
" Nggak usah repot - repot mbak " kiko membungkuk dengan senyum segan.
Alan memutar bola matanya jengah, melirik ke arah halwa yang tersenyum tipis.
" Elo istrinya zafran ? " tanya alan
Halwa mengangguk dengan menundukkan pandangan.
" Ckk, gue kira zafran ngawinin sekelas Wirda masngur ternyata ngawinin pembantu " alan terkekeh dengan gelengan.
Halwa melirik sebal, tak meladeni ucapan alan memilih pergi ke dalam.
Kiko mendengus, menatap kesal ke arah Alan yang wajahnya kaya' ngejek banget.
" Jangan gitu, seenggak nya dia good atitude timbang elo. tampang elit, akhlak irit " sembur kiko.
Alan menoyor kening kiko " cewek kaya' gitu apa untung nya coba? merusak pemandangan yang ada "
Amel menarik sudut bibir " Kaya' nya zafran enggak minat sama dia. "
Alan melirik jengah " Terus ? "
" Terus apa? gue lebih perfect. bedanya tuh cewek sok alim. liat aja, gue bakal buka kedok dia " amel beranjak bangun. melangkah mengekor halwa menuju dapur.
" Ckk, gue paling males kalau amel nimbrung kita. " gerutu kiko memandangi punggung amel dengan decakan kesal.
" Biarin aja dia mau ngapain. sesuka dia aja " sahut alan santai.
Kiko memicingkan mata " Elo demen sama demit itu kan? " sewot kiko
Alan mengangguk santai, " Siapa si yang nggak tertarik sama Caramel, cantik, kaya, populer dan ya... menurut gue sempurna "
Kiko menggeleng dengan kekehan " Gue mending pacaran sama emaknya zafran di banding pacaran sama spek benalu kaya' caramel "
" Awss " ringis halwa saat perutnya membentur sisi meja pantri.
" Upss. maaf ya, gue enggak sengaja " Amel menutup bibirnya dengan wajah sok bersalah.
Halwa yang enggak tau akal bulus amel hanya mengangguk, lalu mencuci nampan yang sedikit kotor akibat terkena tetesan kopi.
" Elo lebih cocok jadi art nya Zafran di banding istrinya " celetuk amel.
Halwa menautkan dua alis, mencerna dengan seksama ucapan amel yang terdengar santai namun bermakna ejekan itu.
" Siapa sih yang mau menjalani takdir yang bukan menjadi pilihan nya. semua orang pasti mau memilih sesuatu yang menjadi keinginannya. sayangnya, kita hanya manusia biasa yang harus menerima segala ketentuan yang allah berikan " sahutnya tenang.
Amel mendengus " Elo, di bayar berapa sama zafran buat jadi istrinya dia ? " tanya amel nyolot.
__ADS_1
Halwa menggelengkan kepala seraya terkekeh " Pernikahan itu bukan perdagangan dan pernikahan itu bukan penawaran. pernikahan itu adalah suatu kesunahan menuju gerbang pahala "
Halwa berbalik badan, menepuk pundak amel seolah mereka teman dekat " kamu akan tau lebih banyak pahala, kesunahan, kewajiban, dan larangan kalau kamu mau berkunjung ke rumah umy. "
Di balik tembok samping dapur, zafran terkekeh saat mendengar ceramahan panjang lebar Halwa yang di tujukan ke amel. Zafran melongok ke dapur, untuk melihat reaksi amel. dan sesuai dugaan nya, amel terlihat murka dan kesal. bahkan wajah putihnya memerah.
Amel menepis kasar tangan halwa yang berada di pundaknya. tangannya bergerak ke atas, menuding wajah halwa dengan geraman kesal.
" Jangan sok ngajarin gue, bahkan seujung kuku pun elo nggak bisa di bandingin sama gue " melenggang pergi setelah menyampaikan kekesalannya.
Zafran beranjak pergi dari persembunyiannya, melangkah pelan menuju ke arah teman - temannya.
" Lah, malah pulang ! " Kekeh zafran menatap punggung amel yang perlahan menghilang.
" Kenapa si dia ? " tunjuk kiko dengan dagu.
Zafran mengedikkan bahu.
" Dia tadi nyamperin bini elo. dan gue yakin pasti itu ulah istri kampung lo itu " sungut alan.
Zafran mendelik tajam, detik berikutnya satu tinjuan lolos ke punggung alan
bugh !
" Aaawww " pekik alan
" Ngatain bini gue, lo ? " sungut zafran tak terima istrinya di katai kampungan.
Alan mendengus, mengambil rokoknya di meja dan melenggang begitu saja.
" Lah si kampret " Kiko tergelak mendapati alan yang merajuk.
" Punya temen kaga ada yang waras " gerutu zafran.
" Elu beneran demen sama bini lo ? " tanya kiko memicing.
Zafran mengedikkan bahu " enggak tahu, dia itu rekomendasi dari mamih erika dan besar kemungkinan dia bersikongkol sama siluman kelabang itu "
Kiko terdiam, mencerna ucapan zafran " enggak yakin sih, dia kan anak pesantren enggak mungkin punya hati busuk kek mama tiri elo. dia kaya' polos gitu. atau bisa jadi memang dia cuma di manfaatin sama lampir itu " tebak kiko.
zafran terdiam, memikirkan tebakan kilo yang mungkin ada benarnya. " Maybe, gue lagi selidikin "
÷÷÷
Halwa tersenyum menatap jajaran snack di etalase. gadis itu dengan gesit mengambil beberapa sosis dan juga snack lainnya.
" Zafran suka ngemil nggak yah ? " gumamnya
__ADS_1
Lalu tatapan halwa beralih ke box berisi aneka es cream, bibirnya kembali mengulas senyum mengambil dua potong es cream rasa coklat.
halwa menilik keranjang, mengamati satu persatu belanjaannya yang berisi beras, minyak, telur dan mie instan.
" Kalau sayur kan beli di pasar. masa' pake ini sih " gumamnya memandangi kartu berwarna hitam pemberian zafran.
Halwa menilik jam bulat di dinding toko, matanya mendelik saat menyadari dia telah berbelanja memakan waktu dua jam lebih.
" Ya allah " gumamnya sembari mendorong keranjangnya ke kasir.
" Terima kasih " ucap mas kasir dengan senyum manis.
Halwa membungkuk, membawa beberapa keresek dengan sedikit kesusahan. udah di kasih tau zafran kalau pulang itu naik taxi jadi dia udah ngerti dan langsung memberhentikan kang taxi. setelah memastikan belanjaannya masuk, halwa segera naik ke kursi penumpang.
" Berhenti di sini pak " seru halwa
Mobil berlogo taxi itu berhenti di sisi jalan, lalu meraih kartu hitam yang di sodorkan halwa.
" Yang cash saja mbak " ucap kang taxi
" Nggak ada pak, aku dikasih sama suami cuma satu kartu itu " akunya jujur.
Kang taxi menggaruk tengkuknya " minta sama suami mbak, yang cash "
" Nanti suami aku marah pak, " sahut hallwa polos
Kang taksi menyentak nafas kasar, gemes banget sama wajah halwa yang kelihatan cantik tapi sayang o'on banget.
" Mbak sekarang masuk, terus anter suami mbak ke sini " titah kang taxi dengan suara di buat se lembut mungkin.
Halwa mengangguk polos, memasuki gerbang dengan sedikit berlari. beberapa menit kemudian, halwa datang denga seorang cowok dengan wajah tertekuknya.
Kening kang taxi mengerut, menelisik penampilan zafran dari atas kebawah.
" Mbak, saya nyuruh nya suami embak, bukan nya adek embak "
Zafran melototkan mata " Gue suaminya " sewotnya
Kang taxi tercengang, lalu terkekeh saat menyadari kekeliruannya. sebenarnya sih bukan salahnya dia, wajah zafran emang masih kaya' bocah, walaupun badannya udah tinggi.
" Oh kirain adiknya, soalnya mas masih kaya' anak SMA "
" Ada apa bawa gue kesini? mau bikin gue malu ? " sungut zafran.
Halwa menggeleng dengan kedua tangan mengibas " enggak gitu. tadi pak taxi ngomong minta bayaran cash bukan kartu "
Zafran mendengus, menarik satu lembar uang merah dan menyodorkan nya ke kang taxi " segini cukup kan ? "
__ADS_1
Kang taxi mengangguk " Nah gini, baru bener "
" Maaf ya pak " ucap halwa sembari mengangguk.