
Wajah citra langsung berubah murung. Ia tak pernah menyangka akan melibatkan Alina dalam masalahnya. Apalagi sampai Alina sakit.
Maaf Alina!
"Gak papa kok citra, aku cuma kecapean aja. Gea mah gak usah di dengerin!" balas Alina.
"Oh ya citra, kamu ingat orang yang makai Hoodie hitam dan penutup wajah gak?" tanya Alina. Alina ingin tau jika perempuan yang di kejar mbak Tika itu adalah citra. Pasti Citra bisa mengingat sesuatu tentang orang itu.
Citra langsung terdiam saat alina menanyakan hal itu padanya. Ia seperti sedang berusaha mengingat sesuatu. Tapi dalam ingatannya itu masih buram. Yang ia ingat hanya dirinya di kejar oleh seseorang dengan sebuah pisau. Citra berusaha sekuat tenaga untuk kabur namun ia gagal karena ia memasuki sebuah ruangan yang ternyata jalan buntu.
Aku gak ingat orang dengan Hoodie hitam atau pun penutup wajah. Yang aku ingat sebelum aku meninggal aku di kejar oleh seseorang dengan pisau di tangannya! hingga aku masuk ke dalam suatu ruangan yang ternyata jalan buntu!
Deg!
Alina tertegun dengan penuturan citra. Sudah dapat di pastikan jika pembunuh itu adalah mbak Tika. Karena dalam penglihatan Alina, ia melihat jika mbak Tika sedang mengejar seseorang menggunakan pisau.
"Jadi memang mbak Tika? tapi atas dasar apa?" batin Alina.
Tapi kenapa kamu nanya hal itu Alina? apa kamu sudah dapat petunjuk?
"Apa aku ngomong sama citra ya?" batin Alina.
Alina! kenapa kamu bengong?!
"Hm citra aku mau ngomong sesuatu tapi kamu jangan emosi dulu ya?" ujar citra lembut.
Ada apa Alina kenapa wajah kamu terlihat serius? apa kamu sudah tau pembunuhnya siapa?
Citra terlihat sangat penasaran dengan apa yang akan di sampaikan Alina. Sepertinya ia juga sudah tidak sabar untuk mengetahui siapa pelaku yang sudah tega menghilangkan nyawanya.
"Sebenarnya aku curiga sama mbak Tika citra! dan kecurigaan aku itu satu persatu sudah mulai terbukti. Hanya saja aku belum punya bukti yang kuat!"
Tika? gak mungkin dia! buat apa Tika membunuh ku Alina! selama ini dia yang selalu support dan dukung aku!
"Alasan kenapa mbak Tika melakukan itu aku juga belum tau citra, tapi aku akan berusaha mencari taunya!" ujar Alina yakin.
***
Alina menatap sekelilingnya yang penuh dengan pepohonan rindang.
"Aku di mana?" gumam Alina.
Alina terus berjalan, tapi ia hanya berputar-putar di satu tempat saja. Hingga Alina menatap ke depannya. Tepat di depannya alina melihat sebuah gua.
"Gua" lirih Alina.
Kaki Alina melangkah ke arah gua tersebut. Tanpa sadar ternyata Alina sudah berada di dalamnya. Gua nya sangat gelap hingga alun kesulitan melihat sekitar.
__ADS_1
Tapi saat Alina terus berjalan ke depan. Alina melihat sebuah cahaya yang sangat terang.
"Cahaya apa itu?" pikir Alina.
Perlahan alina melangkah menuju cahaya tersebut. Sampai di sana alina merasa silau dan langsung menutupi wajahnya dengan tangan.
Alina! anakku!
Kamu sudah membuka mata batin yang di tutup oleh kedua orang tua mu!
Bersama dengan terbukanya mata batin itu. Kemampuan kamu untuk melihat kejadian masa lalu juga ikut aktif.
Tolonglah mereka yang membutuhkan bantuanmu!
Apabila kamu berada dalam bahaya maka gunakanlah gelang di tangan mu itu sebagai perisai!
Suara itu terdengar menggema di dalam gua. Alina melihat sekelilingnya siapa yang berbicara. Tapi yang ia lihat hanya silaunya cahaya di depannya.
"Kamu siapa?" tanya Alina.
Aku adalah leluhur mu Alina!
"Leluhur?"
Cahaya di depannya menghilang. Dan gua nya kembali gelap.
"Kenapa cahayanya hilang?" pikir Alina.
"Kamu siapa? kalau kamu memang leluhurku tunjukkan wujud mu!" pinta Alina.
Suara nya juga ikut menghilang. Gua nya kembali terasa sunyi.
Alina langsung membuka matanya. Ternyata kejadian itu hanya mimpi. Alina melihat sekitarnya. Ia berada di kamarnya. Diliriknya jam di ponselnya. Masih menunjukkan pukul 2 dini hari.
"Apa maksud mimpi itu?" gumam alina.
***
Kuliah hari ini terasa begitu lama bagi Alina. Sepanjang perkuliahan ia terus saja menguap menahan kantuk.
Selesai kuliah alina dan Gea berjalan kaki menuju kos. Namun, Gea tiba-tiba saja berhenti karena ia harus mengangkat telfon terlebih dahulu.
"Halo?" ujar Gea.
"...."
"Apa? iya aku kesana sekarang!"
__ADS_1
Gea langsung menutup telfonnya dengan tergesa-gesa. Raut wajahnya terlihat panik. Sepertinya ia baru saja mendapat kabar buruk.
"Kenapa Gea?" tanya Alina.
"Alina, kakak ku masuk rumah sakit lagi. Aku harus kesana sekarang!"
"Yaudah ayo! aku temani!" balas Alina.
Tepat saat Alina dan gea tengah menunggu taksi. Vino datang dengan mobilnya.
"Alina! ayo aku antar!" ujarnya.
"Pas banget ada vino! ayo Gea!" ujar Alina. Alina langsung meminta gea untuk masuk.
"Vino! antar kita ke rumah sakit sekarang!" ujar Alina.
"Rumah sakit?"
"Kakak Gea masuk rumah sakit! buruan!" pinta Alina.
Vino langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit yang sebutkan Gea.
Gea langsung berlari memasuki rumah sakit dan bertanya pada resepsionis di mana kakaknya di rawat. Setelah mengetahuinya Gea langsung ke sana.
Namun, Alina ia reflek menghentikan langkah kakinya saat memasuki rumah sakit.
"Kenapa Alina?" tanya vino, yang melihat alina bukannya menyusul Gea malah diam di tempat.
"Kenapa Mereka banyak dan seram banget" gumam Alina. Ia lupa dengan kemampuannya melihat hantu. Dan rumah sakit merupakan sarang nya.
"Maksud kamu?" tanya vino yang masih belum paham.
"Hantunya banyak banget!" ciut Alina. Ia langsung memegang erat lengan vino.
"Kita tunggu di mobil aja" saran vino. Ia tidak mungkin memaksa Alina untuk tetap masuk jika ia takut.
"Gaklah, gak enak aku sama Gea!"
"Kalau gitu anggap aja kamu gak lihat mereka! jangan sampai mereka sadar kalau kamu bisa liat mereka!" nasehat vino. Alina langsung mengangguk kaku mengiyakan ucapan vino. Tapi tangannya tetap memegang erat lengan vino.
"Jangan di lepas!" ujar alina cepat.
"Gak kok, tenang aja" balas vino, ia menggenggam tangan alina agar ia tak ketakutan lagi.
Alina dan Vino langsung memasuki rumah sakit. Sesuai dengan perkataan vino, Alina berusaha mengabaikan hantu-hantu di rumah sakit yang ia lihat. Walaupun menyeramkan dan terkadang bau busuk yang menyengat mengganggu panca indra Alina. Tapi ia tetap menahannya agar hantu-hantu itu sadar jika Alina dapat melihat mereka.
Sampai di ruangan rawat kakak Gea. Alina dan Vino masuk untuk sekedar menjenguk. Di dalam Alina ikut prihatin dengan keadaan kakak gea yang bernama lestari.
__ADS_1
Lestari sudah setengah tahun mengidap penyakit kanker stadium 3. Dan dokter memprediksikan jika kankernya itu akan segera memasuki stadium 4 jika tidak segera di tangani.
Jangan lupa like dan comen...