Suamiku Bos Ayahku

Suamiku Bos Ayahku
Episode 51 Alasannya?


__ADS_3

“Rel, tolong Anesya, ia masih di dalam.” Pinta Kanaya yang tidak tega pada Anesya yang masih terperangkap di dalam villa.


“Nggak salah kamu, Nay? Nyuruh aku nolongin perempuan gila itu? lihat apa yang sudah dilakukannya padamu? Biar saja dia mati terpanggang di dalam sana! Aku tidak mau mempertaruhkan hidupku untuk menolongnya. cih!” cibir Farrel, ia tidak sudi menerobos api hanya untuk menyelamatkan perempuan yang telah membuatnya kehilangan Kanaya.


“ tidak cukup kuat menolong anak sahabat ayahnya itu. Sesaat kemudian ia tampak gelisah.


Farrel mengerti apa yang diinginkan Kanaya, segera ia menghubungi Hamam.


Tak lama berselang, penduduk sekitar ramai berdatangan membawa ember untuk memadamkan api yang sudah membesar. Kanaya dan Farrel di bawa ke rumah salah satu penduduk. Tidak lama kemudian Hamam datang, Ia segera merangkul Kanaya.


“ berbisik.

__ADS_1


“Walau tanpa rambut, kamu tetap cantik, lagi pula, nanti juga tumbuh lagi, kan?” Kata-kata Hamam menyejukkan hati Kanaya. 


Hamam menoleh Farrel yang masih diam membisu. Wajahnya cemberut melihat kemesraan Hamam dan Kanaya.


“Tanks, Bro.” ujar Hamam sembari melayangkan tinjunya ke Pundak Farrel.


gentian melirik Farrel.  Dua lelaki tampan itu saling buang muka. Kanaya mengulum senyumnya melihat tingkah dua pria dewasa di depannya. Kelakuan mereka persis seperti anak lelaki yang sedang musuhan.


Setelah api padam, Kanaya, Hamam, dan Farrel berpamitan kepada penduduk sekitar. Hamam membawa Kanaya ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi istri dan calon bayinya. Sengaja ia tidak mengajak Farrel ke rumah sakit yang sama, berharap tidak bertemu lagi dengan pahlawan penyelamat istrinya itu.


Walau ia berterimakasih atas jasanya yang bersedia menolong, tapi rasa cemburu di hati Hamam membuatnya serba salah. Tapi apa daya, Farrel lebih dulu ada di UGD, di tempat yang sama dengannya.  Hamam menarik napas kesal, Kanaya tersenyum melihat Hamam cemburu.

__ADS_1


berita acara pemeriksaan (BAP)  yang ia buat.


 Dan, hari itupun tiba, hari yang paling tidak ingin dilalui Kanaya yakni hari pertemuannya dengan Tomy, ayah Anesya. Berat hatinya menceritakan semua masalah yang ia hadapi akibat ulah Anesya.


Kanaya mematung, ia memalingkan wajahn dari Tomy. Ada rasa sesak di dadanya, ingin ia menangis, berteriak sekuat yang ia bisa, namun tenaganya sudah terkuras habis. Ia lelah, benar benar lelah. Tidak ada sepatah katapun yang terucap dari mulutnya. Ia tidak tahu apa yang di katakan Almarhum Anesya pada sahabat papanya itu sehingga, Tomy tidak pernah menghubunginya, bahakan sekedar mengucapkan belasungkawa saat kedua orangtuanya meninggal.


Tomy tertegun, ia tidak tahu harus berkata apa. Kematian Anesya membuatnya terpukul. Walau ia sering kasar pada purtinya itu, tapi jauh di lubuk hatinya ia sangat menyayangi Anesya. Amarah dan uring uringannya pada Anesya, hanya bentuk kekecewaanya karena Anesya tidak bisa memenuhi harapannya.


Ia ingin membanggakan putrinya yang cantik dan pintar pada semua orang. Ia juga ingin di puji atas keberhasilannya mendidik putrinya menjadi orang sukses. Apalagi pada mantan istrinya, ibu kandung Anesya. Ia ingin membuat wanita yang melahirkan Anesya itu menyesal meninggalkan mereka. Namun semua itu hanya mimpi, kini Anesya telah pergi untuk selamanya, membawa sesal yang tak bisa ia rubah.


Jauh di lubuk hatinya, Tomy sadar, dialah penyebab obsesi Anesya pada Kanaya. ucapannya yang selalu membanggakan Kanaya telah menyulut rasa cemburu dan sakit hati Anesya. Ia tidak menyangka dampak yang ditimbulkannya akibat membanding-bandikan Anesya dengan Kanaya membuat Anesya tertekan dan kehilangan rasa percaya dirinya.

__ADS_1


__ADS_2