Strong Dad

Strong Dad
Kekacauan di rumah II


__ADS_3

Di lantai bawah, Toni bersama dengan Hani sedang membereskan barang barang yang berserakan di lantai. Karena dirinya tak tega melihat hani berbenah sendirian, akhirnya dia memutuskan untuk membantunya, sembari menenangkan pikirannya yang sedang kalut ini.


Di sela-sela kesibukannya, hani dengan santai bertanya kepada Toni. "Kamu tau mas, kenapa rumah aku berantakan kaya gini?"


Dia sangat ingin bertanya sedari tadi kepada Toni mengenai hal ini. Namun, dia tidak berani bertanya kepada dia karena wajah yang dia tunjukan sangat menyeramkan. Jadi dia mengurungkan niatnya untuk bertanya, dan menunggu Toni agak sedikit tenang dahulu.


Toni yang sedang berbenah, menggelengkan kepalanya kepada Hani. "Aku juga engga tau mbak, tadi aku lagi pergi pasar. Pas aku pulang, Tiba-tiba udah berantakan kaya gini aja rumahnya."


Toni sebenarnya sudah mempunyai tebakan tentang kejadian ini, setelah melihat mbak Ayu sebegitu takutnya untuk bertemu dengan dirinya tadi.


Rumah ini telah kemalingan oleh seorang pencuri saat dirinya pergi ke pasar. Yang membuatnya sedikit heran, kenapa mbak Ayu mengatakan dirinya sebagai perampok? Apa wajah dari pencuri itu mirip seperti dirinya? Inilah yang tidak dia mengerti, setelah sedikit merenung dan menjernihkan pikirannya.


"Kejadiannya kaya kebetulan gitu ya? Kaya udah direncanain gitu!" Setelah mendengar pernyataan dari Toni, hani berpikir sejenak mengenai kejadian di dalam rumahnya ini. Dirinya berasumsi bahwa rumahnya telah kemalingan saat dirinya pergi bersama dengan suaminya.


Namun, ada yang sedikit mengganjal di hatinya. Kejadian yang tiba-tiba ini, seperti sudah di rencanakan. Orang ini seperti sudah memerhatikan gerak gerik dari kegiatan yang ada di rumah ini untuk waktu yang lama. Dan inilah yang membuat dirinya binggung akan hal itu, siapa dalang dibalik semua ini dan apa yang sedang dia cari. Karena tidak menemukan satupun barang yang hilang di rumah ini.


"Aku juga engga tau mbak." Ucap Toni sambil memikirkan perasaan gelisahnya saat sore tadi.


Perasaan itu seakan-akan telah memperingatkan dirinya tentang kejadian ini. Yang mana membuatnya merasa aneh, setelah memikirkannya kembali akan hal itu.


Mereka berdua berbenah sambil terlarut dalam obrolan, hingga keadaan rumah ini kembali seperti sediakala. Setelah berberes-beres, hani membuatkan teh untuk mereka bersantai di ruang tamu.


Setelah Hani meletakkan minumannya di meja, lalu dia bertanya kepada Toni. "Mas Dito lagi ngapain di atas, mas?"


Toni menghela nafasnya, lalu dia berkata. "Dia lagi ngomongin sesuatu sama mbak Ayu, mbak."


"Kamu lagi Ada masalah sama mbak Ayu?" Hani menanyakan hal ini, karena merasa aneh dengan sikap Toni saat ini.

__ADS_1


"Gimana ya, aku ngomongnya.." Toni sedikit ragu untuk membicarakan hal itu kepada Hani.


Saat Toni ingin meneruskan ucapannya, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari arah tangga. Yang mana membuat mereka berdua menengok, dan melihat Dito sedang menuruni tangga.


"Gimana? Sudah selesai?" Tanya Toni, kepada Dito yang sedang berjalan ke arahnya.


"Sudah, dia sedang menenangkan anakmu di atas." Ucap Dito, sambil melihat sekeliling dengan tenang.


Setelah Dito duduk bersama mereka, dia melanjutkan ucapannya. "Apa Ada barang yang hilang?" Dia ingin mengetahui, barang apa yang telah di curi oleh orang itu.


Hani menggelengkan kepalanya, lalu dia berkata. "Aku udah memeriksanya tadi, engga ada barang yang hilang."


Dito sedang berpikir akan sesuatu, lalu dia berkata. "Beneran engga ada yang hilang?"


Dito merasa aneh tentang kejadian ini, kenapa tidak ada satupun barang yang hilang di rumahnya. Lantas, apa yang sedang pencuri itu cari di rumahnya ini.


'Padahal ada banyak barang berharga di rumah ini, kenapa pencuri ini tidak mengambil satupun barang itu?' Batinnya.


Dito menghela nafasnya, karena masih ada masalah yang harus dia selesaikan dengan pria di sampingnya. Toni pasti sangat kesal dengan mbak Ayu, karena hampir membuat anaknya celaka tadi.


Toni yang tengah memperhatikan Dito pun berbicara. "Tenang aja mas, aku engga bakal impulsif sama mbak Ayu."


Dito terkejut dengan Toni, lalu dia menggaruk kepalanya dengan malu. "Kayanya kamu udah tau ya?"


Toni mengangkat bahunya, lalu berkata dengan santai. "Ya gitulah, tapi bukan berarti aku udah maafin dia sekarang."


"Aku akan menyuruhnya minta maaf sama kamu nanti." Dito paham dengan keadaan Toni saat ini. Meskipun mbak Ayu tidak bisa berpikir dengan jernih tadi, bukan berarti dia bisa dibenarkan untuk melakukan hal keji seperti itu.

__ADS_1


"Kalian lagi ngomongin apaan? Kayanya serius banget ya?" Hani binggung dengan masalah Toni kepada mbak Ayu saat ini.


Mendengar Hani bertanya seperti itu, membuat Dito dan Toni saling berpandangan dengan wajah ragu di keduanya. Ini masalah yang sangat serius dan bisa masuk ke ranah hukum, apalagi ini menyangkut soal anak. Apalagi Hani adalah seorang wanita, mereka tidak tau reaksi apa yang akan dibuat Hani nantinya.


Setelah menimbang nimbang, Toni memberi kode kepada Dito untuk segera menjelaskan kepada Hani. Tidak ada kebohongan yang bisa di tutup-tutupi selamanya, daripada membiarkannya mengetahuinya sendiri, lebih baik untuk memberitahukannya sekarang.


Setelah mendapat kode dari Toni, Dito mulai menjelaskan kepada istrinya semua kejadian yang telah terjadi diantara Toni dan mbak Ayu.


Saat mendengar semua itu, membuat Hani sedikit shock di buatnya. "Hah? Kamu yakin mbak Ayu kaya gitu mas?"


Hani tidak bisa mempercayai perkataan yang keluar dari suaminya itu. Ini benar-benar berbanding terbalik, dari pada mbak Ayu yang dia kenal selama ini.


Dito menatap istrinya dengan serius. "Aku ga tau apa yang ada di pikirannya itu! Yang pasti, aku bakal laporin masalah ini ke kantor polisi malam ini juga."


Setelah dito mengatakan hal itu, suasana ruangan ini menjadi sangat canggung. Mereka benar-benar tak tahu harus berkata apa lagi, mengenai kejadian ini.


"Apa kita harus ke kantor polisi sekarang? Tapi, kita tidak punya yang kuat kalau rumah ini telah di maling." Toni menyarankan, agar mereka memikirkan kembali tentang masalah ini. Apa lagi setelah rumah ini sudah di bereskan, dan tidak ada barang bukti kalau barang di rumah ini telah di curi.


Mereka kembali terpikirkan hal itu. Barang-barang sudah di bereskan, dan tidak ada tanda pencurian dari rumah ini. Lantas, apa yang ingin di laporkan jika pergi ke kantor polisi? Jika tidak ada satupun barang yang hilang!


Orang yang telah menyusup kerumah ini, tidak sesederhana yang telah mereka bertiga pikirkan.


Dito sedang berpikir dan mengaitkan masalah ini dengan rival perusahaan tempatnya bekerja. Jika memang salah satu dari mereka yang melakukan hal ini, mungkin akan sedikit lebih masuk akal. Secara dirinya adalah manager utama, yang memegang kendali penuh atas perusahaan di bawah dari pemilik perusahaannya. Dan saat ini, dirinya sedang memgang sebuah proyek pembangunan di daerah jakarta selatan...


Namun, setelah di dalami lebih lanjut, ini malah membuatnya bertambah pusing karenanya. Dan memutuskan untuk menghentikan semua asumsinya untuk sementara. Dan menyelesaikan masalah Toni dahulu dengan mbak Ayu. "Kamu mau aku antar ke atas mas?"


Toni menghela nafasnya, untuk menenangkan pikirannya. Masalah ini harus segera diselesaikan Agar tidak semakin runyam. "Iyaa, ayo!"

__ADS_1


__ADS_2