
"RAFAEL!!!"
Rafael yang sedang tiduran itu berjengit kaget. Rafael menoleh. Ia melihat Tiffany sedang berdiri didepan pintu gudang sekolah. Bagaimana ia bisa selalu ada di manapun Rafael berada? Bagaimana gadis ini bisa tahu bahwa Rafael sedang disini? Padahal tempat ini jauh dari kelas.
"Rafael, ngapain disini? Bolos, ya?" Tanya Tiffany polos sambil cengengesan.
"Lo sendiri ngapain disini?" Rafael menanyakan balik pada Tiffany.
"Ihh, Rafael ditanya kok nanya balik, sih?" Tiffany cengengesan. Ia mulai mendekati Rafael.
"JAWAB!" Bentak Rafael. Ia mulai bangkit dari tidurnya.
"Kalau aku, ya, mau ketemu kamu, El," Jawab Tiffany. "Masa gitu aja nggak tahu, sih! Nggak peka!"
Lah, bodoamat!
"Lo tau darimana kalo gue disini?" Tanya cowok itu sambil menatap Tiffany.
"Rahasia, dong!"
Rafael mengenggam erat tangan Tiffany hingga Tiffany merasa kesakitan. "JAWAB!" Rafael melotot kearahnya.
"Akh... Lepasin!" Desah Tiffany. "Sakit,"
"Mangkanya jawab dulu!,"
"Dikasih tau Gusti sama Bima," Jawab Tiffany. "Tapi, kamu jangan marah sama mereka, aku kok yang maksa mereka buat kasih tau!"
Rafael melotot tajam. Ia mengepalkan kedua tangannya. "Lo sogok apa mereka berdua?"
"Aku nggak nyogok! Cuma kalo mereka mau ngasih jawaban kamu dimana, aku traktir mereka bakso di kantin,"
Goblok, itu sama aja namanya nyogok! Pikir Rafael.
Pantas saja mereka berdua belum balik sampai sekarang. Ternyata mereka sedang asyik makan bakso di kantin. Rafael memasukkan tangannya kedalam saku. Ia mulai beranjak berdiri kemudian mulai berjalan menjauh.
"El, mau kemana?" Tanya Tiffany berlari. Menjajari kaki Rafael.
Rafael berhenti mendadak, hingga menyebabkan Tiffany menabraknya. "Jangan ngikutin gue!"
Tiffany menggedekan kepalanya tanda tak mau. "Pergi! Kelas lo udah ada gurunya!"
"Enggak, tadi Bu Hela udah ijin," Jawab Tiffany.
Rafael melotot kearahnya. Ia memutar bolanya. Bingung. Sedangkan gadis didepannya ini malah tertawa tidak jelas. Rafael mulai berjalan kembali menuju sofa, tempat ia tiduran tadi. Tetapi cewek dengan jepit pita disisi kiri itu, masih saja terus mengikutinya. Dan kemudian duduk disebelahnya.
"Kenapa sih, lo, ngikutin gue mulu?" Rafael menatapnya heran.
"Kenapa, sih?," Tanya Tiffany. "Lo nggak suka?"
"BUANGET! Mendingan lo jauh-jauh, deh dari gue!"
"Nggak mau," Tolak Tiffany. "Aku maunya deket-deketan!"
"IDIH, NAJIS! NGGAK SUDI GUE DEKET SAMA LO!"
"Kenapa, El? Lo masih Gay?" Tanya Tiffany. "Jangan Gay, El. Ntar dosa lo banyak! Masih banyak kok, cewek didunia ini!"
Idih, malah ceramah. Gumam Rafael.
__ADS_1
"Bukan ceramah, El," Jelas Tiffany yang sepertinya mendengar gumaman Rafael. "Tapi, kalo kamu Gay, entar cepet kiamat! Lo mau cepet kiamat?"
Jawaban Tiffany yang langsung membuat Rafael tertegun mendengarnya. Ia mulai beranjak berdiri dengan wajah kusut yang sepertinya muak dengan ocehan Tiffany.
"El, mau kemana?" Tiffany berlari menyusul Rafael.
"Mau mati, lo ikut?,"
"Ihhhh...Jangan mati, mati itu sakit!"
Lah, bodoamat amat! Yang penting hidup gue damai kagak ada lo!
Rafael melihat sekilas cewek disebelahnya. Ternyata ia masih setia mengikuti dirinya. Pikiran jahil pun melintas dipikiran Rafael. Ia hanya berputar-putar mengelilingi ruangan besar itu.
"Ihhhh, El. Sebenarnya lo mau kemana, sih?" Tanya Tiffany. "Capek tau,"
Rafael menahan tawa melihat keluhan Tiffany. Ia masih tetap melanjutkan jalannya mengelilingi gudang.
Wajah Tiffany terlihat memerah. Tetapi, ia masih terus berjalan mengikuti Rafael berjalan.
Ternyata mengejar orang yang tidak mencintai kita itu capek, ya!
Tiffany terus berjalan hingga tali sepatunya lepas. Ia masih berusaha mengejar cowok yang ada didepannya ini semangat. Walau keringat dan napas sudah ngos-ngosan.
"El, berhenti dulu!" Suruh Tiffany.
Rafael yang melihat wajah Tiffany itu merasa kasihan. Kemudian ia langsung duduk disofa usang yang ada didepannya. Tiffany yang melihat itu menarik nafas lega. Akhirnya, orang yang dikejarnya ini mau berhenti.
Tiffany berlari kecil, menuju samping Rafael. Tapi Tiffany malah terjatuh akibat menginjak tali sepatunya yang terlepas dari ikatannya. Rafael yang duduk terlentang itu langsung dikejutkan dengan kepala Tiffany yang langsung menyeruduk bagian Vitalnya. Ia merasakan linu yang luar biasa di bagian penisnya.
Dahi Tiffany menempel pada sebuah batang besar dan panjang yang menyamping kearah kiri. Keras.
"RAFA---" Panggil Gusti ketika membuka pintu gudang. Ia tidak lagi melanjutkan ucapannya setelah melihat kepala Tiffany sedang berada dibagian ***** Rafael.
Tiffany langsung memindahkan kepalanya. Ia langsung membelalakan matanya ketika kedua orang yang ada didepan pintu itu diam melongo menatap dirinya.
"Ini nggak sengaja," Ucap Tiffany menjelaskan.
"Udah, nggak papa! Lanjutin! Kita berdua paham kok," Bima menggoda Kedua orang tersebut.
"Mendingan kita keluar aja!" Sambung Gusti.
Tiffany mulai bangkit berdiri. "Enggak, ini salah paham!"
Tiffany mulai berjalan mendekati Gusti dan Bima. Tapi, sekali lagi, nasib sial menimpanya. Tiffany hampir saja terjatuh. Tapi, untung saja Rafael langsung reflek menangkapnya. Tapi, hal yang aneh terjadi.
Rafael malah menangkap Tiffany dibagian dada dan menempelkan seluruh jari tangannya di bagian payudara Tiffany. Rafael merasakan sebuah rasa kenyal dan lembut ditangannya. Kini, dua kali kesempatan itu, telah direnggut oleh Rafael semuanya.
"Anjir!!! Dapet dua kali," Ujar Bima. "Gue juga mau dong!"
Gusti yang sedang meminum es itu langsung memuncratkan airnya ke sembarang arah. Ia terkejut setelah melihat Rafael memegang payudara Tiffany.
Reflek. Rafael langsung melepaskan pegangannya dari tubuh Tiffany. Hingga, membuat Tiffany tersungkur ketanah.
"Udah, kalian berdua lanjutin aja! Kita berdua nunggu diluar aja," Bima menarik tangan Gusti yang masih melongo ditempatnya. Kemudian, ia langsung menutup pintu ruangan tersebut hingga rapat.
Tiffany yang menundukkan kepalanya itu langsung melotot tajam kearah Rafael. "Lo cari kesempatan, ya?"
Rafael membelalakan matanya. Ia menatap balik Tiffany. "Elo kali yang cari kesempatan? Elo sebenarnya mau ****** gue, kan? Udah jawab aja!,"
__ADS_1
Tiffany bangkit. Ia menatap Rafael dengan tatapan jijik dan muak. "Sembarangan aja lo ngomong! Lo kali yang cari kesempatan buat pegang payudara gue?"
"Alah, payudara kecil doang!" Hina Rafael. "Lo tau papan triplek, kan? Nah, itu persis sama payudara lo, RATA!"
"Nih, orang kalo ngomong suka sembarangan, ya! Untung gue suka sama lo!"
Rafael terbahak. Kemudian, ia berjalan pergi menjauhi Tiffany yang masih terpaku ditempatnya.
"Gimana sosis gue? Lo suka nggak?"
"Idih, NAJIS!"
"KALO LO MAU BILANG AJA!"
"NGGAK BAKAL!"
Tanpa rasa bersalah, Rafael membuka pintu gudang lalu pergi menutupnya. Meninggalkan Tiffany sendirian didalamnya.
"DASAR CABUL! UDAH JELEK, ITEM, DEKIL, CABUL LAGI!"
***
"Rafael... Mulai detik ini kita pacaran!" Tiffany sedang mengikuti Rafael. Cewek dengan rambut bergelombang itu berjalan di samping Rafael yang sengaja mempercepat langkahnya agar cewek itu tak bisa mengimbangi langkahnya.
"El, jawab, dong! Lo mau, kan, jadi pacar gue?" Tiffany terus berceloteh dan tak mau menyerah dengan sikap Rafael. "El, jawab, dong! Capek, nih, gue lama-lama!,"
"Rafael, lo bisu?" Tebak Tiffany. "Kenapa, sih, lo daritadi nggak jawab pertanyaan gue?"
Tiffany tersenyum menang. "Oke, kalau lo nggak mau jawab. Berarti lo jadi pacar gue sekarang!"
"El, jawab dong!" Keluh Tiffany yang sepertinya mulai kesal.
"RAFAEL! JAWAB DONG PERTANYAAN GUE? JANGAN SOK GANTENG DEH LO, UDAH ITEM, DEKIL, JELEK, CABUL LA--"
Rafael memotong ucapan Tiffany. Rafael merangkum tangannya ke mulut Tiffany hingga membuat Tiffany mundur kebelakang. Rafael memepetkan tubuh Tiffany dengan didinding. Kemudian, ia menguncinya dengan tubuh besar miliknya.
Rafael sangat dekat dengan Tiffany. Wajahnya ada ada didepan wajah Tiffany, hingga ia bisa merasakan deru napas dari Rafael.
“Lo bisa diam, nggak? Lo itu berisik! Gue pusing dengar lo teriak dengan celotehan lo itu yang nggak jelas."
"Ohhh, lo terganggu?" Tiffany tersenyum menang. "Bagus, dong kalau begitu, mangkanya cepet jadiin gue pacar,"
"Idih, Najis!"
"Kenapa? Ohhh, gue tau lo gengsi nembak gue, kan? Ya udah, sekarang gue nembak elo. Lo mau kan terima gue?" Tiffany terus mendesak.
"OGAH!"
"Ohhh... Lo nggak mau?" Tiffany melotot kearah Rafael. "Ya udah, bakal gue sebarin, kalo elo itu ORANG CABUL YANG SUKA MEGANG PAYUDARA ORANG! Mau?"
"Sebarin aja! Dan gue bakal bilang kesemua orang, kalo Tiffany. Cewek cantik idaman sekolah ternyata sangean suka banget sama ****** orang!" Ancam balik Rafael.
Tiffany bergidik ngeri mendengarnya. Ia membiarkan Rafael melewatinya dengan senyum penuh kemenangan.
"UDAH? SELESAI BACOTANNYA?"
Tiffany menoleh. "IHHHH, NGESELIN BANGET, SIH, JADI ORANG! AWAS AJA, YA, LO! BESOK-BESOK BAKALAN ELO YANG BERLUTUT SAMA GUE SUPAYA GUE NERIMA ELO!"
"BUKTIIN? JANGAN BACOT DOANG!"
__ADS_1
Sabar Tiffany! Mendapatkan cowok itu tak semudah mendapat uang saku ke mama.
***