Takdir Yang Membelengguku

Takdir Yang Membelengguku
Hati Yang Terluka


__ADS_3

"Hiks hiks hikss .. kenapa kalian tega sekali. Kenapa papa juga rasanya sedikit berbeda, tidak seperti yang dulu Gya kenal. Kenapa papa hanya diam saja ketika mama memperlakukanku dengan buruk. Apa yang salah pada diriku?" Bertanya pada diri sendiri.


"Mama, kenapa ma? Kenapa mama tidak pernah menyukaiku sedikit pun. Kenapa hanya kakak, selalu saja kakak, apa pun itu hanya kakak saja yang mama lihat dan pedulikan. Sedangkan aku? Aku hanya berharap mama melihatku sedikit saja. Tersenyum padaku walau sekali saja ma!" Gya menangis terngungu meratapi nasibnya.


Flashback on ..


Sesampainya di rumah, Gya langsung pergi mencari keberadaan orang tuanya. Mencari di ruang tamu, kamar, lantai atas, bahkan mengelilingi isi rumah orang tuanya itu. Tapi nihil, tidak ada mereka disana. Dia pun mencoba menunggunya dengan membersihkan badan terlebih dahulu.


"Huahaha kau bisa saja membuatku tertawa!" ucap Sisca sembari turun dari mobil diikuti Arga suaminya.


"Apapun demi kebahagiaanmu dan anak kita, sayang!" jawab Arga sambil merekatkan jari-jari tangannya ke jari-jari tangan Sisca.


"Kau mendapatkan hadiah malam ini!" ucap Sisca dengan menggoda Arga.


"Kau tahu, butuh hadiah seperti itu untuk sebuah kata romantis!" ungkap Arga sumringah.


"Dasar, pria!" ledek Sisca.


Hampir saja hadiah itu akan mulai dilakukan.


Tiba-tiba Gya muncul dengan langkah sedikit terburu-buru menghampiri orang tuanya.


"Mama Papa, tunggu sebentar!" seru Gya mencegah mereka pergi.


"Aku tidak ada waktu untukmu, aku sedang sibuk!" ucap Sisca tanpa melihat Gya.


"Tapi ma, pa .. sebentar saja tidak akan lama!" pinta Gya memelas


"Ada apa nak?" Arga mencoba seramah mungkin.


"Gini ma, pa. Tadi aku diculik sehabis belanja di supermarket, lalu aku dibius terus pingsan. Waktu bangun, aku udah di kamar penjahatnya. Dia mau ngelakuin hal yang nggak-nggak ke aku. Aku berontak ma, pa. Tapi penjahatnya bilang aku udah .. udahh"


Gya bingung bagaimana cara menjelaskannya. Takut mama dan papanya tersinggung.


"Cepet ngomongnya udah apa? Lama banget si!" keluh Sisca.


"Udah dijual sama papa dan mama!" ucap Gya menundukkan kepalanya tidak berani melihat wajah kedua orang tuannya itu.


"Terus kamu percaya gitu?" tanya Sisca penasaran.


"Ng-ngg-nggak ma!" jawab Gya gugup. Kok papa diem aja sih. Papa terlihat beda dari biasanya- pikir Gya


"Yaudah deh, gk kenpa-napa juga kan. Bersihin dapur sana, enek aku ngeliat mukamu kelamaan!" mengibaskan tangannya.


"Tapi ma!" seru Gya menahan tangan Sisca yang ingin membuka kamar.


"Ohh sudah mulai berani y. Jangan ngelewatin batas kamu!" Bentak Sisca.


"Sudahlah nak, papa dan mama mau istirahat dulu. Capek baru pulang kerja!" Seru Arga akhirnya berbicara.

__ADS_1


Gya hanya bisa membisu tidak berani berkata-kata lagi. Beperang dengan pikiran yang tidak berujung. Ingin mencari tau kebenaran tapi tidak tahu harus dimulai dari mana.


"Jadi apa yang harus kulakukan? Apa aku harus berpura-pura melupakan kejadian ini? Aku harus bagaimana? Tak ada yang dapat kulakukan. Tak ada yang dapat membantuku!".


"Malangnya nasibmu Gya!" haha


Tertawa sendiri merasakan putus asa akan kehidupannya.


_____________________________________________


Didalam perusahaan disebuah ruangan yang mewah.


Morgan dan asistennya sedang berbincang-bincang untuk menyusun sebuah rencana.


"Bagaimana, apakah kita sudah bisa melakukannya sekarang? Aku tidak sabar ingin segera memulainya. Mambalas semua rasa yang membelengguku dulu hingga waktu ini tiba!" Ucap Morgan tidak sabaran.


"Kan kita sudah memulainya Tuan, Waktu dijalan kemarin!" jawab asistennya mengingatkan.


"Apa kau sudah semakin bodoh sekarang? Atau ada sesuatu yang merusak otakmu hingga kau tidak mengerti apa yang kumaksud?" Geram Morgan sedikit berteriak.


Gleek .. meskipun sudah lama menjadi asisten Morgan, ia masih merasa takut jika Morgan mengeluarkan aura dinginnya.


Dasar Es Batu, gua serut mampus lho! umpatnya


"Sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat Tuan. Mungkin besok atau beberapa hari kedepannya kita sudah bisa beraksi!" Jawab asistennya dengan percaya diri.


"Hmm" Dehem Morgan sedikit kesal dengan asistennya itu.


Dua hari kemudian ..


Kali ini entah kenapa Gya disuruh belanja ke swalayan lagi. Awalnya dia merasa takut dan khawatir mengingat kejadian yang menimpanya beberapa hari lalu. Tapi Sisca tetap memaksanya karena ART yang biasa belanja sedang sakit. Mau tidak mau Gya pun melakukannya, daripada kena hukuman pikirnya.


"Aduhh semoga tidak terulang lagi" ucapnya dalam hati sambil memejamkan mata.


Setelah sampai ia langsung buru-buru membeli semua bahan dapur yang sudah dilist. Ketika hendak ingin membayarnya dikasir, tiba-tiba ..


Byarr


Belanjaannya terjatuh karena tidak sengaja disenggol seorang pria.


"Maafkan aku, aku tidak sengaja. Biar kubantu!" ucap pria itu yang ternyata adalah Morgan.


"Kamu!" ucap Gya membelalakkan matanya mengenali pria itu.


"Kamu yang nolongin aku kemarin di jalan kan? Iya iya gk salah lagi!" ucap Gya percaya diri mengenali pria itu.


"Oh kamu, gk nyangka kita bisa ketemu lagi!"


Malas banget basa basi gini. Kalo bukan karena rencana sialan itu, huh.

__ADS_1


"Ya bisalah hehe" sedikit risih karana Morgan terus melihatnya.


"Kok kamu ngeliatin aku terus sih, ada yang salah ya di aku?" Gya menjadi salah tingkah.


"Kamu cantik!" ucap Morgan setelah sedikit berdebat dengan pikirannya.


"Cantik? Kamu -" belum selesai dengan ucapannya


"Iya kamu cantik banget malah, sampek aku gk sadar udah berapa lama ngeliatin kamu terus!" seru Morgan agak geli dengan perkataannya. Pasalnya dia tidak pernah mengatakan hal-hal seperti itu kepada seorang wanita manapun.


"Ka - kamu bisa aja hehe!" Wajah Gya memerah merasa tersanjung dikatakan cantik oleh seorang pria yang ia juga merasa terpana dengan ketampanannya.


"Apa kita bisa ketemu lagi nanti?" tanya Morgan


"Tentu saja, kenapa tidak!" Jawab Gya riang


Mereka berpandangan dengan senyum yang terukir indah meskipun ada rasa canggung terpancar di wajah Morgan.


Rasa apa ini, kenapa aneh sekali?


Apa rasa jijik ini sudah mejalar begitu dalam hingga mendarah daging? iuhh (batin Morgan)


Senyumnya manis sekali, arghh pria tampan kamu begitu bisa membuat jantungku berdebar (batin Gya)


"hah ini belanjaannya udh dikumpulin!" ucap Morgan untuk mengembalikan suasana


"oh iya, terima kasih banyak!" ucap Gya tulus


"Namaku Gya, nama kamu siapa?"


"Aku ELrich panggil saja EL" jawab Morgan


dring dring


"Sebentar aku nerima panggilan dulu!"


Setelah beberapa saat ..


"Hmm sepertinya aku ada kerjaan jadi aku duluan y" sambil melangkahkan kaki.


"iya iya tidak papa, aku juga harus pergi bye"


Huh aku harus pergi ke dokter untuk periksa kesehatan jantung. Sepertinya jantungku bermasalah! batin Gya


___________________________________________


"Hah selesai juga rencana hari ini" gerutu Morgan dalam hati.


"Felix, antar saya ke mension sekarang!" perintah Morgan

__ADS_1


"Baik Tuan!"


Jangan lupa pantengin terus y, maaf author liburnya lama hehe.


__ADS_2