
Suamiku Tergoda PELAKOR Bagian 3
Oleh Sept
Jantungku masih berdegup kencang, sambil tetap waspada. Entah mengapa aku takut ketahuan melihat ponsel suamiku secara diam-diam. Saat kudengar suara mas Irwan mandi di dalam sana, aku langsung menekan angka sesuai tanggal pernikahan kami.
"Sandi salah?" gumamku yang mulai panik.
Aku mungkin terlalu buru-buru, pelan-pelan aku masukkan lagi 6 angka tanggal pernikahan kami. Tapi tetap salah juga, dari situ aku sudah putus asa.
Pasti sandinya sudah diganti, pikirku yang kalut, panik campur bingung. Aku kemudian meletakkan ponsel itu pada letaknya. Kemudian pergi ke dapur, menyiapkan teh hangat. Biasanya kalau malam dia minta yang anget-anget.
Sesaat kemudian. Mas Irwan muncul, dia keramas malam-malam, pikiranku langsung kacau. Aku memikirkan hal yang bukan-bukan. Kutarik napas dalam-dalam, berharap pikiran buruk ini tidak terjadi di kenyataan.
"Tehnya, Mas."
"Hemm."
Mas Irwan kemudian mengambil ponselnya, lalu membawa gelas bersisi teh hangat, kemudian meninggalkan kamar. Semalaman itu aku merasa gelisah, sampai akhirnya aku malah ketiduran.
__ADS_1
***
Pagi harinya, aku bangun seperti biasanya. Dan aku bangunkan mas Irwan yang masih tidur. Entah jam berapa dia pindah. Si kecil juga mulai rewel. Karena ini hari Minggu, mas Irwan akan seharian di rumah. Menghabiskan waktu bersama anak-anak.
"Mas ... bangun, Mas. Aku mau goreng ikan, jagain dulu anaknya," ucapkan sambil memegangi lengan mas Irwan.
"Hemm. Letakkan saja di sini," ucap Mas Irwan dengan mata terpejam.
Aku letakkan putri kecilku di sebelah papanya, sedangkan yang besar, dia sudah asik nonton TV. Sedang lihat cartoon di minggu pagi.
Setengah jam lebih aku di dapur, dan masakan pun sudah siap. Ayam goreng, soup, dan sambal. Masakan sederhana, karena biasanya nanti aku akan pesan lauk dari luar.
Jantungku berdegup kencang, kemudian kulirik mata suamiku, setelah memastikan dia lelap. Dan tidurnya sangat nyenyak, aku langsung mencari ponselku. Kuganti hp suamiku dengan hpku. Si kecil masih tenang, dan aku buru-buru ke luar ke kamar mandi.
Dengan jantung yang memburu, aku langsung memeriksa semua WA-nya. Mataku tertuju pada pesan WA paling atas.
[Bawain martabak manis sama alpukat ya, lagi pengen itu malam ini]
Tubuhku gemetar, aku scroll ke bawah lagi. Aku lihat semua tanggal yang tertera. Mulutku komat-kamit membaca semua pesan nomor tanpa nama tersebut.
__ADS_1
[Sayang, jangan lupa mampir ya. Aku masak kesukaan kamu. Gak mask sih. Tapi pesan online] Kemudian ada emoticon hati.
Napasku semakin memburu, kemudian aku mencari sesuatu dalam ponsel mas Irwan. Aku cek galeri, dan tidak ada yang aneh. Full foto anak-anak kami. Kemudian aku mencoba mencari lagi, sampai aku temukan sebuah folder. Sebelum aku tekan, aku menarik napas dalam-dalam.
Begitu aku buka, betapa aku shock.
"Siapa ini?" aku terkejut melihat foto-foto wanita cantik dan glowing. Aku akui, dia lebih cantik daripada aku. Sampai aku menatap ke depan, ada cermin yang terpampang yang langsung membuatku malah sesak.
"Apa ini wanita yang mengirim WA?"
Dengan tangan gemetar, aku langsung melalukan Vcall. Tapi belum tersambung langsung aku batalkan. Entahlah, aku sangat bingung.
Sambil mengatur perasaan yang kacau balau ini tanpa kejelasan, aku kembali mengobrak-abrik isi ponsel suamiku. Mulai melihat galeri dalam ponselnya yang disimpan sedemikian rupa agar aku tidak tahu.
Tok tok tok
"Del ..."
Aku panik, suara suamiku terdengar ada di depan pintu.
__ADS_1