Suamiku Berondong SMA

Suamiku Berondong SMA
HALWA AZZALEA SYAUQILLAH


__ADS_3

Pada siang hari yang cerah, langit masih berselimut awan. Terik matahari tetap memancarkan sinar, namun tiba-tiba hujan turun begitu deras. Semua gadis terpaksa berlari-lari dan berbondong-bondong menuju pelataran, menarik pakaian yang tergantung di bambu panjang berderet di sepanjang halaman.


Halwa Azzalea Syauqillah, gadis berhijab ayu, turut menarik pakaiannya di salah satu bambu penjemuran. Ia menoleh saat seorang wanita baya melongok dari balik pintu, mengamati beberapa pakaian yang belum terangkat.


"Sarung abah masih di atap, hal," telunjuk Umy Naziah, seorang pendakwah kesohor yang juga merupakan istri dari kiai haji Muhammad Zayinil Akmam. Jarinya menunjuk ke atap yang bisa dijangkau karena ada undakan yang disediakan untuk menggapai jemuran. Cepat-cepat, Halwa menaiki undakan dan menarik satu helai sarung yang warnanya sudah memudar.


Hujan deras turun di Kota Semarang, namun tidak menghalangi semangat para santri dan santriwati yang ingin mengejar ilmu.


"Hal, nanti nggak usah masak ya. Ada sumbangan catering dari Pak Kades," kata Mba Nida, putri sulung Umy Nyai, sambil mengupas buah apel merah di depan kulkas.


Halwa mengangguk, lalu melanjutkan pekerjaannya di dapur: mencuci piring segunung yang menjadi tugasnya setiap hari, meskipun ia melakukannya sendirian.


Sudah menjadi tugas orang dalam untuk membantu Umy memasak, mencuci piring, dan membersihkan rumah. Tidak ada yang membantu mencuci baju karena putri Nyai, atau biasa dipanggil Ning, selalu mencucinya dengan mesin cuci. Dan ia tidak mengizinkan santriwati yang bertugas di dapur mencucikan baju.


"Hal, kayu bakarnya habis!" seru Amma, yang sedang memasukkan kayu bakar ke dalam tungku.


Meskipun tidak memasak makanan, namun tetap saja Halwa memasak air karena setiap hari selalu ada tamu yang datang, seperti wali santri, alumni, atau para dermawan.

__ADS_1


Halwa mendesah lalu meletakkan piring yang baru dicuci ke samping. Ia mencuci tangannya di pancuran wastafel, lalu menghentikan langkahnya di ambang pintu dan bersembunyi di balik pintu karena seorang cowok berseragam sekolah sedang menatap ke arahnya. Halwa hanya menoleh sebentar dan menunduk, karena ia tahu seorang wanita baiknya menutupi pandangan dari lawan jenis.


"Maaf Umy, kedatangan kami ke sini karena ada hajat, dan sekiranya Umy mengizinkan… enghh…" kata seorang lelaki paruh baya berseragam coklat khas perangkat desa.


Umy mengerutkan kening, wajahnya yang syahdu mengerut bingung. "Maksudnya bagaimana, Khoirul?"


Pria yang bernama Khoirul itu melirik ke arah putranya yang memasang wajah bak tembok, datar.


"Maksud saya, engh, hajat saya itu bermaksud mencarikan seorang istri untuk putra saya, Umy."


Umy mengulum senyum, kemudian melirik bocah remaja yang masih duduk diam anteng dan menyilangkan tangannya.


"Kayaknya seumuran dengan si Zul, bungsu ku," ujar Umy sambil beralih menatap heran ke pak Khoirul.


Pak Khoirul tersenyum canggung dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Sudah kepingin ngunduh mantu, Umy," jawabnya sambil menunduk.


Umy tertawa, walau tidak terdengar keras. Seorang wanita religius seperti Nyai tidak dihimbau untuk tertawa lepas dan keras. "Santri-ku banyak, Rul. Mulai dari dewasa hingga yang baru menginjak remaja. Namun, aku kurang berkenan jika para santri-ku dinikahkan dengan lelaki yang belum mapan. Terlebih lagi, anakmu masih sekolah. Mau di kasih makan apa, Rul? Benar, rezeki sudah diterapkan. Namun, apakah anakmu sudah paham fitrah sebagai seorang suami?"

__ADS_1


Pak Khoirul menunduk terdiam, membenarkan perkataan gurunya. Bahkan jauh-jauh hari yang ada di pikirannya juga seperti itu, putranya yang masih terlalu kecil akan kesulitan memahami tata kehidupan suami istri.


Pak Khoirul mendongak dan menatap penuh harapan ke arah Umy yang sedang menatap arah jendela sana, di mana para santrinya sedang mengaji.


"Akan saya arahkan, Umy! Sekali lagi, mohon izinnya untuk meminang salah satu anak didiknya. Kalau bisa yang berusia dua puluh tahunan," kata Pak Khoirul dan melihat Umy yang masih memperhatikan para santri di aula madrasah.


Umy menghela nafas, lalu melirik ke arah dapur di mana dua santri putri sedang duduk tersenyum menunggu air mendidih yang sedang di rebus di dalam teko besar yang sudah tampak menghitam.


"Halwa, buatkan minum, nak!" seru Umy, kepalanya melongok ke arah dapur yang terjangkau dari posisi tamu belakang.


"Enggih!" kata Halwa sambil menepuk lengan Amma sebelum beranjak berdiri. Ia lalu berjalan cepat ke meja penyajian dan menaruh dua teh celup ke dalam dua cangkir.


"Maaf ya, Rul. Saking asyiknya ngobrol, jadi lupa membuat minum," kata Umy dengan suara lirih yang semilir, namun tidak dimaksudkan untuk diuping.


Setelah mengaduk dua cangkir teh, Halwa segera membawanya dengan nampan persegi berbahan plastik. Halwa meletakkan nampan terlebih dahulu, menundukkan kepala, dan berlutut merendahkan badan dari ketiga orang yang duduk di sofa. Umy beserta dua tamunya tidak melanjutkan pembicaraan, memilih fokus memperhatikan Halwa yang sedang meletakkan dua cangkir teh beserta dua toples camilan kering ke atas meja. Halwa beranjak berdiri, membungkuk sebelum meninggalkan ruang tamu.


"Namanya Halwa, salah satu santri senior di pesantren ini," ujar Umy.

__ADS_1


Halwa yang belum sampai ke pintu dapur refleks memperlambat langkah saat namanya disebut oleh Umy. Jantungnya berdebar-debar, memikirkan apa yang mungkin sedang dibicarakan oleh ketiga orang itu. Halwa menggetok kepalanya karena dengan lancangnya berpikiran lancang padahal mendengarkan pembicaraan mereka saja kurang sopan, apalagi sampai ikut campur.


Halwa segera meletakkan nampan di atas meja pantry, lantas melenggang ke dapur untuk melanjutkan aktivitasnya.


__ADS_2