System Apocalipse

System Apocalipse
4. Lima Tahun (4)


__ADS_3

Harold mengotak-atik sistem yang dimilikinya, pasalnya sebelum melakukan percakapan panjang Harold mendapatkan sebuah notifikasi yang belum sempat diperiksanya.


______________________________________


Selamat atas menyelasaikan pelatihan lima tahun yang diberikan!


Silahkan pejuang untuk mengambil salah satu hadiah


______________________________________


Tiga buah kotak berwarna hitam dengan tanda tanya di masing sisinya tepat berada di bawah ucapan selamat.


Sorot mata Harold tidak bisa lepas dari ketiga buah kotak tersebut.


'Hanya bisa memilih satu diantara tiga, berarti aku hanya bisa berharap pada keberuntungan!'


"Cih, sial."


Berharap keberuntungan berada di pihaknya, dengan penuh keyakinan Harold menekan kotak yang berada tepat ditengah.


______________________________________


Selamat kepada pejuang!


Anda mendapatkan kemampuan baru! Racun!


Anda sekarang akan menjadi seorang ahli racun!


______________________________________


Hentah bagaimana untuk menjelaskan ekspresi Harold saat ini, racun memang kemampuan yang berbaya namun Harold meragukan kalau itu efektif melawan zombie.


"Racunkah?" Ucap Harold.


'Lalu aku hanya bisa berharap.' Pikir Harold lemah.


Harold mengambil dua buah pedang dan beberapa belati dari ruangan rahasianya.


Tak banyak barang seperti itu yang dimiliki oleh Harold karena harganya yang relatif mahal.


Harold juga mengambil beberapa senjata api berupa pistol untuk pegangan jika terjadi sesuatu diluar kendali.


Semua barang itu diletakan di atas kain yang sudah di bentang sebelumnya, Harold menata dengan cukup rapi agar bisa masuk.


Lalu mengikatnya dengan cukup kencang, memastikan semua barang sudah di masukan Harold bergegas kembali menuju ruang berkumpul sebelumnya.


Nguuuuuuuuuuung


Suara alram yang sangat keras menggema di setiap sudut kota, alram berbunyi tiga kali berturut-turut. Alram tersebut tidak bukan selain sebuah peringatan kalau saat ini negara mereka tengah mengalami bencana tingkat nasional.


Namun cukup aneh menyebutnya bencana tingkat nasional di saat seluruh dunia dilanda kekacauan.


"Kalian berdua gunakanlah pedang itu, aku akan menggunakan belati." Ucap Harold, ketika meletakkan kain yang membalut semua senjata.


"Oh, dan menurutku sebaiknya masing-masing dari kita harus memegang satu pistol." Sambung Harold.


Whillhem terlihat tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Harold dan memutuskan untuk bertanya.

__ADS_1


"Bukankah tuan muda bilang kalau zombie peke terhadap suara?" Tanya Harold.


"Ya itu memang benar, namun menurutku apa yang dikatakan Harold ada benarnya."


"Kita tidak tau apa yang terjadi di luar sana, lebih baik sedia payung sebelum hujan bukan?" Jawab Albara sambil melirik kearah Harold.


"Baguslah, aku tidak perlu repot menjelaskannya. Dan sebelum kita keluar aku akan mengingatkan kalian dunia telah berubah apapun yang terjadi di luar."


"Hukum dunia sudah tidak berlaku lagi, jadi jangan menahan diri. Jika musuh berniat membunuh kita, kota juga harus melakukan hal yang sama. Jangan naif!" Ucap Harold.


Albara menganggukan kepalanya dia mengerti apa yang dikatakan oleh Harold, begitu juga dengan Whillhem jika hukum sudah tidak berlaku lagi.


Maka kekuatanlah yang akan menjadi keadilan!


•••


"Bagaimana?" Tanya Harold.


Ketiga pria tersebut saat ini sedang mengintai area disekitar rumah Harold.


Menggunakan pakaian yang kasual biasa yang sangat efisien dipakai saat bertarung.


Albara dan Whillhem terlihat samgat berbeda dengan sebuah pedang tergantung di pinggang mereka dengan sebuah belati yang tergantung di paha di sisi lain kakinya.


"Mereka tidak banyak namun cukup menyusahkan, setidaknya ada enam zombie di sisi selatan rumah." Ucap Albara.


"Benar, begitu juga dengan sisi timur lebih sedikit dari sisi selatan hanya saja mereka terlihat sedang berkumpul." Ucap Whillhem.


"Disisi utara aman hanya saja di barat ada tiga zombie anak-anak."


"Sepertinya mereka kebetulan sedang berada di luar saat bencana terjadi." Ucap Harold.


"Lalu sisi mana yang akan kita serang?" Tanya Albara.


"Menurut jumlah dan tingkat kesulitannya, sisi barat akan menjadi pilihan. Tapi apakah kalian sanggup menahan tekanan mental?" Tanya Harold.


Pertanyaan yang sangat wajar saat kau diharuskan membunuh untuk pertama kali.


'Aku tidak yakin apakah mereka bisa, apalagi zombie disana adalag zombie anak kecil.' Pikir Harold.


Namun, apa yamg dipikirkannya sedikit berbelok setelah mendengar jawabam dari kedua pria itu.


"Aku sih tidak apa, lagian pintu gerbang tepat berada di utara. Tapi bagaimana denganmu Whillhem?" Tanya Albara.


Whillhem terlihat sedikit termenung, pilihan yang sangat susah disaat kau berharap memiliki anak namun kau malah berakhir memmbunuh anak kecil.


"Aku juga tidak apa, mereka hanyalah mayat hidup." Jawab Whillhem tegas, matanya terlihat sangat semangat?


Setelah menyusun rencana sebentar tanpa pikir panjang mereka segera bergegas menuju gerbang di utara.


Albara memimpin di barisan paling depan dengan dikuti Whillhem dan Harold yang tengah membawa tangga besi.


"Sesuai rencana, Albara kau yang pertama keluar dan pastikan aman." Ucap Harold.


"Baik."


Whillhem dan Albara bekerja sama dengan sangat baik membuka pagar besi pertama dengan pelan.

__ADS_1


Membuka kunci di pagar terakhir dengan perlahan agar tidak ada suara yang ditimbulkan, akan sangat berbahaya jika ada zombie yang tidak diperhitungkan berada di sisi mereka.


Albara melihat Whillhem dan melakukan anggukan kecil, memberikan sebuah kode untuk bersiap.


Salah satu pintu gerbang dibuka dengan perlahan sangat perlahan, ketika lebar telah sesuai Albara segera keluar dari dari gerbang.


'Aku sedikit gugup, tapi kami harus melakukan ini.' Pikir Albara.


Albara melangkahkan kaki pertamanya di luar gerbang, memperhatikan sekitar dengan teliti sangat teliti.


'Berjalan dengan lancar, bagus!' Pikir Albara.


Memastikan semua aman, Albara mengetuk pelan pintu gerban di belakangnya memberikan kode kepada Whillhem.


Mendengar kode tersebut Whillhem memandang Harold dan mengucapkan sebuah kalimat.


"Tuan muda, aku duluan berhati-hatilah tuan muda." Ucap Harold dengan sedikit cemas.


Mendengar perkataan Whillhem yang mengkhawatirkan dirinya, Harold tersenyum ramah dan menganggukan kecil.


Memastikan mereka telah keluar dengan aman, Harold segera mengunci pintu gerbang yang telah di buka sebelumnya.


Memastikan gerbang yang telah kembali pada posisi awalnya, Harold segera menaiki tangga yang telah di bawanya.


Sedikit susah bagi Harold dengan adanya kawat besi di dekatnta, Harold terpaksa harus sangat berhati-hati.


Memanjat gerbang yang kokoh disebelahnya dengan pelan-pelan.


Puuup


Harold berhasil keluar dengan aman, wajah Whillhem terlihat sangat cerah.


"Ayo bergerak." Ucap Harold, memberi perintah kepada dua orang di depannya.


Mereka berlari perlahan menuju sisi barat dari rumah Harold, berlari dengan terus memperhatikan keadaan sekitarnya dengan terus memegang pedang di tangan mereka.


Tidak jauh untuk mereka menuju tempat yang dimaksudkan setelah keluar dari gerbang.


'Suasana ini... Suasana yang sangat sunyi ini sangat berbahaya.'


'Semoga saja tidak terjadi apa-apa.' Pikir Harold cemas.


Roaar!


Erangan yang cukup keras terdengar dari sisi sebelah kanan mereka, seseorang pria zombie tengah berlari kearah mereka.


Ketiga orang itu sedikit terkejut zombie yang satu ini berada di luar perkiraan mereka.


'Ugh, sial!' Kesal Harold.


Harold yang sedikit kesal dengan zombie di depannya berlari menuju zombie tersebut.


Di saat jarak mereka cukup dekat Harold melayangkan sebuah tendangan kearah depan dengan sangat keras.


Buuuk.


Zombie yang terkena tendangan Harold terpental kebelakang, mendapatkan kesempatan Harold mengambil kedua belatinya yang tergantung di pahanya.

__ADS_1


Harold segera menikan leher zombie yang terjatuh, serangan tidak berhenti di situ Harold kembali melayang serangan menusuk di wajah zombie hingga beberapa kali sebelum zombie mati tak berdaya.


Darah menyemprot keluar mengenai baju yang tengah di pakai oleh Harold.


__ADS_2