Takdir Yang Membelengguku

Takdir Yang Membelengguku
Titisan Setan


__ADS_3

Sesampainya di mansion ..


"Dimana Osta?" seru Morgan kepada pelayannya.


"Diatas Tuan, di ruang kerja Tuan!" jawab pelayan.


"Panggil dia suruh menemuiku!" perintah Morgan.


"Baik Tuan akan saya panggilkan" ucap pelayan menunduk lalu pergi.


*Akan kuhukum kau karna rencana sialan ini, mengumpat sendiri.


Setelah beberapa waktu kemudian Osta pun datang menemui Morgan. Ketika hendak duduk ..


"Berdiri jangan duduk!" perintah Morgan.


"Emangnya kenapa? baru ketemu aja udah judes amat sih!" ucap Osta dengan wajah cemberut.


"Angkat 1 kaki dan pegang ke-2 telinga!" tanpa menjawab pertanyaan sekretarisnya itu.


"Lakukan atau kumasukkan kau ke dalam lubang singa?" Suara bariton Morgan mulai mendingin.


*Astaga, tanda-tanda titisan setan mulai mengamuk ..


"I iya iya Tuan, maafkan saya!" ucap Osta pasrah segera melakukan perintah Tuannya.


"Maaf? Maaf untuk apa?" tanya Morgan menjahilinya.


"Ma-af karna membangkang tidak menuruti perintah Tuan atau mungkin Tuan terlalu lama menunggu saya datang" menghela nafas dengan wajah bingung.


"Hah bodoh, dasar sekretaris durhaka. Mendorongku ke lembah curam sedangkan kau bersantai diatasnya!" tukas Morgan kesal.


"Maksud Tu-an? Ahh aku mengerti Tuan, tapi itu memang satu-satunya cara kita untuk memudahkan segalanya!" seru Osta sudah mengerti dengan maksud Morgan.


"Tapi aku tidak bisa sabar menghadapi perempuan itu huhh" dengus Morgan.


Osta mengerti apa yang membuat Tuannya itu jengah menghadapi wanita. Apalagi wanita itu adalah musuhnya sendiri sekarang. Morgan tidak suka basa-basi, membicarakan hal yang tidak penting. Mungkin karna waktu begitu berharga baginya. Jadi, apa yang terjadi di luaran sana selain menyangkut bisnis dan perusahaan dia sama sekali tidak peduli.


*Oh Tuanku yang terhormat betapa malangnya dirimu pffftt

__ADS_1


"Maaf Tuan, tapi bagaimanapun kita sudah memulainya. Lagian ini adalah rencana yang paling efektif. Kalau kita langsung bertindak gegabah semuanya akan sia - sia Tuan!" seru Osta mengingatkan.


Morgan pun menimbang kembali perkataan Osta.


"Hah baiklah, demi pembalasanku semua harus berjalan dengan baik" mencoba sesabar mungkin.


*Huhh selamat! batin Osta hendak berdiri normal kembali ..


"Aku belum menyuruhmu bergerak. Lakukan seperti tadi selama 30 menit!" mengagetkan Osta sambil beranjak pergi.


"Ta-tapi Tuan" sedikit berteriak tidak terima dengan perintah Tuannya itu.


"Bicara sekali lagi atau kutambah!" seru Morgan tanpa melihat Osta.


Osta mendengus kesal. Bagaimana bisa Tuannya menghukumnya seperti itu. Menyuruh pelayan menjaganya supaya tidak kabur.


*Akhh mau ditaruh mana wajahku yang tampan ini aishh ..


______________________________________________


Dirumah, Gya bekerja dengan senyum menghiasi wajahnya. Seisi rumah bingung, apa yang merasukinya hingga menjadi seperti itu. Wajahnya bersemu merah, kadang-kadang ia melamun seolah melupakan masalahnya dirumah itu.


Seolah tak mendengar ucapan kakaknya itu, ia masih senyum-senyum sendiri dan tak melihat keberadaan Silvi.


"WOIII kau dengar tidak? Dasar Pelacur!" kesal silvi.


"Eh maaf kak, aku tidak dengar kak Silvi bicara!" jawab Gya .


"Hei kau pelacur lakukan tugasmu dengan baik dan satu lagi jangan pernah menceritakan hal sebenarnya kepada siapapun soal yang di club kemarin.Awas saja kalau kau berani buka mulut!" ancam Silvi.


"Aku gk bisa kk, kalau aku tidak bilang aku yang disalahkan!" ucap Gya menolak ucapan kakaknya.


"Dasar, kau juga ngapain sampai ada disana? Pasti di booking ya, banyak uang dong!" seru Silvi tak mau kalah.


"Aku bukan seperti yang kakak pikirkan. Aku disana karna menemani Clara mengambil sesuatu. Dia bekerja disana!" sanggah Gya tapi tetap sopan.


"Apapun alasannya jelas-jelas kau berada disana dan aku ada buktinya!" menunjukan foto Gya sedang bersama pria lain seperti sedang berc*mbu.


"Kakak tidak boleh seperti itu. Itu namanya fitnah kk!" merasakan hal buruk yang akan terjadi.

__ADS_1


"Kau lihat saja, berani kau berkata pada orang lain foto ini akan kusebarkan!" ancam Silvi.


"Pffftt aku lupa kau tidak ada bukti apapun huaha. Jadi kenapa aku harus takut, benarkan ADIKKU SAYANG?" tanya Silvi merasa dirinya menang.


"Tapi kk -" belum selesai dia bicara Silvi sudah pergi duluan.


*Ya Tuhan, apalagi ini? Tapi aku tidak boleh mengeluh kan? batin Gya ..


__________________________________________________


Sejak pertemuan terakhir Gya dan Morgan, mereka sekarang sering bersama. Gya pun sering mencuri waktu untuk bertemu dengan Morgan. Merasa ada bahagia yang menghampirinya.


"Ehmm terima kasih karna telah bersamaku beberapa minggu ini!" ucap Gya kepada Morgan yang duduk dihadapannya disebuah kafe.


"Tidak usah berterima kasih, karna aku juga merasa nyaman denganmu!" memegang tangan Gya.


"Aku harus mengatakannya, aku tak bisa terlalu lama memendamnya. A-aku mencintaimu!" ucap Morgan tergagap dengan perkataannya. Berusaha berakting sebagus mungkin.


"Apakah ka-?" belum selesai berbicara


"Maukah kau menikah denganku Gya Althia?" tanya Morgan berusaha terlihat seserius mungkin.


"A-a-aku ma-u, tapi-" jeda Gya.


"Tapi apa?" tanya Morgan penasaran takut rencananya harus ditunda. Sudah berada sejauh ini masa tidak jadi, pikirnya.


"Keluargaku liburan beberapa hari ini ke kota lain. Jadi, aku harus ikut dengan mereka. Tidak apa-apa kn? setelah ini kita akan bertemu lagi!" seru Gya mengembangkan senyum semanis mungkin. Dia sangat bahagia sekarang, pipinya bersemu merah dan sedikit salah tingkah.


"Hmm baiklah, aku akan menunggumu calon istriku!" goda Morgan.


*Apakah aku harus berteriak? aku sangat senang. Pasti wajahku seperti tomat sekarang, tolong tenggelamkan aku ke dasar bumi, batin Gya.


"Terima kasih!" tersenyum seimut mungkin.


*Bagus calon istriku, hahah ISTRI .. menjijikan! batin Morgan.


Selamat Membaca ..


Semoga kalian syuka ya ..

__ADS_1


__ADS_2