TANGISAN

TANGISAN
part 2


__ADS_3

Lantunan merdu ayat-ayat suci Al-Qur'an menggema di seluruh ruangan serba biru itu. Air matanya kian luruh kala ucapan sang Ibunda yang meminta untuk dirinya berjilbab terngiang lagi.


Ada rasa bersalah yang menggerogoti hatinya, namun apa daya dia belum siap.


Anisa mencium Al Qur'an tersebut, dia Telah selesai melakukan kewajibannya sebagai seorang muslimah. Dan sekarang dia bergegas ke dapur untuk membantu ibunya, yang pasti masakan Uminya Sudah selesai. Uminya tidak pernah menuntut dia melakukan apa-apa di rumah, namun dia tetap ingin membantu sang Umi.


Uminya juga tidak marah jika dia kesiangan untuk membantunya kala pagi, Karena sang Umi tahu anaknya itu setia pagi selalu membawa Al Qur'an.


Saat dia membuka pintu, saat itu juga pintu kamar yang berada tepat didepan kamarnya terbuka. Anisa tersenyum menatap sang Abang, beda halnya dengan Azzam, dia menatap adiknya dengan tatapan tajam, matanya menatap  penampilan adik, hanya mengenakan kaos  hitam polos dan hotpants, membuat dia berdecak jijik.


"Mau belajar jadi jalang, huh!"


"Abang!" Itu bukan suara Anisa, itu suara umi yang kebetulan tadi Ingin membangunkan Anisa.


Anisa menunduk Kepalanya, air matanya sudah luruh mendengar hinaan Abangnya. Apa salahnya, di rumah hanya ada Abi, Umi dan Azzam. Apa salah dia mengenakan pakaian ini.


"Jaga bicara Abang! Enggak pantas Abang berbicara seperti itu kepada adik kamu!"


Azzam memutar bola matanya malas, "belain saja dia, Umi terlalu memanjakan dia, jadinya seperti ini. Gaya pakaiannya tidak sopan! Apa salah Azzam bilang seperti itu, memang benar kan? Kalau dia mau belajar jadi jalang!"


Nisa menggigit bibirnya menahan Isakan yang ingin Keluar.


"Jaga mulut kamu, Bang. Nisa adik kamu--"


"Dari dulu Umi selalu belain dia,  apa pun kesalahan yang dia buat, Umi selalu  membela dia. Umi Enggak pernah dengerin Azzam, semenjak adanya dia, Azzam seperti tersingkir dari kehidupan Umi dan Abi!"


Umi menatap anak laki-lakinya tidak percaya,  dia menghela nafas dan menatap lembut anaknya. Seharusnya sebagai Abang dia mengerti bagaimana keadaan adiknya dulu.


"Azzam--"


"Sudah, Umi, Nisa yang salah. Nisa ke kamar dulu." Tanpa menunggu balasan dari Umi, Nisa segera berbalik dan masuk ke dalam kamar.


Umi menatap nanar pintu kamar anaknya yang sudah tertutup. Tatapan matanya yang sudah berkaca-kaca menatap anak pertamanya dengan kecewa.


Azzam Menghela nafas saat melihat tatapan kecewa dari sang Umi.


"Umi Enggak percaya, anak Umi seperti ini. Anisa adik kamu, mengapa Umi dan Abi bersikap seperti ini, seharusnya kamu sudah tahu alasannya. Segera sarapan sudah siang."


Azzam menatap punggung Uminya dengan pandangan sulit diartikan.  Dia menghela nafas dan segera mengikuti sang Umi.


***


Suara Ketukan Pintu membuat Anisa Mendongakkan Kepalanya. Posisinya saat ini sungguh memprihatinkan, dia duduk bersandar di pintu, dengan wajah dia tenggelamkan di lutut. Sudah satu jam dia menangis dengan posisi seperti itu, hingga membuat matanya bengkak dan merah.


"Sayang? Buka pintunya." Suara lembut Abi  membuat  Nisa menghapus air matanya,  tubuhnya lemas tetapi tetap dia paksa berdiri untuk membuka pintu.


Pintu dia buka, menampakkan wajah Abi Yang terlihat sangat khawatir akan keadaannya.  Nisa menatap Abinnya dengan senyum yang dia paksakan.


"Abi, boleh Masuk?"


Nisa mengangguk dan dia berjalan Menuju pinggiran ranjang. Dia duduk di sana dengan tatapan kosong, Abi ikut duduk  samping putrinya.


"Mau menangis di pelukan Abi?"


Nisa menoleh menatap Abi, dia menggigit bibir bawahnya dan menghambur  memeluk sang Abi.


Abi Fariz memeluk anaknya dengan erat, dia mengelus punggung anaknya penuh kasih sayang. Isakan anaknya Terdengar sangat jelas membuat ulu hatinya sakit.


"Seharusnya Nisa Enggak ada di dunia ini. Kehadiran Nisa hanya membuat Abang sakit hati. Kenapa dulu Umi dan Abi mempertahankan Nisa, seharusnya biarkan Nisa pergi, biar Abang Bahagia," ujar Nisa dengan Isakan yang tidak mau berhenti.


Abi menangkup wajah sang putri, dia menggeleng, "kamu tidak boleh berkata seperti itu Sayang. Umi dan Abi sangat menginginkan kehadiran kamu. Kami sangat menyayangi kamu, dan Abi yakin jika Abang kamu juga sangat menyayangi kamu, tetapi dia tidak bisa menunjukannya."


Umi yang berada diambang pintu menatap Anaknya dengan air mata yang ikut luruh. Ibu mana yang tega melihat anaknya terluka.


Umi masuk dalam kamar dan ikut duduk di samping putrinya.


"Jangan pernah berkata seperti itu Sayang. Umi sangat menyayangi kamu dan Abang kamu. Kehadiran kalian adalah pelengkap hidup Umi, jangan pernah kamu berbicara seakan kamu menyesal lahir dari rahim, Umi."


Nisa menatap  Uminya, dia memeluk uminya dengan sangat erat. Dia tidak menyesal lahir dari rahim suci umi, namun dia menyesal atas kehadirannya, abangnya merasa kehilangan kasih sayang. 


Abi memeluk kedua bidadari surga yang dititipkan oleh Allah. Dia sangat bersyukur mempunyai anak seperti Nisa, walaupun belum bisa menutup aurat, Nisa tidak pernah absen membaca Al Qur'an dan selalu Shalat tepat waktu.


Anisa adalah anak yang Sabar, sabar akan segala hal.


***


Abi, Umi dan Nisa duduk di ruang keluarga. Senda gurau menghangatkan suasana malam.  Nisa cemberut kala sang Abi mencubit pipinya karena gemas.


"Ini pipi apa bakpao? Besar banget," ucapnya Seraya mencubit pipi putrinya. Nisa memukul-mukul tangan Sang Abi.

__ADS_1


"Abi, Sakit," rengeknya.


Umi yang baru dari dapur tersenyum melihat interaksi hangat antara ayah dan anak itu. Dia dengan membawa nampan berisi  susu untuk putrinya dan teh untuk dirinya serta suami, berjalan dengan senyum yang merekah.


"Sudah Abi, kasihan anaknya tuh, Pipinya sampai memerah," ucap lembut Umi.


Abi melepaskan cubitannya dan menatap sang istri yang sedang menaruh minuman dan makanan yang dia bawa.


"Putri Abi masih kecil ternyata, masih minum susu," goda Abi menatap anaknya yang sedang meminum susu buatan sang Umi.


Nisa meletakkan susu yang tinggal setengah, dia menggembungkan pipinya kesal, "kan Abi Yang minta Nisa untuk minum susu, Abi lupa?"


Fariz tertawa dan mengacak rambut anaknya, membuat Nisa menggerutu kesal.


"Umi, ingat tidak saat Nisa kecil dulu, dia meminta untuk dibelikan robot-robotan, tetapi kita tidak mau membelikannya, wajahnya Persis seperti ini kan, Umi?"


Nisa Semakin dibuat kesal oleh Sang Abi, dia menatap sang Umi yang berada disebelahnya dan langsung memeluk Uminya.


"Umi," rengeknya. Maryam terkekeh pelan dan mengelus punggung putrinya dengan lembut.


"Ada apa?"


"Abi, Abi terus saja mengejek Nisa," rengeknya Manja. Umi dan Abi tertawa, mendengar nada Manja sang anak.


Hingga tawa itu terhenti saat Suara ketukan pintu terdengar. Mereka diam, saat tahu siapa yang datang malam-malam seperti ini, siapa lagi kalau Bukan Azzam, Abang Nisa yang pulang bekerja.


Nisa tersenyum dan berdiri, namun perkataan Uminya membuat dia berhenti.


"Kamu mau kemana? Biar Umi saja," ucap Umi.


"Biar Nisa saja, Umi. Umi disini saja."


Nisa segera mengayunkan kakinya, Umi dan Abi hanya menatap Nisa dengan tatapan khawatir, mereka takut akan ada pertengkaran antara adik dan kakak itu.


Nisa dengan senyuman yang merekah Membuka pintu, "Abang sudah pulang? Sini tasnya biar Nisa yang bawa." 


Azzam Hanya diam, dia menatap penampilan adiknya, kaos putih polos yang sangat tipis dan celana pendek membuat lekukan tubuh adiknya terlihat.


"Mau jadi Jalang kamu, hah!"


Nisa tersentak saat Azzam membentak duitnya. matanya seketika berkabut saat hinaan Abangnya itu meluncur mulus dari bibirnya.


"Abang!" Bentakan itu bukan dari bibir Aisyah, tetapi dari sang Umi.


Nisa menundukkan kepalanya, hatinya begitu sakit mendengar lontaran Kalimat dari sang Abang.


"Diam, kamu! Jaga mulut kamu Azzam!" Bentak Umi.


"Kenapa Umi? Kenapa Umi selalu membentak Azzam dan selalu membela wanita jalang itu? Azzam anak Umi, kenapa Umi Enggak pernah membela Azzam?"


Umi terdiam dia menatap anak laki-lakinya dengan mata yang berkaca-kaca. Bukan dia tidak menyayangi anaknya, dia sangat menyayangi anak laki-lakinya itu.


"Azzam?" Panggil Abi.


"Kenapa Abi? Abi juga mau menyalahkan Azzam. Terus saja membela gadis tidak berguna itu. Gadis Jalang yang seharusnya tidak ada di Dunia ini!"


Plak...


Satu tamparan keras mendarat mulus di pipi Azzam, dia menatap tidak percaya pada perempuan yang sudah melahirkannya dirinya di dunia.


"Diam kamu! Jaga ucapan kamu Azzam, sampai kapan kamu terus-menerus seperti ini? Kenapa kamu terus menghina adik mu hah! Apa salah adik kamu?"


Azzam menatap Uminya, kemudian menatap adiknya yang menunduk dalam, "karena dia Azzam kehilangan kasih sayang Umi dan Abi, karena dia Umi dan Abi menelantarkan Azzam, karena dia Azzam tidak bisa menikmati masa kanak-kanak Azzam dengan Umi dan Abi!"


Keyla Mendongakkan Kepalanya, dia mengerti perasaan Abangnya, jika bisa memilih dia tidak ingin lahir dalam keadaan yang tidak semestinya.


"Seharusnya Lo itu Enggak ada di Dunia ini! Seharusnya Lo itu mati! Karena Lo gue kehilangan semuanya, karena Lo Gue Enggak mendapatkan kasih saya dari orang tua! Gue tuh benci banget sama Lo!"


Rentetan Kalimat hinaan itu membuat ulu hati Nisa seperti tertusuk Belati. Dia menatap kakaknya dengan air mata yang meleleh. sungguh dia tidak tahan kan semua hinaan itu.


Nisa maju satu langkah dan menatap kakaknya, dia mencengkeram kemeja kakaknya dengan erat.


"Abang banci Nisa? Kenapa? Kenapa? Nisa Enggak pernah bisa memilih  dari rahim siapa Nisa lahir, Nisa Enggak bisa memilih dari keluarga mana Nisa dilahirkan. Nisa Enggak bisa memilih, Bang?"


Isak Nisa pilu, Azzam Menatap adiknya, entah apa arti tatapan itu, tidak ada yang Mengerti akan tatapan itu.


"Jika memang Abang benci Nisa, Bunuh Nisa Bang, Bunuh! Nisa rela, jika dengan tidak adanya Nisa Abang Bahagia, Bunuh Nisa. Nisa Ikhlas!"


Azzam diam menatap adiknya, dia menarik nafas dalam, kedekatannya dengan sang adik membuat dirinya dengan kasar menyentak Nisa hingga terjerembab dilantai yang dingin.

__ADS_1


Umi dan Abi menatap Azzam murka, Abi mendekati anaknya dan melayangkan satu tamparan kepada sang anak.


Azzam diam tidak menatap sang Abi, tatapannya tertuju pada adiknya yang Terisak di lantai, jantungnya berdegup kencang, hingga dia tidak tahan dan segera pergi dari sana.


Mereka bertiga menatap kepergian Azzam dengan nanar. Umi dan Abi memeluk  Nisa dengan erat, menyalurkan semangat agar putri mereka tidak terlalu jauh memikirkan perilaku Azzam.


Nisa Hanya mampu menangis, mengapa abangnya sangat membenci dirinya, dia tahu akan kehadirannya semuanya berubah, tetapi dia sudah meminta maaf, mengapa kakaknya tidak mau memaafkan dirinya.


*****


Nisa terbangun dari tidurnya saat waktu menunjukkan tengah malam. Dia mengerjap dan segera bangkit untuk melaksanakan shalat malam.


Setelah selesai dia teringat akan sang kakak, dia menghela nafas kemudian keluar dari kamar. Dia diam sejenak menatap kamar yang berhadapan dengan kamarnya, dengan tangan bergetar dia  membuka pintu tersebut hingga dia bisa masuk ke dalam.


"Bang?" Tidak ada jawaban, dia menyalakan lampu dan terkejut saat abangnya tidak ada di kamar.


Dengan tergesa dia kembali ke kamar dan Mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuatu di sana, kemudian menyimpannya di nakas, agar umi dan Abi tidak khawatir jika terbangun tidak ada dia di sini.


Tampa Menganti baju, dengan Hanya mengunakan celana pendek serta kaos tipis yang kebesaran dia segera berjalan pelan agar tidak menimbulkan suara.


Dengan sedikit takut dia keluar rumah, menyusuri jalan berharap bertemu sang kakak. Jalanan sudah sangat sepi, jarang sekali kendaraan yang lalu lalang.


Selama ini gadis itu tidak pernah pergi keluar rumah tanpa ada yang mengantar. Nisa bisa di bilang gadis yang lemah, dia sewaktu kecil sering sakit-sakitan dan membuat umi serta Abi Sanga over protektif terhadap dirinya, hingga saat dia ingin belajar mengendarai mobil ataupun motor, Abi Sangat melarang keras, takut anaknya kenapa-kenapa.


Nisa memeluk tubuhnya sendiri, udara sangat dingin dan di tambah dengan pakaiannya yang tidak mampu menghalau udara dingin tersebut.


Sudah setengah jam dia berjalan, dia berhenti pada suatu tempat di mana saat malam hari masih banyak Kendaraan yang terparkir, dia mengedarkan pandangannya, mencari tahu apakah ada Mobil kakaknya di sini. Ternyata nihil, tidak ada mobil sang kakak.


Saat dia ingin pergi dari tempat malam itu, matanya menangkap sosok laki-laki yang berjalan sempoyongan dan tiba-tiba tubuh tegap Laki-laki itu  ambruk, membuat hatinya yang lembut tidak tega melihatnya.


Dia berlari dan menghampiri Laki-laki itu, dia membalikkan tubuh tegap Laki-laki tersebut,  dia berusaha menepuk-nepuk pipi Laki-laki itu agar sadar.


Mata yang sedari tadi terpejam itu terbuka, netranya memerah, Nisa yakin Laki-laki itu tengah mabuk.


"Mas? Mas tidak apa-apa?" Tanyanya khawatir.


Laki-laki itu entah mengapa tersenyum, dia dengan pelan bangkit berdiri, di ikuti  Nisa yang menatap Laki-laki itu khawatir.


Laki-laki itu mendekati Nisa dengan senyuman yang entah mengapa membuat bulu kuduk Nisa meremang.


"Kalau mas tidak apa-apa, saya permisi." Saat Nisa Sudah berbalik tiba-tiba tubuhnya dipeluk seseorang dari belakang.


Nafas Nisa memburu saat Laki-laki itu mencium lehernya yang terekspos.


"Lepas!" Ucapnya takut. 


Laki-laki itu diam, dia mencium Aroma Segar dari gadis yang saat ini dia peluk, mencium aroma itu membuat kesadarannya kembali.


Dia dengan lancang menyentuh paha Nisa yang terekspos, Nisa tercekat dia mencoba berontak namun sayang tenaganya tidak sebanding dengan laki-laki itu.


"Tolong lepas! Jangan Sentuh saya!"


Nisa Sudah Terisak, dia dengan sekuat tenaga melepaskan diri, hingga Laki-laki itu melepaskan dirinya, dia tidak menyia-nyiakan Kesempatan itu, dia ingin segera berlari, namun sayang, tangannya di cekal dan di tarik, hingga dia tepat berhadapan dengan laki-laki itu.


"Hai, jangan menangis," ucap Laki-laki itu seraya menyusut air mata Nisa. Nisa Menggeleng dia berusaha melepaskan pelukan Laki-laki biadab itu. 


Dia terdiam Seketika saat ada benda kenyal mendarat di bibirnya, setelah kesadaran datang, dia mendorong dada Laki-laki itu, hingga tautan bibirnya terlepas.


"Manis," gumam Laki-laki itu.


"Ikut aku!" Nisa Menggeleng, dia mencoba melepaskan diri namun kekuatannya kalah dengan laki-laki mabuk ini.


Laki-laki itu kesal saat Nisa memberontak, dia dengan kasar memukul wajah Nisa hingga gadis itu tidak sadarkan diri.


Laki-laki dengan mata tajam itu mengendong tubuh Nisa dan segera dia masukkan kedalam mobil.


Dengan langkah sempoyongan dan kepala pusing, dia berusaha untuk menjalankan mobilnya, untung saja apartemennya tidak jauh dari klub Tersebut.


***


Nisa mengerjapkan matanya saat ada benda lembab yang menyentuh bibirnya, dia terkesiap, saat ingin berontak tangannya tidak bisa di gerakan, dia baru sadar jika tangannya terikat dia sisi-sisi ranjang.


"Hai Sayang, kamu sudah bangun? Sungguh aku sudah menantimu sejak tadi, mari kita mulai sekarang," ucap Laki-laki yang Nisa yakin sedang dalam keadaan mabuk.


"Jangan! Jangan sentuh saya!" Bentak Nisa.


"Jangan jual mahal kamu!"


Nisa menatap nanar Laki-laki itu, dia menggeleng tidak setuju.

__ADS_1


"Lepaskan Saya!" Mendengar bentakan dari wanita yang berada di bawahnya membuat Amarahnya tersulut.


"Diam dan nikmati semuanya, jalang!"


__ADS_2