
Sembari mencari tempat tinggal, Toni juga menaruh lamaran pekerjaan di beberapa tempat, yang sedang membuka lowongan kerja yang ditemuinya dijalan. Banyak hal yang bisa dia temui dijakarta ini, dan Toni merasa takjub karena-Nya
Saat berpetualang di jakarta, Toni memandangi gedung gedung pencakar langit, yang belum pernah dilihatnya di purwokerto. Melihat ini! dirinya menjadi sedikit prihatin.
Kesenjangan antara dua kota tersebut sangat besar, dalam hal infrastruktur maupun dalam hal hal yang lain. Jika perbedaan ini digambarkan, maka akan nampak seperti langit dan bumi!. Ini membuatnya sangat cemburu, ketika mengetahui semua hal ini.
Jam 13:28 PM
Didalam sebuah gedung perusahaan. Toni bersama pelamar yang lain, sedang menunggu giliran mereka untuk dipanggil melakukan interview.
Toni menunggu dengan gelisah. dirinya sangat khawatir dengan performanya yang akan menurun, saat melakukan interview nanti.
Sebelumnya dia sangat senang, saat menemukan sebuah perusahaan industri yang berada di daerah jakarta pusat. sedang membuka lowongan kerja secara Walk interview. Apalagi, saat ini adalah hari pertamanya mencari pekerjaan di jakarta.
Namun, wajah yang ditunjukkan pelamar yang lain, membuatnya sedikit gelisah. Melihat mereka semua murung, membuat Toni merasa tertekan. Apa lagi dengan suasana suram di ruangan ini, dirinya jadi ikut khawatir dibuatnya.
Karena tak tahan dengan suasana ini, Toni akhirnya membuat obrolan dengan wanita disebelahnya.
"A-anu mbak, udah lama nunggu disini?." Toni berbasa basi. Padahal dia sudah tahu, kalau wanita itu datang bersamaan dengan dirinya, saat di pintu masuk tadi.
Wanita itu terkejut, dan terbangun dari lamunannya. "E-eh, iya. Saya udah 3 jam-an disini."
"Kayanya, mbaknya lagi gugup gitu ya! Dibuat santai aja mbak. " Ucap Toni dengan santai.
Wanita itu tertawa hambar, lalu berkata. "ini interview pertama saya soalnya, saya jadi binggung nanti mau ngomong apa, didalem nanti."
"Hahaha, sama! saya juga. Ini juga interview pertama saya. " Ucap Toni berusaha akrab. Dengan lawan bicaranya.
"Masa sih?, tapi masnya kaya udah berpengalaman gitu." Wanita itu bertanya dengan curiga.
Toni tersenyum, dan berkata. "Wah! hebat juga saya, bisa mengelabui orang lain."
Wanita itu terkejut, dengan penasaran bertanya. "Jadi beneran?, baru pertama kali Interview?."
"Ngapain juga saya bohong sama kamu mbak, engga ada untungnya juga buat saya." Ucap Toni berusaha bersikap santai.
"Iya juga si" Wanita itu mengerutkan keningnya. Buat apa juga, dia pura pura seperti pendatang baru seperti dirinya ini.
"Ooh iya, kita belum kenalan. Nama saya Toni." Ucap Toni sambil menjulurkan tangannya.
"Nanda" Ucapnya sambil menjabat tangan Toni.
Setelah beberapa saat, seorang wanita berumur 27-29 tahun dengan pakaian kantoran keluar dari ruang interview.
"Toni Yudhoyono" Panggil wanita itu, sedikit berteriak.
__ADS_1
Toni yang sedang mengobrol terkejut, dan berkata secara spontan. "Saya"
"Silahkan masuk." Ucap wanita itu singkat. Setelah mengatakan itu, dia kembali masuk kedalam ruangan.
"Aku duluan ya nan." Toni bangkit dari duduknya.
"Oke, semoga sukses." Ucap Nanda, menyemangati Toni.
Toni berhenti sejenak di depan pintu. Setelah mengambil nafas dalam dalam, Toni masuk kedalam ruang interview.
Didalam ruangan, wanita tadi sudah menunggu di mejanya. Setelah melihat Toni masuk, wanita itu tersenyum ringan lalu mengangguk kearahnya.
Toni yang merasa canggung pun berkata. "Permisi, Boleh saya duduk?"
"Silahkan" Wanita itu tersenyum, dan mempersilahkan Toni duduk.
Setelah Toni duduk. dirinya hanya duduk diam, sambil sesekali, melirik wanita itu saat sedang menuliskan sesuatu di secarik kertasnya. Beberapa saat kemudian wanita itu berbicara.
"Selamat Siang! Bisa kita mulai interview nya?." Ucapnya dengan lembut, sambil mencatat sesuatu di secarik kertasnya.
Toni mengangguk ringan, dan berkata. "Yaa, Silahkan."
"Baik, Perkenalkan diri anda." Ucap wanita itu, dengan santai.
"Saya Toni Yudhoyono, dari purwokerto. tahun ini Saya baru berumur 23 tahun, Saya Lulusan SMA Negeri 10 purwokerto. Saat ini, saya tinggal bersama seorang teman di Perumahan rakyat No19 blok G." Ucap Toni,
"Saya melamar dibagian marketing! " Jawab Toni, dengan tegas.
"Kenapa anda memilih melamar dibagian marketing?." Tanya wanita itu, dengan santai.
"Dari semua yang bisa saya lakukan, saya paling cocok dibagian itu." Toni berusaha menjawabnya dengan santai.
Wanita itu mengangguk ringan, lalu dia berkata. "Dari CV yang anda berikan. dikatakan disini, anda pernah bekerja di Industri furnitur lokal, dari tahun 85 sampai 93. Dan anda baru berhenti sekitar 2 bulan yang lalu, dari pekerjaan anda yang sebelumnya. Apa ada alasan khusus, kenapa anda berhenti?." Wanita itu berbicara, sambil mencatat sesuatu di sebuah kertas didepannya.
Pria ini sudah cukup lama bekerja di sana, mengapa dia memilih untuk keluar? Jika sudah bekerja selama itu, jabatan dirinya disana pasti tidak rendah.
"Alasan Saya keluar, sebenarnya karena mereka tidak cukup untuk menghargai bakat yang saya miliki." Ucapan Toni penuh dengan kekecewaan.
Wanita itu tersenyum, menatap Toni dengan penuh minat. "Bisakah anda menjelaskan nya lebih lanjut?"
Wanita itu sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Toni ini, dan dia cukup penasaran apa yang sebenarnya terjadi disana.
"Yaa" Lalu Toni melanjutkan. "Selama Saya masih bekerja di sana, Saya sudah mendapatkan banyak prestasi dalam aspek, berinovasi maupun dalam hal berkreatifitas. Bahkan Saya sampai dipercayakan oleh pemilik usaha, untuk memanajemen usahanya sendiri."
"Saya sampai Menggurusi masalah penjualan juga, yang seharusnya bukan bagian Saya. Sampai dititik! Saya membuat pertumbuhan usaha itu menjadi pesat. Prestasi gemilang yang sudah Saya raih di sana, saat Saya berhasil mengekspor produk yang saya miliki, sampai ke beberapa kota di pulau Jawa."
__ADS_1
Toni berhenti sejenak, menggigat sesuatu yang kurang menyenangkan, kemudian dia berkata dengan lirih. "Karena UMR disana lebih rendah, daripada di jakarta. Saya hanya merasa kurang, dengan uang sedikit itu. Jadi saya mau mencari yang lebih baik, di jakarta ini."
Wanita itu mengangkat alisnya, dan berkata. "Jika memang benar begitu, kenapa anda memilih untuk melamar di perusahaan kami?."
Dapat menaikan nilai dari suatu usaha hingga ke tingkat itu, Adalah suatu prestasi yang luar biasa. Jika dia dipekerjakan diperusahaan ini. Tentunya akan sangat menguntungkan, daripada yang pernah bisa dibayangkan.
"Saya hanya merasa, perusahaan ini dapat memenuhi kebutuhan yang Saya inginkan." Toni menatap nya dengan serius.
"Jika ambisimu besar, kenapa tidak langsung saja melamar diposisi yang lebih tinggi saja?. Mengapa harus memilih diposisi rendah seperti itu?." Dia ingin mengetahui jawab dari pria didepannya ini.
"Karena Saya ingin menunjukkan kelayakan yang saya miliki sekarang, sebelum mencapai posisi yang saya inginkan." Toni berbicara dengan lantang.
Dia telah berhasil membuatnya terkesan. Jika dia harus menilai, pria didepannya ini akan mendapatkan nilai A+ darinya.
Pria yang menarik!
"Berapa gaji yang kamu harapkan dari perusahaan ini?" Tanya wanita itu, dengan serius.
Wanita itu ingin mengetahui seberapa besar gaji yang di inginkannya. sebenarnya dia sudah mengira-ngira gaji yang akan dia tawarkan
"50 ribu" Ucap Toni dengan tegas, sembari menunjukkan ketiga jarinya. Toni merasa, ini harga yang murah untuk dirinya saat ini.
Mata wanita itu terbelalak mendengar ucapan Toni, "50 ribu?" Dirinya tak menyangka, bahwa orang didepannya ini sangat berani, untuk menawarkan harga yang sangat tinggi.
Gaji yang ditawarkan Toni Ini, setara dengan gaji untuk seseorang karyawan senior yang ada di perusahaan ini. Walaupun perusahaan masih bisa menanggung nya, tapi ini sudah sangat berlebihan bagi karyawan baru.
Toni yang melihat ekspresi wanita itu pun bereaksi. "Saya disini menawarkan kreativitas dan kecerdasan yang saya punya. Tentunya, bersamaan dengan loyalitas saya. Jika saya memperhitung-kan Keredibilitas yang saya punya, ini adalah investasi jangka panjang yang sangat menguntungkan, bagi perusahaan anda."
Toni sudah meriset UMR yang ada di jakarta saat ini, setelah menimbang nimbang, akhirnya dia memutuskan. 50 ribu adalah harga yang pas untuk dirinya.
(UMR \= Upah Minimum Regional)
Wanita itu terdiam dan berfikir sejenak, tidak lama kemudian dia pun menghela nafasnya. "Baik, Terima kasih atas waktunya. Saya akan mengevaluasi nya terlebih dahulu, dan tunggu informasi lebih lanjut dari saya!."
'Aku harus melaporkan ini kepada 'Dia' terlebih dahulu mengenai hal ini' Gumam wanita itu di dalam hatinya.
Setelah berjabat tangan, Toni pun meninggalkan ruangan.
Toni keluar ruangan dengan senyuman diwajahnya, lalu menghampiri Nanda yang sedang duduk menatapnya.
"Gimana! lancar?." Tanya Nanda penasaran, karena ekspresi Toni terlihat sangat senang.
"Lancar" Toni memberikan kode dengan jarinya.
Sudah dapat dipastikan, bahwa dirinya akan bekerja diperusahaan ini tak lama lagi. Hanya orang buta saja yang akan menolak, setelah melihat resume tentang dirinya.
__ADS_1
Setelah difikir lagi, interview pertamanya ini berjalan lebih baik, dari yang dia harapkan.