
"Rafael! Udah suka belum sama gue?" Teriakan melengking yang terdengar nyaring ditelinga Rafael. "El, jawab dulu dong! Entar kalo nggak dijawab jodohnya kaya Popo barbie loh!"
"Rafael, ngomong dong! Jangan diem aja!" Tiffany mulai kesal karena dari tadi dikacangin. "Berasa ngomong sama tembok loh! Nggak ada balasan sama sekali!" Tiffany menarik tangan Rafael hingga membuat ia berhenti.
Rafael mengibaskan tangannya keras hingga membuat cewek itu hampir terjatuh karenanya. "Jangan pegang gue!" Rafael menatapnya bengis.
"Ihhh! El, mangkanya jawab dulu! Elo udah suka sama gue apa belum?!"
Rafael menarik lengan Tiffany. Dia mempojokannya kedinding hinga tubuhnya terkunci tak bisa ke mana-mana. "Dengerin ya! Gue udah bilang berkali-kali sama lo, kalo gue enggak dan nggak bakal suka apalagi naksir sama lo!"
"Tapi gue udah suka sama lo, El!" Jawabnya polos. "Semenjak lo nolongin gue waktu itu, gue udah kaya ada rasa sama lo! Gue cuma berharap lo ada rasa yang sama kaya yang gue rasain!"
Rafael diam seketika setelah mendengar pengakuan jujur dari seorang siswi dengan rambut terurai panjang didepannya. Dia pergi tanpa sepatah katapun. Meninggalkan Tiffany yang sedang tersender didinding.
"Gimana, El? Elo udah suka belum sama gue?!" Tiffany berlari kecil menghampiri Rafael.
"El!!! Jawab dong!--- Aduh!"
KRIET...
Rafael berhenti setelah mendengar sesuatu kemudian disusul suara robekan dibelakangnya. Ia melihat Tiffany sedang memegangi erat sambil menatap roknya yang sobek.
Rafael menghampirinya sambil membukakan jas miliknya untuk menutupi rok Tiffany yang sobek hingga hampir seluruh bagian roknya. Dia menatap kesamping, melihat sebuah paku dengan sepenggal kain diatasnya.
"Tolol banget, sih, lo!" Ketus Rafael.
"Ya maaf! Gue nggak tau!" Kata Tiffany sambil melihat Rafael yang tengah melilitkan jasnya di pinggangnya.
"Mangkanya kalo punya otak dipakai, jangan disimpen!"
"Enggak kok, enggak disimpan! Buktinya, gue selalu peringkat ketiga dikelas!"
"Terserah!" Ucap Rafael jutek. "Dan ya, gue bilangin satu hal ke elo!"
"Apa?"
"Jangan pernah panggil gue lagi apalagi sampai nanya kapan gue suka sama lo!"
__ADS_1
"Kenapa?"
"Karena gue enggak dan nggak bakal pernah suka sama lo! Lo inget itu!"
"Tapi, gue udah suka sama lo!"
"Itu urusan lo! Gue nggak peduli!" Rafael pergi meninggalkan Tiffany dengan jas yang terbelit di pinggangnya.
***
"WOY, BESTIE!" Sapa Gusti.
"Emang Gue bestie lo!" Bima menyahuti.
Gusti tertawa sambil menepuk pundak Bima. "Bisa aja lo! Entar nggak dianggap nangis!" Canda Gusti. Rafael yang disapa itu tidak menjawab. Cowok itu masuk kedalam kelas dengan menekuk seluruh wajahnya.
"Kusut amat wajah lo! Kaya baju belum disetrika!" Ujar Gusti. "Kenapa lo, bro?"
"Biasa!" Rafael menjawabnya datar.
"Tiffany?" Tanya Bima.
"Menurut gue, Tiffany cantik, sih. Semua cowok ngantri buat dapetin dia! Emangnya lo nggak naksir?" Tanya Bima, teman dekat Rafael. "Kalo gue jadi lo, nih, ya! Gue bakalan bilang iya dan ngajak tuh cewek buat pacaran!"
"Gila lo, milik temen sendiri mau elo embat!" Gusti menyerut es yang ada ditangannya.
"Ya kan, si Rafael kagak mau!"
"Palingan bentar lagi juga bakalan mau! Cowok mana sih yang nggak mau sama Tiffany?!"
Bukannya Rafael tidak mau, tapi, entah kenapa dalam hatinya belum ada rasa sama sekali untuk Tiffany. Apalagi saat membayangkan suara lengkingan dari Tiffany. Selalu membikinnya naik darah.
Rafael merasa gerah, dia membuka kancing bajunya paling atas tiga buah sambil melepas dasinya yang dirasakan mencekik lehernya.
"Rafael!" Pagi cewek itu lugu didepan kelas XI IPS, kelas Rafael. "Rafaelnya ada?"
"Ini Rafaelnya, Fan. Masuk aja!" Suruh Bima sopan yang menyebabkan Rafael melotot tajam kearahnya.
__ADS_1
"Permisi!" Tiffany menghampiri bangku Rafael. Lalu ia duduk disebelahnya.
"El, ini ada bekal buat kamu!" Tiffany menyodorkan sebuah bekal kepada Rafael. "Dimakan ya!"
"Bawa aja! Gue udah kenyang!" Ketus Rafael.
Tiffany menatapnya lesu. "Emangnya udah makan? Tapi aku kok nggak ngeliat kamu dikantin?!"
"Lo budek, emangnya orang kalo udah kenyang berarti harus pergi dikantin?!" Rafael menjawabnya dengan sedikit bentakan yang membuat Tiffany serta dua temannya yang ada disebelahnya itu terkejut.
"Tapi, aku udah nyisain uang saku aku buat beli ini!" Ucap Tiffany makin lemas. "Kamu nggak kasihan ngeliat makanan ini dibuang gitu aja?"
"Kalo elo kasihan, mendingan lo makan aja tuh sebekal-bekalnya!" Jawab Rafael. "Lo itu nganggu tau, nggak!"
"Mendingan buat gue aja, Fan!" Bima mengambil bekalnya dari tangan Tiffany. Ia menatapnya kasihan. "Kita berdua belum makan dari pagi!"
"Iya, Fan. Mendingan buat kita!" Gusti menimpali.
"Nggak usah, balikin ke orangnya!" Rafael mengambil paksa bekalnya dari tangan Bima. "Nih, bawa pulang!"
Namun Tiffany tidak mengambilnya. Ia diam terpaku ditempatnya. "Ambil!" Suruh Rafael.
"Udah, El. Buat kita aja!" Timpal Gusti karena merasa kasihan dengan Tiffany.
"Kenapa lo segitunya sama gue, sih, El? Gue salah apa sama lo?" Tanya Tiffany yang terlihat matanya mulai sayu. "Ohhhh... Gue tau, pasti gara-gara gue maksa lo buat ngaku kalo lo suka sama gue kan? Apa karena itu?"
"Lo pikir aja sendiri!" Ketus Rafael. "Mendingan lo pergi sekarang, bawa bekal lo sekalian. Gue nggak butuh itu!"
Tiffany mengambil bekalnya dari tangan Rafael kemudian menyodorkan kepada Bima. Ia menatap Tiffany dengan tatapan kasihan. "Buat kalian!" Ucap Tiffany kemudian langsung pergi meninggalkan kelas itu.
Rafael menatap punggung Tiffany yang langsung hilang dari pandangannya setelah melintasi sebuah belokan.
"Gila lo, El!" Bima memakan roti bakar pemberian Tiffany. "Parah banget!"
"Tau, nih!" Gusti menimpali Bima. "Cewek datangnya baik-baik bawa bekal. Ehhhh, taunya ditolak mentah-mentah. Diusir lagi!"
"Gue bilangin ya! Jangan sampai yang terjadi sama Kinan, terjadi juga sama Tiffany." Kata Bima yang langsung membuat Rafael membelalakan matanya.
__ADS_1
Sekarang, rasa yang ada dalam tubuh Rafael bercampur aduk. Ada rasa bersalah yang begitu dalam setelah mendengar nama Kinan disebutkan. Nama gadis itu, mengingatkanya pada kesalahan dan masa lalunya yang kelam.
***