T & R

T & R
4. PENOLAKAN


__ADS_3

"RAFAEL!" Panggil Tiffany sambil berlari berusaha menjajari langkah Rafael. "El, tunggu sebentar!"


"Rafael!, ihhh, sebentar aja!" Tiffany menghadang jalan Rafael, sehingga ia berhenti menatap Tiffany dengan sorot tajam di matanya. "Rafael, elo udah suka, kan, sama gue?"


Rafael memutar matanya malas. "Maksud lo?"


"Iya, elo itu udah suka sama gue!" Tiffany berkata dengan percaya diri.


"NAJIS!" Rafael mulai menyingkirkan tubuh Tiffany dari hadapannya.


"El, iya kan, elo suka sama gue?" Tiffany berusaha memegang tangan Rafael, tapi dihempaskan begitu saja oleh Rafael. "El, jawab dong!"


"ELO BUDEG KEMARIN GUE BILANG APA SAMA LO!" Rafael membentak Tiffany begitu kasar. Ia sempat diam. Tapi, gadis yang ada didepannya ini malah cengengesan melihatnya.


"Ihhh, El. Jangan malu-malu! Bilang aja lo suka!" Ujar Tiffany. "Iya, kan?!"


Rafael terus berjalan berusaha mengabaikan gadis yang ada disampingnya ini. Tapi, selalu saja gadis ini dapat menghentikan langkahnya. "Apa-apaan sih, lo!" Ucap Rafael sambil melepaskan pelukan Tiffany dari pinggangnya.


"Mangkanya berhenti dulu!"


"Lepasin gue nggak?"


"Nggak mau!" Tolak Tiffany. "Mangkanya jawab dulu!"


"Gue udah bilang berapa kali sama lo! Kalo gue nggak suka sama lo!" Rafael berhasil melepaskan pelukan Tiffany. "Jadi, elo jangan terlalu berharap gue bisa suka sama lo!"


"Tapi, kemarin lo bilang lo pacar gue didepan semua orang!"


Rafael tertawa sarkastis. "Itu karena gue pengen ngelindungin elo dari si Arga! Mangkanya jadi orang jangan kegeeran!"


"Tapi, kalo elo nggak ada rasa sama gue, kenapa elo sebegitunya belain gue?" Tanya Tiffany sambil menatap mata Rafael untuk mengajaknya berbicara lebih dalam. "Itu kalo nggak suka apa namanya?"


"Gue nggak suka lo!" Bentak Rafael. "Jangan kepedean, deh, lo!"


"Enggak!" Ujar Tiffany. "Pasti dalam lubuk hati lo berkata iya, kan?!"


"Udah, ngaku aja!"


"Udah gue bilang berapa kali sama lo, kalo gue enggak dan nggak bakal suka sama lo! Lo itu budek apa gimana?" Rafael berjalan. Ia memasukkan tangannya kedalam saku. "Lo itu paham, kan, bahasa manusia?"


"Tapi, kenapa, El?" Tanya Tiffany. Memelas. "Kenapa sih, lo nggak mau ngebuka hati buat gue? Gue kurang apa? Atau, gue pernah salah sama lo?"


"Lo pikir aja sendiri!" Rafael menjawabnya ketus.


"Ya nggak bisa, dong, El! Masa gue mikir sendiri kesalahan gue?!"

__ADS_1


"BACOT! Udah sana, sana! Pergi jauh, jauh! Gue eneg setiap liat muka lo!" Usir Rafael.


"Kenapa eneg liat muka gue? Emangnya gue nggak cantik?!"


"Sama sekali nggak ada cantik-cantiknya! Apa perlu gue bawain kaca buat lo!"


"Mau!" Tiffany menjawabnya polos, sungguh polos. Hingga membuat orang yang ada didepannya ini geram. Seperti ingin memakan orang hidup-hidup.


"Tai lo!" Umpat Rafael. "Udah, pergi sana, gue mau ke kelas!"


"Jawab dulu!" Suruh Tiffany sambil menggenggam tangan Rafael.


"Apa yang harus gue jawab, babi?" Rafael geram. Ia sudah mengepalkan tangannya dan siap meninju siapa saja yang ada didepannya. Tapi, untung ia sadar bahwa didepannya ini adalah gadis SMA dengan sikap seperti anak PAUD.


"Lo kenapa nggak suka sama gue?"


Rafael berbalik badan dan langsung pergi meninggalkannya. Ia menghela napas malas menanggapi orang yang ada didepannya ini.


"JAWAB DULU, DONG!"


"LO MAU DENGER JAWABAN GUE?!"


"IYA!"


"ALASAN GUE NGGAK SUKA SAMA LO-" Rafael menghentikan ucapannya sejenak. "KARENA GUE GAY!"


***


Rafael tetap berjalan biasa. Cowok itu sama sekali tidak peduli dengan keberadaan Tiffany. Membayangkan Rafael akan menggoncengnya, membuat Tiffany senyum-senyum sendiri.


"Kenapa lo senyum-senyum sendiri?" Tanya Rafael penasaran.


"Nggak papa! Cuma ngebayangin aja!"


"Ngebayangin apa?" Tanya Rafael yang mulai kepo dengan gadis didepannya ini.


"Ngebayangin kita berduaan diatas motor!" Ujar Tiffany. "Boncengan gitu!"


Kuat juga mental cewek ini. Rafael menghembuskan napas panjang. "Emangnya lo nggak ada yang jemput?"


"Nggak ada, nih!" Kata Tiffany memelas. "Boleh kan gue nebeng?"


"NGGAK BOLEH!" Tolak Rafael. "Gue bukan ojek lo!"


"Ya udah, sekarang lo jadi ojek gue. Kok gitu aja ribet?!" Ujar Tiffany memaksa, tapi Rafael tak menyahutinya. "Mau, kan! Entar sampai rumah gue bayar, deh!"

__ADS_1


"Gue nggak butuh duit lo!" Rafael menolaknya kasar. "Pulang aja sendiri jalan kaki,"


"Nggak mau, capek! Lagian dibelakang juga kosong kan, nggak ada yang ngisi?" Tiffany mulai memegang tangan Rafael. Memaksa. "Boleh, ya?!"


"Enggak!"


"Boleh, ya! Please, please, pleaseeee!"


"Enggak!"


"Boleh, ya, El!"


"Elo budeg, tuli, kopok apa gimana? Nggak dengar gue bilang apa barusan?" Rafael membentaknya kasar. Namun, gadis didepannya ini tampak biasa-biasa saja. Aneh. Padahal, setiap orang yang dibentak oleh Rafael. Pasti langsung takut atau tak berani menatapnya lagi. Tapi lain halnya dengan Tiffany. Gadis Mental baja.


"El, ya, ya, ya!" Ujar Tiffany terus menerus.


"Enggak," Balas Rafael sambil memasang helmnya.


"El, pulangnya bareng Tiffany, ya?" Suara lembut yang membuat mereka berdua menoleh. Irene dengan seragam cheer-nya baru sampai ditempat itu.


"Enggak, gue pulang sendiri!" Jawab Rafael menegaskan. Tiffany yang baru akan menjawab 'iya' itu pun langsung menutup mulutnya diam tak jadi bersuara.


"Boleh ikut?" Tanya Irene ragu. "Soalnya papa gue lembur, jadi nggak ada yang jemput gue!"


"Boleh, naik aja!" Rafael menjawabnya enteng. Padahal masih ada Tiffany disebelahnya.


YA ALLAH! BISA-BISANYA DIA MELAKUKAN ITU DIDEPAN TIFFANY. BENER-BENER NGGAK ADA AKHLAK LO RAFAEL!


"Enggak, enggak bisa begitu! Gue duluan yang minta nebeng sama Rafael. Iya, kan, El!" Tanya Tiffany. "Jadi, sorry, ya, Rene! Mendingan lo cari tebengan yang lain!"


"Ohh, sorry!" Ucap Irene halus. Gadis itu memang terlihat anggun dan cantik walaupun merasa kecewa. Sungguh gadis yang sempurna.


"Gue pulang sama lo, Rene." Ujar Rafael. "Minggir sana! Nutupin jalan aja!" Usir Rafael, membuat Tiffany melotot. Gadis dengan pita kupu-kupu itu tidak percaya bahwa cowok yang ada didepannya ini lebih memilih Irene daripada dirinya. Kejadian itu ingin membuat Tiffany memaki-maki keduanya. Namun, makian itu tak bisa ia keluarkan karena ada Irene disebelahnya.


"Terus Tiffany-nya?" Tanya Irene sok polos.


"Udah, biarin!" Ucap Rafael, jutek. "Ayo naik!"


Irene naik keatas motor Rafael, membuat Tiffany melotot kearah mereka berdua. Rafael bahkan tidak mengucapkan pamit, jangankan pamit. Sepatah katapun ia tak mengucapkan untuknya.


"Fan, gue duluan!" Ucap Irene dengan raut wajah tidak enak pada dirinya.


Motor itu melaju keluar sekolah. Meninggalkan Tiffany dengan mulut misuh-misuh dan posisi masih terpaku ditempatnya.


"NGGAK PAPA, FANNY! SEMANGAT, memang sulit, tapi, kamu harus membuktikan bahwa Rafael suka kamu!" Tiffany menyemangati dirinya. "Nggak papa kali ini Rafael sama Irene. Tapi besok-besok, bakalan gue yang bakal naikin motor Rafael!"

__ADS_1


"Tapi, kan, Rafael Gay?!"


***


__ADS_2