
Ren dan kelompoknya sekarang sudah sampai di istana. Ketika masuk kekota tadi ada sedikit kendala tapi masih bisa dibereskan oleh Abi.
"End, kau bilang bisa menemukan tuan putri kan?" Ren
Saat ditanyai End dengan santai menjawab sambil menletakan kedua tangannya di belakang kepala.
"Benar, aku bisa saja menemukannya dengan kekuatan milikku, adapun caranya, kalian akan tahu nanti."
Untuk sekarang mereka semua akan menemui raja kerajaan terlebih dahulu. Mereka semua di pandu oleh Abi ke ruang singgahsana.
"Hey Abi kenapa kita harus menemui raja terlebih dahulu?" End
Dengan sopan Abi menjawab pertanyaannya.
"Kita akan meminta ijin kepada yang mulia terlebih dahulu." Abi
"Sungguh? Kenapa juga kita harus meminta ijinnya, kita bisa langsung pergi ketenpat dimana terakhir kali tuan putrimu diculik kan?" Ariella
"Memang benar kita bisa langsung kesana, tapi saya harus memberitahukan kepulangan saya terlebih dahulu." Abi
Mereka sampai di ruang singgahsana. Mereka masuk kedalam dan menghadap sang raja.
"Abi apakah mereka kealan yang kau maksud?"
Abi berlutut pada sang raja.
"Benar yang mulia, mereka akan membantu hamba menemukan tuan putri."
Tiba tiba seorang menteri berteriak marah pada Ren dan yang lainnya kecuali Abi.
"Kalian berani berani tidak sopan di depan raja"
"Berlututlah didepannya"
Para menteri menteri ini membentak mereka semua.
Ren dan yang lainnya mengerutkan kening. Untuk tiga orang yaitu Ren, End, dan bocah pendiam mempermasalahkan sikap mereka, karena ini sudah wajar menteri disini membela rajanya tapi malah seperti anjing penjilat.
Tapi berbeda dengan yang tiga orang, Ariella sang ratu tirani kita, wajahnya menggelap, matanya bersinar, dirinya sangat murka.
Dia sudah lupa terakhir kali disuruh berlutut seperti sekarang oleh orang lain.
"Kalian para serangga, beraninya menyuruh ratu ini berlutut!!" Ariella
*Boom
Aura berdarah dan sangat menakutkan meledak dari tubuh Ariella. Orang orang yang tadi menyuruhnya berlutut sekarang kesulitan bernapas, bahkan untuk sang raja.
Selain itu, Ren juga agak kesulitan bernapas, bagaimanapun dirinya saat ini sangat lemah, namun karena tidak ingin terlihat lemah dia tetap berdiri dengan tenang.
Untung saja raut wajahnya tidak kelihatan karena memakai topeng.
"Kurasa kalian para serangga kotor harus diberi siksaan paling kejam."
Entah sejak kapan sebuah pedang telah Ariella pegang. Pedang menakutkan dengan aura yang hampir sama seperti dirinya.
Pedang yang terlihat sangat indah namun juga sangat menakutkan dengan aura kematiannya.
Dia terlihat akan mengayunkan pedangnya berniat memenggal kepala para menteri yang saat ini tidak bisa bergerak karena aura ratu tirani.
"End, hentikan dia!!!" Teriak Ren
*Tang
Bertepatan ketika ratu tirani mengayunkan pedangnya, End sudah menahan serangannya menggunakan tangannya yang sudah dilapisi kekuatannya.
"Jika kau membunuh mereka, itu akan membuat masalah untuk kita" End
__ADS_1
Ariella yang melihat serangannya di hentikan menatap marah End.
"Beraninya kau menghentikan seranganku!" Ariella dingin
Para menteri yang tadi menyuruh mereka berlutut sekarang sedang gemetar ketakutan, bahkan kaki mereka sangat lemah hingga bisa ambruk kapan saja.
"Yang dikatakan oleh End, benar jika kau membunuh mereka itu hanya menyebabkan masalah yang rumit untuk kita" Ren
Ariella diam, dia kemudian kembali tenang setelah mendengar perkataan Ren yang menurutnya benar.
"Ck, apa kau pikir sebuah masalah akan membuat ratu ini gentar?" Ariella dingin
"Tidak juga, tapi bukankah akan merepotkan jika kita semua mendapat masalah?" Ren
Ariella tidak menjawab lagi dan sekarang memilih diam menyimak apa yang akan dibicarakan.
"Maaf atas ketidaksopanan teman hamba yang mulia" Abi
"Tidak apa apa, berdirilah Abi, ini juga kesalahanku karena membiarkan para menteri berbuat seenaknya."
Para menteri yang dibicarakan menundukan kepala, mereka malu atas tindakan mereka yang terkesan tidak sopan pada tamu istana.
"Yang mulia, hamba ingin meminta ijin untuk membawa kenalan hamba untuk pergi ke tempat terakhir kali tuan putri menghilang" Abi dengan sopan
"Akan ku ijinkan jika bisa membuat putriku ditemukan"
"Terima kasih yang mulia, jika begitu hamba mohon pamit bersama yang lainnya"
Abi sedikit membungkuk, raja hanya menganggukan kepalanya saja. Setelah itu Abi berbalik dan mengajak yang lainnya pergi.
"Akhirnya kita akan pergi, jujur aku sudah agak muak dengan tempat tadi." End
"Begitupun diriku" Ren
"Maafkan saya atas ketidaknyamanannya" Abi meminta maaf sambil merasa bersalah.
"Heh jika saja kau tidak menghentikan ratu ini, mereka sudah jadi mayat tanpa kepala, dan aku akan memajang kepala mereka didepan gerbang istanaku karena telah berani memerintah ratu ini" Ariella
"Ma ma, semuanya sudah terlewati maafkan saja mereka" End
"Jangan kau pikir mereka akan dimaafkan semudah itu, bahkan jika mereka berlutut dan mencium kaki ratu ini, hal itu masih belum cukup" Ariella
Ren berada dibelakang terus memperhatikan interaksi anggotanya.
'Ariella, dia seorang wanita arogan dan memiliki harga diri yang sangat tinggi, sulit untuk bisa menjalin hubungan dengan anggota lain jika sifatnya terus seperti itu.
End, dia adalah yang paling tenang di grup, tidak banyak bertindak dan juga bijaksana dalam melakukan hal, cocok jika dia dikatakan sebagai pemimpin kelompok ini, dan dia juga memenuhi standar ku untuk membuatnya menjadi admin lain.
Abi, orang ini terlihat sangat sopan dan menjaga tata krama, mungkin karena faktor dia adalah seorang ksatria, sayangnya dia juga kurang bisa untuk berhubungan karena menganggap dirinya lebih rendah dari anggota lain.
Terakhir...'
Ren melirik ke seorang bocah disampingnya yang terus diam dari awal sampai sekarang.
'@Silent Assasin Boy, jika dilihat dari namanya dia adalah seorang pembunuh, dia jarang sekali berbicara dan jika dia berbicara hanya seperlunya saja, selain itu dari awal juga dia hanya terus mengamati kami dan memasang sikap waspada.
Huh mereka semua tidak bisa menjadi teman dsngan sikap seperti itu' batin Ren lelah
Tidak lama kemudian mereka sampai di taman istana. Mereka di bawa ke sebuah gazebo disana.
"Apakah disini tempat terakhir kalinya terlihat?" End
"Benar sekali, terakhir kali tuan putri dilihat adalah disini waktu itu saya meninggalkan tuan putri sesaat karena ada panggilan namun saat saya kembali tuan putri sudah menghilang" jelas Abi
End berjalan melihat lihat gazebo tersebut, dia mengamati setiap sudut gazebo itu.
"Sudah berapa lama sejak tuan putri menghilang?" End
__ADS_1
"Sekitar beberapa jam yang lalu" Abi
End kembali melihat gazebo tersebut, matanya kemudian tertuju ke tempat duduk yang ada didalamnya.
Disana dia melihat ada selembar kain pakaian yang sobek.
"Bingo" End
Dia mengambil kain tersebut dan menunjukannya pada yang lainnya.
"Sebuah kain?" Ren, Ariella
"Benar, sepertinya ini miliknya yang tidak sengaja sobek, selain itu saat aku mengelilingi gazebo itu, aku melihat beberapa jejak kaki asing" End
"Jadi kau ingin memberi tahu kami bahwa tuan putri ini benar bebar diculik" Ren
"Benar sekali, dilihat dari arah jejak kakinya mereka menuju kesana" End
Tangannya menunjuk ke arah sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi, mereka berempat melihat kearah yang di tunjuk oleh End.
"Sepertinya tuan putri itu diculik dan dibawa ke bukit itu kan?" Ren
"Bingo! Kau benar, kemungkinan dia dibawa kesana dan juga kemungkinan lain adalah markas penyihir hitam juga ada disana" End
"Bisakah anda mengetahui keadaan tuan putri?" Abi khawatir
"Bisa" End
"Tolong jika begitu."
End menggenggam kain robek itu dan meletakkannya didepan kepalanya.
"Time: Flashback"
Kesadaran End kini telah berpindah. Dia sekarang masih berada di tempat yang sama namun di waktu yang berbeda.
End melihat sekeliling dan kemudian melihat gazebo yang disana terdapat seorang gadis.
"Ini waktu sebelum penculikan?" Gumam End
End juga dapat melihat Abi disana, seorang prajurit datang dan menghampiri Abi. Entah apa yang dibicarakan tapi seletah itu Abi pergi dari sana menuju istana.
"Ini seperti sudah direncanakan" End
End kembali melihat gazebo dan secara kebetulan melihat beberapa sosok orang berjubah hitam sedang bersembunyi di dahan pohon.
"jadi mereka sudah ada disana dari tadi ya. Berarti memang benar kalau penculikan ini sudah direncanakan" End
Detik berikutnya sosok berjubah itu bergerak dan kemudian langsung menculik gadis yang berada di gazebo.
Setelah mendekap gadis tersebut mereka langsung pergi ke arah bukit yang tadi ditunjuk oleh End.
"Gadis itu sepertinya baik baik saja, tapi aku tidak tahu keadaannya sekarang." End
Setelah itu kesadaran End kembali ketubuhnya. Dia membuka matanya dan melihat 4 orang yang sedang menatapnya.
"Bagaimana keadaan tuan putri?" Abi khawatir dan cemas
"Kelihatannya dia tidak dilukai oleh penculik, jelas tujuan mereka hanya untuk menculiknya saja" End
Abi bernapas lega ketika mengetahui tuan putrinya tidak kenapa napa. Sementara End terlihat seperti memikirkan sesuatu.
.........
Saya kok merasa di sini yang jadi MC nya itu si End ya? Seharusnya kan MC nya itu adalah Ren.
\=>Jangan lupa like dan bintang 5 nya
__ADS_1