
, dan Farrel berpamitan kepada penduduk sekitar. Hamam membawa Kanaya ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi istri dan calon bayinya. Sengaja ia tidak mengajak Farrel ke rumah sakit yang sama, berharap tidak bertemu lagi dengan pahlawan penyelamat istrinya itu.
Walau ia berterimakasih atas jasanya yang bersedia menolong, tapi rasa cemburu di hati Hamam membuatnya serba salah. Tapi apa daya, Farrel lebih dulu ada di UGD, di tempat yang sama dengannya. Hamam menarik napas kesal, Kanaya tersenyum melihat Hamam cemburu.
Cemburu itu indah, asal sesui porsinya. Tapi jika cemburu berlebihan apalagi membabibuta akan menimbulkan banyak masalah. Seperti cemburu Anesya pada Kanaya, yang berakhir tragis.
Setelah mendapat pengobatan, Kanaya, Farrel dan Hamam melapor kejadian tersebut ke polisi. Kanaya enggan menghubungi Tomy, ia tidak tahu kenapa, tapi ia benar-benar belum ingin bicara pada Tomy. Biarlah polisi yang akan menjelaskan kejadiannya berdasarkan berita acara pemeriksaan (BAP) yang ia buat.
__ADS_1
. Ia tidak tahu apa yang di katakan Almarhum Anesya pada sahabat papanya itu sehingga, Tomy tidak pernah menghubunginya, bahakan sekedar mengucapkan belasungkawa saat kedua orangtuanya meninggal.
Tomy tertegun, ia tidak tahu harus berkata apa. Kematian Anesya membuatnya terpukul. Walau ia sering kasar pada purtinya itu, tapi jauh di lubuk hatinya ia sangat menyayangi Anesya. Amarah dan uring uringannya pada Anesya, hanya bentuk kekecewaanya karena Anesya tidak bisa memenuhi harapannya.
Ia ingin membanggakan putrinya yang cantik dan pintar pada semua orang. Ia juga ingin di puji atas keberhasilannya mendidik putrinya menjadi orang sukses. Apalagi pada mantan istrinya, ibu kandung Anesya. Ia ingin membuat wanita yang melahirkan Anesya itu menyesal meninggalkan mereka. Namun semua itu hanya mimpi, kini Anesya telah pergi untuk selamanya, membawa sesal yang tak bisa ia rubah.
Jauh di lubuk hatinya, Tomy sadar, dialah penyebab obsesi Anesya pada Kanaya. ucapannya yang selalu membanggakan Kanaya telah menyulut rasa cemburu dan sakit hati Anesya. Ia tidak menyangka dampak yang ditimbulkannya akibat membanding-bandikan Anesya dengan Kanaya membuat Anesya tertekan dan kehilangan rasa percaya dirinya.
__ADS_1
Sedangkan Sinta, hanya diam seribu bahasa. Ia menyesal telah memberi ide, menitipkan Anesya pada keluarga Baros. Ia tidak pernah menduga ide itu awal dari malapetaka yang mengerikan seperti ini.
Tiga puluh menit kemudian.
Kanaya melirik Tomy, hatinya mulai luluh. Matanya berkaca-kaca, ada rasa yang membuncah di dadanya.
“Om, Nay tidak tahu harus bagaimana. Nay tidak tahu harus bilang apa!” suara Kanaya terhenti kerongkongannya terasa sakit, seketika tangisnya pecah, air matanya mengalir deras. Hamam buru-buru merangkul istrinya itu.
__ADS_1
Tomy memijat-mijat keningnya, hatinya pun sama hancur seperti Kanaya. ditolehnya Kanaya yang menangis terisak-isak. Setetes buliran air, jatuh dari pelupuk sosok yang selama ini dibanggakannya. Kanaya menoleh pada Tomy, keduanya saling berpandangan. Mata mereka saling bicara. Kanaya mendekati Tomy kemudian luluh bersimpuh pada sahabat ayahnya itu. Tomy menepuk Pundak Kanaya. keduanya saling diam. Tidak ada yang memulai bicara.
Biarlah waktu yang akan menyembuhkan luka di hati keduanya. Biarlah waktu yang akan menjawab semua teka teki di hati mereka. Biarlah kenangan pahit itu terkubur bersama waktu. Keduanya saling berjabat tangan tanpa sepatah kata, hanya air mata yang mengiringi pertemuan keduanya.