Suamiku Bos Ayahku

Suamiku Bos Ayahku
Episode 59 Untuk yang kedua


__ADS_3

"Astaga, Lisa! Lo, makan mie instan terus, nggak bosan apa?" tanya Nadia teman  sekamarnya.


"ini bukan masalah bosan, Nad! Tapi ini masalah bertahan hidup. Dari pada gue mati kelaparan, mending makan mie instan," jawab Lisa sembari menyantap menu rutinnya.


Nadia memandang takjub, mungkin dia belum pernah melihat orang makan mie instan selahap itu. Untung ada Mie instan, coba kalau tidak, dengan cara apa Lisa berhemat. Puasa Nabi Daut rutin dikerjakannya, bahkan sering nyambung ke puasa senin kamis.


Uang bulanan yang dijanjikan ayah, hanya dikirim tiga bulan pertama di awal kuliah, setelah itu, ayah tidak pernah mengirim lagi. Jadi dia harus bisa membiayai semua kebutuhannya. Untungnya dia dapat beasiswa, jadi masih bisa  bertahan hingga semester emapt ini.


Lisa tidak mau merengek memohon uang bulanan pada ayah. Menurut hematnya, kalau memang ayah dan bunda ingin membiayai hidupnya, tidak perlu ditelphon berkali kali. Sudah pernah beberapa kali ia menghubungi ayah, tapi panggilannya tidak diangkat. Nelphon bunda, dia pikir keadaanya akan sama.


Lisa diterima menjadi guru privat di salah satu bimbel, walau hasilnya tidak banyak, tapi cukuplah untuk bayar kost dan biaya hidup sehari-hari. Kadang dia mencari tambahan dari megerjakan tugas teman temannya. Memiliki uang membuat mereka punya hak untuk berkata malas. Tapi ini menjadi sumber rezeki untuk dirinya. Berapa pun uang yang mereka beri sebagai upah, Lisa sangat berterima kasih.


Sebenarnya Pakde dan mas Wahyu sering menawarkan bantuan, tapi Lisa selalu menolak. Ia malu memberitahu kelakuna orangtuanya.


"Alhamdulillah, kenyang," ujar Lisa sembari mengelus perut. Nadia menggeleng, ia juga pemakan mie instan, tapi tidak segila Lisa. Palingan kalau uang bulananya habis buat beli lisptik atau beli barang barang lain, baru lah, akhir bulan ia makan mie instan sampai datang kiriman berikutnya dari kampung. Menjadi anak kost harus pandai pandai mengatur keuangan, kalau tidak perut bisa keroncongan.


"Lisa, liburan semester ini, ikut gue ke Bali, yuk." Ajak Nadia.


"Ngapain?"


"Cari duit lah. Jangan lo kira bisa makan tidur gratis nebeng gue."


"Hahaha..." Lisa tergelak mendengar ocehan Nadia. "Lo kan, teman yang baik dan tidak sombong!"


"Terpaksa, nasib banget deh gue punya teman kere!"


Lisa semakin tertawa terbahak.


"Tapi... gimana cara nyari duitnya?...  Gue nggak sudi, ya, kalau disuruh angkat rok!"


"Tenang, saja! Angkat rok atau tidak, itu tergantung kesepakan lo sama klien."


"Heh, maksud, Lo"

__ADS_1


"Sa... Lo kan cakep, tampang unik, laku jadi lady escort."


"Lady escort itu pekerjaan seperti apa?"


"Ampun, deh! Gugling, donk!"


"Nggak punya kuota, nyalain donk hotspot, Lo, pliiissss"


"Hem, dasar miskin.... Lady escort itu cewek yang dibayar untuk nemenin seseorang. Semacam penggembira gitu, deh." ujar Nadia menjelaskan.


Lisa tertegun sejenak, khawatir pekerjaan itu berhujung di tempat tidur. Karena dia sudah bertekad akan menjaga kado pernikahan miliknya hanya untuk suaminya kelak. Itu yang selalu diajarkan bude padanya.


"Woi... bengong lagi!"


Plok!!


Nadia melempar bantal ke wajah Lisa.


"Ntar dulu, napa? Gue lagi mikir! Gue, takut kalau salah langkah."


"Gue nggak maksa, terserah saja. tapi ini kesempatan, lo, dapat duit banyak. Kalau seteju, besok pagi kita berangkat ke Bali."


"Tahu aja lo Nad, gue lagi butuh duit.... oke deh, Gue setuju."


"Nah, gitu donk, semangat! Satu bulan ini pergunakan kesempatan lo buat cari duit yang banyak, biar ngga ngutang terus sama gue."


Lisa cengir kuda mendengar ocehan Nadia, Mulut sahabatnya itu memang nyinyir, tapi ia yakin Nadia memiliki hati yang baik. Cuma gadis itu yang sanggup tinggal sekamar dengannya. Dulu sebelum bertemu dengannya, hampir setiap bulan ia pindah kost. Mencari teman yang mau berbagi kamar dengannya. Tapi, lagi-lagi baru satu bulan, teman sekamarnya tidak tahan tinggal denganya. Mungkin mereka merasa terganggu sebab di akhir bulan Lisa sering cari pinjaman uang untuk makan. Cuma Nadia yang sanggup berbulan-bulan tinggal sekamar dengannya.


"Nad... uang gue hanya cukup untuk sekali jalan tanpa makan. Jadi karena lo yang ngajak, jadi lo harus tanggung jawab sama perut gue."


"Beneren deh, musibah banget punya temen miskin seperti, lo!"


"Sialan, lo! Tenang saja, nanti gue ganti kalau sudah punya duit!"

__ADS_1


"Dua kali lipat!"


"Buset! Itu namanya lintah darat!"


Nadia tertawa mendengar celetukan Lisa. Sebuah senyum terkulum mengembang di bibirnya. Jauh di dasar hatinya, ia cemburu pada gadis polos itu. Ia tidak tahu apa yang menarik dari Lisa sehingga bule bule kesepian itu tertarik padanya. Tapi karena fee yang ditawarkan pak Burhan cukup besar, ia tidak ambil pusing dengan selera bule yang menurutnya kampungan. Tugasnya hanya  membujuk Lisa agar mau ikut dengannya.


Usai berkemas keduanya berangkat menuju Bali. Perjalanan cukup jauh, setelah menempuh perjalanan sekitar 10 jam, akhirnya mereka pun tiba di pantai Gilimanuk.


"Yuhui ... I coming Bali ...."


Lisa melompat kegirangan. Ini kali pertama dia menginjakkan kaki di pulau dewata. Dihirupnya udara pantai yang segar, angin berhembus lembut menyapu wajahnya. Ia teringat hari-harinya di desa bersama Mas wahyu yang sering mengajaknya bermain di pantai.


Nadia memberhentikan taxi yang lewat di depan mereka. Setelah taxi berhenti keduanya naik. "Bli, Nusa Dua, ya." ujar Nadia memberi instruksi. Taxi segera membawa mereka menusuri jalanan. Sesekali Lisa tersenyum simpul, tidak pernah terpikir sebelumnya ia tiba di pulau indah ini. Saking hikmadnya menikmati perjalanan, ia tidak sadar kalau mereka sudah sampai di tujuan.


"Nyampek, turun, yuk!"


Lisa bergegas turun mengikuti Nadia.


Villa Garden Nusa Dua, ia membaca sebuah tulisan yang dihiasi lampu warna warni sangat menarik perhatian. Dia mengikuti Nadia yang berjalan lebih dulu menuju lobi.


"Selamat sore Mba, Saya Nadia dari Surabaya. Saya ada janji dengan pak Burhan, bisa tolong panggilkan?" Pinta Nadia ramah.


"Oh, Mbak Nadia? Baik, silakan tunggu sebentar, saya akan panggilkan pak Burhan."


Resepsionis itu segera menghubungi managernya via telphon. Tidak lama menunggu, Lisa dan Nadia dijemput oleh salah satu staff hotel dan dibawa ke sebuah ruangan.


"Hm, Indah sekali ruangan ini..." celetuk Lisa pelan, matanya liar memperhatikan sekeliling. Ruangan iti tertata rapi, sofa putih terkesan mewah membuat siapa saja yang melihat pasti ingin duduk di atasnya.


Herman, staff yang membawa mereka ke ruangan itu pamit ke luar meninggalkan Lisa dan Nadia. Sejenak, Lisa menatap Nadia seolah minta penjelasan tentang semua itu; bagaimana bisa seorang Nadia mendapat service istimewa begitu? Nadia hanya tersenyum, tanpa berkata sepatah katapun.


Baru saja Lisa ingin mencecar Nadia dengan pertanyaan yang mengganggu pikirannya, pintu terbuka. Seorang lelaki paruh baya dengan jas hitam dan berdasi merah, muncul dari balik pintu. Nadia segera beranjak dan menghampiri.


"Halo, Pak Burhan ....," sapanya. Keduanya saling merangkul sembari mencium pipi kanan dan kiri.

__ADS_1


"Halo juga Nadia, apa kabar? Makin cantik saja kamu!" jawab Burhan sembari mencubit pipi Nadia, genit. Lisa mematung melihat pemandangan di depannya, ia tampak risih. Tubuhnya kaku saat lelaki itu melirik ke arahnya.


__ADS_2