
i bunda, ia ingin memberitahu kabar gembira ini. Alisya berharap, bunda juga senang dan bangga padanya. Didekati bunda yang sedang menata bunga.
"Bun, Ica lulus kedokteran UI," ucapnya semeringah, menunjukkan hasil pengumuman itu.
"Hem," ucap bunda acuh tanpa menoleh.
Rasa bahagia di hati Alisya perlahan sirna, tidak ada reaksi yang berarti dari bunda. Bunda masih sibuk dengan rangkaian bunganya. Alisya menunduk menyembunyikan sakit di hatinya.
"Kamu pikir jadi dokter itu mudah? Sekolahnya juga mahal, ayah dan bunda tidak sanggup membiayai kamu kuliah kedokteran. Lagi pula, kamu nggak cocok jadi dokter, kamu itu cerobah, bisa bisa, sakit orang bertambah parah setelah kamu obati. Udah, deh, jangan yang ngak-nggak, Bunda lagi sibuk."
Deg, kata kata bunda, bagai belati yang menusuk uluhati. Perlahan, Alisya mundur dari hadapannya, lalu menjauh dan kembali ke kamar.
Di tutupnya pintu kamar rapat, ia bersandar di pintu, tubuhnya merosot ke lantai. ia menangis tersedu-sedu sembari menutup mulut. Cita citanya menjadi seorang dokter, sepertinya hanya tinggal mimpi yang takkan mungkin terwujud. Ia teringat PMDK yang didapatnya dari sekolah. Sejenak ia berpikir untuk mengambil PMDK itu, pasti biayanya lebih murah, pikirnya.
Dicarinya sebuah amplop kuning yang di dapatnya dari sekolah, setelah memastikan amplop itu ada, di simpannya kembali amplop itu ke dalam laci .Nanti malam r, dan membawa pakaian kotor ke dapur. Sudah tiga hari ia belum mencuci dan menyetrika baju. Walau ada Bik Inah, urusan kamar, cuci baju, setrika, bahkan cuci piring bekas makannya menjadi tanggung jawabnya sepenuhnya. Bi Inah keberatan mengerjakan pekerjaan itu, menurutnya jika tidak ada penambahan gaji, berarti tidak ada penambahan tugas.
Alisya menyibukkan diri dengan pekerjaan, berharap waktu bisa bergerak lebih cepat. Hingga saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Seperti biasa, di rumah itu, makan malam adalah waktunya kumpul keluarga. Alisya duduk disamping Dela, kakak kandungnya. Dela selalu mendominasi percakapan, ada saja cerita yang ia bawa pulang dari kampus. Rendy lebih slow, hanya sesekali ia membahas bisnis properti yang ia lakoni. Setelah semua selesai makan, Alisya memberanikan diri bicara.
"Yah, Hasil pengumuman seleksi mahasiswa, Ica lulus kedokteran UI." ujarnya ragu-ragu. Ia masih berharap mendapat dukungan dari orang tuanya, terutama ayah.
__ADS_1
Ayah menoleh kearahnya. "Ohya?" Tanya ayah memastikan. Alisya mengangguk pelan. diliriknya bunda, wajah itu tampak tidak bersahabat.
"Bun, uang bulanan Dela sudah menipis, transfer lagi ya, akhir-akhir ini, Dela banyak keperluan di kampus," ujar Dela memecah kesunyian.
"Iya, nanti bunda transfer."
"Jangan lupa, loh, Bun! Dela mau ke kamar, masih banyak PR yang harus Dela kerjakan."
"Rendy juga mau keluar sebentar, Bun, Yah, ada urusan dengan teman."
Tanpa menunggu jawaban, Dela dan Rendy meninggalkan meja makan. Alisya masih duduk menunggu, ia masih berharap sambutan ayah positif. Hening. Beberapa detik kemudian, ayah meninggalkan meja makan, lalu beralih ke ruang tv yang diikuti oleh bunda. Alisya tertegun sejenak, tak tahu harus apa. Sayup sayup ia mendengar percakapan ayah bunda.
"Yah, Bunda nggak setuju kalau Alisya jadi dokter. Dia itu ceroboh. Ayah masih ingatkan bagaimana dia mendorong Dela ke kolam? Untung Si Inah lihat dan buru buru nolongin, coba kalau tidak? Bunda nggak tahu apa yang terjadi pada Dela."
"Kejadian itukan sudah lama, Bun. Lagi pula, saat itu Alisya masih kecil, mungkin ia hanya ingin bercanda."
"Ayah selalu saja membelanya, padahal ayah tahu sendiri, sejak bunda mengandungnya ada saja kesialan menimpa keluarga ini. Rendy lah sakit nggak sembuh-sembuh, bahkan ayah sempat selingkuh dengan perempuan lain. Saat melahirkannya, bunda hampir saja mati karna pendarahan. Setelah dia lahir, ayah dimutasi ke Kalimantan. Dan nyawa Dela hampir saja melayang karena ulahnya. Terus kalau dia jadi dokter, lalu pasiennya kenapa kenapa karena kecerobohan dan kesialannya itu, kan kita juga yang kena getahnya! Pokoknya Bunda nggak setuju kalau dia masuk kedokteran."
"Bunda, sudahlah, walau bagaimanapun, Alisya itu putri kita. Dia lahir dari rahim kamu. Sudah sewajarnya kalau kita mendukung dan mewujudkan cita citanya."
__ADS_1
"Yah, Bunda tahu kewajiban kita sebagai orang tua, tapi bunda nggak mau keluarga ini terkena sial lagi karena keberadaannya di rumah ini. Lihat sekarang, belum satu bulan dia tinggal bersama kita, tapi sudah bikin Pengangkatan ayah sebagai direktut HRD di cancel. Bunda khawatir, semakin lama dia di sini, bisa bisa, Ayah nggak jadi di angkat, lagi pula bukannya dia dapat beasiswa di Surabaya, kenapa tidak ambil itu saja."
Mendengar ucapan bunda, lutut Alisya gemetar, ia tidak ingin jatuh pingsan di tempat itu. Perlahan Alisya menjauh dan kembali ke kamarnya.
Dihempaskannya raga ke kasur putih yang masih tertata rapi. Rasanya ia tidak sanggup lagi menahan sesak di dada. Dibiarkannya air mata tumpah membanjiri bantal, ia ingin menangis sepuasnya. Agar himpitan itu tidak lama bercokol di dada. Alisya tidak ingin sakit di hatinya menjadi benci, ia tidak mau menyimpan dendam pada orangtuanya. Sesakit apa pun perlakuan bunda padanya, dia tetap ibunya, wanita yang telah mempertaruhkan nyawan untuk melahirkannya.
Alisya menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Sejenak ia tertegun mengingat kembali ucapan bunda. Terjawab sudah pertanyaannya selama ini. Sekarang dia tahu mengapa orangtuanya menitipkannya pada Pakde, ternyata karena dianggap pembawa sial. Sekarang tekadnya sudah bulat untuk mengambil PMDK yang di berikan pihak sekolah. dengan begitu, ia tidak perlu tinggal bersama orangtuanya.
Alisya beranjak dari timpat tidur, lalu merapikan barang barang. Dimasukkannya semua barang pribadinya ke dalam koper.
"Non Alisya! disuruh kebawah sama Ibu." ujar bi Inah dari luar mengetuk pintunya.
"Iya, Bik, nanti aku turun," jawabnya singkat.
Bergegas Alisya menuruni tangga dan menemui ayah bunda di ruang tv. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya, ia diam dan menunduk . Alisya berusaha menyembunyikan matanya yang memerah.
"Ca, ayah dan bunda sudah diskusi. Biaya kedokteran itu sangat mahal, mbak-mu Dela saja belum selesai. Kamu tahu kan kalau Dela kuliah kedokteran di universitas swasta? Biayanya sangat mahal. Jadi kalau kamu kuliah kedokteran lagi meski di UI, ayah belum sanggup membiayai kuliah kamu. Jadi kami harap kamu mau mengambil beasiswa PMDK itu. Kamu tinggal saja di Surabaya, kost di sana. Ayah akan rutin kirim uang bulanan kamu.
"Iya, Yah." jawab Alisya singkat, matanya lekat menatap lantai.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu besok kamu cari tiket kereta, agar segera berangkat ke Surabaya Ini uang buat beli tiket." Ayah meletakkan uang lima lembar berwarna merah. Alisya menunduk mengambil uang itu.