Suamiku Bos Ayahku

Suamiku Bos Ayahku
Extra Part 2


__ADS_3

Di luar, Kanaya memejamkan mata, buliran bening menetes di pipi kumalnya. Pipi yang selalu dicium suaminya itu, kini penuh luka goresan pisau. Farrel menatap Kanaya penuh iba.


“Nay, maafkan aku, sudah menghianati kamu. Maafkan aku, selama ini tidak percaya ucapanmu tentang Anesya. Aku menyesal meninggalkan kamu.” ujar Farrel, wajahnya terlihat kusut.


“Sudahlah, Farrel, yang lalu biarkan berlalu. Lagi pula aku sudah menikah dengan orang lain.” balas Kanaya dengan teduh.


“Rel, tolong Anesya, ia masih di dalam.” Pinta Kanaya yang tidak tega pada Anesya yang masih terperangkap di dalam villa.


“Nggak salah kamu, Nay? Nyuruh aku nolongin perempuan gila itu? lihat apa yang sudah dilakukannya padamu? Biar saja dia mati terpanggang di dalam sana! Aku tidak mau mempertaruhkan hidupku untuk menolongnya. cih!” cibir Farrel, ia tidak sudi menerobos api hanya untuk menyelamatkan perempuan yang telah membuatnya kehilangan Kanaya.


“Farrel, kamu nggak boleh gitu! Walau bagaimanapun, dia itu masih istrimu, kalian belum sah berceraikan?” ujar Kanaya, mencoba menyentuh hati Farrel agar menolong Anesya.


“Sudah terlambat, Nay. Paling dia juga udah gosong terpanggang api.” Sahut Farrel berkilah.


Kanaya menarik napas dalam, ia tidak tega melihat Anesya yang terpanggang didalam villa, namun ia juga tidak berdaya. Tenaganya tidak cukup kuat menolong anak sahabat ayahnya itu. Sesaat kemudian ia tampak gelisah.


Farrel mengerti apa yang diinginkan Kanaya, segera ia menghubungi Hamam.

__ADS_1


Tak lama berselang, penduduk sekitar ramai berdatangan membawa ember untuk memadamkan api yang sudah membesar. Kanaya dan Farrel di bawa ke rumah salah satu penduduk. Tidak lama kemudian Hamam datang, Ia segera merangkul Kanaya.


“Ya, ampun, Nay, kenapa bisa begini?” Tanya Hamam panik. Perih hatinya mendapati istrinya penuh luka dan botak.


Kanaya menagis tersedu-sedu di dada Hamam. “Rambutku, mas! Rambutku habis di potong Anesya.” ujarnya kesal.


Hamam memeluk erat istrinya, hatinya terluka melihat kondisi Kanaya. kemudia dengan lembut dan penuh kasih sayang, ia berbisik.


“Walau tanpa rambut, kamu tetap cantik, lagi pula, nanti juga tumbuh lagi, kan?” Kata-kata Hamam menyejukkan hati Kanaya. 


“Tanks, Bro.” ujar Hamam sembari melayangkan tinjunya ke Pundak Farrel.


Farrel meringgis, menahan sakit. Farrel sengaja meninju tepat di daerah luka bakar Farrel. Hamam nyengir melihat Farrel mengaduh. Puas hatinya melihat mantan tunangan istrinya itu yang sok jagoan menyelamatkan Kanaya seorang diri.


“Mau jadi pahlawan” gumamnya, hampir tak terdengar oleh siapapun, kecuali Kanaya.


Kanaya melirik Hamam, kemudian gentian melirik Farrel.  Dua lelaki tampan itu saling buang muka. Kanaya mengulum senyumnya melihat tingkah dua pria dewasa di depannya. Kelakuan mereka persis seperti anak lelaki yang sedang musuhan.

__ADS_1


Penduduk berhasil memadamkan api, walau sijago merah itu telah meratakan villa Anesya. Namun, setidaknya tidak menjalar kemana-mana.


Setelah api padam, Kanaya, Hamam, dan Farrel berpamitan kepada penduduk sekitar. Hamam membawa Kanaya ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi istri dan calon bayinya. Sengaja ia tidak mengajak Farrel ke rumah sakit yang sama, berharap tidak bertemu lagi dengan pahlawan penyelamat istrinya itu.


Walau ia berterimakasih atas jasanya yang bersedia menolong, tapi rasa cemburu di hati Hamam membuatnya serba salah. Tapi apa daya, Farrel lebih dulu ada di UGD, di tempat yang sama dengannya.  Hamam menarik napas kesal, Kanaya tersenyum melihat Hamam cemburu.


Cemburu itu indah, asal sesui porsinya. Tapi jika cemburu berlebihan apalagi membabibuta akan menimbulkan banyak masalah. Seperti cemburu Anesya pada Kanaya, yang berakhir tragis.


Setelah mendapat pengobatan, Kanaya, Farrel dan Hamam melapor kejadian tersebut ke polisi. Kanaya enggan menghubungi Tomy, ia tidak tahu kenapa, tapi ia benar-benar belum ingin bicara pada Tomy. Biarlah polisi yang akan menjelaskan kejadiannya berdasarkan berita acara pemeriksaan (BAP)  yang ia buat.


 Dan, hari itupun tiba, hari yang paling tidak ingin dilalui Kanaya yakni hari pertemuannya dengan Tomy, ayah Anesya. Berat hatinya menceritakan semua masalah yang ia hadapi akibat ulah Anesya.


Kanaya mematung, ia memalingkan wajahn dari Tomy. Ada rasa sesak di dadanya, ingin ia menangis, berteriak sekuat yang ia bisa, namun tenaganya sudah terkuras habis. Ia lelah, benar benar lelah. Tidak ada sepatah katapun yang terucap dari mulutnya. Ia tidak tahu apa yang di katakan Almarhum Anesya pada sahabat papanya itu sehingga, Tomy tidak pernah menghubunginya, bahakan sekedar mengucapkan belasungkawa saat kedua orangtuanya meninggal.


Tomy tertegun, ia tidak tahu harus berkata apa. Kematian Anesya membuatnya terpukul. Walau ia sering kasar pada purtinya itu, tapi jauh di lubuk hatinya ia sangat menyayangi Anesya. Amarah dan uring uringannya pada Anesya, hanya bentuk kekecewaanya karena Anesya tidak bisa memenuhi harapannya.


Ia ingin membanggakan putrinya yang cantik dan pintar pada semua orang. Ia juga ingin di puji atas keberhasilannya mendidik putrinya menjadi orang sukses. Apalagi pada mantan istrinya, ibu kandung Anesya. Ia ingin membuat wanita yang melahirkan Anesya itu menyesal meninggalkan mereka. Namun semua itu hanya mimpi, kini Anesya telah pergi untuk selamanya, membawa sesal yang tak bisa ia rubah.

__ADS_1


__ADS_2