
Walau ia hanya keponakan, tapi mereka tidak pernah membedakannya dengan Wahyu. Bahkan Wahyu juga sangat menyayanginya. Lelaki itu lebih perduli dari pada Rendy kakak kandungnya sendiri.
Setelah bola Jingga itu tenggelam, Alisya berjalan meninggalkan pantai. Belum jauh dia berjalan, matanya tertuju pada dua sosok bule berkacamata hitam, celana seponggol dan memakai kaus putih, sepertinya mereka akan berpapasan. Mata Alisya melirik, ia kagum pada salah satu bule itu, dalam hati dia berdoa semoga kelak berjodoh dengan bule tampan seperti dia.
Entah dari mana datangnya ke inginan itu, tiba-tiba saja ia ingin menikah dengan bule kaya dan membuat ayah bundanya bangga.
"Alisya ...." Suara Mas Wahyu terdengar dari salah satu prahu yang berjejer rapi di pantai. Dia menoleh, lalu setengah berlari mendekat.
"Mas Wahyu mau melaut?" Tanyanya sedikit berteriak.
"Iya, Kamu ngapain sesore ini masih di pantai? Ayo, Mas, antar pulang!" Wahyu berjalan mendekat.
"Nggak usah, Mas, aku bisa pulang sendiri, Mas Wahyu melaut saja."
"Tapi kamu janji, langsung pulang ke rumah!"
"Siap, Komandan," ujar Alisya memberi hormat. Wahyu menarik hidungnya. Dia selalu begitu, paling suka menarik hidung Alisya. Wahyu berjalan membelakangi, bersiap melaut, bergegas Alisya melangkah pulang.
Langkahnya terhenti saat melihat mobil hitam parkir di depan rumah Pakde. 'Bukankah itu mobil Ayah? sedang apa dia ke sini? Apa ayah datang ingin mengunjungiku?' Tanya Alisya dalam hati. .
__ADS_1
Alisya mempercepat langkahnya, Ada bahagia yang menyelinap di hati, "Assalammualaikum," ucapnya memasuki rumah, segera dia menyalami Ayah dan mencium tangannya.
"Waalaikum salam, Alisya, darimana kamu malam malam begini?" Tanya ayah membuka percakapan.
"Dari pantai, yah," jawab Ica menyalami ayahnya."Ica masuk dulu, Yah, mau mandi," lanjutnya sembari berlalu.
"Icaaa, sini dulu, Nduk, Ayahmu, kan, baru sampai, ngobrol dulu!"
"Tapi Ica mau mandi dulu, Pakde, badan Ica bau." Dia tak menghiraukan permintaan pakde, buru buru ia masuk kamar dan menutup pintu. Matanya berkaca-kaca, tenggorokan terasa kering dan perih. Didekapnya boneka twiti kesayangannya. Setetes air jatuh dari kelopak mata jernih itu, dadanya terasa berat seperti dihimpit batu besar.
Jangan tanya mengapa dia nenangis, sebab dia pun tak tahu jawabannya. Setiap kali bertemu ayah dan bunda, dadanya terasa sesak, seperti ada badai yang bergerumuh dan ingin keluar menghantam dadanya.
Selesai mandi, buru buru ia kembali ke ruang tamu, tapi sepi, tidak ada siapa pun disana.
Alisya melangkahkan kaki keluar rumah, mencari tahu keberadaan ayah dan pakde, tapi nihil, bahkan Mobil hitam itu pun sudah tidak ada. Ia duduk di lantai teras, matanya jauh menembus langit hitam. Sepertinya ia sadar, ayah ke sini bukan untuknya tapi ada urusan lain. Alisya merasa tak punya arti apa apa dalam hidup ayahnya. Ia teringat perkataan teman-temannya, mungkin benar dia anak yang tidak diharapkan.
"Ca, kok bengong di luar sendirian? Pakdemu mana?" Suara bude mengejutkannya.
"Eh, Bude, sudah pulang? Tadi ayah datang."
__ADS_1
"Lah terus, sekarang kemana?"
"Nggak tahu bude, waktu Ica selesai mandi, ayah dan pakde sudah pergi." Suara Alisya terdengar parau, kembali tenghorokannya terasa kering, matanya terasa menghangat. Bude mendekat dan memeluknya erat. Buliran itu kini tumpah deras membasahi pundak bude. Wanita paruh baya itu, hanya bisa menghibur Alisya, seolah bisa merasakan kegetiran keponakannya itu.
Ditatapnya mendali di dinding kamar, bangga rasanya bisa membawa pulang benda itu. Walau saat kepala sekolah mengalungkan mendali itu kelehernya, ayah dan bunda tidak datang untuk menyaksikan. Namun tidak mengurangi rasa bangganya dan rasa syukurnya kaerena bisa meraih prestasi di sekolah. Ia ingin membawa serta mendali itu ke Jakarta. Diambilnya mendali itu lalu memasukkannya ke dalam koper. Ia juga membawa album biru kesayangannya yang menyimpan memori masa kecil bersama keluarga ini, keluarga yang telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Sejujurnya jika diizinkan, ia lebih memilih kost dekat kampunya dari pada tinggal bersama ayah dan bundanya. Ada rasa enggan tinggal bersama mereka.
"Ca, sudah tidur?" suara bude memanggil dari luar kamar, menyadarkannya dari lamunan.
"Belum, Bude," sahutnya sembari keluar kamar.
"Dipanggil pakde, mungkin ada yang ingin dibicarakan."
"njih, Bude." Alisya bergegas mengikuti bude lalu duduk disampingnya.
Wahyu juga hadir di ruangan itu, ia terlihat murung, sesekali ia menatap Alisya. Pakde manggut-manggut, khas gerakan tubuhnya jika ingin bicara.
"Ca, Sebelum kamu kembali ke Jakarta, Pakde ingin berpesan. Jika di Jakarta kamu tidak betah dan ingin kembali ke rumah ini, jangan sungkan, datanglah. Pintu rumah pakde selalu terbuka untukmu. Tapi pakde harap, kamu betah di sana. Walau bagaimana pun, itu rumah orangtuamu, disanalah seharusnya kamu tinggal. Bersabar dan maafkan mereka jika kamu merasa diacuhkan. Pikirkan masadepanmu, kuliahmu harus selesai agar kamu bisa mandiri. Yang harus kamu sadari, tidak ada orang tua yang tidak sayang pada anaknya. Dua hal yang paling penting, jika kamu butuh sesuatu, jangan sungkan beritahu pakde dan bude. Insya Allah, kami akan berusaha membantu. Dan jangan pernah tinggalkan shalat."
Kata-kata Pakde begitu sejuk di hati Alisya. hati yang semula gelisah kini menjadi tenang. Sentuhan tangan bude mengusap kepanya, membuat mata Alisya berair. Tangan kasar itu membelai rambut dan mendekapnya dalam kehangatan. Wahyu keluar, ia tidak sanggup melihat isak tangis Alisya. baginya, Alisya lebih dari sekedar adik. Sedangkan Pakde tampak tegar. Ia memang sosok yang gagah. Lelaki paruh baya yang taat beragama, jiwanya teduh, dan penuh kasih
__ADS_1