
Suamiku Tergoda PELAKOR Bagian 2
Oleh Sept
Aku genggam ponsel mas Irwan, ku atur napas agar aku bisa menetralisir detak jantungku yang berdegup kencang ini. Aku tidak boleh berburuk sangka, mungkin ini WA nyasar. Sebisa mungkin aku tidak boleh memiliki pikiran buruk pada suamiku.
Tidak lama kemudian, terdengar deru mobil. Itu suara mobil mas Irwan. Apa dia sadar kalau ponselnya ketinggalan? Buru-buru aku masukkan lagi ponselnya ke bawah bantal.
Tap tap tap
Kudengar derap langkahnya yang tergesa-gesa.
"Papa!" panggil anakku yang paling kecil.
Mas Irwan hanya tersenyum dan mengusap kepala anakku. Kemudian dia mencari ponselnya.
"Kok balik, Mas?" tanyaku, sebisa mungkin aku menahan diri.
__ADS_1
"Ponselku ketinggalan! Ini dia," ucapnya kemudian memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.
"Aku berangkat dulu, sudah ditunggu yang lain," katanya kemudian.
"Hati-hati," kataku sambil melihatnya pergi.
Setelah suamiku pergi, aku kemudian mengambil ponselku. Lalu ku ambil kertas yang tadi ku sembunyikan di bawah vas di atas meja. Aku sempat menyimpan nomor asing itu. Sambil menunggu mas Irwan pulang dari Dinas.
Sebenarnya ingin aku tanya secara langsung, tapi karena dia sedang buru-buru, sepertinya aku harus menahan diri. Akan aku tunggu sampai dia datang. Sampai sejauh ini, aku masih percaya suamiku. Dia pria baik, laki-laki yang sudah belasan tahun aku kenal. Rasanya tidak mungkin dia menghianati aku.
***
Akhirnya Mas Irwan pulang lebih cepat dari jadwal karena putriku masuk ke rumah sakit. Hari itu putriku mengalami demam tinggi, sampai aku putuskan untuk pergi ke rumah sakit.
Selama di rumah sakit, aku perhatikan Mas Irwan masih seperti biasa, dia sangat perhatian kepada kedua anak kami bahkan ketika malam dia naik ke atas ranjang, dan tidur bersama putriku yang sakit.
Aku sengaja tidak membahas pesan WA tersebut, karena sekarang fokus kepada putri keduaku yang ini sedang dirawat. Apalagi sikap Mas Irwan sama sekali tidak ada bedanya, masih hangat perhatian dan sangat sayang kepada keluarga.
__ADS_1
Mungkin pesan WA itu memang salah kirim, dan aku sekarang tidak mau meributkannya karena kesehatan anakku adalah yang nomor satu. Fokusku kini hanya kepada anak gadis kecilku itu.
***
Seminggu kemudian anakku sudah bisa pulang. dia sudah beraktivitas seperti biasanya bercanda dengan sang papa dan kakak laki-lakinya.
Mas Irwan juga kembali ngantor dan kembali sibuk seperti biasanya. Dia akan berangkat pagi dan pulang sore hari. Namun, ketika suatu sore, tepatnya akhir pekan, biasanya dia akan pulang lebih awal tapi hari itu sampai menjelang malam dia belum pulang dan nomornya tidak aktif.
Berkali-kali aku mencoba menelpon ponselnya akan tetapi sama sekali tidak tersambung. Hingga aku ingat, pernah menyimpan sebuah nomor, yaitu nomor yang pernah mengirim pesan wa kepada suamiku.
Aku mencari kertas yang telah disembunyikan di laci. Kemudian mencoba langsung video call. Sayang sekali malah langsung diblokir. Jujur saja waktu itu aku bingung mengapa nomorku diblokir.
Sampai akhirnya aku putuskan menunggu suamiku pulang. Pukul 11.00 malam ada yang mengetuk pintu. Dan benar saja yang pulang adalah suamiku.
"Mas, dari mana saja?" tanyaku khawatir.
"Tadi pulang kerja ketemu temen," ucapnya terkesan acuh kemudian masuk kamar mandi.
__ADS_1
Selagi suamiku mandi, aku langsung mencari tasnya. Sengaja aku mencari HP suamiku. Jantungku berdetak cepat, apalagi saat sudah memegang HP mas Irwan. Sambil melihat pintu kamar mandi, aku langsung menekan kata sandi di layar ponselnya.
Bersambung