
Hangatnya mentari pagi ditambah udara segar yang membuat kulit bergetar membangunkan Gya dari tidurnya. Sangat dingin, hingga terlihat bibir Gya bergetar dan tangannya memeluk tubuhnya sendiri.
“Mengapa dingin sekali?” ucap Gya sambil melingkarkan selimut keseluruh tubuhnya.
“Aku lupa, aku tidak mengenakan selimut dan menutup jendela semalam. Aku juga belum makan. Adduh perutku minta diisi lagi baru jam segini” ringis Gya merasakan perutnya keroncongan.
Jam sudah menunjukkan pukul 6.30 pagi.
“Mama masih tidur apa sudah bangun y? Bahaya kalau dia tau aku makan dulu sebelum beberes rumah” keluh Gya.
Karna sudah tidak tahan lagi, Gya pun mengendap-endap pergi kedapur. Dilihatnya pelayan rumah yang masih sibuk menyiapkan makanan.
“Bi ada makanan nggak? Aku laper nih, semalam nggak sempat makan!” tanya Gya.
“Belum ada nona. Ini lagi mau bibi siapkan,” jawab Bi Rumi.
“Apa aja deh bi, buat ganjel perut aja juga gpp,” pinta Gya. Dia sudah sangat kelaparan sekarang.
“Ada sih nona sisa makanan kemarin, tapi apa nona mau?” ucap Bi Rumi ragu.
“Gpp bi, dimana makanannya biar saya ambilkan?”
“Dilemari makan nona” jawab Bi Rumi
Gya mengambilnya dan langsung melahapnya dengan cepat. Takut jika mamanya yang galak itu sudah bangun dan melihat dirinya sedang makan sebelum mengerjakan pekerjaan rumah terlebih dulu.
(Bi Rumi orang yang paling dekat dengan Gya, orang yang paling mengerti dirinya setelah papanya. Tempat dimana ia sering berkeluh kesah, meskipun tidak semua hal bisa ia ceritakan padanya setidaknya ia juga bisa sebagai seorang sahabat dirumah itu. Seorang wanita paruh baya yang ia anggap sebagai ibunya)
“GYAAAA .. mana kau?” teriak Silvi kakak Gya sambil terisak tangis.
“GYAA apa kau mendengarku? Kemari kau, cepat!” lanjut Silvi karna ia sudah tidak sabar ingin mengadili adiknya itu.
“Iya kak ini aku. Ada apa kakak memanggilku?” tanya Gya dengan pelan.
“Kau tanya aku ada apa memanggilmu? Apa kau sudah lupa dengan perbuatanmu kemarin ha. Kau menjebakku dengan laki-laki lain sampai-sampai aku tidur dengannya. Hiks hiks kenapa kau melakukannya? Apa karna kau iri padaku sehingga kau nekat?” tanya Silvi dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
“Apa yang kakak maksud, aku tidak pernah melakukan itu. Bahkan sedikit pun tidak pernah ada niatan untuk melakukannya” bantah Gya dengan suara bergetar.
(Baru juga bangun, kenapa selalu ada saja masalah yang mendatangiku), ucap Gya dalam hati.
Suara Silvi yang tidak mau pelan dan terus berteriak membangunkan seluruh penghuni dirumah itu. Mama Sisca dan papa Arga turun kebawah untuk melihat apa yang terjadi. Karna kamar mereka ada diatas, jadi butuh waktu untuk tiba dibawah.
“Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut di pagi buta seperti ini? Mengganggu orang tidur saja” ucap papa Arga.
“Buta darimana? matahari sudah muncul tuan!” ucap Kiran polos (salah satu pelayan dirumah itu).
Orang-orang disana pun hampir tertawa dibuat Kiran, tapi mereka harus menahannya untuk keselamatan mereka juga.
__ADS_1
“Benarkah? Diam kamu jangan sok mengajariku” ucap papa Arga. Padahal dirinya sekarang ini sedang menahan rasa malu karna kebodohannya.
“Kenapa kalian bertengkar?” tanya papa Arga menatap Silvi dan Gya.
“Papaaa, Gya pa hiks hiks” ucap Silvi seakan terasa berat mengatakannya.
“Apa yang terjadi Gya? Kenapa kakakmu bisa sampai menangis seperti ini?” sebenarnya ia sudah tau. Hanya sekedar basa basi saja.
“Itu pa, kak Silvi menuduh Gya menjebaknya dengan laki-laki lain” jawab Gya dengan terbata-bata.
“Apa itu benar Silvi?” tanya papa Arga menahan amarahnya.
“Benar pa hiks hiks. Aku sudah tidak berguna lagi, aku kotor .. aku kotor pa” menangis sesugukan.
Arga memeluk Silvi untuk menenangkan putri kesayangannya itu. Terlihat senyum tipis Silvi dipelukan Arga.
“Papa tidak menyangka kau sejahat itu Gya. Papa kecewa padamu, papa salah menilaimu. Kau menghancurkan seluruh harapan papa terlebih pada kakakmu Silvi. Bagaimana jika tunangannya tau?” ucap Arga memperlihatkan kekecewaannya pada Gya.
“Itu tidak benar pa, kak Silvi bohong. Ini pasti salah paham kalau tidak pasti ada yang menjebak Gya” bantah Gya tidak membenarkan perkataan Silvi.
Menahan air mata yang sejak tadi sudah tergenang dipelupuk matanya.
Sisca yang sudah sejak tadi menahan amarahnya pun ikut berkata ..
“Memang anak tidak tau diri. Aku harus memberimu pelajaran anak sialan!” geram mama Sisca, menarik tangan Gya membawanya ke ruangan kosong, y lebih tepatnya gudang.
“Heii kau” menunjuk 2 pelayan yang ada disana.
Orang-orang yang ada disana hanya bisa diam saja tidak berani melakukan apapun bahkan berbicara saja lidah mereka terasa kelu seperti mati rasa jika berhadapan dengan majikan mereka itu. Bi Rumi yang sudah lama bekerja disana pun hanya bisa mematung saja.
Arga dan Silvi pun tidak mau tau juga. Arga sibuk menenangkan Silvi yang dari tadi sesugukan.
“Papa harus hukum Gya pa, aku tidak terima diperlakukan seperti ini hiks hiks!” pinta Silvi dengan muka memelas.
“Tenang saja sayang, papa akan melakukan apapun untuk kebahagiaanmu,” mengecup kening Silvi.
Silvi menerbitkan senyum kemenangannya. Ia sangat puas ternyata rencananya berjalan dengan lancar. Dengan sedikit berakting saja semuanya menjadi mulus.
(Anak dan orang tua sama aja y, kesel Author hehe)
____________________________________________________
Gya menangis pilu meratapi apa yang akan terjadi
pada dirinya kali ini. Ia juga sudah sangat merinding melihat tatapan ganas dari mamanya.
“Ma, apa yang mama akan lakukan pada Gya?” tanya Gya ragu.
__ADS_1
“Lihat dan nikmati saja sayang. Ini hanya sebentar tidak akan lama. Kau juga pasti akan menikmatinya” jawab Sisca dengan suara yang terdengar menakutkan.
“Ambil benda yang ada didalam lemari itu!” menunjuk lemari yang ada disudut ruangan itu.
“Baik nyonya” menjalankan perintah majikannya,
"Ini nyonya” beri pelayan itu.
“Keluarlah, tutup pintunya!”
Pelayan itupun mengangguk dan berlalu pergi dari ruangan itu.
“Kalau kau tidak sanggup melihatnya, pejamkan saja matamu Gya sayang” ucap Sisca mengelus mata putrinya itu.
“Mama maafkan Gya ma kalau mama merasa Gya yang salah hiks hiks” tangis gia.
ctas
ctas
ctas
Tiga cambukan beruntun mengenai kaki dan badan Gya. Gya menangis menjerit, rasanya sangat panas ditambah seperti kulit yang disayat. Terdengar sangat memilukan ditelinga.
“Ini hukuman atas kesialanmu yang menimpa keluarga ini"
ctas
ctas
"Dan ini untuk kesalahanmu pada putriku"
ctas
ctas
Berhenti sebentar dan menangkup wajah Gya dengan keras. Kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga Gya.
“Kau harus berhati-hati dengan tindakanmu anak sialanku sayang!” bisik Sisca.
“Maaf ma,” dengan suara bergetar berusaha meredam tangisnya.
Hanya kata itu yang mampu ia ucapkan. Ia takut jika ia semakin menjerit mamanya akan semakin nekat padanya.
Setelah menghukum Gya, ia pergi dari ruangan itu dan menyuruh pelayan membuka ikatannya.
“Buka ikatannya. Jangan beri makan jika ia belum menyelesaikan pekerjaannya!” perintahnya.
__ADS_1
“Baik nyoya”
Semoga kalian suka dengan ceritanya. Dukung Author terus y, biar bisa update terus hehe