T & R

T & R
5. PENOLAKAN


__ADS_3

Udara terasa pengap. Rafael membuka kancing bajunya bagian atas. Ia merasa jenuh berada di tempat ini. Seperti merasa sendiri. Padahal tempat ini sedang dikelilingi oleh banyak orang. Ramai.


"El, kok sendirian aja? Mana yang lainnya?" Rafael kaget dengan kehadiran seorang cewek yang tiba-tiba langsung memeluknya. Tepat di bagian lehernya. Rafael menoleh, dan mendapati Ema.


Rafael melepaskan pelukan Ema dari lehernya. "Apa-apaan sih lo?,"


"Kenapa sih, El?" Ema bertanya dengan nada sedikit menggoda. "Lo nggak suka?"


Rafael menatapnya malas. "BANGET! Mending lo sekarang pergi, deh. Mood gue lagi buruk!"


"Galak banget!"


"Apaan sih, lo! Gak jelas banget! Mendingan elo pergi, deh! Daripada ngerusuhin hidup orang lain!" Rafael melotot tajam ke arah Ema.


"Ihhh, gitu aja marah," Ema menenangkan. Ia duduk disebelah Rafael sambil mengelus punggung Rafael. "Elo kenapa? Kusut bener,"


"Bukan urusan lo! Mending lo diem, atau gue pergi sekarang?"


"Iya, iya, iya!" Ema menurut. Ia diam tak lagi mengelus punggung Rafael. "El?"


"Apa?" Ketus Rafael.


"Lo suka sama siapa?" Ema memegang tangan Rafael.


"Nggak suka siapa-siapa?, emangnya kenapa?" Rafael menatap cewek didepannya itu penuh tanya.


"Lo suka sama Tiffany?" Rafael menggedekan kepalanya. "Kalo Irene?" Tanya Ema yang langsung membuat Rafael diam seribu bahasa.


Rafael diam tak menggeleng apalagi menjawab pertanyaan Ema. "Kok, diem?" Tanya Ema yang langsung membuyarkan lamunan Rafael.


"Lo suka sama Irena?" Tanya Ema sekali lagi.


"Enggak,"


"Ohhh, kalo gitu, gue boleh ngomong penting nggak sama lo?"


"Ngomong aja!"


"Bener boleh?"


"Iya," Jawab Rafael singkat.


"Gue suka sama lo, El," Ujar Ema. "Lo mau nggak, jadi pacar gue?"


Rafael diam sejenak. Dia berusaha mencerna kalimat yang barusan Ema katakan.


"Lo mau, kan?"


"Lo nembak gue?"


"Iya," Ema meneguk ludahnya. Ia tak bisa membaca ekpresi laki-laki yang sekarang ada didepannya ini. Marahkah dia? Atau malah senang dia menembaknya? Ema tak tahu isi hatinya.


"Gue nggak bisa," Jawab Rafael singkat.


Ema tertegun mendengar jawaban Rafael. "Kenapa?"


"Karena gue nggak suka sama lo!"


"Masalah suka nggak suka itu belakangan aja, El! Kita jalani aja dulu, pasti lama-lama lo juga bakalan suka sama gue,"


"Gue nggak mau,"


"El?" Ema memegang tangan Rafael. "Kenapa sih, lo nggak suka sama gue?"

__ADS_1


"Ada masalah apa, sih, lo, maksa gue buat suka sama lo?" Ketus Rafael. Ia melotot tajam ke arah Ema.


"Karena gue suka sama lo!"


"NAJIS!" Maki Rafael. Dia beranjak berdiri dari tempat duduknya. Kemudian dia langsung pergi meninggalkan Ema yang hanya dia ditempatnya.


Tiba-tiba, pikirannya melayang membayangkan wajah Tiffany. Gadis cantik tapi konyol yang selalu mengikutinya kemanapun ia pergi.


Apakah laki-laki itu sudah suka sama cewek konyol itu? Rafael tidak tahu.


***


"Irene, mau kemana, nih?"


Irene memutar bola matanya malas. Ia berusaha menjauhi Gusti yang sekarang ada disampingnya.


"Gusti, Gusti... Kurang kerjaan lo? Semua cewek lo godain," Kata Irene.


"Enggak semua kali, Rene. Cuma lo doang yang gue godain," Ujar Gusti. "Karena elo yang cuma ada dihati,"


"Bucin polll lo!" Bima yang baru datang langsung duduk disebelah Gusti. "Maklum lah, Rene. Jomblo abadi,"


Gusti terbahak. "Bisa aja, lo, pentol korek!"


"Alah, Bima, Bima. Sendirinya aja masih jomblo, ngatain orang!" Ucap Irene yang langsung terasa menusuk hati Bima.


"Tau aja lo, Rene!" Rafael Menimpali. "Nyesek, kan, sekarang dia,"


"Yang patah hati, tangannya semua keatas! Nyesek ini cerita!" Gusti menirukan nada yang ngetrend di Tik tok.


"Alah, Rene, lo juga masih jomblo tuh!" Balas Bima tidak terima.


"Siapa bilang gue jomblo?" Irene melotot ke Bima. "Barang jodoh gue ada didepan mata!"


Nggak peka banget sih, jadi cowok! Batin Irene.


"Alah, bro, nggak usah pura-pura,deh lo! Yang dimaksud Irene itu elo," Sela Gusti. Ia menunjuk jarinya kearah Rafael. Lantas hal itu membuat pipi lembut Irene menjadi merah merona.


"Iya, Rene?" Tanya cowok itu polos. Sepertinya ia tidak menanggapi pernyataan Gusti itu dengan serius.


Ya Allah, El! Siapa lagi kalo bukan elo? Batin Irene.


"I--"


"RAFAEL!!!" Suara cempreng yang khas itu membuat Irene tidak jadi melanjutkan ucapanya. Semua orang yang ada disana malah tertuju kepada pemilik suara cempreng itu. Siapa lagi kalau bukan Tiffany.


Irene mengeram kesal. Ia misuh-misuh dalam hatinya. Kenapa disaat yang serius dengan Rafael selalu ada yang mengganggunya?


"El, mau makan bareng?" Tanya perempuan itu dengan semangat.


"Maaf, Fan! Dia udah sama gue duluan," Sela Irene.


"Widih! Direbutin dua orang, nih!" Ujar Gusti. "Pada cantik pula?"


"Sihhhh, kalo gue jadi Rafael, nih, ya, gue embat tuh semuanya!" Sindir Bima.


"Halah, buaya lo," Gusti menepuk pundak Bima.


Rafael melotot ke arah dua temannya itu. Dia mengisyaratkan wajahnya agar dua teman gobloknya itu diam. "Sorry, Fan! Gue sama Irene duluan! Kita berdua mau makan bareng,"


Deg. Entah kenapa tiba-tiba dada Tiffany terasa sakit. Padahal sebelumnya ia tak pernah merasakan sakit seperti ini. Sungguh kasihan hidup Tiffany. "Tapi, El?" Ujar Tiffany. "Kemarin kan elo udah sama Irene. Sekarang gantian dong sama gue?!"


Rafael melotot tajam kearahnya. "Emang lo siapa ngatur gue?"

__ADS_1


"Tapi, El-"


"Gue sama Irene!" Rafael menarik tangan Irene kemudian membawanya pergi menjauh.


Tiffany menatap punggung keduanya dari kejauhan. Hingga akhirnya dua orang itu sudah tak terlihat lagi dimatanya.


"Kayaknya ada yang patah hati, nih!" Sindir Bima.


"Udahlah, Fan! Mendingan sama gue aja!" Ujar Gusti.


"Tapi gue sukanya sama Rafael," Ucap gadis itu polos. Kedua laki-laki itu menahan supaya tidak tertawa melihat tingkah laku Tiffany yang dilihatnya seperti bocah.


Ia meremas rok bagian bawahnya. Tiffany kesal dengan kejadian barusan. Kenapa selalu dirinya yang selalu di nomor duakan? Menurut Tiffany itu hal yang sangat tidak adil baginya.


♪♪♪Aku wes berjuang mati-matian


Nanging ora pernah mbok sawang


Aku wes ngarepke kowe tenanan


Malah mbok gawe dolanan♪♪♪


Tiffany menoleh. Ia melihat Gusti tengah memutar sebuah lagu di hpnya. Seluruh lagu yang ada disana merupakan perwakilan dari semua perasaannya selama ini untuk Rafael.


"Nyesek!"


Apakah laki-laki itu tidak menyadari bahwa telah melukai seorang perempuan yang rapuh?


***


"RAFAEL! KAPAN, SIH LO SUKA SAMA GUE?!"


Rafael menghembuskan napas malas. Ia sudah muak dengan lontaran peryataan Cewek didepannya. Ia malah beranjak pergi meninggalkan Tiffany dengan seribu pertanyaan.


"El, kok malah pergi, sih?" Tanya Tiffany. "Jawab dulu, dong!" Tiffany berusaha memegangi tangan Rafael setengah mati. Tapi, dengan mudahnya Rafael menghempaskan begitu saja dengan mudah.


Sabar Tiffany! Mengejar orang yang lo suka itu lebih sulit daripada lo ngejar ayam!, Batin Tiffany.


"EL, STOP!" Tiffany menghalangi jalan. "JAWAB DULU! LO KAPAN SUKA GUE?"


"El, capek tau, gini terus!" Keluh Tiffany.


Bodoamat! Pikir Rafael.


"El, entar lama-lama aku pingsan lo!" Ucap Tiffany dibelakang Rafael.


"El, entar nyesel tau! El, El, berhenti dulu! Jawab dong!"


"Yaudah, gue pingsan nih, kalo elo nggak mau berhenti!"


Rafael menghiraukan gadis itu. Ia tetap berjalan santai dengan kedua tangannya masuk kedalam saku celana putih Abu-Abunya.


"Ihhh, El?" Kesal Tiffany. "Beneran, nih! Habis ini gue bakalan pingsan!"


Goblok banget! mau pingsan pakai ngomong, Batin Rafael.


"El, nih, liat ya! Satu, dua, ti--ga!" Ucapnya. Tiffany tiduran dilantai. Dia berharap Rafael akan datang untuk menolongnya. Tapi, harapannya itu sirna ketika Rafael melanjutkan jalannya dan tak melihatnya sama sekali.


"El, liat nih! Gue pingsan tau?!" Namun, laki-laki itu tetap berjalan santai. Tiffany terus menatap punggung Rafael, hingga menghilang setelah ada sebuah belokan disisi kanannya.


"NGGAK PAPA, TIFFANY SEMANGAT! NGGAK PAPA, SEKARANG MENGEJAR! BESOK-BESOK BAKALAN DIA YANG MENGEJAR!"


***

__ADS_1


__ADS_2