
Hari liburan tiba ..
"Hei, cepat kau angkat barang-barang itu. Jangan sampai ada yang ketinggalan" seru Sisca kepada Gya.
"Iya ma, akan aku lakukan"
"Cepat sedikit, lambat sekali!" keluhnya.
"Hufft iya ma" hela Gya.
"Mas, kamu udah persiapkan semuanya kan? Apa masih ada yang kurang?" Tanyanya kepada Arga suaminya.
"Tenang sayang, semuanya sudah terencana tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan" seru Arga.
"Okey baiklah, mari kita berangkat. Dan kamu sialan .. kamu duduk dibelakang. Sangat menyebalkan jika kamu duduk bersama kami!" tukas Sisca memelototi Gya.
"Baik ma" menunduk tak ingin melihat ekspresi wanita itu.
"Silvi sayang, kalau butuh sesuatu bilang mama sama papa y. Perjalanan kita sedikit memakan waktu. Kamu gk boleh capek sebenarnya, tapi ya ini untuk kamu juga" ucap Sisca.
"Iya mamaku sayang" tersenyum semanis mungkin.
Gya bingung dengan maksud perkataan mamanya itu. Apakah Silvi sakit? tapi dia tidak pernah melihat Silvi merasakan itu. Dia seperti gadis pada umumnya, pergi kesana kemari seperti tidak merasa lelah sedikit pun. Atau ada yang tidak kutahu? Akh sudahlah mungkin aku terlalu lelah saja! pikir Gya.
Diperjalanan, banyak drama yang harus Gya lihat. Mulai dari permintaan Silvi ini itu sampai Sisca dan Arga terlihat ada kekhawatiran tak biasa kepada Silvi. Tapi Gya mencoba menepis segala yang ia pikirkan selama dimobil itu. Tak dapat dipungkiri, ia merasa iri melihat keluarga bahagia dihadapannya. Melihat setiap sisi lembut orangtuanya yang tidak dapat ia rasakan. Terlalu banyak drama manis yang mencabik hatinya. Seolah keberadaanya tidak dipedulikan yang dibutuhkan dikala perlu saja.
Suara manis itu, mengapa sangat menyakitiku. Perlakuan itu, seolah aku ini bukan bagian dari mereka.
Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa hanya aku yang tersakiti? batin Gya. mencoba bersikap setenang mungkin.
Sesampainya di tempat tujuan, seperti biasa hanya Gya yang repot memindahkan barang dan yang lainnya hanya mengatur saja. Seluruh keluarga beristirahat, perjalanan yang jauh membuat mereka kelelahan. Tapi Gya? Ya ia sibuk mengatur segala sesuatunya sesuai permintaan orang itu.
"Huayamm .. lelah sekali. Aku sudah sangat mengantuk. Tapi aku tidak boleh tidur sebelum mereka bangun melihat pekerjaanku" keluh Gya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat ..
"GYAAAA .. siapkan makanan kami lapar!" seru Silvi.
"Udah kak tinggal diambil saja" seru Gya dengan mata memerah karena menahan kantuknya.
"Siapkan di meja makan baru kau bisa beristirahat!"
"Tapi kak aku sudah sangat lelah"
"Lakukan atau kau tidak akan bisa beristirahat setelah ini!" ancam Silvi.
"Baiklah kak akan kusiapkan" pasrah Gya dari pada tidak beristirahat pikirnya.
Setelah menyiapkan makanan, menunggu mereka makan dan membersihkannya kembali barulah ia bisa beristirahat. Sedangkan orangtuanya sedang berbincang untuk rencana besok.
"Besok rencana ini harus dijalankan. Aku tidak tega melihat Silvi kesakitan. Setiap hari minum obat penahan rasa sakit. Tapi untung saja Silvi percaya bahwa itu vitamin. Aku tidak dapat membayangkan kalau ia tahu ia sakit. Akhh pasti dia akan down! jelas Sisca.
"Terserah kita? Apa maksudmu mas?"
"Ya, terserah kita bagaimana mengahadapi si anak sialan itu. Lagian aku jengah berpura-pura baik padanya" jelas Arga.
"Memang benar, kita harus tegas padanya. Semakin hari semakin berani saja. Aku tidak sabar menunggu saat itu".
_________________________________________
Keesokan harinya ..
Disebuah rumah sakit besar sepasang suami istri sedang melihat keadaan putrinya yang baru saja menjalankan transplantasi sumsum tulang belakang. Operasi yang berjalan lancar membuat mereka lega dan bahagia. Bagaimana tidak, setelah penantian panjang akhirnya putri mereka bisa diobati dengan langkah terbaik.
"Sayang, bagaimana keadaanmu? Apa kau masih merasa sakit? Atau kau butuh sesuatu?" tanya Sisca pada Silvi.
"Aku baik-baik saja ma, don't worry okey!"
__ADS_1
"Papa dan mama khawatir sayang, takut terjadi yang tidak diinginkan. Kau tahu kan, kau segalanya bagi kami!" tegas Arga papanya.
"Iya papa mamaku sayang. You're everything to me too!" senyum Silvi.
Sementara itu di ruangan lain, Gya merasakan perih di tubuhnya. Heran, kenapa dia tiba-tiba ada dirumah sakit.
Tak selang beberapa lama masuklah Arga dan Sisca.
"Ma Pa, aku kenapa kok bisa disini?" tanyanya terheran-heran.
"Ooo itu, kamu disini sedang menjalankan kewajibanmu!" seru Sisca.
"Kewajiban?"
"Ya, kewajiban membayar semua yang telah kami berikan padamu. Mulai dari tinggal dirumah mewah, makan, dll. Kamu harus membayarnya!" jelas Arga.
"Maksud papa apa? Aku tidak mengerti?"
"Terimakasih, kamu sudah mendonorkan sumsum tulang belakangmu ke Silvi!" ucap Arga tak berperasaan.
"APAA? Kenapa bisa -"
"Mau tidak mau kamu harus membayarnya karna kami sudah mau menerimamu dikeluarga ini. Kamu harus sadar diri mulai dari sekarang".
"Papa, kenapa papa berbicara seperti itu? Kenapa papa juga jahat padaku? Apa yang sebenarnya terjadi?" sedikit berteriak menangis tersedu-sedu.
"Sudahlah, kau harus tau dimana posisimu. Sekarang panggil kami tuan dan nyonya! Tidak ada panggilan papa dan mama. Kamu tidak hak untuk itu anak sialan!" sarkas Sisca.
Setelah mengatakan kebenarannya mereka berdua pergi dari ruangan itu. Gya tidak bisa menahan sakit hatinya. Saat ini hatinya lebih sakit dari bekas sayatan ditubuhnya. Hatinya gundah, bagaimana nasibnya kedepan tidak ada yang tahu.
Tuhan, aku tidak tahu apa yang sebenarnya mereka katakan. Tapi aku tahu 1 hal bahwa mereka tidak menginginkanku. "Tuan dan Nyonya" apakah panggilan itu yang sepantasnya aku ucapkan? Banyak hal yang tidak kumengerti hiks hiks hiks
Jangan lupa dilike ya ☺️
__ADS_1