Strong Dad

Strong Dad
Kekacauan di rumah


__ADS_3

"Maksud mu apa mbak Ayu? Aku sedang tidak mau bercanda saat ini." Toni sangat binggung dengan yang mbak Ayu katakan.


"Diam! Kau perampok!" Ucapnya dengan histeris, sambil terdengar isak tangisnya dari dalam kamar.


Omong kosong apa yang telah mbak Ayu ucapkan di saat ini, apa yang bisa membuatnya berkata seperti itu. Dirinya baru saja datang sedari pasar, mengapa tiba-tiba dia di katai sebagai perampok? Apa dia sudah sinting?


"Hentikan omong kosong ini, Cepat buka mbak, sebelum aku kehilangan kesabaran ku." Toni berteriak dengan marah kepada Ayu.


"Tidak! Jangan buka pintunya, atau aku bun*h anakmu!"


*Deg


Seketika Toni kehilangan kilauan di matanya, dirinya tidak menyangka. Seorang yang seperti mbak Ayu, akan sebegitu teganya seperti itu.


Anin dan Arman menangis dengan kencang, yang mana saat mbak Ayu sedang di landa ketakutan, berubah menjadi emosi saat memandangi-nya.


Lalu mbak Ayu berteriak dengan marah kepada kedua bayi itu. Lalu membekap mulut keduannya. "Diam, diam, diam!"


'Salahkan ayahmu, dasar orang yang tidak tahu di untung!' Batinnya


"Cepat buka mbak!"


Saat masih menggedor pintunya, Toni dapat mendengar tagisan kedua anaknya berhenti secara tak wajar, dirinya mulai berfikir yang tidak tidak di dalam sana. Badan Toni seketika memanas karena tersulut dengan emosi, wajahnya berubah menjadi penuh kebencian sambil mandangi pintu di depannya.


"Kalau kamu sampai berani menyentuh anak ku, kamu akan membayarnya 10 kali lipat." Teriakan Toni di iringi dengan kebencian yang mendalam kepada Ayu. Sambil mencoba mendobrak pintu dengan sekuat tenaganya.


Ayu yang takut dengan Toni, mulai mengeratkan genggamannya sambil berteriak dengan histeris. "Tidak! Menjauh dari ku brengs*k!"


"Buka pintunya sekarang! kamu sudah benar-benar kelewatan!" Toni terus menerus mendobrak pintu dengan sekuat tenaga, tanpa memperdulikan sedang di mana dia berada. Sedikit demi sedikit terdengar bunyi dari engsel pintu terdengar hampir patah saat dia mendobraknya.


Saat Toni ingin mendobrak lagi, tiba-tiba dia di hantam oleh sebuah pukulan di kepalanya, Yang mana membuatnya terjatuh kesamping pintu. dirinya yang sedang emosi mencari siapa yang telah memukulnya tadi, dan menemukan Dito berdiri tepat di depannya.


"Apa maksudmu, menghancurkan pintu rumah ku seperti ini? Apa kamu udah gila?" Dito berkata dengan marah, sambil melotot memandang Toni yang tengah terjatuh.


"Kau lihat Kelakuan pembantumu itu! Dia mau memb*nuh anak ku di dalam sana!" Ucap Toni tak mau kalah, dan kembali meneriakinya. sambil menunjuk-nunjuk ke arah pintu.

__ADS_1


Seketika Dito terkejut dengan apa yang di katakan Toni, lalu dia mengetuk dan berteriak kepada Ayu yang tengah ada di kamar. "Mbak Ayu apa maksudnya ini? kenapa kamu ingin membunuh anaknya?"


Dirinya tengah binggung dengan keadaan rumahnya saat ini. Saat di bawah sudah berantakan seperti habis di acak-acak oleh seseorang, dan sekarang dirinya menemukan mbak Ayu yang ingin membunuh anaknya Toni.


'Apa sebenarnya yang telah terjadi di rumahku?'


"Cepat jelaskan pada saya mbak Ayu." Desak Dito kepada Ayu, sambil menggetuk pintu kamar di depannya.


Mbak Ayu yang berada di dalam, merasa senang saat majikannya pulang. Lalu dia melepaskan genggaman tangannya dari Anin dan Arman. Lalu terdengar lagi jerit tangis dari kedua bayi itu.


Ayu menangis sambil gemetaran karena ketakutan, lalu dia membuat pembelaan. "Saya terpaksa ngelakuin ini pak! Saya ingin dilukai sama dia, Karena melihat dia sedang mencuri di bawah."


Toni menggerakkan giginya, lalu berkata dengan marah. "Omong kosong, aku baru saja pulang dari pasar membeli kacang rebus. Kenapa kamu malah menuduhku mencuri di rumah ini?!"


Omong kosongnya benar-benar sudah sangat keterlaluan, bagaimana dia bisa menuduhnya tanpa alasan yang jelas seperti ini.


Toni sudah tidak bisa berpikir dengan jenih lagi kali ini. Di dalam hatinya sudah di penuhi dengan dendam yang amat besar kepada Ayu, Karena telah berniat untuk mencelakai kedua anaknya.


Dito memegangi kepalanya karena tidak bisa mencerna semua yang mereka katakan. "Toni bisa kamu pergi sebentar? Aku mau berbicara sebentar dengan mbak Ayu, bisakan?" Pintanya dengan lirih.


"Baik!" Toni memapah tubuhnya untuk berdiri, lalu dia menunjuk jari telunjuknya ke arah pintu. "Aku tau kamu bijak Dito, tolong pastikan anak anakku baik baik saja. Jika tidak! Aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi kepada wanita itu"


"Tenang saja soal itu, aku bisa pastikan mereka aman bersama ku." Dito sedikit takut, dengan tatapan Toni saat ini. Dirinya bisa pecah dan mengamuk kapan saja jika melihat mbak Ayu saat ini.


Mendengar dito berjanji seperti itu, Toni bergegas turun ke bawah dengan perasaan campur aduk di dalam hatinya.


Dito menghela nafasnya, dan mengetuk pintu seraya memanggil mbak Ayu dengan lembut. "Mbak, bisa buka pintunya? Saya ingin berbicara sekarang."


Mbak Ayu yang masih meringkuk dipojokan ruangan, bangun dan mendekati pintu dengan takut. "Apa orang itu sudah pergi?"


Dirinya sangat takut untuk melihat Toni saat ini, karena kejadian di bawah tadi membuatnya sedikit trauma saat ini.


"Sudah, aku sudah menyuruhnya pergi ke bawah tadi." Ucap Dito dengan santai.


Di dalam kamar, Ayu memegang kunci kamar ini dengan gemetar, sambil memasukannya kedalam lubang kunci secara perlahan. Saat pintu terbuka, menampakan sesosok Dito yang tengah berdiri memandanginya.

__ADS_1


Dengan cepat Ayu menarik tangan Dito untuk masuk kedalam kamar dan menguncinya kembali. Ayu berdiri mematung sambil menitikan air mata, di hadapan Dito.


Dito memegang lengan Ayu, lalu dia berkata dengan lembut. "Coba jelasin sama saya, gimana kronologinya sampai rumah saya jadi berantakan kaya gini."


Ayu menatap Dito dengan air mata yang masih berair, lalu dia berkata dengan gemetar. "15 menit yang lalu, pas saya mau turun ke bawah buat bikin makan malam. Saya ngeliat mas Toni! lagi ngeledah barang barang di lantai bawah pak."


Dito menyipitkan matanya, dan bertanya untuk mendapatkan jawaban secara penuh darinya. "Terus?"


"Saya teriak minta tolong dan dia langsung mengejar Saya ke atas pak, saya lari ke kamar ini untuk ngumpet. Untung aja dia ninggalin kunci kamarnya di dalem, kalo engga saya bisa celaka. Soalnya dia tadi bawa parang pak." Ayu benar-benar tidak mau mengingat kejadian tadi lagi, setelah menggigatnya sudah membuatnya jadi merasa takut lagi.


"Apa kamu yakin, Kalo itu emang Toni? Aku dengar dia pergi ke pasar buat beli kacang rebus tadi, dari kapan dia pergi?" Dito juga berpikir, tidak mungkin Toni akan melakukan hal seperti yang mbak Ayu katakan. Sebab, dia melihat bukti nyatanya saat ini. Terlihat bungkusan kacang rebus yang tergeletak di samping pintu tadi.


Sedangkan, jarak antara rumahnya dengan pasar cukup jauh, jika memperkirakannya dengan benar, itu akan memakan waktu setidaknya 30 menit untuk bolak-balik dari rumah ini.


"Saya yakin pak! Wajahnya sama persis sama mas Toni." Nada bicara Ayu tiba-tiba menurun secara perlahan, karena kurang yakin dengan wajah yang di lihat sebelumnya. Wajah yang dia liat tadi di bawah Itu, memang tidak terlalu mirip dengan Toni.


Ayu kembali mengingat kembali Toni yang di lihatnya tadi. Meskipun wajahnya mirip, dirinya merasa orang itu agak lebih pendek dari Toni yang sebelumnya.


Melihat ini Dito bertanya lagi kepada Ayu, "Kamu tadi inget dia pake setelan baju apa, pas kamu ngeliat dia di bawah tadi?"


Jika jawabannya dari Ayu salah, sudah di pastikan bahwa Toni telah benar-benar di rugikan di sini. Dan itu hanya asumsi yang muncul dari kepanikannya saja.


"K-kaos putih polos" Ucapnya dengan ragu.


Dito langsung memasang wajah jelek ke arah Ayu, lalu dia bertanya dengan dingin. "Kamu tau sebelum dia pergi, dia pakai baju apa?"


"K-kaos hitam po--los." Ayu baru menyadari, kalau Toni yang di mengejarnya itu memiliki kumis yang tebal. Sedangkan Toni yang asli tidak memiliki bulu kumis sama sekali.


Lalu dirinya jatuh dan tertunduk, sambil memikirkan apa yang telah dia lakukan kepada anaknya. Dia hampir saja membunuh seorang yang tidak bersalah, karena dirinya merasa takut.


Dito benar-benar tak bisa berkata-kata lagi, dengan mbak Ayu yang sekarang. Jika dirinya tidak pulang saat ini, kejadian yang terjadi di rumahnya akan lebih mengenaskan dari pada yang sekarang.


"Lebih baik kamu tenangin pikiran kamu dulu mbak, saya akan berbicara dahulu dengan Toni. Tapi aku ga tau, dia mau memaafkan kamu apa engga." Dito berjongkok dan menepuk bahunya.


Dito tidak tahu bagaimana reaksi Toni, setelah mengetahui tentang ini. Dirinya tidak mempersalahkan tentang barang yang hilang di rumah ini. Tetapi, ada nyawa yang hampir hilang karena kecerobohan seseorang. Barang hilang bisa di beli lagi, namun nyawa manusia? Siapa yang bisa menggantikannya?

__ADS_1


__ADS_2