.
Dito dan Toni berjalan ke arah Ayu, yang tengah mematung di pinggir kasur sambil menundukkan kepalanya. Hingga akhirnya mereka berhenti, tepat di depannya.
Mungkin kebanyakan orang, akan langsung menghajar orang yang mau menyakiti orang yang paling mereka sayangi. Dan Toni pun tidak terkecuali, hanya saja, dirinya sedang menahan diri saat ini.
"Apa kamu tau, perbuatan apa yang sudah kamu lakukan mbak?"
"Saya salah mas, saya minta maaf mas. Saya panik dan ngira, kalau yang maling itu mas Toni. Saya engga berniat mencelakai anaknya mas, saya bersumpah!" Jawab ayu masih menundukkan kepalanya, dengan bibir bergetar.
Ayu benar-benar tak tau lagi, harus bagaimana lagi dengan Toni saat ini. Dirinya hanya merasakan takut dan takut, saat berhadapan dengan Toni sekarang. Karena ini adalah urusan nyawa dari anak-anak-nya.
"Kamu tau apa yang aku rasain, pas di depan pintu tadi, hah? Gimana kalau aku berada di posisi kamu, dan melakukan hal yang sama dengan anakmu? Kamu tau gimana rasanya?" Ucap Toni dengan kesal kepada mbak Ayu.
Toni menghela nafasnya, hingga akhirnya ia berkata dengan suara penekanan. "Aku cuma mau minta satu hal sama kamu. Minta maaf dengan tulus, kepada kedua anakku sekarang juga. Dan aku mengingatkan mu sebagai manusia, jangan sampai kamu melakukan hal hina itu lagi, kepada siapapun! Karena ingin menyelamatkan dirimu sendiri."
Ayu tertegun dan tanpa sadar menitikan air mata, dadanya seakan seperti tertusuk sebuah tombak, saat mendengarkan Toni mengucapkan hal itu. Saat Dia menoleh kearah anin dan arman, seketika dirinya merasa berdosa dan malu atas perbuatan yang telah dia lakukan. Bagaimana mungkin dia bisa mengkambing hitamkan dan mencaci maki mereka yang tidak berdosa ini sebelumnya.
Tanpa berbasa-basi lagi, ayu langsung mendekati, mengelus dan menciumi kepala Anin dan arman yang sedang tertidur, dengan air mata yang masih mengalir di wajahnya. Ia berkata dengan lirih, "Maafin mbak ayu ya, anin, arman. Mbak salah, Mbak lagi panik dan engga bisa berpikir dengan jernih. Sekali lagi, maafin mbak Ayu ya."
Toni mendesah, "Sudah cukup! Urusan kita sudah selesai."
Seketika Ayu membeku, karena ucapan yang Toni lontarkan itu. Kemudian, dia kembali berdiri menghadapnya, sambil menundukkan kepala.
"Untuk saat ini, aku minta kamu pergi dari kamar ini sekarang juga." Toni sangat malas untuk melihat wajahnya saat ini, ketika melihat dirinya, Toni langsung teringat dan membayangkan kejadian yang telah terjadi sebelumnya. Dan ingin mbak Ayu cepat-cepat pergi dari hadapannya, karena takut emosinya tidak terkontrol lagi saat ini.
__ADS_1
"Baik mas, sekali lagi aku minta maaf." Sejujurnya, Ayu sangat senang kalau Toni tidak memperlakukan dirinya dengan kasar Karena perbuatannya yang sebelumnya. Karena sebelumnya, dia telah membayangkan akan dipukul atau dihinakan olehnya. Namun, dia bahkan tidak menyentuh sehelai rambutnya sama sekali.
"Permisi." Ucap Ayu seraya pergi meninggalkan kamar. Diikuti oleh tatapan Toni dan Dito hingga Ayu tak terlihat lagi dari pandangan mereka.
Dito merasa lega dan tidak menyangka, akan berjalan semulus ini untuk mendamaikan mereka. Karena sebelumnya, dia telah bersiap-siap jika Toni lepas kendali, saat bertemu dengan mbak Ayu tadi.
Di sisi lain, Toni merasa canggung saat sedang memandang engsel pintu yang hampir patah itu. Karena dirinya, tak tau bagaimana cara untuk menggantinya dengan keadaannya yang sekarang. Secara itu adalah hasil dari tindakannya, walaupun dia tidak menginginkannya.
"Maaf mas, pintu kamarnya jadi rusak gara-gara saya."
Mendengar hal itu, dito tersenyum dan berkata pada Toni. "Santai saja, itu cuma masalah kecil. Kamu tidak perlu menggantinya, aku tau kamu tidak benar-benar mau merusaknya juga."
Toni menggaruk kepalanya dengan canggung, kemudian ia berkata. "Saya jadi engga enak sama mas dito, saya selalu di bantu terus. Kalau terus begini, saya jadi tambah sungkan sama mas Dito."
Toni tidak mau merepotkan Dito lebih banyak lagi, karena kehadirannya dirumah ini. Dito adalah teman pertama yang dia temui, setibanya dia di jakarta. Apalagi Toni tau bahwa Dito bukanlah orang sembarangan, merusak hubungan mereka adalah kerugian besar baginya.
"Karena kamu belum mendapatkan pekerjaan, kamu bisa menggantinya di lain waktu. Kalau sudah kamu sudah sudah memiliki uangnya." Dito berkata demikian, untuk menghormati ketetapan hatinya ini. Jika Toni tidak menggantinya sekalipun, ia tidak akan mempermasalahkannya sedikitpun. Lagi pula, itu hanyalah uang kecil baginya.
"Terimakasih mas, saya janji kalau sudah ada uangnya, saya akan langsung menggantinya." Ucap Toni sambil meraih tangan dito.
"Silahkan mas, sekali lagi terimakasih." Toni tersenyum dan mempersilahkannya untuk pergi.
Dito menghela nafasnya sambil berjalan keluar dan menutup pintu kamarnya.
Setelah kepergian dito, Toni langsung memeriksa seluruh tubuh anaknya. Karena tidak mau, hal-hal yang tidak diinginkan terjadi kepada mereka.
Setelah selesai memeriksanya, Toni pun merasa lega, karena mbak Ayu tidak melakukan hal-hal mengerikan, seperti yang telah dia bayangkan sebelumnya. Hanya terdapat bekas merah-merah, di sekitar hidung dan mulut mereka. Artinya, mbak Ayu hanya melakukan hal itu setengah hati. Jika dia melakukannya lebih dari ini, dirinya pasti akan melakukan hal yang sama kepadanya nanti.
Toni berbaring dan menyandarkan kepalanya dengan tangan, sambil mengelus-elus kepala anaknya dari samping. Saat sedang termenung, Toni jadi terpikirkan sesuatu. Bagaimana nasib buruk, selalu menimpa orang yang ada di sekitarnya selama ini. Dan hanya menyisakan dirinya berada di tempat yang aman, sementara orang di sekitar---nya merasakan nasib buruk di manapun ia berada.
Toni merasa seperti orang pembawa sial, bagi orang-orang di sekitarnya. Lalu dia mengaitkan masalah yang menimpanya ini, dengan kejadian-kejadian yang pernah dia alami sebelumnya. Secara tak sadar, Toni tenggelam dalam ilusi-nya sendiri.
Saat sedang terbengong, Toni tersadarkan oleh suara rengekan Anin dan di ikuti oleh arman yang menangis.
__ADS_1
*Ooweck
*Ooweck
Dengan sigap, Toni membelai lembut perut kedua anaknya secara bergantian. "Cup-cup-cup, ayah ada di sini arman-anin."
Saat sedang mengelus-elus perut mereka, Toni merasakan getaran yang bersumber dari perut mereka. "Kalian lapar ya? ayah buatin susu dulu buat kalian ya."
Toni bangkit dan mencari botol susu mereka, dari di meja, di bawah kasur, di balik selimut, di laci, bahkan sampai mengacak-acak isi tas ranselnya, tetapi dia tidak menemukan.
Toni pun langsung turun ke lantai bawah, sambil membawa bungkus susu, dan berniat untuk bertanya kepada mbak Ayu mengenai hal ini. Saat Toni berjalan menuruni tangga dengan tergesa-gesa, semua mata langsung memandang kearahnya
Tak mau ambil pusing, Toni langsung berjalan menghampiri Ayu yang tengah duduk bersama dengan dito dan hani diruang tamu. "Mbak, kamu liat botol susu Arman sama Anin ga? Aku cari di kamar engga ada."
"Eh, Anu mas. Botolnya ada di dapur." Ayu mengira, Toni mau melakukan sesuatu kepadanya. Namun, ternyata tidak demikian, Toni hanya bertanya mengenai keberadaan botol susu milik anaknya. Karena kejadian hari ini, dirinya menjadi sedikit panik saat melihat Toni.
"Pantesan aku cari engga ada." kemudian Toni memandang dito dan hani, lalu ia berkata. "Aku pinjam dapurnya sebentar ya mas, mbak."
"Ooh, iya. pakai aja mas, gausah sungkan." ucap hani dengan santai, dari tempat duduknya.
"Kalau gitu, aku ke dapur dulu ya. Soalnya arman sama Anin lagi kelaparan sekarang." Tanpa menunggu jawaban dari mereka Toni langsung bergegas ke arah dapur.
Saat Toni berjalan kearah dapur, dito menatap dirinya dengan aneh. Baru saja dia berseteru dengan mbak Ayu, dan sekarang...dia seperti tidak mempunyai masalah apapun dengan mbak Ayu sebelumnya. Bagaimana sikapnya bisa berubah 185° hanya karena botol susu?
"Kok, aku jadi ngerasa aneh ya sama dia." Gumam dito kepada orang disekitarnya, sambil mengusap dagunya karena binggung.
"Aneh gimana?" ucap Hani menyahuti suaminya itu.
"Kamu tau sendiri kan, sebelum aku anterin dia ketemu sama mbak Ayu di atas bagaimana?" Jawab dito, menggigatkan kembali kejadian yang sebelumnya.
Hani tertawa kecil saat mendengar hal itu, kemudian ia berkata. "Itu engga aneh, menurut aku. Artinya dia itu sayang banget sama anaknya, sampai sampai, dia nyampingin perasaannya sendiri buat nyari tau dimana botol susu anaknya."
"Ahh, engga mungkin. Harga diri laki-laki itu, ga mungkin serendah itu. apalagi cuma perkara botol susu." dito membuat pembelaan dengan argumennya. Harga diri laki-laki itu setinggi langit, bagaimana mungkin bisa jatuh serendah itu, gara-gara botol susu?
__ADS_1
Hani menggelengkan kepalanya, dan menjawab perkataan suaminya. "Kamu engga denger dia ngomong apa barusan? Arman sama Anin lagi kelaparan sekarang. Jadi dia engga mau mempersulit dirinya sendiri sama gengsinya. Yaa, lagi pula kamu bakal ngerasain, gimana kalo udah ada di posisi dia nanti."
Dito hanya bisa mengangkat bahunya, karena tidak bisa menjawab perkataannya itu. Karena masih kekeh dengan pendiriannya, harga diri di atas segalanya.