
Suamiku Tergoda PELAKOR Bagian 5
Oleh Sept
"Kenapa? Paket data kamu habis?" tanya Mas Irwan. Wajahnya yang tadi tegang mendadak tenang. Membuatku semakin bingung, benarkah dia suamiku yang aku kenal?
"Ini," kata Mas Irwan memberikan ponselnya, setelah membuka sandi.
"Diubah ya Mas sandinya?" tanyaku.
"Sempat kereset, gara-gara dipakai main Fanny," kata Mas Irwan kemudian memeluk guling.
"Kalau sudah, nanti tolong dicas," tambah Mas Irwan.
Aku semakin dilema, ku buka semuanya, dan tidak ada apa-apanya. Semua WA sudah dihapus, semua galery sudah tidak ada. Hanya WA dariku dan teman-teman kerjanya. Sedangkan foto juga hanya ada foto anak-anak kami. Lalu apa yang aku lihat dan aku baca kemarin? Apa aku salah melihat? Kepalaku tambah pusing.
Hingga sampai akhirnya kulirik Mas Irwan yang menarik selimut dan menutup matanya. Tidak punya bukti apapun, akhirnya aku cas HP tersebut, kemudian berbaring di sebelah suamiku.
***
Esok harinya.
Semuanya masih seperti biasa, semua kebiasaan Mas Irwan tidak ada yang berubah. Senin pagi bisanya dia berangkat pagi sekali, dan semalaman aku sudah memikirkan sesuatu. Aku harus mencari sesuatu, aku yakin ada yang tidak beres.
__ADS_1
Feelingku sebagai seorang istri, mengatakan bahwa meskipun suamiku kelihatan baik-baik saja, entah mengapa aku merasakan sesuatu, yang mengganjal, yang mengusik hati dan pikiran.
Akhirnya hari itu, aku mengantar Diaz ke sekolah, kemudian aku titipkan Fanny ke rumah ibuku.
"Bu, titip Fanny dulu. Aku mau melayat, gak enak ajak anak kecil," kataku tadi pada ibu, sengaja berbohong.
Seperti biasanya, ibu tidak akan menolak. Dia justru merasa senang. Pagi itu, aku sudah berpakaian rapi. Memakai jaket dan masker.
Entah mengapa aku nekad ke kantor, beralasan membawa bekal. Padahal, suamiku jarang bawa bekal makan siang.
Tiba di lobby kantornya, aku ketemu dengan salah satu karyawan lama, dan dia tahu aku istrinya Mas Irwan.
"Eh, Mbak Della. Tumben, ada apa, Mbak?" tanya rekan kerja Mas Irwan yang sudah lama di sana. Sejak mas Irwan pegawai biasa sampai sekarang jadi manager.
"Itu, Bu ... ini ... mau anter makan siang nanti buat Mas Irwan," kataku terbata. Karena aku memang hampir jarang ke kantor Mas Irwan.
Aku menelan ludah, wajahku mungkin sudah pucat. Dan aku melihat wanita di depanku juga menatap heran.
"Ya sudah, saya permisi," pamit ku kemudian.
Buru-buru aku parkiran, ku stater motor merah hadiah ultahku tahun lalu dari mas Irwan. Aku masih belum percaya, dia yang begitu hangat, yang selalu meratukan aku, tidak mungkin berkhianat.
Sampai akhirnya aku berhenti di salah satu kafe dekat kantor mas Irwan. Lalu aku hubungi suamiku itu.
__ADS_1
"Mas ... kamu di mana?" tanyaku dengan jantung yang bergemuruh.
"Di kantor, ada apa?"
Mataku langsung mengembun. Kebohongan apa lagi ini? Tanganku mengepal, aku pengan gelas minuman sampai tutupnya melompat jatuh.
"Kantor mana, Mas? Aku tadi ke kantor, Mas gak ada," ucapku masih pelan.
"Maksud kamu? Kamu ke kantorku?"
Harusnya aku yang marah, tapi nada bicaranya malah lebih tinggi dariku.
"Ya, ini aku masih di sekitar kantor, bisa kita ketemu sekarang?"
"Kita bertemu di rumah!"
Tut Tut Tut
Aku memejamkan mata, ku genggam ponsel yang telponnya langsung diputus tersebut. Sejenak aku tenangkan hati, lalu mulai mengendarai motor lagi sampai tiba di rumah.
Begitu aku sampai, ternyata bersamaan dengan mas Irwan. Dia keluar dari mobil, kemudian membuka pintu samping. Seorang wanita yang sama, yang pernah aku lihat di ponsel mas Irwan.
Satu hal yang mengusik pandanganku. Kulihat perut wanita itu sudah hamil besar. Belum tahu apa-apa, belum mengerti cerita lengkapnya, hanya saja hatiku terasa sangat bergitu sakit.
__ADS_1
***
Kisah Delia dan Irwan mungkin tidak akan panjang, karena nyesek. Ingin aku katakan, tapi ragu-ragu. Semoga Allah kuatkan hatimu, teman. Kisah nyata.