
Suamiku Tergoda PELAKOR Bagian 4
Oleh Sept
"Del, buka pintunya!"
Suara mas Irwan membuatku terkejut. Buru-buru aku letakkan ponsel mas Irwan ke dalam saku. Aku panik, karena masih kelihatan jelas. Akhirnya aku matikan ponselnya dan aku tutup dengan handuk yang ada di kamar mandi. Setelah itu aku buka pintunya.
"Lama sekali, gak tahan ini!" ucapnya kemudian langsung masuk ke dalam melewati aku.
Aku menahan napas, kemudian buru-buru mengganti ponsel mas Irwan dengan ponselku. Kembali bersikap biasa, meskipun kakiku seperti tidak menapak pada lantai.
Beberapa saat kemudian, anak-anak sudah mandi. Sedangkan si kecil, mungkin tahu namanya sedang resah, dia rewel dan minta gendong terus. Tubuhku memang sedang menggendong balita ini, tapi pikiranku sudah kosong. Aku masih shock, apa benar suamiku punya wanita lain?
Tap tap tap
Mas Irwan duduk di kursi makan, dia sarapan sendiri, karena semua sudah aku siapkan di meja.
"Diaz ... sudah makan sayang?" tanya mas Irwan pada putraku yang asik melihat yutub.
"Udah!" jawab Diaz tanpa menatap papanya.
Mas Irwan melanjutkan makan, kemudian menatapku.
"Itu kenapa Fanny digendong saja?"
"Rewel, Mas," jawabku datar. Pikiranku masih kacau, aku masih menyusun kepingan puzzle tentang hubungan suamiku di luar sana. Masih belum percaya, karena ini baru sekedar bukti chat, dan foto lain di galery hp mas Irwan. Pikiranku sedikit menolak kenyataan, karena aku takut terluka.
__ADS_1
"Aku mau keluar bentar, sekalian nyuciin mobil. Kamu pesan apa?"
Aku menggeleng. "Gak, Mas."
"Papa! Diaz mau ice cream!" Tiba-tiba anakku menyahut.
"Iya, sayang," ucap Mas Irwan kemudian mengusap kepala anakku.
Sampai detik ini, sampai sejauh ini, aku masih belum yakin suamiku selingkuh. Tidak mungkin, keluarga kami baik-baik saja. Kami bahkan tidak pernah terlibat pertengkaran yang hebat. Satu hal yang selalu menjadi perdebatan pasti tentang anak-anak, itupun hanya perbedaan cara kami mengasuh. Sejauh ini, semua tidak ada yang berarti. Tidak ada masalah serius, lalu untuk apa suamiku selingkuh?
Mas Irwan pamit pergi sambil membawa mobil, aku kembali ketar-ketir di dalam rumah. Sungguh, aku bingung harus bagaimana.
Aku pinjam ponsel anakku, aku telpon nomor wanita itu. Jika nomorku sudah diblokir, aku berharap nomor Diaz, hp miliknya yang biasa dipakai untuk yutub, semoga diangkat.
Tut Tut Tut
"Ya, dengan siapa?"
Suara lembut seorang wanita membuatku tertegun.
"Hallo ...?"
Dia terus berbicara, sedangkan mulutku terkunci rapat.
Sampai akhirnya aku matikan telepon. Karena aku bingung harus mengatakan bagaimana.
Seharian itu aku gelisah, sampai menjelang sore mas Irwan pulang. Tidak lupa membawa makanan pesanan Diaz dan beberapa makanan jajanan kuliner lain.
__ADS_1
"Masukin kulkas, ini eskrimnya banyak," kata mas Irwan padaku.
Hari itu pikiranku kosong, sampai memasak air untuk membuat kopi pun sampai kehabisan. Untung pancinya tidak gosong.
Malam harinya, aku yang tidak tenang, memberanikan diri membahas hal ini dengan suamiku.
Waktu itu Diaz dan Fanny sudah tidur, kini aku bisa bebas bicara tanpa rengekan dari anak-anakku.
"Mas ... aku mau bicara," kataku pada Mas Irwan yang sibuk main ponsel sambil rebahan di ranjang. Sedangkan anak-anak sudah aku pindahkan ke kamar mereka.
"Iya, ada apa?" tanya Mas Irwan dengan tenang, seolah tidak ada apa-apa.
Dari sini aku kembali bingung, harus mulai dari mana. Kemudian tanpa pikir panjang, aku tanya saja padanya.
"Mas masih sayang aku, kan?"
Dia malah tersenyum tipis.
"Pertanyaan apa ini?"
"Mas cinta Dela, kan?" mataku sudah perih. Sungguh aku takut dengan fakta, kalau ternyata pria yang paling aku percayai mulai berdusta.
"Ish ... jangan ngaco. Sudah malam, ayo tidur."
Mas Irwan kemudian meletakkan ponselnya di atas nakas. Aku langsung menatap benda pipi tersebut.
"Bisa aku lihat ponsel Mas Irwan?" Seketika wajah Mas Irwan aku lihat langsung mengeras.
__ADS_1