
Suamiku Tergoda PELAKOR Bagian 7
Oleh Sept
"Dela! Jangan keras-keras, dia sedang hamil!" sentak laki-laki yang dulu sangat aku puja. Laki-laki yang selalu aku sebut namanya dalam setiap doa-doaku. Lalu apa ini? Apakah ini balasannya? Kenapa dia begitu tega padaku? Astaghfirullahaladzim ...
Dengan tubuh yang masih gemetar aku menatap dua manusia yang tidak tahu malu tersebut.
"Lalu maunya Mas Irwan apa sekarang?" tanya ku dengan bibir yang gemetar.
Mas Irwan malah diam, kemudian wanita itu yang bicara.
"Kami saling mencintai, jadi apapun yang terjadi. Kami akan bersama."
Sudah ... aku tidak bisa berpikir lagi, entah wanita ini lahir dari mana? Kenapa begitu tega merusak rumah tangga kami. Aku sangat shock, karena suamiku ternyata sepertinya begitu cinta padanya.
"Untuk MBK ketahui, Mas Irwan selama ini sukses juga atas dukungan dari saya," ucap wanita itu kembali.
Mataku semakin terbuka lebar, tapi tidak bisa melihat apapun. Semuanya membutakan. Telingaku juga berdegung, kejadian ini cukup membuat jantungku bisa berhenti berdetak.
"Saya salah satu yang nanam saham di kantor mas Irwan. Saya juga ikut andil dalam kesuksesan mas Irwan selama ini. Saya mengalah menjadi istri kedua karena saya mencintainya. Dan sekarang saya sedang hamil anak mas Irwan. Saya harap kamu menerimanya," ucapnya lagi yang sekali lagi bagai pukulan yang bertubi-tubi.
"Kami sudah lama mengenal, dan aku tidak akan minta maaf, karena kami memang saling mencintai."
__ADS_1
Aku memejamkan mata, menahan rasa sesak. Sampai aku terduduk lemas, dan mengusap pipiku.
"Aku gak terima ini," ucapku yang sangat terpukul saat itu.
Suasana ruangan hening, kemudian dua orang itu berbisik lirih. Sampai akhirnya mas Irwan bicara padaku.
"Kalau kamu gak bisa menerima pernikahan kedua ku ... kamu boleh pergi."
Tanganku mengepal, sakit sekali hatiku. Aku merasa seperti dibuang sendiri oleh suamiku, dan diganti dengan istri barunya itu.
"Kalian ..." Aku tidak bisa berkata-kata, aku malah terusir dari rumah ini. Rumah di mana aku bangun berdua dengan mas Irwan.
Hanya karena aku tidak bekerja, hanya karena aku fokus pada anak-anak, apa ini balasannya? Hati yang hancur, tidak berbentuk lagi. Aku hanya bisa menangis di depan mereka. Dan mas Irwan hanya diam seribu bahasa. Sampai keduanya pergi, karena mungkin bingung aku menangis sejadi-jadinya?
Bukannya dapat solusi, kami malah mendapat masalah baru. Mertuaku shock, ketika kami dikumpulkan untuk di sidang, dia menangis histeris sama sepertiku.
"Kalau kamu mau bunuhhhh Ibu, racun saja Ibumu ini ... biar Ibu cepat mati!" tangisnya.
Mas Irwan tertunduk. Sedangkan iparku yang lain memegangi ibu mertuaku. Dan malam itu juga, ibu mertuaku pingsan. Tekanan darahnya turun drastis, kesehatannya langsung menurun. Dan kami langsung membawanya ke rumah sakit.
Aku masih belum menjemput buah hati ku, aku belum cerita apa-apa pada ibuku sendiri. Sedangkan di keluarga besar suami semuanya sudah murka. Kecewa pada kelakuan mas Irwan.
Selama ini soleh, pekerja keras, sayang keluarga, nyatanya malah menikah lagi diam-diam dan malah sekarang istri sirinya hamil besar. Semua keluarga kecewa.
__ADS_1
Seharian aku di rumah sakit, aku dan mas Irwan sama sekali tidak bicara. Sepertinya dia menyalahkan aku atas kejadian ini. Karena semua keluarga langsung menyudutkan mas Irwan.
***
Beberapa hari kemudian.
Kondisi mertua membaik, sudah pulang. Aku juga kembali ke rumah, dimana aku bangun dari nol. Meskipun aku tidak bekerja, tapi aku yang mengurus semua keperluan suami dan anak-anakku. Waktu ku aku abdikan untuk mereka.
Lagi pula, mertuaku bilang. Jangan sampai melangkah dari rumah itu. Itu rumahmu, rumah anak-anakmu. Itulah yang membuat aku bertahan, meskipun kehidupan bersama mas Irwan sudah tidak bisa seperti dulu.
Kami pisang ranjang, kami perang dingin. Hubungan yang dulu harmonis mendadak seperti orang asing.
Satu bulan kemudian.
Sebuah WA masuk dalam ponselku. Nomor tidak dikenal.
[Kalau tidak mau mati dan celaka, suruh suamimu jangan ganggu istri orang!]
Aku kaget, aku pikir ini salah sambung. Tidak aku balas, karena aku rasa itu WA nyasar.
[Jangan menyesal, kalau suamimu mati di jalan]
Loh, pesan terror lagi. Jelas aku panik. Aku kemudian menelpon orang tersebut.
__ADS_1
"Hallo?"