
Rumah sederhana berlantai satu itu tampak nyaman dipandang mata. Netra coklat madu itu menyusuri halaman luas, tatapan matanya berhenti pada satu titik, dimana seorang laki-laki lima tahun lebih tua darinya sedang sibuk dengan laptop di pangkuannya.
Dia tersenyum, bukan senyuman manis Dan tulus tetapi senyuman miris meratapi jika Laki-laki itu sangat tidak menyukainya.
Suara jangkrik dan hewan malam berderit, membuat dia mengalihkan pandangan matanya. Dia duduk di teras jauh dari tempat Laki-laki itu duduk, Laki-laki itu duduk di kursi taman, dekat dengan teras.
Angin malam menerpa wajah cantik itu, bulu mata lentik, hidung yang mancung, bibir tipis serta rambut hitam sepunggung Membuat siapapun tidak akan bisa mengalihkan tatapan matanya.
Gadis yang memiliki garis keturunan Arab itu melirik ke arah Laki-laki yang tidak lain tidak bukan Adalah kakak kandungnya. Sebenarnya dia sangat ingin, seperti orang lain yang bergelar sama Dengannya, yaitu gelar seorang adik. Dia ingin di manja, selayaknya adik yang manja terhadap sang kakak, namun jika dia bersikap seperti itu, Hanya bentakan yang dia dapatkan.
Gadis cantik itu menggeleng, tidak seharusnya dia iri terhadap orang lain. Dia seharusnya bersyukur, karena masih memiliki keluarga yang sangat lengkap.
Elusan di Bahunya membuat dirinya mendongak, dia tersenyum manis saat mata yang sama persis seperti dirinya itu menatapnya dengan lembut.
"Kenapa Anak Abi di luar? Sudah malam, tidak baik angin malam untuk kesehatan Putri kecil, Abi," ujar Laki-laki yang berusia empat puluh Sembilan tahun dengan lembut.
Laki-laki keturunan Arab itu menatap sendu sang anak. Dia Tahu dibalik senyuman gadis kecilnya menyimpan sejuta kesakitan yang mendalam.
"Nisa lagi lihat Abang, Abi. kayaknya Abang lagi Sibuk banget ya? Sampai-sampai jam segini masih kerja," ujarnya dengan menatap Sang kakak yang masih sibuk dengan laptop.
Abi Fariz, mengelus kepala anaknya dengan penuh kasih sayang. "Dia lagi sibuk, kata Abang mu tadi ada masalah di kantornya."
Azzam, kakak laki-laki Anisa yang bekerja disalah satu perusahaan sebagai sekretaris. Perusahaan itu adalah perusahaan teman Azzam sendiri.
"Umi buat cemilan, kamu ambil kan untuk Abang mu. Dia pasti senang."
__ADS_1
Nisa tersenyum dan segera mengikuti Abinnya. Keluarga Anisa bukan keluarga yang kaya, bukan juga keluarga miskin. Abi dan Umi, adalah pebisnis makanan atau bisa di bilang Mereka Sudah membangun beberapa restoran dengan menu makanan Arab.
"Umi?" Panggilnya saat sampai di dapur. Umi Maryam tersenyum menatap sang putri. Wanita berusia empat puluh tahun itu adalah wanita asli pribumi.
Nisa tersenyum saat mengingat cerita dari kedua orang tuanya mengapa mereka bisa dipertemukan. Mereka dipertemukan saat Umi Maryam mengambil pendidikan di Arab, dan dengan tidak sengaja mereka bertemu di salah satu wisata yang ada di sana. Awalnya mereka tidak terlalu menggubris pertemuan mereka, namun saat Abi mendengar suara lantunan ayat Al Qur'an yang di baca seseorang di salah satu tempat makan yang ada di sana dengan lirih membuat hati Abinnya itu mengagumi sosok uminya.
Hingga pada akhirnya, Abi dengan berani menghampiri Umi dan mengatakan jika dia ingin berta'aruf dengan umi. Namun uminya menolak, hingga membuat Abi penasaran setengah mati dan nekat mencari tahu tentang umi hingga dengan berani langsung ke Indonesia untuk meminta izin kepada orang tua umi, untuk menikah dengan umi. Untung saja, Abinnya memang fasih berbahasa Indonesia, karena pernah beberapa tahun di Indonesia hingga tidak membuat orang tua umi bingung.
"Pasti enak," gumam Nisa seraya mencium bau harum yang menguar saat uminya mengeluarkan kue coklat dari oven.
"Iya dong, siapa dulu yang buat," ucap wanita itu. Wanita yang mengenakan baju tertutup tidak seperti Nisa yang masih membuka auratnya.
"Kamu potong ya sayang, Umi buat teh sama kopi susu untuk Abi dan Abang kamu."
"Besok kamu sudah masuk, Sayang?"
"Sudah Umi, besok Nisa Sudah masuk."
Uminya menghela nafas, sebenarnya dia tidak rela saat melihat anaknya itu keluar rumah dengan tidak menutup rambutnya.
Nisa memang tidak mengenakan baju yang kurang bahan, gadis itu selalu memakai pakaian sopan, celana jeans yang tidak ketat dan Tunik yang menutupi hingga lutut. Tetapi rambut indah anaknya masih terlihat, itu membuat uminya tidak rela anaknya keluar rumah.
"Umi boleh bicara?"
Nisa yang sudah selesai, Mendekati sang Umi dan memeluk uminya dari belakang. Umi Maryam tersenyum dan mengelus lengan mulus sang anak. Dan satu tangannya lagi mengaduk minuman yang tadi dia buat.
__ADS_1
"Kamu tahu kan, aurat wanita itu dari ujung rambut hingga ujung kaki?"
Nisa terdiam, dia melonggarkan pelukannya kepada sang Umi. Namun, saat lengannya Ingin terlepas uminya menahan agar tetap melingkarkan diperutnya.
"Nak, Umi tidak marah. Umi takut, umi selalu takut kala kamu keluar dari rumah dengan mahkota yang kamu umbar, rambut kamu sangat indah, wajah kamu pun sangat cantik. Tidak ada yang akan menolak kecantikan anak umi. Dan itu membuat umi takut jika suatu saat jika kamu tetap tidak mau menutup mahkota itu dan ada yang Berniat jahat kepada kamu, nak."
"Jilbab bukan hanya sebuah kewajiban, sayang. Jilbab juga bisa melindungi diri kita dari mata-mata jahat yang selalu mengintai kita." Mata umi terlihat berkaca-kaca, sungguh dia sangat takut jika sesuatu buruk terjadi pada sang anak, firasatnya sebagai seorang ibu, membuat dirinya benar-benar merasakan ketakutan yang mendalam.
"Umi pernah dengar cerita, dulu ada seorang perempuan yang berjalan sendirian di malam hari. Beliau melihat ada segerombolan Laki-laki yang menatapnya, firasatnya sebagai seorang wanita mengatakan jika akan terjadi suatu hal yang buruk kepada dirinya, dia bertawakal kepada Allah, dia terus berjalan, saat dia melewati beberapa pemuda itu, Alangkah terkejutnya dia karena tidak di ganggu oleh para pemuda itu"
"Keesokan harinya dia Melihat berita bahwa ada perempuan yang berbeda yang lewat di jalan tersebut, ternyata mengalami tindakan yang tidak menyenangkan. Dia laporkan itu kepada polisi, gadis berjilbab tersebut melihat beritanya dan dia sampaikan bahwa boleh jadi pemuda-pemuda yang dia temui itu mungkin melakukan perbuatan tercela."
"Pemuda-pemuda itu di tangkap dan di bawa polisi. Dan yang paling menarik perempuan berhijab itu dan ke kantor polisi seraya bertanya, Mengapa mereka tidak melukainya dan melecehkan Saja, padahal dia berjalan sendiri dan orang pertama yang lewat di sini. Kemudian para pemuda itu menjawab, bagiamana mereka bisa menganggunya, sementara saat ia lewat ada orang yang berbadan kekar, di Samping kiri, kanan, depan dan belakangnya."
"Nak, dari cerita ini kita bisa mengambil pelajaran. Hijab bukan hanya sebagai kewajiban sebagai seorang muslimah. Tetapi Allah menurunkan syariat hijab untuk melindungi kita, nak. Pakailah jilbab mau, nak," pinta Umi dengan nada memohon.
Nisa tidak berkata apa-apa, dia semakin mengeratkan pelukannya pada sang umi, menenggelamkan wajahnya yang sudah berderai air mata di punggung sang umi.
"Maafkan Nisa, Umi. Nisa belum siap... Hiks.... Hiks...."
Umi Maryam menghapus air matanya dan melepaskan pelukan anaknya. Dia memutar tubuhnya dan memeluk tubuh anaknya penuh kasih sayang.
"Umi akan mendoakan yang terbaik untuk, putri kecil umi. Umi sangat menyayangi Nisa, Nisa Putri kecil umi. Umi akan menunggu kamu siap nak. Tapi ingat, Hidayah itu dijemput bukan di nanti."
Anisa semakin menangis, dia merasa bersalah karena tidak bisa menuruti keinginan sang umi. Namun bagaimana lagi, dia belum siap.
__ADS_1