
Di tengah fokusnya Harold memperhatikan berita, sebuah notif dari sistem kembali mengejutkan dirinya.
Tiding!
______________________________________
Misi telah tersedia!
Bunuh 100 Zombie (0/100)
Bunuh 3 Zombie Mutan tingkat dua (0/3)
Bertahan hidup dalam 6 bulan (0/184)
.
.
______________________________________
Selamat atas menyelasaikan pelatihan lima tahun yang diberikan!
Silahkan pejuang untuk mengambil hadiah
______________________________________
'Zombie? Bagaimana bisa?!'
Harold kembali terkejut ketika mendengar teriakan dari Albara.
"Astaga! Apa itu benar!? Hey, Harold lihat itu!?" Ucap Albara.
Sorot matanya melihatkan kalau dirinya sedang tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Harold segera memperhatikan ke arah yang ditunjuk oleh Albara, apa yang di lihatnya juga tak dapat di percaya olehnya.
Di situ, berita yang di sampaikan apa yang di siarkan di televisi merupakan sebuah video dimana segerombolan orang saling menyerang.
Awalnya kejadian tersebut bermula ketika pemerintah mencoba menyelamatkan sekelom orang yang pingsan setelah terkena hujan.
Para korban tersebut di bawa kesebuah area evakuasi, namun apa yang terjadi setelah beberapa saat para korban tersebut sadar dan segera menyerang pihak medis dan tentara disana.
Pesan yang baru saja di terimanya dari sistem bukanlah suatu kebohongan, apa yang akan terjadi telah terprediksi oleh sistem.
"Apa itu nyata?" Ucap Harold dengan nada tidak percaya.
Harold memutar matanya memperhatikan kedua orang itu, mencoba untuk memastikan apa yang dilihatnya.
Albara dan Whillhem segara mengangguk kecil kepada Harold untuk memberi jawaban dari pertanyaannya.
"Bukankah itu Zombie? Tuan muda?" Tanya Whillhem mencoba memastikan monster yang diperlihatkan oleh kubuh tipis di depan mereka.
"Ya, kau benar Whillhem." Ucap Harold.
Sikap yang ditunjukkan para korban tersebut sangat mirip dengan spesies yang baru saja dikatakan oleh Whillhem.
Namun anehnya setelah mendengar hal itu Albara tertawa dengan sedikit keras, ekspresi terlihat sedikit senang dan bahagia.
Tentu saja hal itu memberikan tanda tanya bagi Harold dan Whillhem, ekspresi yang dilihatkan oleh Albara samgatlah tidak wajar.
__ADS_1
Tertawa saat kau tau kau sedang ada dalam kiamat? Yah, namun disini Harold juga terlihat biasa saja, karena dirinya telah mengetahuinya sedikit lebih awal.
"Hey, apa maksudmu?" Tanya Harold penasaran dengan sikap Albara.
"Yah, aku hanya berpikir ini seperti komik-komik yang sering kita baca." Jelas Albara.
"Komik ya?"
Harold diam sejenak sambil memperhatikan situasi yang terjadi di dalam televisi, situasi yang sangat kacau.
Dimana para korban yang diserang zombie hanya manusia biasa, bahkan mereka tidak memiliki kesempatan untuk melawan dengan tangan kosong.
"Al, apa kau juga berpikir kalau mereka para zombie tersebut akan memberikan kristal zombie?" Tanya Harold.
Percakapan diantara dua pemuda tersebut cukup sulit di terima oleh Whillhem yang kurang pengetahuan mengenai pembicaraan mereka.
Mengenai zombie, dirinya pernah melihat hal seperti itu di dalam film. Namun apa itu kristal zombie dan kekuatan yang diterima setelah mengkonsumsi kristal tersebut tidak di ketahui oleh Whillhem.
"Ya, aku berharap seperti itu dan aku juga berharap setelah mengkonsumsinya kita akan mendapatkan kekuatan." Ucap Albara.
Tekad yang sangat kuat itulah yang bisa di jelaskan mengenai situasi Albara saat ini.
Namun, hal gila tidak berhenti di sana. Apa yang diucapkan oleh Harold selanjutnya membuat Whillhem terkejut sejadi-jadinya.
"Lalu bukankah sebaiknya kita bersiap untuk berburu?"
"Uhm, tuan muda. Apa kita tidak sebaiknya untuk melihat keadaan terlebih dahulu?" Tanya Whillhem.
'Melihat keadaan ya...'
"Apa yang dikatakan Whillhem benar, tapi sebelum itu sebaiknya kita pergi untuk memastikan keadaan rumah kita dalam keadaan aman terlebih dahulu." Ucap Harold, memberikan saran.
"Baik."
'Jika ini zombie, setidaknya keadaan rumah kami cukup aman.' Pikir Harold.
Selama lima tahun ini Harold tidak hanya fokus dalam memperkuat tubuhnya, namun juga mempersiapkan banyak hal salah satunya kemanan rumahnya.
Harold memperbaiki pagar rumahnya, memperkuat dan menambat tinggi pagar rumahnya. Serta Harold menanamkan duri-duri besi diatas pagar tersebut dengan dilapisi kawat berduri.
Sedangkan untuk pintu gerbangnya Harold telah mempersiapkan pertahanan berlapis, pagar yang terbuanh dari papan dengan dilapisi besi tebal.
Membuat pintu gerbang tersebut sangat kokoh, bahkan Harold juga menambahkan pintu gerbang dari trali besi dibelakang pintu gerbang besi.
'Baiklah semuanya telah aman.' Ucap Harold, setelah memastikan pintu dan jendela yang tertutup rapat.
Harold segera bergerak kembali keruang keluarga tempat sebelumnya mereka berkumpul.
Butuh sedikit waktu lebih lama sebelum Albara dan Whillhem kembali.
"Bagaimana?" Tanya Harold.
"Semuanya aman tuan muda."
"Begitu juga dengan sisiku."
Harold menghela nafas lega begitu juga dengan kedua orang tersebut.
"Seperti yang kita ketahui zombie sepertinya samgat peka terhadap suara." Ucap Harold.
__ADS_1
"Benar, akan sangat sulit untuk melawan mereka dengan senjata api." Balas Whillhem.
"Sepertinya kita membutuhkan pedang ataupun sejenisnya. Mengenai pedang sepertinya kita harus pergi kerumahku untuk mengambil pedang peninggalan keluargaku" Sambung Albara.
'Pedang ya? Cih, Albara sangat beruntung mendapatkan harta warisan yang sangat baik! Pedang dengan Rank B!' Pikir Harold sedikit kesal.
"Yah, itu tidak masalah." Balas Harold.
Sebenarnya ini merupakan sebuah kesempatan untuknya mengunjungi gudang harta keluarga Albara.
"Bagaimana denganmu Whillhem?" Tanya Albara.
"Aku tidak masalah." Ucapnya.
"Baiklah, selanjutnya adalah kelemahannya menurutku itu ada dikepala." Ucap Harold.
"Aku juga begitu, menurutku virus menggunakan otak sebagai mediasinya." Sambung Harold.
"Aku tidak mempermasalahkan itu, selain itu kita juga memiliki cukup banyak persediaan untuk beberapa bulan kedepan bahkan setahun." Jelas Whillhem.
Walaupun Whillhem kurang mengetahui banyak informasi mengenai zombie, namun dirinya cerdas!
Inilah yang bisa membuatnya bisa menyesuaikan diri dengan sangat cepat terhadap kondisi di sekitarnya.
"Setahun?" Tanya Albara tak percaya.
Sorot mata Albara mengarah kepada Harold mencoba untuk meminta penjelasannya.
"Yah, bilang saja itu insting yang aku terima setelah mendapat rasa khawatir itu." Jawab Harold dengan santai mengangkat kedua tangannya.
'Ugh, apa itu yang dinamakan insting seorang jenius!?' Pikir Albara.
"Sepertinya yang hanya perlu kita ketahui adalah bagaimana keadaannya diluar sana, benarkan Whillhem?" Tanya Harold.
"Benar tuan muda, walaupun kita bisa menggunakan pedang dengan samgat baik."
"Namun kita tidak mengetahui jumlah pastinya, dan yang lebih penting stamina kita terbatas." Jelas Whillhem.
"Jadi kita butuh rencana." Jawab Albara.
"Benar, kita butuh rencana. Pertama untuk senjata kita sangat beruntung karena aku memiliki beberapa."
"Dan aku memiliki sebuah ide, aku tidak tau apa kalian mau mendengarkannya atau tidak." Ucap Harold.
"Apa kau perlu bertanya lagi?" Jawab Albara.
"Saya mengikuti tuan muda." Jawab Whillhem.
Harold tersenyum sekilas setelah mendengarkan jawaban singkat dari dua orang tersebut.
"Pertama kita harus memastikan tentang kristal zombie, karena itulah kita perlu sangat berhati-hati dalam bergerak."
"Jika kristal zombi nyata, langkah kita selanjutnya adalah berburu zombi. Kita bisa saja langsung pergi menuje kerumah Al."
"Hanya saja akan sangat berbahaya, mengingat jarak dan kita tidak mengetahui apakah ada musuh lain diluar sana."
"Selain itu kita juga harus membiasakan diri dengan kekuatan yang kita dapat."
"Namun jika semua itu tidak nyata jalan satu-satunya kita hanya bisa bergerak sangat lambat, atau menggunakan kendaraan dan memancing lebih banyak zombie."
__ADS_1
"Bagaimana?" Tanya Harold.
Tak diragukan dari mereka berdua, setelah mendengarkan rencana Harold, Albara dan Whillhem segera menyetujuinya.