System Apocalipse

System Apocalipse
2. Lima Tahun (2)


__ADS_3

Pagi telah tiba dengan membawa kehangatan dari sang surya, suara burung berkicau merdu layaknya sususan melodi yang berirama.


"Tuan muda, saatnya bangun." Ucap pria tua dengan kumis berwarna hitam lebat.


Rambutnya sedikit berubah, dengan beberapa helai rambut yang mulai memutih. Dia adalah pria tua..


"Ah, Paman Whillhem."


Namanya adalah Whillhem seorang kepala pelayan yang bekerja dan telah berjanji setia kepada Ayah Harold.


Whillhem memiliki seorang istri, dia adalah bi Inah yang tengah bersama Cassandra adik Harold.


Namun mereka tidak memiliki seorang anak hingga usianya saat ini.


"Tuan muda." Paman Whillhem menyerahlan segelas air putih hangat untuk Harold yang baru saja bangun dari tidurnya.


"Sarapannya telah siap, tuan muda bisa turun ke bawah kapan pun." Sambungnya.


"Oh oke, lalu bagaimana dengan Albara?" Tanya Harold memastikan.


Untung saja Harold tidak memerlukan usaha yang keras dan sia-sia untuk membujuk Albara bermalam dirumahnya.


Karena bagaimanapun juga, jika hari ini akan terjadi bencana dia harus menyelamatkan temannya bagaimanapun juga.


"Ah, Tuan Albara masih berada di atas ranjangnya."


"Begitukah? Yasudah. Kau beristirahatlah dulu." Ucap Harold dengan mengkode Paman Whillhem kalau dirinya ingin membersihkan badannya.


"Baik, tuan muda."


Paman Whillhem memberi salam dengan sedikit membungkukkan badannya khas para pelayan.


Beberapa hari sebelumnya Harold telah memulangkan semua pelayan dan petugas dirumahnya, hampir semuanya kecuali Whillhem yang menetap dirumahnya.


Tiding!


______________________________________


Bencana akan segera dimulai!


Dalam : 04.59.27


Persiapkan dirimu! Berjuanglah dengan semua kemampuanmu!


______________________________________


Ekspresi masam dan terkejut terlukis di wajah pemuda tampan tersebut, tanpa sengaja dia bersuara dengan cukup keras.


"Apa?!"


'Ini beneran terjadi! Jika melihat sisa waktunya, seharusnya terjadi pada pukul sebelas!'


"Bagaimanapun juga aku harus mulai bersiap-siap!"


Harold bergegas menuju kamar mandi yang tepat berada di dalam kamarnya.


Buuk!


Suara benturan keras menusuk kedalam telinga.


Harus meninju dinding kamar mandinya, hatinya menjadi sangat cemas.


'Ugh! Sial, aku bahkan tidak mengetahui bencapa apa yang akan terjadi!'


'Aku harap semua baik-baik saja!'


02.10.01


'Masih ada dua jam lebih!'


Tuuut tuuut tuuut


'Ayolah, angkat-angkat!'


Perasaan Harold semakin tidak tenang setelah mencoba menelpon adiknya beberapa kali, namun masih tidak diangkat.


Tuuut


"Iya, kakak?"

__ADS_1


'Huh? Syukurlah.'


Harold mulai bisa bernafas lega setelah mendengar jawaban dari pihak sebelah.


"Jadi bagaimana, apa kau menuruti kata kakak?" Tanya Harold, masih ada sedikit gelisah di hatinya.


"Iya aku mendengarkannya."


Huhh


"Itu bagus..."


"Cassandra, apa kau tau alasan kenapa aku menyuruhmu tetap dirumah?"


"Iya, aku tau."


(...)


"Tepat pada hari ini, ayah dan ibu meninggal."


"Iya, benarr."


(...)


"Apa aku bisa berbicara dengan bi Inah?"


"Tentu kakak."


(...)


"Iya, tuan muda?"


"Bagaimana apa kau telah mempersiapkan apa yang aku pinta?"


"Sudah tuan muda, semua yang dikatakan tuan muda. Namun, aku tidak mengerti kenapa?"


"Hentahlah, perasaanku tidak tenang sejak seminggu yang lalu. Bi teruslah pantau berita hingga tiga atau empat jam."


"Baik tuan muda, hmm tuan muda?"


"Iya?"


Harold tersenyum ketika mendengar kalimat tersebut, sedikit rasa bersalah timbul dihatinya karena memisahkan dua buah insan tersebut.


"Iya, tentu!"


Tuuuuut


Hening...


Langit berubah menjadi mendung sejak satu jam lalu, hawa dingin yang menerpa kulit sedikit membawa kesan ngeri.


"Whillhem."


"Ya, tuan muda?"


"Teruslah pantai berita, hentah aku tidak tau kenapa tapi setiap detik yang berlalu perasaanku semakin tidak tenang."


Whillhem ingin membalas perkataan Harold namun setelah mendengar apa yang dikatakannya selanjutnya, Whillhem memilih untuk diam.


"Baik tuan muda."


Harold berdiri dengan perasaan yang tidak menentu, menatap tinggi langit di atas halaman rumahnya.


•••


"Jadi bagaimana, apa kau menemukan sesuatu yang aneh?" Tanya Harold, sedikit informasi belum dapat ditemukannya.


"Hentahlah, saya juga bingung tuan muda. Tapi ada yang aneh di dalam berita."


Ekspresi di wajah Harold berubah drastis keterkejutan jelas terlukis di wajahnya.


"Apa itu?!"


"Mungkin ini terlihat biasa, tapi jika diperhatikan lebih jauh hampir... Tidak! Seluruh negara di dunia dalam keadaan di guyur hujan!"


'Ini... Tidak mungkin ini hanya sebuah kebetulan!'


"Yooo, ada apa ini? Ada apa dengan ekspresi kalian?"

__ADS_1


Albara baru saja menuruni anak tangga, dengan terus mengelap rambutnya yang basah.


"Hentahlah, perasaanku semakin tidak enak setelah melihat berita?" Ucap Harold.


"Begitukah? Apa yang terjadi?" Tanya Albara.


"Kami tidak tau apa itu, yang pasti seluruh bagian dunia sedang diguyur hujan dalam waktu bersamaan." Jelas Whillhem.


Suasana menjadi hening setelah mendengar penjelasan Whillhem, ketiga orang tersebut terlihat berpikir sangat keras.


Sebelum Albara membuka kembali mulutnya, dengan sebuah pertanyaan yang membawa sedikit harapan.


"Bagaimana dengan berita dunia?" Tanya Albara.


Harold dan Whillhem tersentak secara bersamaan, tanpa disuruh Whillhem segera mengganti chanelnya.


"Fenomena tengah terjadi disini, hujan berwarna merah dengan bau amis darah tengah mengguyur tanah di Amerika!"


"Aneh ini sangat aneh, saat ini di Hamburg tengah terjadi fenomena aneh! Hujan berwarna merah dengan bau amis seperti darah!"


"Astaga! Berita itu benar! Lihatlah hujan ini!" Albara segera berteriak ketika melihat hujan yang turun dari jendela rumah.


Sungguh fenomena yang sangat aneh!


Tiding!


______________________________________


Peringatan!


Musuh mulai menginvasi duniamu!


Tahap awal dari bencana telah dimulai!


Berjuanglah pejuang! Bertahan hidup adalah prioritas!


______________________________________


Disaat yang sama bunyi pesan dari sistem menambah rasa ngeri bagi Harold.


'Bagaiman bisa, apa yang sebenarnya terjadi!'


'Invansi musuh? Tapi dimana, jika memang terjadi sebuah invansi oleh mahluk asing.'


'Seharusnya berita itu telah menyebar di stasiun TV!'


'Tapi tidak ada satupun berita tersebut, selain fenomena aneh hujan darah ini.'


"Apa inilah penyebab dari rasa ketidaknyamananku?" Harold tanpa sadar bertanya kepada Whillhem dan Albara.


"Perasaan ya?" Sambung Albara.


Tatap matanya terlihat fokus.


"Mungkin itu sebuah pesan."


(...)


Albara memperhatikan Harold cukup lama sebelum mengalihkan pandangannya kearah Whillhem.


"Tidak, mungkin lebih tepatnya sebuah peringatan!" Ucap Albara antusias.


Harold dan Whillhem mengalihkaj pandangan mereka ke arah Albara, ekspresi penasaran terlukis di wajah kedua pria itu.


Albara yang menyadari situasi tersebut, melanjutkan perkataannya dengan ekspresi tak bersalah.


"Ya, kurasa itu merupakan semacam peringatan dari kedua orang tua mu, karena kau telah lama menjomblo."


"Berapa lama itu, lima tahun?" Ucap Albara salah satu tangannya mengelus dagunya dengan salah satu tangan lainnya mengacak pinggang.


'Anak sialan!'


Harold ingin sekali menggampar sahabat di depannya dengan frying pan, hanya saja itu hanya membuang-buang tenaga miliknya.


"Hah, aku tidak menyangka kalimat tersebut akan keluar dari seorang jomblo akut."


"Yang bahkan tidak memiliki pacar sejak tahun pertama di SEKOLAH MENENGAH ATAS!" Ucap Harold dengan menekan kalimat sekolah menengah atas.


Sedangkan Whillhem dia terlihat kecewa karena telah mempercayai Albara.

__ADS_1


__ADS_2