
Markas penyihir hitam, sekarang sedang terjadi pertenpuran besar besaran. Seperti yabg Ren duga sebelumnya kalau mereka akan dengan mudah ketahuan oleh musuh jika pergi bersama.
Seperti yang dibicarakan sebelumnya End dan @Silent Assasin Boy menahan musuh yang menghalangi mereka, Ariella sementara mengikuti Ren dan juga Abi.
Ketika Ren, Abi dan Ariella hendak menuju ke pintu ruang bawah tanah, mereka dihadang oleh sekelompok orang berjubah hitam.
"Kalian berani beraninya menyusup ke markas kami"
Salah satu diantara mereka berteriak marah ke Ren dan yang lainnya.
Abi dengan berani maju kedepan, dia menyuruh Ren dan Ariella untuk pergi duluan.
"Saya akan melawan mereka semua, anda bisa pergi dan menyelamatkan tuan putri" Abi
Ren melihat sebentar sebelum mengangguk, dia mengajak Ariella pergi
"Ayo Ariella, aku mengandalkanmu Abi" Ren
"Ingin pergi dari kami? jangan harap!"
Salah satu dari mereka melemparkan sihir kearah Ren, tapi dengan sigap Abi menghalang sihir tersebut.
"Tolong pergi sekarang, saya akan mengurus mereka semua" Abi
Ren dan Ariella langsung pergi dan meninggalkan Abi sendiri mengurus para orang berjubah.
Abi menasang muka serius, dia tidak mau gegabah dalam menghadapi mereka semua. Baginya yang seorang ksatria, dangat sulit untuk melawan seorang penyihir, apalagi sekarang jumlah mereka ada banyak.
"Menyuruh Teman temanmu pergi sementara kau bertarung sendiri, kau benar benar ingin mati!"
"Asalkan tuan putri bisa diselamatkan dengan cepat, saya tidak peduli walau harus mengorbankan diri" Abi
"Ck, keras kepala sekali, rasakan ini, Black Bullet!"
...
Ren dan Ariella sudah sampai di pintu ruang bawah tanah yang diberitahukan oleh @Silent Assasin Boy.
Mereka sekarang sedang melawan dua orang penjaga pintu.
"Fox's Claw" Ren
*Slash
Ren terus merobek penjaga yang dia lawan tanpa memberikan perlawanan sedikitpun.
"Black Flames"
Ren langsung meninju dadanya hingga menembusnya membuat lawannya tewas seketika.
Setelah itu Ren melihat apakah Ariella sudah selesai apa belum.
"Apa kau sudah selesai-" Ren
Sebelum menyelesaikan perkataannya Ren mengangkat alisnya melihat kalau Ariella sudah membunuh lawannya.
Terlihat Ariella dari tadi sedang menontonnya sambil menginjak sebuah kepala. Ya kepala itu adalah kepala dari orang yang dilawannya.
"Hanya untuk mengurus serangga lemah ini kau membutuhkan waktu lama, betapa lemahnya" Ariella
Ren hanya menghela nafasnya.
"Mau bagaimana lagi, aku adalah yang terlemah di grup." Ren
Ren akui bahwa dirinya sangat lemah, untuk membunuh satu otang saja dia menbutuhkan tenaga lebih.
Berbeda dengan Ariella yang sangat kuat hingga bisa memenggal kepala seseorang dengan tebasan ringan bahkan membelah apa saja yang ada dibelakangnya.
Itu juga penyebab End harus mengeluarkan hampir seluruh kekuatannya untuk menahan serangan Ariella yang sedang marah saat itu.
"Kita masuk sekarang." Ren
Untuk mencapai ruang bawah tanah Ren dan Ariella harus menuruni anak tangga terlebih dahulu.
Setelah itu dilanjutkan lagi menyusuri lorong yang ada disana. Hingga mereka sampai di ruangan yang sangat luas yang disekelilingnya terdapat penjara dan satu jalan lagi.
"Kita sampai?" Ariella
"Sepertinya begitu" Ren
Suasana disana sangat senyap, tidak ada suara apapun yang terdengar kecuali suara langkah kaki mereka dan tetesan air.
"Rasanya agak familiar dengan suasana ini" Ariella sambil memejamkan matanya.
Tiba tiba Ariella membuka matanya dan memberi peringatan pada Ren.
"Di atasmu!!!" teriak Ariella
Langsung tanpa basa basi Ren melompat setelah mendengar peringatan dari Ariella. Dia tergeser beberapa meter kebelakang.
Ditempat Ren tadi berdiri kepulan asap menutup penglihatan karena sesuatu yang jatuh dari atas.
"Tidak kusangka, kau menyadariku"
Dari dalam asap terdengar suara yang sangat indah dan lembut. Perlahan asap mulai menghilang menampakan sesosok gadi berusia 17 tahunan sedang berdiri disana dengan anggun.
"Kalian tahu, ini adalah tempat terlarang tidak seharusnya kalian disini."
Ren terlihat agak panik dan waspada, aura orang didepannya bukan main main, mungkin jika dia melawannya kecil kemungkinan untuk menang.
Berbeda dengan Ren, ratu tirani kita malah menyeringai, akhirnya ada lawan yang pantas untuknya.
Dia mengeluarkan sebuah pedang, hanya pedang biasa dan mengacungkannya kepada gadis didepannya.
"Kau yang disana, ayo kita bertarung!" Ariella dengan semangat
Gadis tersebut mengerutkan keningnya, orang didepannya bukannya panik dan ketakutan justru malah senang.
"Oy lebih baik kau lanjutkan mencari nya dari pada hanya menjadi beban disini, biar aku disini bertarung dengan boneka kecil ini" Ariella
Boneka yang dimaksudnya adalah gadis itu, Ariella memiliki kebiasan menyebut orang yang akan bertarung dengannya boneka.
Dia menggap mereka semua adalah boneka latihan saja untuk membuatnya lebih kuat.
Ren yang disuruh pergi mengangguk dan setelah itu lanjut pergi.
"Baiklah, sekarang tidak ada yang bisa mengganggu pertarungan kita" Ariella dingin
Gadis itu tersenyum kecik dan menatap Ariella seperti orang bodoh.
"Menurutmu begitu? Tapi tidak menurutku, Keluarlah!!"
Dari dalam tanah kemudian keluar beberapa mayat hidup dengan aura kematian yang sangat pekat.
Masing masing diantara mereka semua hampir setara dengan Abi. Ariella tiba tiba mengerutkan keningnya, tapi itu tidak membuat dirinya gentar.
Sudah tidak terhitung berapa situasi yang telah di lewatinya, menambah satu lagi bukan masalah kan.
"Ck, apa kau pikir dengan jumlah kau bisa menang dari ratu ini?" Ariella dingin
"Aku tidak berpikir bisa menang, tapi aku memiliki dugaan kalau kemungkinan besar aku akan menang."
"Hahaha teruslah bermimpi !"Ariella dingin
...
"Black Flame!!!" Ren
*Boom
Ledakan tersebut membuat Ren terhempas kebelakang beberapa meter.
Ren sekarang sudah sampai ditempat tuan putri ditahan. Namun dia di hadang oleh seseorang saat akan menghampiri penjaranya.
"Hey kami sudah sudah payah menangkapnya, kenapa kau ingin melepaskannya."
Orang didepannya sepertinya adalah seorang penyihir hitam.
"System analisis" gumam Ren
[Ding, melakukan pemindaian]
[Nama: Balbaros
Ras: Demon
Rank: B ]
Alis Ren berkedut, minim sekali informasi yang diberikan system, kiranya system akan memberikan informasi semuanya trrmasuk kemampuan apa saja yang dimiliki.
Topeng yang kenakan Ren pindahkan ke samping kepalanya, menunjukan wajah tampan yang terlihat serius.
"Oh seorang pria tampan? Apakah ini mirip seperti kisah seorang pangeran yang menyelamatkan tuan putri?"
Ren diam saja tidak menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
"Membosankan, kenapa kau hanya diam saja? Kau ingin bertarung?"
Masih tidak mendapat jawaban, Ren terus saja memasang sikap waspada. Kemampuan lawannya tidak bisa diremehkan, apalagi dengan rank nya yang sangat tinggi.
"Berhenti basa basi" Ren dingin
Ekpresi iblis didepannya langsung berubah, dia menoleh kearah Ren. Secara tiba tiba dia langsung menghilang dari tempatnya.
Melihat hal tersebut Ren membelakan matanya terkejut, saat itu terdengar suara peringatan system.
[Peringatan!!! Bahaya datang dari arah belakang]
Ren berbalik, namun belum sempat dia melihat tiba tiba sebuah pukulan mendarat diperutnya membuat dia terhempas.
Ren berguling guling ditanah, dia memuntahkan seteguk darah dari mulutnya.
"Sial, belum apa apa dan aku sudah terluka parah." Ren lemas
Karena satu pukulan tadi, membuat Ren terluka dan memuntahkan darah. Wajar saja jika dia terluka karena serangan tersebut, perbedaan kekuatannya sudah jelas terlalu jauh.
"Hanya karena serangan lemah, kau langsung menjadi seperti ini? Bagaimana jika aku mengeluarkan seluruh kekuatanku, bukankah kau akan mati"
Dengan susah payah Ren bangkit, beberapa bola api hitam mengelilinginya. Iblis didepannya mengangkat alisnya.
"Tidak kusangka kau ternyata mempunyai kemampuan untuk mengendalikan api hitam"
Iblis tersebut takjub dengan kemampuan Ren, didunia ini dikisahkan bahwa api hitam adalah api milik penguasa neraka.
Iblis tersebut jadi berpikir apakah Ren adalah reinkarnasi penguasa neraka atau bukan, dugaannya juga diperkuat saat melihat Ren bukan seorang manusia.
Memang benar Ren bisa dikatakan bukan seorang manusia dengan darah Fox mengalir didarahnya.
'Aku tidak boleh ceroboh lagi, jika satu kesalahan dilakukan maka nyawa melayang hasilnya' batin Ren
"Tembak!" Ren
Bola api yang mengelilinginya tadi langsung Ren lempar ke iblis didepannya.
"Sayang sekali, serangan lambat seperti itu tidak ada gunanya"
Dia menghindari semua serangan Ren dengan santai dan memejamkan matanya.
Tanpa dia sadari Ren telah menuju kearahnya dengan tangan diselimuti api hitam. Tidak menyia nyiakan kesempatan saat lawannya lengah.
Sebuah serangan ia daratkan didagu iblis tersebut membuatnya terlempar beberapa meter.
"Hahaha, kau cukup pintar juga yah"
Iblis memuji kepintaran Ren dalam menghadapinya, tapi hal yang Ren tidak sadari adalah ekpresi iblis tersebut seperti sedang menahan rasa sakit.
Luka bakar dari serangan Ren sangat berpengaruh, jika saja bukan karena kemampuan api hitam Ren tidak akan bisa melukainya.
Ren berniat memberi iblis tersebut serangan lagi, tapi dengan mudah dihindari. Iblis tersebut menghilang dari tempatnya dan muncul lagi tidak jauh didepan Ren.
Ren kemudian membuat sebuah bola api hitam yang besar, lalu dia melemparkannya.
*Booommmm
Ledakan besar terjadi, ruangan bergetar karena ledakan tersebut. Tempat ledakan hancur dan hangus.
Ren melihat sekeliling mencoba mencari dimana keberadaan lawannya.
*Bugh
Sebuah serangan mendarat di pipi Ren, membuatnya terpental dan menabrak tembok.
"Arghh... " Ren kesakitan
Lawannya muncul kembali didepannya dan memberika serangan dengan lututnya tepat diperutnya.
Ren kesakitan dan merasa akan memuntahkan sesuatu lagi.
'Apa aku harus memakai kemampuan itu lagi?' batin Ren
[Ding, disarankan host memakai kemampuan tersebut]
'Benar akan kugunakan kemampuan itu' Ren
"Kenapa menatapku seperti itu, apa kau sudah menyerah?"
"Nine.. Tailed.. Fox" gumam Ren
Aura Ren langsung meledak, iblis didepannya membelakang matanya dan terburu buru mundur kebelakang.
Ren bangkit, penampilannya sudah berubah, ada sembilan ekor dibelakangnya, telinga rubah dikepalanya.
Ekpresinya menjadi sangat serius, rubah ekor sembilan adalah monster legenda, dikatakan satu serangan kecilnya dapat menghancurkan kota yang sangat besar.
"Kita mulai lagi pertarungannya" Ren dingin
Sorot matanya sangst dingin saat menatap iblis didepannya. Aura Ren semakin mencekam membuat dia agak ketakutan.
Mereka berdua saling menatap dalam diam. Detik berikutnya merek tiba tiba menghilang.
Situasi saat ini sangat menegangkan, mereka berdua terus bertukar serangan dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat oleh mata telanjang.
Hanya terlihat sebuah bayangan yang saling beradu disana.
"Black Flames!" Ren
*Boom
Ledakn terus terusan terjadi saat mereka saling beradu. Tidak ada yang mau mengalah dari keduanya.
'System berapa lama aku akan bisa mempertahankan wujud ini?' batin Ren sambil terus menerus bertukar serangan.
[Ding, diperkirakan host bisa mempertahankannya sekitar 30 menit]
'Bagus, aku harus menyelesaikan ini sebelum mencapai batas' batin Ren
Ren mundur terlebih dahulu kebelakang, dia akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengakhiri pertarungan.
Kekuatan Ren dipusatkan di tangan kanannya, iblis yang melihat itu menduga Ren akan mengakhirinya dengan satu serangan jadi dia juga ikut menyiapkan serangannya.
"Kita akhiri" Ren dingin
"Aku setuju"
Mereka kemudian saling beradu serangan.
*Booommmm
Ledakan dahsyat terjadi, ruangan menjadi berantakan dan hancur, asap asap bertebaran menutupi penglihatan.
Sekarang didalam asap terlihat bayangan dua orang, salah satunya terlihat menusuk dada yang lainnya.
Asap perlahan menghilang, sekarang terlihat jelas siapa yang menang diantara mereka berdua.
"Ukh.. Tidak kusangka, aku kalah"
Iblis memuntahkan seteguk darah, dia kemudian tumbang dan mati.
Ren sekarang sedang mengatur pernapasannya yang terengah engah, pertarungan tadi menguras hampir seluruh staminanya.
Dirinya kemudian teringat sesuatu, buru buru melihat ke sekeliling. Dia menemukan satu penjara yang masih utuh.
Didalam penjara tersebut, ada seorang gadis yang sangat cantik sedang meringkuk ketakutan sambil menangis.
"Untunglah, dia masih aman, ajaib juga penjaranya masih utuh" Ren lega
[Ding, sebelum host memulai pertarungan, system sudah memasang sebuah penghalang yang melindungi target misi.
System sudah memprediksi kerusakan yang akan ditimbulkan oleh host]
"Jadi begitu, tidak heran kenapa dia masih aman" Ren
Dia kemudian menekati penjara tersebut. Gadis yang didalam merasakan seseorang mendekat menjadi sangat ketakutan, badannya bergetar, dan air matanya jatuh.
"Hey, tenanglah, aku disini untuk menyelamatkanmu" Ren dengan lembut
Dengan takut takut gadis itu melihat Ren, ketika dia melihat wajah Ren dia terpana dan terpesona.
Topeng miliknya hancur saat melawan iblis sebelumnya, jadi ketampanan Ren sekarang terekspos.
Air matanya berhenti mengalir, pipinya agak memerah. Dalam penglihatan gadis tersebut Ren terlihat seperti sesosok pangeran yang menyelamatkan tuan putri.
"B-benarkah?"
"Um, benar, aku tidak sendiri masih ada teman temanku di atas."
Tanpa aba aba Ren langsung menggendongnya ala bridal style.
"Kyaa!!"
Gadis tersebut menjadi sangat malu karena digendong oleh Ren, wajahnya menjadi merah, dia langsung menyembunyikan wajahnya di dada Ren.
__ADS_1
Getaran kemudian terjadi ditempat Ren.
[Ding, ruang bawah tanah akan segera runtuh, harap segera keluar]
"Baiklah, tuan putri kita akan pergi dari sini" Ren
Kemudian Ren pergi dari sana dengan cepat, setelah Ren pergi ruangan tersebut perlahan lahan runtuh.
....
Ratu tirani masih melawan musuhnya sekarang, dia terlihat bermain main dengan lawannya.
"Ck, kukira kau sangat kuat, ternyata hanya mengandalkan mayat mayat ini saja" Ariella merendahkan
"Kau pikir aku ini cukup bodoh untuk melawanmu langsung?"
"Tidak juga, kurasa." Ariella sambil tersenyum kecil
Dari tadi Ariella hanya melawan mayat mayat yang dikeluarkan oleh musuhnya, sesekali dia juga menghancurkan sihir yang diarahkan kepadanya olehnya.
Karen sudah bosan dengan pertarungan ini, pedang ditangannya berubah dari pedang biasa menjadi pedang yang dilapisi api biru.
Dengan satu tebasan, mayat mayat didepannya langsung terbelah dan terbakar menjadi abu.
Setelah itu Ariella langsung menendang dagu musuhnya dengan cepat tanpa membiarkan dia melawan.
Tendangannya membuat dia terlempar ke atas, belum cukup disitu Ariella melakukan tebasan berbentuk x.
Karena tebasannya bagian atas ruangan menjadi berlubag memperlihatkan sebuah jalan.
"Ternyata kau sekuat ini, tidak kusangka"
Keadaan musuhnya sekarang sudah sangat mengenaskan, pakaiannya terbakar memperlihatkan lekukan tubuhnya yang indah.
Tangan kirinya terputus oleh tebasan tadi, ditambah dengan luka luka yang lainnya membuat dia jadi memprihatinkan.
"Ini masih secuil dari kekuatanku, kau masih kurang pantas untuk melihat kekuatan ratu ini." Ariella
"Kurasa begitu..."
Dia langdung mati setelah mengatakan hal tersebut. Ariella menatapnya dengan bosan, dia melihat sekeliling, tempat dia bertarung sekarang penuh kobaran api akibat dari serangan pedangnya.
"Disini sudah selesai, dia juga mungkin sudah menyelamatkan putri bodoh itu" Ariella
Matanya melihat lubang diatas yang dia buat sebelumnya.
"Lebih baik aku kembali" Ariella
Dia melompat tinggi hingga masuk kelubang yang dia buat. Setelah mendarat keatas dia melihat ke sekeliling.
Tempatnya sekarang adalah jalan menuju pintu ruang bawah tanah. Ariella kemudian memutuskan untuk kembali ke altar tempat dimana End dan @Silent Assasin Boy berada.
Secara kebetulan juga saat pergi kesana Ariella menemukan Abi yang saat ini sedang duduk dan bersandar ketembok. Disekeliling nya terdapat mayat mayat orang berjubah hitam.
Matanya tertutup, kondisinya venar bebar memprihatinkan armornya rusak, pakaiannya sobek, sudut bibirnya mengeluarkan darah, kepalanya juga mengalir darah.
Merasakan ada seseorang dia membuka matanya perlahan.
"Nona Ariella... Apakah tuan putri... Selamat?" Abi bertanya dengan lemah
"Kemungkinan besar dia selamat" Ariella
"Syukurlah kalau... Begitu"
Ariella melihat mayat mayat disekelilingnya.
"Kau cukup tangguh juga, untuk orang setingkat denganmu mungkin akan mati ketika menghadapi mereka semua, tapi kau malah menang namun dalam keadaan sekarat"
Mendengar pujian tersebut, Abi tersenyum lemah.
"Terima kasih... Pujiannya, saya sudah... Berjuang sekuat... Tenaga" Abi dengan lemah
"Kau pantas menerima pujian dari ratu ini dan kau juga adalah orang paling beruntung karena menerima pujian ratu ini." Ariella
Ariella kemudian mengulurkan tangannya, cahaya hijau muncul ditangannya.
Abi merasakan perasaan hangat, secara bertahap luka yang dialaminya sembuh. Sayangnya yang sembuh hanya luka ringannya.
"Berdirilah, kita akan kembali menemui anggota lain"
Abi mengangguk, dengan susah payah dia bangkit. Ariella langsung pergi dengan Abi yang mengikuti dibelakangnya.
...
Ditempat End dan @Silent Assasin Boy, mereka kini sedang duduk diam di altar, mereka juga sudah selesai dengan pertarungan mereka.
"Wah tadi seru sekali, sudah lama aku tidak bertarung melawan banyak orang sekaligus" End bahagia
Musuh yang mereka lawan berjumlah ratusan orang, dan ada beberapa orang kuat juga yang muncul.
Penampilan mereka berdua sekarang sedikit menyeramkan, baju mereka terkena banyak sekali noda darah, wajah End juga terdapat noda darah dari samping dagu ke pipinya.
Sedangkan @Silent Assasin Boy, senjatanya berlumuran darah yang belum kering.
End kemudian melihat Ariella dan Abi yang baru sampai kesini.
"Kalian berdua, apa tugas sudah selesai?" End penasaran
Ariella mengangguk, dia menyilangkan tangannya didepannya.
"Lalu dimana ketua sekarang?" End
Tidak ada yang menjawab, mereka tidak tahu sekarang dia ada dimana.
"Bukankah ketua sudah kembali?" Ariella bingung
"Sejak kapan?" End
Ariella terdiam, sebelumnya waktu bertarung dia berpikir Ren sudah kembali, tapi sekarang masih belum.
Kebetulan Ariella merasakan aura yang akrab mendekat, kemudian dia berbalik kebelakang melihat seorang pemuda tampan dengan telinga rubah dan ekor sembilan sedang menggendong seorang gadis.
"Tuan putri!" Abi
Gadis dalam gendongan pemuda tersebut kemudian menoleh dan menemukan orang yang dia kenali.
"Abi!!"
Pemuda tersebut langsung menurunkan gadis tersebut, membiarkan mereka bereuni.
"Apa kau ketua?" End
Pemuda tersebut melihat End tersenyum.
"Siapa lagi kalau bukan aku" Ren
"Tidak kusangka kau ternyata sangat tampan" End takjub
Sekarang semua orang sudah mengenali wajah Ren. Dia tidak mempermasalahkan jika wajahnya hanya dikenali oleh anggota grup saja.
"Percuma saja kau tampan, jika kau sangat lemat" Ariella
Ratu tirani ini meledek Ren, namun tanpa disadari semua orang pipinya memerah samar samar.
"Yah, mau bagaimana lagi" Ren pasrah
"Jangan begitu ketua, aku yakin kau akan menjadi kuat nanti" End menyemangati sambil tersenyum.
Ren juga ikut tersenyum, melihat End menyemangatinya.
"Hahaha kau benar, suatu hari aku akan menjadi kuat, bersama dengan kalian semua" Ren
Semua orang tersenyum kecuali @Silent Assasin Boy yang masih bewajah datar memperhatikan interaksi semua orang.
Mereka kemudian pergi keluar dari markas penyihir hitam.
Hal tidak terduga terjadi saat mereka keluar, yaitu Ren sudah mencapai batasnya. Dia berteriak kesakitan, End, Abi, dan tuan putri menjadi khawatir dengan keadaan ketua mereka.
Sedangkan Ariella dia masih bersikap biasa saja, karena dia tahu kemungkinan besar itu adalah efek samping dari wujudnya.
Tidak lama kemudian Ren langsung pingsan ditempatnya. Tuan putri, End, dan Abi menjadi lebih khawatir.
Namun semua kekhawatiran itu sirna setelah Ariella menjelaskan yang terjadi.
Mereka kemudian membawa Ren yang pingsan kembali ke istana.
...ΩΩΩ...
***Sebelumnya ada yang komen nih ama thor, kalau MC nya itu gk guna dan systemnya gitu gitu aja.
Sekarang thor disini mau jelasin, emang sekarang MC tidak terlalu berguna karena lemahnya kekuatannya, tapi seiring berjalannya waktu si MC bakal tambah kuat.
Terus untuk system milik MC, thor emang seting kaya gitu. System milik MC itu hanya sebagai pendamping dari MC dengan beberapa kelebihannya, tidak bisa membuat MC kuat secara instan.
Jika MC ingin kuat, ya harus berlatih dan dapatin poin, tapi dapatin poinnya kan susah ya mau gimana lagi. Jadi mohon maaf ya, jika system nya tidak sesuai yang anda harapkan.
__ADS_1
Segitu aja yang thor ingin bilang***.
\=>Jangan Lupa Like dan bintang 5 nya