Syair Cinta Raisa

Syair Cinta Raisa
3. Reyhan Alexander Gunawan


__ADS_3

Ditempat yang berada ada seorang pria tampan yang sedang disibukan dengan segala pekerjaannya yang mengharuskannya untuk menyelesaikannya hari ini juga.


Pria tampan itu bernama Reyhan Alexander Gunawan. Dia salah satu CEO muda di Pt. Gunawan company yang dirikan oleh ayahnya. Rey memang salah satu tipe orang yang gila kerja dalam beberapa tahun belakangan ini.


Diusianya yang sekarang ini dia mampu membuktikan bahwa dirinya bisa mengembangkan perusahaan.


Siapa yang tidak mengenal Reyhan Alexander Gunawan, seorang CEO tampan yang penuh karisma, pintar, cuek namun begitu dingin terhadap siapapun kecuali keluarganya dan para sahabatnya. Dia akan menjadi orang yang hangat terhadap orang-orang yang dia sayangi.


Seperti saat ini Rey masih disibukan dengan segala berkas-berkas perkejaan yang begitu menumpuk dimeja kerjanya saat ini. Semua berkas-berkas tersebut harus dia pahami dan tanda tangani. Sampai-sampai dia tidak sadar kalau sudah waktunya jam makan siang.


Rey melihat jam tangannya menunjukkan jam 12 siang. Dia pun memutuskan untuk beranjak keluar kantor. Dia langsung menuju ke parkiran mobilnya berada. Rey mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke suatu tempat.


Setelah beberapa lama dia mengemudikan mobilnya dia sampai di salah satu rumah sakit ternama di kota itu.


Rey memutuskan untuk masuk ke salah satu ruangan rawat inap tersebut. Disana sudah ada dua orang wanita paruh baya yang begitu dia sayangi selama ini yang tidak lain adalah mama dan Omanya Rey.


"assalamualaikum!" salam Rey saat masuk ke ruangan perawatan sang oma.


"walaikumsalam, Rey" jawab mama Rita dan oma Ratna secara bersamaan.


Rey pun menyalami mama Rita dan oma Ratna secara bergantian.


"bagaimana keadaan oma sekarang?" tanya Rey kepada oma Ratna dengan raut wajah yang kuatir.


"oma baik-baik saja kok Rey" jawab oma Ratna dengan suara lemah.


"apa sekarang oma sudah makan ma?" tanyanya kepada sang mama.


"udah kok sayang, baru saja oma selesai makan dan oma juga sudah minum obatnya kok Rey" jawab mama Rita dengan lembut.


"oh ya, Rey. Apa kamu sendiri sudah makan nak?" tanya oma Ratna kepada cucu kesayangannya itu.


"sudah kok oma, sebelum kesini Rey makan siang dulu. hehehehe...." jawab Rey berbohong agar oma tidak merasa kuatir dengan keadaannya.


"Rey..." ucap oma Ratna dengan lembut kepada cucu kesayangannya itu.


"iya om" jawab Rey senyuman yang menghiasi wajahnya.


"apa kamu mau memenuhi permintaan terakhir oma, nak?" tanya oma Ratna dengan hati-hati kepada cucunya kesayangannya. Karena oma Ratna takut menyinggung perasaan cucunya dengan semua keinginannya.


"apa itu oma?" jawabannya dengan perasaan penasaran akan permintaan sang oma.


"oma, hanya ingin kamu segera menikah" ucap oma Ratna dengan nada suara yang lemah.

__ADS_1


Rey pun tersedak dengan ludahnya sendiri setelah mendengar permintaan sang oma barusan. Rey pun menatap sang mama yang juga berada diruang itu. Dan mama Rita hanya mengangkat kedua bahunya bahwa dirinya tidak tahu akan permintaan ibu mertuanya itu.


"tapi oma, Rey kan belum siap untuk menikah" jawabnya ragu. Karena dia merasa tidak bisa mewujudkan permintaan sang oma.


"oma mohon sama kamu Rey" ucap oma Ratna dengan nada lemah karena keadaannya yang lagi menurun. "oma hanya ingin melihatmu menikah, ini permintaan terakhir oma sebelum oma meninggal Rey".


"oma, Rey mohon jangan pernah berbicara seperti itu lagi ya" jawab Rey dengan perasaan sedih dan bersalah setelah mendengarkan ucapan sang oma. "Rey janji akan lakukan apa saja agar oma cepat sembuh kok".


"Rey, mama mohon sama kamu ya nak. Tolong kabulkan permintaan oma, Ya sayang?" mohon mama Rita kepada anak laki-laki satu-satunya itu.


"baiklah oma, ma. Rey akan memenuhi semua permintaan oma dan mama. Tapi dengan satu syarat oma harus sehat" ucap Rey.


"iya nak. Oma janji oma akan segera pulih" janji oma Ratna kepada cucunya.


"tapi beri waktu Rey untuk menemukan wanita yang tepat untuk mendampingi Rey" ucap Rey.


"iya sayang oma ngerti kok" jawab oma Ratna dengan pengertiannya kepada sang cucu kesayangannya itu.


"oh, ya Rey. Kenapa kamu gak menikah saja dengan Raisa mantan pacarmu yang saat masih di Amerika itu?" celetuk mama Rita yang mampu membuat Rey kaget.


"Raisa" ucap Rey kaget setelah nama Raisa disebut sang mama.


"iya, Raisa" ucap mama Rita dengan santainya.


"tapi ma?" jawab Rey bingung harus bagaimana.


"Rey, aja sekarang gak tahu Raisa ada dimana ma!" jawab Rey dengan segala rasa kebingungannya. "kenapa harus sama Raisa sih ma?" lanjut Rey.


"terus kenapa kalau mama mau kamu sama Raisa sih sayang?" tanya mama Rita gemas kepada sang putra.


"bukan maksud Rey begitu ma!" ucap Rey sambil mengacak-acak rambutnya karena bingung. "setelah Rey memutuskan untuk kembali ke sini. Rey sama sekali gak tahu kabar Raisa gimana. Dan Rey juga gak tahu Raisa ada dimana sekarang ini ma" lanjut Rey dengan perasaan bersalah.


"Rey, sebenarnya Raisa beberapa tahun ini sudah kembali dari Amerika nak" jawab mama Rita dengan nada serius.


"apa, ma !" ucap Rey kaget dengan kata sang mama. "apa Rey gak salah denger kan mah?".


"enggak kok sayang" jawab mama Rita jujur. "dan satu lagi, Raisa juga sudah beberapa kali jenguk oma kok, nak" ucap mama Rita dengan santainya.


"yang bener ma?" tanya Rey yang tidak percaya dengan ucapan mama Rita barusan.


Mama Rita hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya dengan senyuman yang tidak bisa diartikan.


Setelah hampir satu jam Rey berada di ruangan perawatan sang oma. Rey memutuskan untuk segera pergi dari rumah sakit ini menuju ke perusahaan karena waktu jam makan siang sudah habis.

__ADS_1


Rey memasuki mobilnya yang terpakir rapi di parkiran rumah sakit. Rey mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang karena jalanan yang sedang dia lewati tidak begitu ramai karena sudah lewat jam makan siang.


Di kantor Rey masih saja berkutat dengan segala pekerjaannya. Walaupun dia sudah berusaha untuk menyibukkan dirinya dengan segala pekerjaannya. Rey pun masih terngiang-ngiang akan semua perkataan sang mama kalau wanita dia cintai selama ini ada di kota yang sama dengannya.


Dan seperti sekarang ini rey sudah dirumahnya pun dia masih memikirkan perkataan sang mama yang mampu membuatnya gelisah tak menentu seperti sekarang ini.


"kenapa Raisa tak pernah memberitahu ku kalau dia sekarang ada disini sih, hah...." batin rey.


"kenapa semua ini membuatku jadi pusing sih..." ucap Rey.


Rey merasakan ada yang salah dengan hatinya sekarang ini. Setelah mendengar kalau Raisa kembali ke kota ini membuat dirinya uring-uringan sendiri. Dihati Rey ada perasaan marah dan kecewa jadi satu yang tidak bisa dimengerti.


"apa sebegitu bencinya kamu sama aku sa. Sehingga kamu tak pernah memberitahu ku kalau kamu ada di sini sih, sa!" batin Rey.


Rey menghembuskan nafasnya dengan kasar. Rey merasa kecewa atas sikapnya Raisa yang tidak pernah memberitahunya.


"andai waktu itu aku gak minta tolong ke kamu sa Untuk berpura-pura jadi pacar aku. Seandainya aku mengenalkanmu kepada orang tuaku dan keluarga ku. Masalahnya gak akan jadi seperti ini sa" batin Rey.


Rey berusaha keras untuk menyingkirkan semua pikiran yang berkecamuk di kepalanya dengan menyibukkan dirinya dengan pekerjaan yang sengaja dia bawa pulang ke rumah untuk merevisi semua laporan. Tapi itu semuanya sia-sia, Rey masih saja kepikiran semua itu.


Permintaan sang oma yang memintanya untuk segera menikah dengan Raisa pun masih terngiang-ngiang di kepalanya.


Yang menjadi permasalahannya Rey adalah dimana dia harus mencari Raisa sekarang. Agar dia bisa memenuhi permintaan sang oma.


Raisa memang temannya waktu masih duduk di bangku kuliah dulu di Amerika. Karena sebuah kesalahan dan kecerobohan yang mengakibatkan Raisa harus terseret berbohong kepada keluarganya.


Rey telah menyesali semua perbuatannya meminta Raisa agar mau berpura-pura menjadi kekasihnya pada waktu itu. Dan apa yang selama ini dia takutkan terjadi juga, Rey harus siap menikahi Raisa. Bagaikan menelan buah simalakama.


Rey yang merasakan kepalanya mulai pusing memutuskan untuk segera membaringkan tubuhnya ke tempat tidur. Rey pun berusaha untuk memejamkan matanya yang terasa begitu sangat berat namun mustahil untuk terpejam.


Rey selalu terbayang-bayang akan perkataan sang omanya dan semua kejadian masa lalunya yang sangat mengusik hidupnya.


*Aku bagaikan ombak yang menghantam batu karang.


Aku bagaikan ombak yang begitu tenang dilautan lepas.


Aku bagaikan sebuah hati yang selalu damai saat dipandang mata.


Aku bagaikan matahari yang selalu menyinari bumi ini.


Aku bagaikan matahari yang akan tenggelam pada malam hari.


Begitu pula hati ini yang merasa begitu tak tenang

__ADS_1


Karena ada orang yang selalu mengusik pikirannya selama ini*...


( Linda Arlinda )


__ADS_2