T & R

T & R
3. MASA LALU


__ADS_3

"Nan, sorry! Gue nggak bisa nerima lo!" Ucap Rafael.


"Kenapa, El? Gue kurang apa sama lo!" Kinan terus mengeluarkan air matanya. "Gue salah apa sama lo?!"


Hawa dimalam itu sangatlah dingin. Ditambah hujan dan guntur yang saling bersahutan. Menambah suasana malam itu mewakili perasaan yang ada didalam hati seorang gadis cantik bernama Kinan. Hancur.


"Gue emang belum suka sama lo, Nan! Mungkin suatu saat nanti gue bakal suka sama lo!"


"Tapi kapan? Kita udah berteman dari kecil, El. Dan elo nggak pernah ada rasa sama gue?" Jelas Kinan. "Mau nunggu sampai kapan lagi?"


"Gue udah anggap lo sahabat, Nan! Mangkanya gue nggak pernah ada rasa sama lo!"


"Lo jahat, El!"


***


...LAPANGAN SMA PERWIRA...


Tulisan itu terpampang jelas di gedung sekolah SMA Perwira. Basket Perwira adalah salah satu kebanggaan sekolah karena merupakan penyumbang piala paling banyak disekolah itu selain Olimpiade kimia. Tim basket itu diketuai oleh Arga. Mantan dari Tiffany. Memang bisa dikatakan cowok itu memang tampan. Tapi, sayang, kelakuannya buruk.


Dan yang paling menarik perhatian diantara mereka adalah Rafael. Walaupun dia hanya sebagai seorang anggota, tapi dialah yang paling banyak memasukkan bola ke keranjang lawan.


"Semangat Rafael! Ayo Arga!" Seru cewek-cewek cheers yang menyemangati kedua cowok tampan itu. Membuat Tiffany yang menonton pertandingan itu mendengus sebal melihat Irene ketua tim cheerleaders menyebut nama Rafael histeris.


"EL, SERANG!" Teriak pelatihnya yang membuat cowok itu mendribel bolanya menuju ke wilayahnya lawan.


"LANGSUNG, SHOOT!" Teriak pak Herwin pelatihnya.


Sigap, Rafael langsung melakukan lay up yang membuat musuh didepannya diam melindungi tekhnik yang dilakukannya. Lagi Dan lagi, cowok itu berhasil mencetak rekor untuk timnya.


"Anjay, makin jago aja, lo!" Puji Steven, teman setim Rafael.


PRITTT


Suara peluit dari pak Herwin telah berbunyi. Menandakan pertandingan telah usai. Para pemain basket itu menghela napas lega. Capek.


Di ujung lapangan. Arga mengambil bola. Kedua matanya tajam menatap Rafael iri.

__ADS_1


"Arga... Arga, kamu ini mainnya gimana? Lihat Rafael, yang makin hari mainnya makin bagus. Tapi, kamu!" Pak Herwin yang berada di ujung lapangan memarahi Arga.


Arga melirik Rafael tajam. Marah.


"Saya harap," Ujar pak Herwin. "Kedepannya kamu bisa lebih baik, lebih baik dari semuanya. Termasuk juga Rafael,"


Arga menganggukkan kepalanya tanda paham. Ia tidak mengeluarkan suara sama sekalipun, karena dalam pikirannya sekarang hanya ada Rafael yang ingin ia hancurkan. "Iya, pak. Saya janji, kedepannya bakal lebih baik dari ini!"


Pak Herwin sama sekali tidak peduli, dan malah pergi meninggalkan Arga begitu saja. Ia terlihat kesal karena permainan basket Arga yang begitu buruk. "Saya pulang, buat kalian semua, tingkatkan lagi permainannya! Dan buat kamu Rafael, permainan kamu kali ini luar biasa! Tolong pertahanan kan itu!" Pesan pak Herwin.


"Iya, makasih, Pak!"


Setelah Pak Herwin pergi, suasana lapangan itu terasa sepi. Sunyi. Sebenarnya, para teman-temannya juga tahu, bahwa seharusnya Rafael lah yang pantas menjabat sebagai ketua Basket Perwira. Bukan Arga.


"Rafael!!!"


Teriakan seorang gadis yang memecahkan keheningan tersebut. Ia melihat Rafael yang sedang duduk sambil meminum sebotol air ditangannya.


"Kok udah minum sih?!" Tiffany tiba disebelah Rafael.


Rafael terkejut ketika tiba-tiba Tiffany berada disebelahnya. Ia hampir saja memuntahkan air dari dalam mulutnya. Rafael heran. Kenapa cewek ini selalu ada dimanapun dirinya berada? Dan setiap hari dan disetiap tempat. Rafael selalu saja mendengar teriakan melengking dari cewek yang ada disebelahnya itu.


"Jangan! Ini buat Rafael!" Tolak Tiffany. Ia mengenggam botolnya lebih kuat dari sebelumnya.


"Dianya nggak mau!" Kata Arga. "Mendingan buat gue aja, gue belum minum daritadi!"


"Jangan, Ga. Rafael itu sebenarnya mau, cuma dianya aja malu!"


"Emangnya lo siapanya dia?" Tanya Arga ketus. Ia menatap Tiffany tajam.


Rafael yang sedari tadi diam. Kemudian ia berdiri mendekati tubuh Arga. "Dia pacar gue! Mau apa lo?"


"Ohhh, jadi ini pacar baru lo!" Arga bertepuk tangan dengan nada nyiyir. "Asal lo tau, ya! Dia itu bekas gue!"


Rafael menarik kerah baju olahraga Arga. "Terus kenapa kalo dia bekas lo!"


"Santai, dong!" Arga menghempaskan tangan Rafael dari kerah bajunya. "Nggak papa, sih, terserah lo! Cuma gue mau bilang, emangnya batang lo yang kecil itu masuk sama roti Fanny yang longgar?!"

__ADS_1


"BANGSAT!" Sebuah bogem mentah mendarat tepat dipipi Arga hingga membuatnya jatuh tersungkur ke tanah.


"Santai dong, bro" Arga membersihkan darah yang mengalir dari mulutnya itu. "Gue kan cuma mau ngasih tau, lo! Daripada entar nggak ada rasanya karena longgar,"


"ANJING!"


Arga menghindari pukulan itu. "Dan lihat dia sekarang, lihat bibirnya yang mungil," Arga menunjuk Tiffany yang diam tak bergeming. Tiffany menahan napas karena kejadian barusan. "Lihat bibirnya yang mungil! Gue udah pernah tukeran ludah sama gue!"


"BACOT, ANJING!"


Rafael hendak melayangkan tinjunya kepada Arga. Namun ia berhenti, tidak jadi melanjutkannya setelah mendengar teriakan gadis yang terdengar familiar ditelinganya.


"UDAH! STOP! JANGAN BIKIN KERIBUTAN!"


Siswa yang menonton bukannya melerai, malah hanya diam dan menonton keduanya seperti sebuah pertunjukan.


"STOP!"


"Tuh, kan! Lo lihat dia ngebelain gue!" Arga tersenyum bangga, seolah dirinya lah yang menang.


"DIAM! BUBAR KALIAN!" Teriak Tiffany membubarkan kerumunan murid-murid yang ada didepannya ini. Bukannya bubar, murid-murid ini malah semakin rapat mengelilingi mereka bertiga.


"PERGI, NGGAK LO, GA?" Suruh Tiffany. Ia mendorong tubuh Arga supaya pergi menjauh.


"GUE NGGAK MAU KALO GUE NGGAK BARENG LO!"


"PERGI SENDIRI!" Suruh Tiffany. "Gue nggak mau ya kalian berantem lagi! Dan buat lo, Ga. Jangan pernah ngefitnah gue lagi!" Tiffany menunjuk Arga dengan sorot mata tajam.


"Emang apa yang salah dari cerita gue? Gue ngomong yang sebenarnya!" Arga mengenggam erat tangan Tiffany. "Kalo punya lo emang udah longgar!"


BRUK


Sebuah pukulan keras mendarat tepat untuk kedua kalinya dipipi Arga. Ia jatuh tersungkur ketanah sambil mengeluarkan darah segar dari hidung dan mulutnya.


"El, elo--," Belum selesai Tiffany bicara, tangannya sudah ditarik terlebih dahulu oleh Rafael meninggalkan kerumunan itu. Meninggalkan Arga yang masih tersungkur diposisinya.


"BANGSAT! ANJING LO BERDUA!"

__ADS_1


***


__ADS_2